
Pagi ini Ben sedang
duduk termenung dikantin, entah apa yang membuat lelaki itu diam. kedua
sahabatnya saling pandang. Kantin yang begitu ramai, sesekali Ben menyeruput
orange jusnya, Jovan yang melihat bisa mengetahui perasaan Ben yang sebenarnya.
Jovan juga baru mengetahui setelah Kennie menceritakannya. Bahwa Ben adalah
kekasih dari adiknya itu.
Sementara Gerry hanya
sibuk mengumbar senyum pada setiap cewek yang lewat dihadapannya.
Pletak
Gerry mengusap
kepalanya, “Bisa tidak mata tidak jelalatan.” Ucap Ben ketus membuat Gerry
bingung. ada apa dengan sahabatnya itu?
“Ada angina apa lo,
biasanya lo paling depan. Dah insyaf ya?” Tanya Gerry cengengesan.
“Enggak” jawabnya
Mata Ben menyusuri
kantin, seperti sedang mencari seseorang. Setelah mendapatkan ia beranjak lalu
pergi menghampirinya.
Tepat saat ini Ben
berdiri di meja hingga membuat kedua orang itu menoleh tetapi tidak bagi Kennie
yang masih terlihat tenang. “Lo masih ada utang lagi” ucap Ben memasukkan kedua
tangannya dalam saku celana.
“Utang?” Tanya Kennie
menyerngit dahinya
“Yap, Utang” ucap Ben
santai
“Gue sama sekali tidak
punya sama lo, kenapa tagi gue” ucap Kennie ketus,
Semua siswa menatap
kedua orang yang sedang berdebat, Kennie mendengus sebal, kenapa juga ia harus
berurusan dengan cowok seperti Ben. sudah cukup kemarin ia memberitahu semuanya
padanya. lalu Utang apa yang dimaksud padanya.
Kennie menyeret Ben
pergi dari kantin. Ia membawa Ben pergi disebuah taman. “Sekarang lo ngomong,
Apa mau lo?” Tanya Kennie To The point karena ia lelah berurusan dengan lelaki
menyebalkan.
“Lo sekarang ceritakan
secara detail, Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nina. Karena gue belum
sepenuhnya yakin sama lo” ucap Ben tegas
Kennie mendengus sebal
lalu duduk dibangku panjang, sementara Ben hanya berdiri menunggu jawaban dari
Kennie.
“Oke sekarang gue akan
ceritakan lebih detail” ucap Kennie
Flashback
Dua
orang gadis sedang berada ditaman. Nina Anandita dia adalah gadis yang sangat
menyukai memotret, mengambil objek gambar pada layar digital. Sementara gadis
yang bersama dengan dirinya dia adalah Kennie Azzira Mahendra.
Dia
adalah gasdis yang sangat menyukai Olahraga. Yang sedang berdiri bergaya
seperti layaknya lelaku.
“Bisa
tidak gayanya feminism dikit” dumel Nina sedari tadi mengajari Kennie
“Enggak”
jawab Kennie menggeleng
Mereka
bersahabat sejak kecil dan mereka selalu bersama dimanapun mereka berada.
__ADS_1
Dan
seorang gadis datang dengan perawakan modis belasteran datang menghampiri
mereka yang sedang asik. Gadis itu menatap kedua sinis. Hingga Kennie menoleh
menatap heran.
“Rose?”
Panggil Kennie, Nina ikut menoleh sambil tersenyum lebar
“Kenapa
diam disitu, Ayok sini bareng kita” ucapnya
“Enggak”
jawabnya ketus, membuat keduanya menaikkan alis bingung
Apa
yang terjadi?
“Lo
itu kenapa sih?, Hah! Aneh deh” ujar Kennie
Kenapa
sih? lo berdua selalu merebut apa yang gue suka, Apa yang gue mau? Semua lo
ambil dari gue” jelasnya dengan tatapan tajam
Kennie
dan Nina menghampiri Rose, ia sedikit bingung dengan temannya satu ini. “Apa
yang kita rebut?” Tanya Nina
“Jangan
pura-pura tidak tahu? jangan pura-pura polos lo” ketus Rose menunjuk dada Nina
lalu mendorongnya kebelakang.
“Lo
ini kenapa? Apa salah Nina sama lo” ucap Kennie membela Nina, entah itu apa
yang membuat Rose marah Kennie tidak tahu.
“Pertama,
perusahaan bokap gue hancur gara-gara bokap lo, kedua, lo ambil semua apa yang
gue suka” ucapnya tajam
“Termasuk
“Cukup”
ucap Nina terisak
“Lebih
baik kita pergi dari sini,” ujar Kennie membawa Nina pergi,
Sedangkan
Rose tersenyum licik menatap kedua temannya pergi, Kennie dan Nina masuk
kedalam mobil. Ia masih tidak habis dengan temannya satu itu. ia benar-benar
tega.
Kennie
menjalankan mobilnya, dalam perjalanan Kennie merasa ada yang aneh dengan
mobilnya itu. hingga membuat Nina terkejut.
“Nin,
kok remnya tidak berfungsi?” tanyanya
“Kenapa
bisa Ken, perasaan tiap bulan lo selalu bawa ke bengkel deh” ungkap Nina mulai
kewatir
Kennie
mulai mengecek seluruh mobilnya hingga ia tanpa sadar tidak memperhatikan
jalan. Hingga melihat kedepan menghindari mobil dari depan. Membelokkan.
Brukkkk
Mobil
yang ditumpangi Kennie dan Nina, hingga menabrak tiang pembatas. Mereka dibawah
kerumah sakit.
Semua
keluarga tekerjut atas kecelakaan yang terjadi pada Kennie dan Nina. Jovan yang
mengetahui itu langsung saja berjalan mencari ICU tempat mereka dirawat. Jovan
menatap keduanya lalu menunduk,
Nina
__ADS_1
yang baru saja siuman dari tidur panjangnya, ia menatap samar-samar pada sosok
Jovan dan Gilang-Papanya.
Jovan
tersenyum senang “Adek kesayangan Abang sudah sadar, kok lama sih tidurnya?”
oceh Jovan membuat Nina terkekeh
“Apaan
sih, Bang” ucap sambil memukul lengan Jovan
“Kamu
nih ya, adikmu baru sadar sudah diajak bercanda” omel Gilang
“Bagaimana
keadaan Kennie?” Tanya Nina, sementara Jovan dan Gilang hanya terdiam.
“Kennie
belum sadar dari komanya, dan ia membeutuhkan banyak darah. Tetapi ada satu hal
lagi-“ ucap Jovan sambil menghembuskan nafas berat. “Dia akan buta permanen”
lanjutnya membuat Nina terkejut.
Sementara
keadaan Nina juga sudah fase kritis, pada penyakit dideritanya selama ini. dan
mencapai stadium akhirnya. Dia tidak ingin sahabatnya mengalami hal serupa
sepertinya. Ia ingin melihat sahabatnya sehat. Seperti sedia kala.
“Bolehkah
aku melihat Kennie?” tanyanya yang ddiangguki keduanya
Jovan
mendorong kursi roda yang didorognya menuju ruang ICU tempat perawatan Kennie.
Jovan membuka pintu mereka memakai pakaian hijau.
Nina
menatap sendu pada sahabatnya yang sedang terbaring lemah. Serta computer yang
detak jantung pendeteksi.Nina memegang tangan Kennie erat. Ia tidak sanggup
melihat sahabatnya terbaring diatas brangkar.
Selama
ini Kennie menjaga Nina dari segala kejahatan yang menimpanya. Ia tidak mampu
berkata apapun. Ia hanya menatap sambil terisak.
Kennie
baru saja bangun dari tidur panjangnya ia menatap sekeliling kamar yang
bernuansa putih tersebut. Serta bau obat-obatan yang menyengat dihidung.
Samar-samar ia melihat Jovan yang tengah tertidur pulas pada sofa. Dona yang
baru saja datang langsung tersenyum senang karena mendapati Kennie sudah
siuman.
“Kamu
sudah bangun, Nak” ucap Dona tersenyum
Jovan
baru saja bangun, sambil mengucek kedua matanya lalu menguap. “Adek kecil sudah
bangun ternyata” ucap Jovan berdiri lalu pergi ke toilet
“Bagaimana
keadaanmu sayang?” Tanya Dona
Kennie
mengangguk “Baik kok Mah” jawabnya, matanya seperti mencari seseorang, Jovan
yang masih berantakan karena basah dikepalanya
“Abang,
Nina mana? Bagaimana keadaan Nina?” Tanya Kennie
Jovan
terdiam, entah pikirannya saat ini sedang kalut. Dona yang menggeleng seperti
memberi isyarat.
“Kenapa
semua diam? Kenapa tidak ada yang jawab” ucapnya lirih
“Gue
harap lo istirahat dulu, Nina baik-baik saja kok” ucap Jovan menenangkan,
hingga Kennie terdiam. Ia tahu pasti ada yang disembunyikan Jovan padanya.
__ADS_1