Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 22


__ADS_3

Pagi ini Ben sedang


duduk termenung dikantin, entah apa yang membuat lelaki itu diam. kedua


sahabatnya saling pandang. Kantin yang begitu ramai, sesekali Ben menyeruput


orange jusnya, Jovan yang melihat bisa mengetahui perasaan Ben yang sebenarnya.


Jovan juga baru mengetahui setelah Kennie menceritakannya. Bahwa Ben adalah


kekasih dari adiknya itu.


Sementara Gerry hanya


sibuk mengumbar senyum pada setiap cewek yang lewat dihadapannya.


Pletak


Gerry mengusap


kepalanya, “Bisa tidak mata tidak jelalatan.” Ucap Ben ketus membuat Gerry


bingung. ada apa dengan sahabatnya itu?


“Ada angina apa lo,


biasanya lo paling depan. Dah insyaf ya?” Tanya Gerry cengengesan.


“Enggak” jawabnya


Mata Ben menyusuri


kantin, seperti sedang mencari seseorang. Setelah mendapatkan ia beranjak lalu


pergi menghampirinya.


Tepat saat ini Ben


berdiri di meja hingga membuat kedua orang itu menoleh tetapi tidak bagi Kennie


yang masih terlihat tenang. “Lo masih ada utang lagi” ucap Ben memasukkan kedua


tangannya dalam saku celana.


“Utang?” Tanya Kennie


menyerngit dahinya


“Yap, Utang” ucap Ben


santai


“Gue sama sekali tidak


punya sama lo, kenapa tagi gue” ucap Kennie ketus,


Semua siswa menatap


kedua orang yang sedang berdebat, Kennie mendengus sebal, kenapa juga ia harus


berurusan dengan cowok seperti Ben. sudah cukup kemarin ia memberitahu semuanya


padanya. lalu Utang apa yang dimaksud padanya.


Kennie menyeret Ben


pergi dari kantin. Ia membawa Ben pergi disebuah taman. “Sekarang lo ngomong,


Apa mau lo?” Tanya Kennie To The point karena ia lelah berurusan dengan lelaki


menyebalkan.


“Lo sekarang ceritakan


secara detail, Apa yang sebenarnya terjadi dengan Nina. Karena gue belum


sepenuhnya yakin sama lo” ucap Ben tegas


Kennie mendengus sebal


lalu duduk dibangku panjang, sementara Ben hanya berdiri menunggu jawaban dari


Kennie.


“Oke sekarang gue akan


ceritakan lebih detail” ucap Kennie


Flashback


Dua


orang gadis sedang berada ditaman. Nina Anandita dia adalah gadis yang sangat


menyukai memotret, mengambil objek gambar pada layar digital. Sementara gadis


yang bersama dengan dirinya dia adalah Kennie Azzira Mahendra.


Dia


adalah gasdis yang sangat menyukai Olahraga. Yang sedang berdiri bergaya


seperti layaknya lelaku.


“Bisa


tidak gayanya feminism dikit” dumel Nina sedari tadi mengajari Kennie


“Enggak”


jawab Kennie menggeleng


Mereka


bersahabat sejak kecil dan mereka selalu bersama dimanapun mereka berada.

__ADS_1


Dan


seorang gadis datang dengan perawakan modis belasteran datang menghampiri


mereka yang sedang asik. Gadis itu menatap kedua sinis. Hingga Kennie menoleh


menatap heran.


“Rose?”


Panggil Kennie, Nina ikut menoleh sambil tersenyum lebar


“Kenapa


diam disitu, Ayok sini bareng kita” ucapnya


“Enggak”


jawabnya ketus, membuat keduanya menaikkan alis bingung


Apa


yang terjadi?


“Lo


itu kenapa sih?, Hah! Aneh deh” ujar Kennie


Kenapa


sih? lo berdua selalu merebut apa yang gue suka, Apa yang gue mau? Semua lo


ambil dari gue” jelasnya dengan tatapan tajam


Kennie


dan Nina menghampiri Rose, ia sedikit bingung dengan temannya satu ini. “Apa


yang kita rebut?” Tanya Nina


“Jangan


pura-pura tidak tahu? jangan pura-pura polos lo” ketus Rose menunjuk dada Nina


lalu mendorongnya kebelakang.


“Lo


ini kenapa? Apa salah Nina sama lo” ucap Kennie membela Nina, entah itu apa


yang membuat Rose marah Kennie tidak tahu.


“Pertama,


perusahaan bokap gue hancur gara-gara bokap lo, kedua, lo ambil semua apa yang


gue suka” ucapnya tajam


“Termasuk


“Cukup”


ucap Nina terisak


“Lebih


baik kita pergi dari sini,” ujar Kennie membawa Nina pergi,


Sedangkan


Rose tersenyum licik menatap kedua temannya pergi, Kennie dan Nina masuk


kedalam mobil. Ia masih tidak habis dengan temannya satu itu. ia benar-benar


tega.


Kennie


menjalankan mobilnya, dalam perjalanan Kennie merasa ada yang aneh dengan


mobilnya itu. hingga membuat Nina terkejut.


“Nin,


kok remnya tidak berfungsi?” tanyanya


“Kenapa


bisa Ken, perasaan tiap bulan lo selalu bawa ke bengkel deh” ungkap Nina mulai


kewatir


Kennie


mulai mengecek seluruh mobilnya hingga ia tanpa sadar tidak memperhatikan


jalan. Hingga melihat kedepan menghindari mobil dari depan. Membelokkan.


Brukkkk


Mobil


yang ditumpangi Kennie dan Nina, hingga menabrak tiang pembatas. Mereka dibawah


kerumah sakit.


Semua


keluarga tekerjut atas kecelakaan yang terjadi pada Kennie dan Nina. Jovan yang


mengetahui itu langsung saja berjalan mencari ICU tempat mereka dirawat. Jovan


menatap keduanya lalu menunduk,


Nina

__ADS_1


yang baru saja siuman dari tidur panjangnya, ia menatap samar-samar pada sosok


Jovan dan Gilang-Papanya.


Jovan


tersenyum senang “Adek kesayangan Abang sudah sadar, kok lama sih tidurnya?”


oceh Jovan membuat Nina terkekeh


“Apaan


sih, Bang” ucap sambil memukul lengan Jovan


“Kamu


nih ya, adikmu baru sadar sudah diajak bercanda” omel Gilang


“Bagaimana


keadaan Kennie?” Tanya Nina, sementara Jovan dan Gilang hanya terdiam.


“Kennie


belum sadar dari komanya, dan ia membeutuhkan banyak darah. Tetapi ada satu hal


lagi-“ ucap Jovan sambil menghembuskan nafas berat. “Dia akan buta permanen”


lanjutnya membuat Nina terkejut.


Sementara


keadaan Nina juga sudah fase kritis, pada penyakit dideritanya selama ini. dan


mencapai stadium akhirnya. Dia tidak ingin sahabatnya mengalami hal serupa


sepertinya. Ia ingin melihat sahabatnya sehat. Seperti sedia kala.


“Bolehkah


aku melihat Kennie?” tanyanya yang ddiangguki keduanya


Jovan


mendorong kursi roda yang didorognya menuju ruang ICU tempat perawatan Kennie.


Jovan membuka pintu mereka memakai pakaian hijau.


Nina


menatap sendu pada sahabatnya yang sedang terbaring lemah. Serta computer yang


detak jantung pendeteksi.Nina memegang tangan Kennie erat. Ia tidak sanggup


melihat sahabatnya terbaring diatas brangkar.


Selama


ini Kennie menjaga Nina dari segala kejahatan yang menimpanya. Ia tidak mampu


berkata apapun. Ia hanya menatap sambil terisak.



Kennie


baru saja bangun dari tidur panjangnya ia menatap sekeliling kamar yang


bernuansa putih tersebut. Serta bau obat-obatan yang menyengat dihidung.


Samar-samar ia melihat Jovan yang tengah tertidur pulas pada sofa. Dona yang


baru saja datang langsung tersenyum senang karena mendapati Kennie sudah


siuman.


“Kamu


sudah bangun, Nak” ucap Dona tersenyum


Jovan


baru saja bangun, sambil mengucek kedua matanya lalu menguap. “Adek kecil sudah


bangun ternyata” ucap Jovan berdiri lalu pergi ke toilet


“Bagaimana


keadaanmu sayang?” Tanya Dona


Kennie


mengangguk “Baik kok Mah” jawabnya, matanya seperti mencari seseorang, Jovan


yang masih berantakan karena basah dikepalanya


“Abang,


Nina mana? Bagaimana keadaan Nina?” Tanya Kennie


Jovan


terdiam, entah pikirannya saat ini sedang kalut. Dona yang menggeleng seperti


memberi isyarat.


“Kenapa


semua diam? Kenapa tidak ada yang jawab” ucapnya lirih


“Gue


harap lo istirahat dulu, Nina baik-baik saja kok” ucap Jovan menenangkan,


hingga Kennie terdiam. Ia tahu pasti ada yang disembunyikan Jovan padanya.

__ADS_1


__ADS_2