Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 21


__ADS_3

Kennie berada di


rooftop, ia sedang memukul samsak yang mengantung. Kennie memukul dengan kuat.


Mengeluarkan tenaganya, hembusan nafasnya naik turun. Matahari sudah terik


menyinari hampir mencapai diatas ubun. Saat ini Kennie sedang malas berada dikelas,


Apalagi harus berkumpul dengan siswa yang sibuk bercerita dengan teman sebangku


lainnya.


Sejenak Kennie berhemti


lalu menjatuhkan bokongnya pada sofa kumuh, hembusan nafasnya belum tertatur.


Mengambil sebotol air mineral diatas meja hingga menegukan setengah. Lelah


sudah pasti.


Kennie mengelap


wajahnya dengan sapu tangannya. Memakai singlet, dan seragam sekolahnya


dibiarkan mengangtung ditiang Samsak.


Kennie membaringkan


badannya pada sofa lalu menatap langit biru yang cerah, ia mengistirahatkan dirinya.


Dan memejamkan matanya.


“Bukannya masuk kelas


belajar. Eh. Malah sibuk disini tiduran” ucap seseorang mengintrupsi, ia


berjalan mendekati Kennie yang sedang tidur pulas.


Kennie mendengus lalu


menatap datar kearah lelaki yang baru saja datang. “Ngapain lo disini?” Tanya


Kennie datar


Ben melangkah lalu


berdiri lalu melipat kedua tangannya depan dada. “Suka-suka gue, toh tidak ada


larangan juga” jawabnya masih menatap Kennie lekat.


Menyebalkan, mengapa


disaat Kennie ingin sendiri, selalu saja ada yang menganggunya.


“Gue masih ada ursan


sama lo,” ucap Ben


Kennie menyerngit


dahinya bingung “Urusan, bukannya sudah tidak ada” jawab Kennie


“Masih ada, temenin gue


ketemu sama Nina” ucap Ben membuat Kennie terdiam. Kennie bingung harus


bagaimana? Kennie tahu, Ben begitu merindukan Nina. Kennie berusaha


mengumpulkan tenaganya agar ia tidak salah dalam berkata.


“Kenapa harus gue?”


Tanya Kennie lagi


“Karena lo tahu


keberadaan Nina,” jawabnya


“Oke, Besok ikut gue


kesuatu tempat. Tetapi lo harus yakinin diri lo” ucapnya memberi tatapan Iba.


Membuat Ben bingung sendiri lalu menatap kepergian Kennie begitu saja.

__ADS_1


Jam pelajaran telah


selesai semua siswa berhamburan keluar kelas, Kennie yang sedari tadi berjalan


sambil menyeruput minuman dingin yang baru saja dibelinya. Bajunya masih


berantakan. Keringatnya masih belum kering.


Nova dan Keyla


menghampiri Kennie dengan tatapan aneh, “Astaga Ken, itu muka lecek amat, emang


lo abis ngapain. Baju berantakan abis tawuran lo” komentar Nova menatap


sahabatnya. Keyla berdiri termangu


“Abis latihan di


rooftop” jawabnya santai


Nova menepuk jidatnya,


“Gue mau kekelas dulu mau tiduran” ucapnya lagi membuat kedua sahabatnya


menggeleng kepala.


Ia bingung harus


bagaimana lagi menghadapi Kennie. temannya satu itu memang selalu membuat kedua


sahabatnya pusing.


Hingga suatu ide muncul


begitu saja dalam otaknya. Keyla menarik Nova kencang, entah apa yang


membuatnya pergi menemui Ben.


“Hey, tiga cogan”


ucapnya membuat ketiga cowok itu menoleh yang duduk dikantin


“Hai, neng cantik, ada


“Bukan sama lo tapi


sama Ben yang ganteng ini” balas Keyla ketus


“Ger, gue udah bilang


orang itu gue” ucapnya dengan pede tingkat akut, membuat Gerry mendengus sebal.


Sementara Jovan hanya menyimak


“Gue mau bicara empat


mata sama lo” ucap Keyla, membuat Nova menggerling heran.


“Udah ikut saja, Nova


lo tunggu disini” ucapnya lalu menarik lengan Ben begitu saja


“Emang mau bicara apa


sih? serius amat” ucap Gerry penasaran hingga Jovan mengangkat bahunya.



Ben sedari tadi berada


di halte, disana ia duduk sembari memainkan ponselnya. Ben seperti menunggu


seseorang. Sudah satu jam Ben menunggu namun seseorang tersebut belum juga


menampakkan batag hidungnya.


Hingga sebuah mobil


berhenti tepat dihadapan Ben, hingga menurunkan kaca mobilnya “Masuk” ucapnya


ternyata Kennie


“Dari mana aja? Gue

__ADS_1


udah menuggu sampai lumutan tau enggak” dumel Ben, membuat Kennie terkekeh.


Untuk kedua kalinya ia melihat gadis itu tersenyum.


“Biasa aja kali, Maaf”


ucapnya lalu melajukan mobilnya


Sebenarnya Ben bingung,


Kennie mau membawanya kemana? Rasa penarasan masih ada dalam benaknya. Tetapi


ia begitu gugup karena ia ingin bertemu dengan Nina. Gadis yang dirindukannya


selama ini. gadis yang dicarinya selama ini.


Kennie menyadari Ben


sedang gugup, hingga ia menghembuskan nafas berat “Lo gugup, ya” ledek Kennie


membuat Ben merasa kalut


Tawa Kennie pecah saat


mendapati ekspresi Ben yang aneh, “Seorang cowok populer seantero di SMK high


School, yang pedenya tingkat akut. Ternyata bisa gugup juga” ledeknya semakin


membuat Ben berdecak kesal.


“Bisa diam enggak” ucap


Ben ketus semakin membuat Kennie tidak bisa berhenti ketawa


“Lo tidak cocok jadi


galak, malahan lucu” ucap Kennie lagi dengan tawanya. Ben hanya bisa


mengepalkan jemarinya. Menggeram kesal.


Mobil Kennie berhenti


tepat parkiran TPU, Ben semakin bingung mengapa Kennie membawanya kesini.


Tetapi Ben hanya bisa menuruti lalu berjalan mengikutinya. Setelah memberi


bunga dan air.


Kennie berdiri tepat


disamping makam Nina, Ben ikut berdiri “Ini, Makam Nina Anandita. Orang yang lo


cari selama ini. orang yang lo rindukan selama ini” ucap Kennie memberi tahu,


Ben seketika membeku. Rasanya ia belum percaya bahwa Nina telah pergi. ia tidak


yakin.


“Lo pasti bohong, gue


tidak percaya, kalau Nina belum pergi” ucap Ben masih menatap nama Nisan


tersebut.


“Terserah lo, mau


percaya atau tidak, yang jelas gue sudah penuhi janji dengan Nina” ucap Kennie


datar. lalu menoleh kearah Ben yang sedang terpaku.


“Nin, Gue sudah penuhi


semuanya permintaan lo. Dan tepat saat ini lelaki yang lo maksud ada dihadapan


lo” ucapnya lagi


Ada perasaan lega dalam


diri Kennie, setelah memberitahu Ben yang sebenarnya. Sosok yang begitu


menyebalkan baginya. Ternyata adalah kekasih dari sahabatnya. Ada rasa tidak


percaya setelah mengetahui semuanya.

__ADS_1


__ADS_2