
Kennie berada di
rooftop, ia sedang memukul samsak yang mengantung. Kennie memukul dengan kuat.
Mengeluarkan tenaganya, hembusan nafasnya naik turun. Matahari sudah terik
menyinari hampir mencapai diatas ubun. Saat ini Kennie sedang malas berada dikelas,
Apalagi harus berkumpul dengan siswa yang sibuk bercerita dengan teman sebangku
lainnya.
Sejenak Kennie berhemti
lalu menjatuhkan bokongnya pada sofa kumuh, hembusan nafasnya belum tertatur.
Mengambil sebotol air mineral diatas meja hingga menegukan setengah. Lelah
sudah pasti.
Kennie mengelap
wajahnya dengan sapu tangannya. Memakai singlet, dan seragam sekolahnya
dibiarkan mengangtung ditiang Samsak.
Kennie membaringkan
badannya pada sofa lalu menatap langit biru yang cerah, ia mengistirahatkan dirinya.
Dan memejamkan matanya.
“Bukannya masuk kelas
belajar. Eh. Malah sibuk disini tiduran” ucap seseorang mengintrupsi, ia
berjalan mendekati Kennie yang sedang tidur pulas.
Kennie mendengus lalu
menatap datar kearah lelaki yang baru saja datang. “Ngapain lo disini?” Tanya
Kennie datar
Ben melangkah lalu
berdiri lalu melipat kedua tangannya depan dada. “Suka-suka gue, toh tidak ada
larangan juga” jawabnya masih menatap Kennie lekat.
Menyebalkan, mengapa
disaat Kennie ingin sendiri, selalu saja ada yang menganggunya.
“Gue masih ada ursan
sama lo,” ucap Ben
Kennie menyerngit
dahinya bingung “Urusan, bukannya sudah tidak ada” jawab Kennie
“Masih ada, temenin gue
ketemu sama Nina” ucap Ben membuat Kennie terdiam. Kennie bingung harus
bagaimana? Kennie tahu, Ben begitu merindukan Nina. Kennie berusaha
mengumpulkan tenaganya agar ia tidak salah dalam berkata.
“Kenapa harus gue?”
Tanya Kennie lagi
“Karena lo tahu
keberadaan Nina,” jawabnya
“Oke, Besok ikut gue
kesuatu tempat. Tetapi lo harus yakinin diri lo” ucapnya memberi tatapan Iba.
Membuat Ben bingung sendiri lalu menatap kepergian Kennie begitu saja.
__ADS_1
Jam pelajaran telah
selesai semua siswa berhamburan keluar kelas, Kennie yang sedari tadi berjalan
sambil menyeruput minuman dingin yang baru saja dibelinya. Bajunya masih
berantakan. Keringatnya masih belum kering.
Nova dan Keyla
menghampiri Kennie dengan tatapan aneh, “Astaga Ken, itu muka lecek amat, emang
lo abis ngapain. Baju berantakan abis tawuran lo” komentar Nova menatap
sahabatnya. Keyla berdiri termangu
“Abis latihan di
rooftop” jawabnya santai
Nova menepuk jidatnya,
“Gue mau kekelas dulu mau tiduran” ucapnya lagi membuat kedua sahabatnya
menggeleng kepala.
Ia bingung harus
bagaimana lagi menghadapi Kennie. temannya satu itu memang selalu membuat kedua
sahabatnya pusing.
Hingga suatu ide muncul
begitu saja dalam otaknya. Keyla menarik Nova kencang, entah apa yang
membuatnya pergi menemui Ben.
“Hey, tiga cogan”
ucapnya membuat ketiga cowok itu menoleh yang duduk dikantin
“Hai, neng cantik, ada
“Bukan sama lo tapi
sama Ben yang ganteng ini” balas Keyla ketus
“Ger, gue udah bilang
orang itu gue” ucapnya dengan pede tingkat akut, membuat Gerry mendengus sebal.
Sementara Jovan hanya menyimak
“Gue mau bicara empat
mata sama lo” ucap Keyla, membuat Nova menggerling heran.
“Udah ikut saja, Nova
lo tunggu disini” ucapnya lalu menarik lengan Ben begitu saja
“Emang mau bicara apa
sih? serius amat” ucap Gerry penasaran hingga Jovan mengangkat bahunya.
Ben sedari tadi berada
di halte, disana ia duduk sembari memainkan ponselnya. Ben seperti menunggu
seseorang. Sudah satu jam Ben menunggu namun seseorang tersebut belum juga
menampakkan batag hidungnya.
Hingga sebuah mobil
berhenti tepat dihadapan Ben, hingga menurunkan kaca mobilnya “Masuk” ucapnya
ternyata Kennie
“Dari mana aja? Gue
__ADS_1
udah menuggu sampai lumutan tau enggak” dumel Ben, membuat Kennie terkekeh.
Untuk kedua kalinya ia melihat gadis itu tersenyum.
“Biasa aja kali, Maaf”
ucapnya lalu melajukan mobilnya
Sebenarnya Ben bingung,
Kennie mau membawanya kemana? Rasa penarasan masih ada dalam benaknya. Tetapi
ia begitu gugup karena ia ingin bertemu dengan Nina. Gadis yang dirindukannya
selama ini. gadis yang dicarinya selama ini.
Kennie menyadari Ben
sedang gugup, hingga ia menghembuskan nafas berat “Lo gugup, ya” ledek Kennie
membuat Ben merasa kalut
Tawa Kennie pecah saat
mendapati ekspresi Ben yang aneh, “Seorang cowok populer seantero di SMK high
School, yang pedenya tingkat akut. Ternyata bisa gugup juga” ledeknya semakin
membuat Ben berdecak kesal.
“Bisa diam enggak” ucap
Ben ketus semakin membuat Kennie tidak bisa berhenti ketawa
“Lo tidak cocok jadi
galak, malahan lucu” ucap Kennie lagi dengan tawanya. Ben hanya bisa
mengepalkan jemarinya. Menggeram kesal.
Mobil Kennie berhenti
tepat parkiran TPU, Ben semakin bingung mengapa Kennie membawanya kesini.
Tetapi Ben hanya bisa menuruti lalu berjalan mengikutinya. Setelah memberi
bunga dan air.
Kennie berdiri tepat
disamping makam Nina, Ben ikut berdiri “Ini, Makam Nina Anandita. Orang yang lo
cari selama ini. orang yang lo rindukan selama ini” ucap Kennie memberi tahu,
Ben seketika membeku. Rasanya ia belum percaya bahwa Nina telah pergi. ia tidak
yakin.
“Lo pasti bohong, gue
tidak percaya, kalau Nina belum pergi” ucap Ben masih menatap nama Nisan
tersebut.
“Terserah lo, mau
percaya atau tidak, yang jelas gue sudah penuhi janji dengan Nina” ucap Kennie
datar. lalu menoleh kearah Ben yang sedang terpaku.
“Nin, Gue sudah penuhi
semuanya permintaan lo. Dan tepat saat ini lelaki yang lo maksud ada dihadapan
lo” ucapnya lagi
Ada perasaan lega dalam
diri Kennie, setelah memberitahu Ben yang sebenarnya. Sosok yang begitu
menyebalkan baginya. Ternyata adalah kekasih dari sahabatnya. Ada rasa tidak
percaya setelah mengetahui semuanya.
__ADS_1