
Kennie mendengus sebal
saat cowok yang berada dihadapannya itu menyuruhnya untuk mengerjakan soal
sebanyak itu. “lo gila, atau gimana sih? lagi gue harus mengerjakan sebanyak
ini” ucap kesal Kennie
“Kenapa juga Pak Bomar
menyuruh gue satu team sama manusia tengil kayak lo” umpatnya lagi menaruh
kertas soal diatas meja. Ben yang sedari tadi hanya diam mendengar ocehan
darinya.
“Sudah ngocehnya, ayok
kerjakan. Olimpiade sebentar lagi.” Ucap Ben kembali mengerjakan soal.
Kennie kembali
mendengus kesal kenapa juga Pak Bomar harus memilihnya masuk di Olimpiade yang
dapat menguras otak dan tenaga. Dan kenapa juga Kennie harus satu Team dengan
cowok tengil seperti Ben. semua benar-benar menyebalkan.
Kennie lebih memilih
jadi petinju daripada harus mengikuti lomba Olimpiade. Kennie menatap soal
dengan wajah gusar. lalu kembali mendongak menatap cowok yang dihadapannya
hanya diam mengerjakan soal tersebut.
Seketika Kennie
mengamati wajah cowok dengan seksama. “Ganteng sih? tapi nyebelin” pikir Kennie
tanpa sadar. Ia membuang jauh pikirannya. Cukup lama keheningan terjadi. Ben
mendongak melihat Kennie yang menatap “Gue ganteng ya, di tatapin terus” ucap
Ben membuyarkan lamunan Kennie
“Pede amat lo” jawab
Kennie gegalapan. Ben hanya terkekeh
“Bilang aja kenapa sih,
susah banget. Memang gue gantengnya seantero” ucap Ben yang tingkat pedenya
akut.
Kennie hanya bergidik
ngeri, “Ihh, Pedenya ketulungan ya.” Lalu kembali mengerjakan soal. Dari jauh
Jovan melihat dengan senyum tipis. “Elo yang semangat untuk Olimpiadenya. Gue
dukung lo adek kecil” gumam Jovan masih berdiri tepat dekat jendela
perpustakaan.
“Woi, ngapain berdiri
disini, Ayok temanin gue kekantin. Tidak usah ganggu mereka yang lagi PDKT an”
sahut Gerry menarik tangan Jovan.
Ben kembali mendongak
menatap Kennie dengan lekat. Mengapa mata
itu sangat mirip dengan Nina dan mengingatku padanya, ucap Ben dalam hati.
Sambil meneguk salivanya. Aku sangat
merindukan kamu, tetapi Apa kamu merindukan aku juga. ucapnya lagi. Ben
__ADS_1
hanya bisa berdoa dengan harapan bisa bertemu seorang yang sangat
dirindukannya.
Tetapi itu semua hanya
mimpi baginya, Kennie yang tersadar karena Ben terus memperhatikannya sejak
tadi. “Woi, muka gue cantik ya terus diliatin terus ya” ucap Kennie menyadarkan
lamunan Ben. hingga ia berdecih kembali menatap kertas soal yang ada
dihadapannya.
“Udah puas liatinnya”
ucap Kennie lagi dengan nada tinggi
“Memang lo cantik,
untuk dilihatin. Gue rasa muka lo itu pas-pasan” ledek Ben membuat Kennie
mendengus sebal. Ia beranjak dari bangkunya Ben yang menatap Kennie yang ingin
keluar dari perpustakaan tempat mereka belajar.
“Woi belum selesai,
main keluar aja” teriak Ben hingga seisi ruangan menatapnya intens. Ben hanya
menampakkan wajah cengirannya. Sambil menampakkan deretan gigi putihnya.
“Bodo amat” jawab
Kennie ketus lalu pergi begitu saja
Jovan yang bermain
basket dilapangan sendirian. Langkah Kennie terhenti lalu menghampiri Jovan.
“Kalau main ajak gue juga dong” ucap Kennie menghentikan aksinya.
basket, Kennie kembali mendrible hingga bola itu masuk kedalam ring dengan
sempurna. Senyum Jovan mengembang lalu menangkap bola yang jatuh mengarah
padanya.
“Adek kecil gue makin
jago aja main basketnya” ucap Jovan memuji hingga Kennie hanya menampakkan
senyum tipisnya. Beberapa menit kemdian Bell bordering keras. Hingga Kennie
menghentikan aksinya dan melempar bola basket kearah Jovan.
“Udah masuk, gue
duluan” ucapnya sambil melambaikan tangannya
Nova dan Keyla yang
sedang duduk menatap Kennie yang baru saja datang. “Dari mana aja Bu, tuhh muka
kenapa sumringah amat. Biasanya datar kayak papan triplek” ucapnya Nova
mengamati sahabatnya.
“Abis main, memang
kenapa?” tanyanya balik
Olimpiade seminggu lagi
tepatnya di hari yang sama dengan pertandingan turnamen. Aduh, Gimana nih.” Gumam
Kennie sambil mendengus sebal. Mengapa tepat dihari yang sama pula. Kennie
mengacak rambutnya frustasi, Nova dan Keyla yang melihat sahabatnya yang sedang
__ADS_1
gelisah entah itu karena apa. Mereka tidak tahu.
Nova dan Keyla menatao
Kennie bingung “Tadi lo datang sumringah sekarang kenapa berubah jadi gusar
begini?” tanyanya
Kennie hanya terdiam,
“Enggak kok Nov, Gue hanya pusing saja” ucap Kennie berbohong
Nova dan Keyla tidak
tahu jika Kennie mengikuti pertandingan turnamen. Mereka hanya tahu bahwa
Kennie sangat menyukai boxing.
“Lebih baik lo tenangin
diri lo supaya bisa fresh buat pertandingan Olimpiade minggu depan” ucap Keyla
mengingat Kennie perwakilan dari sekolahnya.
“Lebih baik gue
mengundurkan diri saja deh” ucap Kennie seketika membuat kedua sahabatnya
menautkan alisnya bingung.
“Astaga Ken,
Olimpiadenya sebentar lagi. Gue sama Keyla mendukung lo. Kenapa tiba-tiba mau
ngundurin diri, sih?” Tanya Nova sebal dengan sahabatnya
“Gue tidak bisa,”
“Atau mungkin ini
karena Ben?” tanyanya memang benar, ia tidak mau satu team dengan manusia
menyebalkan seperti Ben.
“Maybe”jawabnya
“Gue harap lo tidak
mengecewakan semua orang, karena sikap lo yang seperti itu” kata Nova mendengus
sebal. Kennie hanya terdiam memikirkan tentang perkataan Novi.
“Oke, gue tidak akan
mengundurkan diri. Dengan amat-teramat terpaksa gue harus satu team dengan
manusia menyebalkan seperti Ben” ungkapnya menopang dagu dengan kedua tanganya.
Dua hari sebelum
pertandingan dimulai, Kennie semakin gelisah karena dia juga harus mengikuti
turnamen Boxing. Menyebalkan
Dengan satu pukulan,
pada samsak. Kekesalan tertuangkan. Kennie hanya bisa pasrah dan memilih.
Mendengar suara
deringan ponsel Kennie mengangkatnya segera, “Turmanennya diadakan pada saat
malam hari. Jadi kamu masih bisa latihan sebaik mungkin” mendengar ucapan dari
Coach Raka
Kennie menghembus nafas
lega, akhirnya jadwalnya bisa diatur juga. ia merentangkan kedua tangannya lalu
__ADS_1
merebahkan badannya.