Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 25


__ADS_3

Hari minggu adalah hari


yang paling disenangi oleh kaum muda-mudi. Pagi ini Ben tengah bersiap,


merapikan rambut, agar terlihat keren. Dengan mengenakan kaus omblong berwarna


keabuan senada. “Sip dah, udah ganteng” ucap Ben dengan pedenya tingkat akut.


Ben menuruni anak


tangga, hari ini rumahnya sedang sepi. Orangtua Ben sibuk diluar negeri karena


harus bekerja dan mengelolah perusahaannya. Sedangkan pembantunya pulang


kampung. Ben keluar dari rumah dan langsung menencap gas keluar dari gerbang


rumahnya.


Lima belas menit dalam


perjalan karena tidak jauh dari komplek perumahannya. Ben keluar dari jok


kemudinya. Seketika menatap rumah Kennie yang tidak mewah naum terkesan elegan


namun penuh kesejukan kaerana penuh kehijauhan.


Ben mengetuk pintu,


lalu tidak lama menampakkan seorang wanita paruh baya, Dona tersenyum lebar


menatap Ben “Nak Ben,” sappa Dona-Mamanya Kennie.


Ben mengangguk


mengiyakan “Iya, Tante” jawabnya


“Silahkan masuk”


Ben berjalan masuk lalu


di single sofa, sedangkan Dona


berjalan memanggil Kennie. Ben duduk menatap rumah penuh kesejukan. Ini kedua


kelinya Ben mengunjungi rumah Kennie.


Kennie berjalan menuju


ruang tamu, ia sudah menyampir tas kecilnya. Kali ini Kennie mengenakan Hoodie


berwarna biru senada.


“Sorry lama, Mah Kennie


berangkat dulu” pamit Kennie sambil menyalami punggung tangan Dona. Begitu juga


dengan Ben.


Mereka berjalan keluar,


memasuki mobil, seketika Ben menancap gas keluar dari gerbang.


Sepanjang perjalanan


hanya ada keheningan. Ben melajukan mobilnya diatas rata-rata. “Sebenarnya lo


mau bawa gue kemana sih?” Tanya Kennie membuka suara


“Ada, mungkin lo akan


suka banget dengan tempat. Gue yakin seribu persen” ucap Ben dengan penuh


keyakinan.


Satu jam perjalan


akhirnya Ben dan Kennie tiba ditempat tersebut, mereka berjalan. “Ini adalah


tempat favorite gue bersama Nina” ucap Ben sambil memandangi alam liar,


pemandangan dengan pegunungan,


Kennie termenung, ia


tahu Nina sangat menyukai tempat seperti ini. apalagi menghirup udara segar,


merasakan hembusan angin.


“Lo lagi kangen sama


Nina,” ucap Kennie tersenyum tipis lalu kembali menatap kedepan.


Mereka berdiri tepatnya


di tepi gunung, “Lo jangan sedih lagi, karena Nina tidak suka melihat lo


seperti ini” ucap Kennie kembali menguatkan Ben.


“Lo


beruntung Nin, bisa dicintai seorang lelaki seperti Ben,”gumam Kennie dalam hati. Ia memang tidak bisa menutupi dirinya, dan menutupi


perasaannya bila bersama Ben. padahal ia tahu Ben adalah Rivalnya dulu. tetapi

__ADS_1


mengapa sekarang jadi merasa nyaman.


Ben mengambil Camera


didalam tas punggungnya, lalu mengambil objeck gambar. Ia tersenyum saat


memandangi hasil karyanya.


“Itu adalah Camera


kesukaan Nina” ucap Ben yang diangguki olehnya


Kennie berdiri menarik


nafas panjang lalu memejamkan matanya, ia menghirup udara bebas yang menghembus


hingga sampai tulang. Sejuk, Yap itulah yang ia rasakan. Selama ini ia hanya


sekedar latihan dan sekolah.


“Gue sangat merindukan


Nina, andaikan ia masih ada. Pasti dia sangat senang sekali berada disini. Dan


tempat ini merupakan saksi gue—“


“Jadian” potong Kennie


yang diangguki Ben


Kennie menatap iba


sambil tersenyum lebar, “Doain aja, jangan sedih.” Sambil memegang punggung


kiri Ben.



Baim terkekeh melihat


tingkah adiknya itu gemar, karena sedari tadi Kennie terus mengoceh. Baim tahu


adiknya itu sedang jatuh cinta terhadap seseorang. “Yaudah kali, Ken. Bilang


aja, kalau lo lagi jatuh cinta” ledeknya lagi semakin membuat Kennie geram.


Kennie meninju samsak


itu berkali-kali, “Seperti kayak apa sih, Hah. Cowok yang membuat lo


uring-uringan seperti ini?” tanyanya, yang masih tidak dipedulikan oleh adiknya


itu.


ketusnya sambil mengerucutkan kedua tangannya depan dada.


Kennie menghentikan


aksinya, lalu menjatuhkan bokongnya di tangga. Ia menyenderkan kepalanya pada


pegangan ditangga itu.


Begitu juga yang


diikuti oleh Baim, “Udah jangan ngambek begitu, lebih baik sekarang lo ganti


baju. Dan kita pergi ke resto” ucapnya


“Aye aye Captain” ucap


Kennie hormat pada Baim


Lima menit sudah Kennie


berganti baju, sedangkan Baim menunggunya diruang tunggu sambil memainkan


ponselnya.


“Lama amat sih” dumel


Baim yang baru saja melihat Kennie keluar dari toilet, “Bawel deh, katanya mau


pergi ayoo” tukas Kennie lalu menarik Baim pergi menuju parkiran.


Di perjalanan Kennie


tetap memandangi jalanan lewat jendela mobil. Ada senyum terukir saat mengingat


kejadian kemarin ia bersama dengan Ben. meski begitu menyebalkan baginya tetapi


Kennie merasa begitu nyaman. Sesekali Baim menoleh tersenyum.


Ben memarkirkan


mobilnya disebuah Café, Kennie yang merasa tidak asing terhadap Café  yang dikunjunginya.


“Bukannya ini, Cafenya


Ben ya?” tanyanya dirinya sendiri


“Ini tempatnya, Ayo


masuk.”

__ADS_1


“Entar dulu, Bukannya


ini tempatnya dulu dirayain ulang tahun gue?” tanyanya yang diangguki oleh Baim


“That’s right” jawabnya


singkat


“Ngapain berdiri, ayo


masuk” lanjutnya lalu menarik lengan Kennie


Mereka memasuki Café


tersebut, ternyata Baim membawakan di sebuah Café tempat ia dan sahabatnya


berkumpul. Sekalgus tempat yang pernah dirayakan ulang tahunnya juga.


Kennie duduk disalah


satu tempat pojokan, mereka duduk berhadapan. “Silakan, Ini buku menunya”


seseorang menyapa mereka, Kennie mendongak menatap siapa yang menyapanya.


“Ben”


“Hai”


Sapanya, “Kennie, lo


kenal sama Bang Baim?” tanyanya


“Kalian saling kenal?”


Tanya Baim memastikan yang diangguki keduanya, “Berarti kalian berdua ini---“


seketika Kennie menginjak kaki Baim hingga membuatnya meringis kesakitan.


“Aww, sakit Woi” umpat


Baim lalu mengusap kaki kirinya


“Ohh, jadi lo pemilik


Café BGJ  ini?” Tanya Baim lagi yang


diangguki olehnya


“Tetapi yang gue temuin


kemarin itu sih, Gerry, Ya, Gerry” ucapnya mengingat saat bertemu dengan salah


satu pemilik Café BGJ.


“Iya, Gerry itu sahabat


gue sekaligus partner” jawabnya


Baim hanya mengangguk


mengiyakan, “Silakan pilih menunya,” ucap Ben mempersilakan, setelah memilih


dan memesan menu. Ben dengan segera memberikan pada resepsionist. Dan


memerintah salah satu karyawannya.


“Jadi yang tadi itu


gebetan lo?” Tanya Baim membuat Kennie terdiam sesaat,


“Bukan Bang, dia itu


pacar dari sahabat gue, Nina” jawabnya, Baim sangat mengerti keadaan adik


angkatnya itu. Kennie menghembuskan nafas panjang. “Doakan saja Nina, Abang yakin,


dia pasti bahagia bila melihat lo bahagia” ucap menyakinkan adiknya.


“Apakah cowok tadi


adalah orang yang lo suka?” Tanya Baim sambil berbisik dihadapan Kennie,


Kennie menautkan alis,


“Enggak Bang,” jawabnya


“Dek, setiap kali lo


melihat dia, ada tatapan yang berbeda. Abang bisa lihat itu. dan Abang tahu lo


ada feeling sama Ben” telak Baim membuat Kennie bungkam.


Kennie terdiam, bahwa


yang dikatakan Baim itu benar adanya. Kennie sedang jatuh cinta. Tetapi ia


tidak ingin mengatakan bahwa Ben adalah rivalnya disekolah.


Tidak lama kemudian


pelayan datang dengan membawa dua gelas jus serta makanan pesanannya.


“Makasih ya,” ucap

__ADS_1


Kennie


__ADS_2