
Hari minggu adalah hari
yang paling disenangi oleh kaum muda-mudi. Pagi ini Ben tengah bersiap,
merapikan rambut, agar terlihat keren. Dengan mengenakan kaus omblong berwarna
keabuan senada. “Sip dah, udah ganteng” ucap Ben dengan pedenya tingkat akut.
Ben menuruni anak
tangga, hari ini rumahnya sedang sepi. Orangtua Ben sibuk diluar negeri karena
harus bekerja dan mengelolah perusahaannya. Sedangkan pembantunya pulang
kampung. Ben keluar dari rumah dan langsung menencap gas keluar dari gerbang
rumahnya.
Lima belas menit dalam
perjalan karena tidak jauh dari komplek perumahannya. Ben keluar dari jok
kemudinya. Seketika menatap rumah Kennie yang tidak mewah naum terkesan elegan
namun penuh kesejukan kaerana penuh kehijauhan.
Ben mengetuk pintu,
lalu tidak lama menampakkan seorang wanita paruh baya, Dona tersenyum lebar
menatap Ben “Nak Ben,” sappa Dona-Mamanya Kennie.
Ben mengangguk
mengiyakan “Iya, Tante” jawabnya
“Silahkan masuk”
Ben berjalan masuk lalu
di single sofa, sedangkan Dona
berjalan memanggil Kennie. Ben duduk menatap rumah penuh kesejukan. Ini kedua
kelinya Ben mengunjungi rumah Kennie.
Kennie berjalan menuju
ruang tamu, ia sudah menyampir tas kecilnya. Kali ini Kennie mengenakan Hoodie
berwarna biru senada.
“Sorry lama, Mah Kennie
berangkat dulu” pamit Kennie sambil menyalami punggung tangan Dona. Begitu juga
dengan Ben.
Mereka berjalan keluar,
memasuki mobil, seketika Ben menancap gas keluar dari gerbang.
Sepanjang perjalanan
hanya ada keheningan. Ben melajukan mobilnya diatas rata-rata. “Sebenarnya lo
mau bawa gue kemana sih?” Tanya Kennie membuka suara
“Ada, mungkin lo akan
suka banget dengan tempat. Gue yakin seribu persen” ucap Ben dengan penuh
keyakinan.
Satu jam perjalan
akhirnya Ben dan Kennie tiba ditempat tersebut, mereka berjalan. “Ini adalah
tempat favorite gue bersama Nina” ucap Ben sambil memandangi alam liar,
pemandangan dengan pegunungan,
Kennie termenung, ia
tahu Nina sangat menyukai tempat seperti ini. apalagi menghirup udara segar,
merasakan hembusan angin.
“Lo lagi kangen sama
Nina,” ucap Kennie tersenyum tipis lalu kembali menatap kedepan.
Mereka berdiri tepatnya
di tepi gunung, “Lo jangan sedih lagi, karena Nina tidak suka melihat lo
seperti ini” ucap Kennie kembali menguatkan Ben.
“Lo
beruntung Nin, bisa dicintai seorang lelaki seperti Ben,”gumam Kennie dalam hati. Ia memang tidak bisa menutupi dirinya, dan menutupi
perasaannya bila bersama Ben. padahal ia tahu Ben adalah Rivalnya dulu. tetapi
__ADS_1
mengapa sekarang jadi merasa nyaman.
Ben mengambil Camera
didalam tas punggungnya, lalu mengambil objeck gambar. Ia tersenyum saat
memandangi hasil karyanya.
“Itu adalah Camera
kesukaan Nina” ucap Ben yang diangguki olehnya
Kennie berdiri menarik
nafas panjang lalu memejamkan matanya, ia menghirup udara bebas yang menghembus
hingga sampai tulang. Sejuk, Yap itulah yang ia rasakan. Selama ini ia hanya
sekedar latihan dan sekolah.
“Gue sangat merindukan
Nina, andaikan ia masih ada. Pasti dia sangat senang sekali berada disini. Dan
tempat ini merupakan saksi gue—“
“Jadian” potong Kennie
yang diangguki Ben
Kennie menatap iba
sambil tersenyum lebar, “Doain aja, jangan sedih.” Sambil memegang punggung
kiri Ben.
Baim terkekeh melihat
tingkah adiknya itu gemar, karena sedari tadi Kennie terus mengoceh. Baim tahu
adiknya itu sedang jatuh cinta terhadap seseorang. “Yaudah kali, Ken. Bilang
aja, kalau lo lagi jatuh cinta” ledeknya lagi semakin membuat Kennie geram.
Kennie meninju samsak
itu berkali-kali, “Seperti kayak apa sih, Hah. Cowok yang membuat lo
uring-uringan seperti ini?” tanyanya, yang masih tidak dipedulikan oleh adiknya
itu.
ketusnya sambil mengerucutkan kedua tangannya depan dada.
Kennie menghentikan
aksinya, lalu menjatuhkan bokongnya di tangga. Ia menyenderkan kepalanya pada
pegangan ditangga itu.
Begitu juga yang
diikuti oleh Baim, “Udah jangan ngambek begitu, lebih baik sekarang lo ganti
baju. Dan kita pergi ke resto” ucapnya
“Aye aye Captain” ucap
Kennie hormat pada Baim
Lima menit sudah Kennie
berganti baju, sedangkan Baim menunggunya diruang tunggu sambil memainkan
ponselnya.
“Lama amat sih” dumel
Baim yang baru saja melihat Kennie keluar dari toilet, “Bawel deh, katanya mau
pergi ayoo” tukas Kennie lalu menarik Baim pergi menuju parkiran.
Di perjalanan Kennie
tetap memandangi jalanan lewat jendela mobil. Ada senyum terukir saat mengingat
kejadian kemarin ia bersama dengan Ben. meski begitu menyebalkan baginya tetapi
Kennie merasa begitu nyaman. Sesekali Baim menoleh tersenyum.
Ben memarkirkan
mobilnya disebuah Café, Kennie yang merasa tidak asing terhadap Café yang dikunjunginya.
“Bukannya ini, Cafenya
Ben ya?” tanyanya dirinya sendiri
“Ini tempatnya, Ayo
masuk.”
__ADS_1
“Entar dulu, Bukannya
ini tempatnya dulu dirayain ulang tahun gue?” tanyanya yang diangguki oleh Baim
“That’s right” jawabnya
singkat
“Ngapain berdiri, ayo
masuk” lanjutnya lalu menarik lengan Kennie
Mereka memasuki Café
tersebut, ternyata Baim membawakan di sebuah Café tempat ia dan sahabatnya
berkumpul. Sekalgus tempat yang pernah dirayakan ulang tahunnya juga.
Kennie duduk disalah
satu tempat pojokan, mereka duduk berhadapan. “Silakan, Ini buku menunya”
seseorang menyapa mereka, Kennie mendongak menatap siapa yang menyapanya.
“Ben”
“Hai”
Sapanya, “Kennie, lo
kenal sama Bang Baim?” tanyanya
“Kalian saling kenal?”
Tanya Baim memastikan yang diangguki keduanya, “Berarti kalian berdua ini---“
seketika Kennie menginjak kaki Baim hingga membuatnya meringis kesakitan.
“Aww, sakit Woi” umpat
Baim lalu mengusap kaki kirinya
“Ohh, jadi lo pemilik
Café BGJ ini?” Tanya Baim lagi yang
diangguki olehnya
“Tetapi yang gue temuin
kemarin itu sih, Gerry, Ya, Gerry” ucapnya mengingat saat bertemu dengan salah
satu pemilik Café BGJ.
“Iya, Gerry itu sahabat
gue sekaligus partner” jawabnya
Baim hanya mengangguk
mengiyakan, “Silakan pilih menunya,” ucap Ben mempersilakan, setelah memilih
dan memesan menu. Ben dengan segera memberikan pada resepsionist. Dan
memerintah salah satu karyawannya.
“Jadi yang tadi itu
gebetan lo?” Tanya Baim membuat Kennie terdiam sesaat,
“Bukan Bang, dia itu
pacar dari sahabat gue, Nina” jawabnya, Baim sangat mengerti keadaan adik
angkatnya itu. Kennie menghembuskan nafas panjang. “Doakan saja Nina, Abang yakin,
dia pasti bahagia bila melihat lo bahagia” ucap menyakinkan adiknya.
“Apakah cowok tadi
adalah orang yang lo suka?” Tanya Baim sambil berbisik dihadapan Kennie,
Kennie menautkan alis,
“Enggak Bang,” jawabnya
“Dek, setiap kali lo
melihat dia, ada tatapan yang berbeda. Abang bisa lihat itu. dan Abang tahu lo
ada feeling sama Ben” telak Baim membuat Kennie bungkam.
Kennie terdiam, bahwa
yang dikatakan Baim itu benar adanya. Kennie sedang jatuh cinta. Tetapi ia
tidak ingin mengatakan bahwa Ben adalah rivalnya disekolah.
Tidak lama kemudian
pelayan datang dengan membawa dua gelas jus serta makanan pesanannya.
“Makasih ya,” ucap
__ADS_1
Kennie