
Kennie dan Ben sudah
berada di suatu perlombaan Olimpiade, semua peserta mengenakan name tag yang
menggantung dilehernya. Kennie dan duduk disalah satu bangku penonton untuk
melihat peserta yang berada di atas. Ben menoleh menatap Kennie yang masih menampakkan
wajah datarnya. Ben dapat melihat mata itu dengan jelas. Meski ia selalu
kepergok oleh Kennie.
“Kenapa lo menatap gue,
apa ada yang salah dengan gue?” tanyanya
“Iya, banyak salah lo
yaitu muka lo kayak triplek datar banget” jawab Ben sambil menyandarkan dirinya
pada bangku tersebut.
“Awas aja kalau lo
tidak bisa menjawab pertanyaan dewan juri. Gue ---“ ucap Ben tidak dapat
melanjutkan ucapannya
“Gue yang tonjok lo
kalau sekolah kita kalah” ucap Kennie dingin sedingin es dikutub utara.
Ben menggeram kesal
sambil mengepalkan kedua tanganya, Ben yang kedapatan langsung menampakkan
wajah dengan gegalapan.
Acara berlangsung
begitu hikmat, kini giliran Kennie dan Ben maju dan duduk disalah satu bangku
peserta yang telah disediakan oleh pihak penyelenggara. Mereka masih dalam diam
saat membawa acara memulai.
Wajah datar yang
ditampakkan Kennie saat berada diatas panggung sedangkan Ben tersenyum lebar
menyapa para penggemarnya yang datang. Menebar pesona dimana-mana membuat
Kennie bergidik ngeri.
Meskipun jurusan mereka
berbeda tetapi kecerdasan dimiliki mereka setara. Kennie selalu menjawab
pertanyaan dengan benar, meski ada pergulatan batin diantara mereka. dua jam
sudah mereka berada diatas panggung. Kini mereka turun berjalan bersamaan
menuju ruangan istirahat, disana ada Pak Bomar selaku perwakilan mereka.
terdapat Nova, Keyla, Gerry dan Jovan duduk sedang menunggu mereka.
Ada rasa haru terpancar
diwajah Pak Bomar saat kedua anak didiknya datang menghampiri mereka.
“Bapak tidak salah
memilih kalian menjadi partner” Puji Pak Bomar sambil menampakkan wajah
sumringah. Sedangkan Kennie hanya diam
“Makasih Pak, Emang
kalau orang ganteng plus pinter Pak” ucap Ben dengan wajah cengengesan membuat
Kennie kesal. Kennie menghembuskan nafas panjang lalu kembali duduk disalah
satu tempat kosong.
Kennie yang mendengar
ponselnya bordering, ia segera merogoh tas punggung ternyata itu dari Coach
Raka, Kennie mengangkat.
“Kamu
dimana?”Tanya Coach Raka to the point
“Masih disekolah,
tunggu aja sebentar lagi aku kesana” jawab Kennie lalu memutuskan teleponnya
sepihak.
“Pak, aku izin pulang.
karena ada urusan mendadak. Apalagi lombanya juga sudah selesai. Jadi aku
pamit” ucap Kennie berpamitan pada Pak Bomar
“Tapi kenapa kamu tidak
tunggu sampai pengumuman?” Tanya lagi Pak Bomar
“Maaf Pak, aku tidak
__ADS_1
bisa. Karena urusan mendadak” jawab Kennie lalu pergi
Ben yang penasaran
ingin mengejar Kennie tetapi ia urungkan karena menunggu sampai acara selesai.
Dan menghargai kehadiran teman-temannya. Jovan yang masih menatap punggung
Kennie. ia masih penasaran sebenarnya Kennie ingin pergi kemana? Pertanyaan itu
terlintas dikepalanya begitu saja.
Kennie yang baru saja
sampai pada tempat pertandingan, ia memarkirkan motornya dan berjalan masuk.
Disana terdapat Baim tengah berdiri menunggunya sejak tadi. ada senyum terlukis
diwajah Kennie saat melihat kakak angkatnya
“Dari mana aja, Ken?”
Tanya Baim berdiri sambil melipat kedua tangannya depan dada
“Dari sekolah, Maaf
telat” ucapnya
“Sudah ditungguin dari
tadi sama Papa, sekarang kita masuk karena sebentar lagi giliran lo yang
bertanding di atas ring” jelasnya lalu mereka berdua berjalan masuk. Ada banyak
pasang mata yang melihat Kennie saat berada di tengah lapang. Dengan kerumunan
orang-orang dengan sorakan meriah.
“Akhirnya kamu datang
juga, Nak” ucap Coach Raka sumringah, karena jagoannya datang.
“Coach yakin kamu bisa
mengalahkan Rose,” ucap Coach Raka karena mengetahui kemampuan anak didiknya.
“Pasti Coach,” jawab
Kennie menyakinkan dirinya sendiri, Rose adalah Rivalnya. Yang ia ketahui
sangat kuat dan tak terkalahkan. Tetapi bagi Kennie itu hal biasa. Rose adalah
sosok yang dikenal karena kesombongan. Ingin selalu merebut apa saja yang
Kennie punya.
Kennie bersahabat bahka mereka seperti saudara tetapi Rose yang memiliki sifat
egois dan selalu ingin mengambil apapun yang Kennie miliki. Sejak mengetahui
Rose juga masuk disalah satu club boxing dan mereka kembali bertemu diturnamen
boxing. Kennie sempat berfikir mengapa ia harus bertarung dengan Rose?
Apa yang salah dengan
dirinya, Apa yang terjadi pada Rose, mengapa Rose begitu membencinya. Dan itu
pertanyaan masih ada didalam benak Kennie saat ini. Kennie yang sudah
mengenakan pakaian olahraganya. Lengkap dengan sarung tinju yang dikenakan
dikedua tangannya.
“Abang yakin lo bisa
menang melawannya, tetap focus jangan sampai terkecoh karena omongannya. Dan
ingat dia adalah Rival lo yang harus lo kalahkan di turnamen ini” jelas Baim
yang diangguki oleh Kennie.
“Pasti Bang,” ucap
Kennie begitu sangat yakin
Saat Host yang berada
di atas Ring memanggil keduanya masuk kedalam Ring tinju. Kennie tersenyum
lebar saat melihat wajah yang tidak asing baginya. Yap, seseorang itu adalah
Rose, yang merupakan rivalnya dalam turnamen kali ini. Rose tersenyum sinis.
Tepatnya mereka saling berhadapan, Rose menatap Kennie tajam seperti ada rasa
benci yang mendalam.
“Hey, Apa kabar lo,
akhirnya kita bertemu lagi. Setelah lo kalah dalam turnamen sebelumnya.” Ucap
Rose seperti mengejek Kennie.
“Gue baik, Tapi kali
ini gue akan kalahkan lo. Jangan sombong jadi orang. Dan gue harap lo bisa
kembali seperti dulu. Rose yang gue kenal” ucap Kennie begitu tenang. Rose
__ADS_1
masih menatap Kennie dengan tatapan tajam.
Saat wasit menjelaskan
pada mereka, untuk memulainya pertandingan. Mereka saling berhadapan. Sedangkan
Kennie masih menampakkan wajah tenangnya saat menghadapi Rose yang menatapnya
tajam.
Satu pukulan melayang
mengarah Kennie, tetapi berhasil ia hindari. “Apa pukulanmu segitu saja” ucap
Kennie meledek membuat Rose melayangkan pukulan itu padanya tetapi tidak
mengenai Kennie.
“Yailah loyo amat lo
jadi manusia, segitu aja nih” ledek Kennie membuat Rose merasa geram.
“Dasar Bunglon,” Erang
Rose melayangkan kembali pukulannya membuat Kennie terkejut.
Ia hanya tersenyum sinis
lalu membalas pukulan Rose secara bertubi-tubi. Wasit yang melihat langsung
saja memisahkan mereka. karens sudah lewat batas. Keringat yang membasahi tubuh
Kennie saat istirahat. Kennie menegukan satu botol air mineral yang di berikan
kepada Baim.
Sambil memijit kedua
punggung Kennie, Baim memberikan arahan “Abang bilang apa, focus saja, jangan
sampai terkecoh ya” ucapnya lagi, Coach Raka tersenyum lebar saat melihat
Kennie.
“Kamu bagus banget
tadi, Nak. Tetap ingat yang dikatakan oleh Abangmu ini” ucapnya menambahkan.
Kennie hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ronde kedua kembali dimulai.
Pertandingan
berlangsung sangat panas karena keduanya tidak bisa mengendalikan emosi mereka.
hingga wasit kewalan menghadapi keduanya. Rose tersenyum sinis saat menatap
Kennie jatuh tersungkur kebawa.
Kennie berusaha bangun
dan mengumpulkan seluruh tenaganya, saat melihat Rose yang tesenyum licik
padanya. ia perlahan bangun, wajahnya sudah mulai lebam. Tenaga Kennie sudah
terkumpul, keringat jatuh dipilisnya.
Pertandingan kembali
mulai. Sudah menunjukkan Ronde sepuluh, dan ini adalah menentuan akhir. Kennie
dapat membaca gerakan Rose lakukan sehingga dengan mudah ia kalahkan.
Satu pukulan terakhir
dari Kennie membuat Rose jatuh tersungkur hingga membuat Coach Raka dan Baim
berseru bahagia. Ada senyum dibalik itu semua strategi yang dilakukan Kennie.
“Jangan sombong jadi
orang. Karena kesombongan tidak menjamin keberhasilan” ucap Kennie kembali
mengingat pada mantan sahabatnya itu. wasit mengangkat kedua tangan Kennie
menandakan dirinya telah menang melawan Rose.
Coach Raka dan Baim
langsung saja menghampiri Kennie, dengan sekejap Kennie memeluk Baim.
“Lo gila, Apa gimana
sih? Gue tidak bisa nafas nih” Oceh Baim karena Kennie memeluknya erat. Kennie
melepaskan pelukan itu hingga Baim bisa bernafas lega. Coach Raka tersenyum
senang, “Coach bangga padamu Kennie” ucapnya memuji.
“Yaelah, Ini juga
berkat Coach yang selalu melatih Kennie hingga seperti ini” ucap Kennie
merendah. “Tanpa dukungan kalian Kennie tidak bisa menjadi seperti ini”
tambahnya lagi.
Itu yang sangat disukai
oleh Baim karena sikap kerendahan Kennie, membuat keduanya merasa sangat bangga
padanya.
__ADS_1