Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 16


__ADS_3

Kennie dan Ben sudah


berada di suatu perlombaan Olimpiade, semua peserta mengenakan name tag yang


menggantung dilehernya. Kennie dan duduk disalah satu bangku penonton untuk


melihat peserta yang berada di atas. Ben menoleh menatap Kennie yang masih menampakkan


wajah datarnya. Ben dapat melihat mata itu dengan jelas. Meski ia selalu


kepergok oleh Kennie.


“Kenapa lo menatap gue,


apa ada yang salah dengan gue?” tanyanya


“Iya, banyak salah lo


yaitu muka lo kayak triplek datar banget” jawab Ben sambil menyandarkan dirinya


pada bangku tersebut.


“Awas aja kalau lo


tidak bisa menjawab pertanyaan dewan juri. Gue ---“ ucap Ben tidak dapat


melanjutkan ucapannya


“Gue yang tonjok lo


kalau sekolah kita kalah” ucap Kennie dingin sedingin es dikutub utara.


Ben menggeram kesal


sambil mengepalkan kedua tanganya, Ben yang kedapatan langsung menampakkan


wajah dengan gegalapan.


Acara berlangsung


begitu hikmat, kini giliran Kennie dan Ben maju dan duduk disalah satu bangku


peserta yang telah disediakan oleh pihak penyelenggara. Mereka masih dalam diam


saat membawa acara memulai.


Wajah datar yang


ditampakkan Kennie saat berada diatas panggung sedangkan Ben tersenyum lebar


menyapa para penggemarnya yang datang. Menebar pesona dimana-mana membuat


Kennie bergidik ngeri.


Meskipun jurusan mereka


berbeda tetapi kecerdasan dimiliki mereka setara. Kennie selalu menjawab


pertanyaan dengan benar, meski ada pergulatan batin diantara mereka. dua jam


sudah mereka berada diatas panggung. Kini mereka turun berjalan bersamaan


menuju ruangan istirahat, disana ada Pak Bomar selaku perwakilan mereka.


terdapat Nova, Keyla, Gerry dan Jovan duduk sedang menunggu mereka.


Ada rasa haru terpancar


diwajah Pak Bomar saat kedua anak didiknya datang menghampiri mereka.


“Bapak tidak salah


memilih kalian menjadi partner” Puji Pak Bomar sambil menampakkan wajah


sumringah. Sedangkan Kennie hanya diam


“Makasih Pak, Emang


kalau orang ganteng plus pinter Pak” ucap Ben dengan wajah cengengesan membuat


Kennie kesal. Kennie menghembuskan nafas panjang lalu kembali duduk disalah


satu tempat kosong.


Kennie yang mendengar


ponselnya bordering, ia segera merogoh tas punggung ternyata itu dari Coach


Raka, Kennie mengangkat.


“Kamu


dimana?”Tanya Coach Raka to the point


“Masih disekolah,


tunggu aja sebentar lagi aku kesana” jawab Kennie lalu memutuskan teleponnya


sepihak.


“Pak, aku izin pulang.


karena ada urusan mendadak. Apalagi lombanya juga sudah selesai. Jadi aku


pamit” ucap Kennie berpamitan pada Pak Bomar


“Tapi kenapa kamu tidak


tunggu sampai pengumuman?” Tanya lagi Pak Bomar


“Maaf Pak, aku tidak

__ADS_1


bisa. Karena urusan mendadak” jawab Kennie lalu pergi


Ben yang penasaran


ingin mengejar Kennie tetapi ia urungkan karena menunggu sampai acara selesai.


Dan menghargai kehadiran teman-temannya. Jovan yang masih menatap punggung


Kennie. ia masih penasaran sebenarnya Kennie ingin pergi kemana? Pertanyaan itu


terlintas dikepalanya begitu saja.



Kennie yang baru saja


sampai pada tempat pertandingan, ia memarkirkan motornya dan berjalan masuk.


Disana terdapat Baim tengah berdiri menunggunya sejak tadi. ada senyum terlukis


diwajah Kennie saat melihat kakak angkatnya


“Dari mana aja, Ken?”


Tanya Baim berdiri sambil melipat kedua tangannya depan dada


“Dari sekolah, Maaf


telat” ucapnya


“Sudah ditungguin dari


tadi sama Papa, sekarang kita masuk karena sebentar lagi giliran lo yang


bertanding di atas ring” jelasnya lalu mereka berdua berjalan masuk. Ada banyak


pasang mata yang melihat Kennie saat berada di tengah lapang. Dengan kerumunan


orang-orang dengan sorakan meriah.


“Akhirnya kamu datang


juga, Nak” ucap Coach Raka sumringah, karena jagoannya datang.


“Coach yakin kamu bisa


mengalahkan Rose,” ucap Coach Raka karena mengetahui kemampuan anak didiknya.


“Pasti Coach,” jawab


Kennie menyakinkan dirinya sendiri, Rose adalah Rivalnya. Yang ia ketahui


sangat kuat dan tak terkalahkan. Tetapi bagi Kennie itu hal biasa. Rose adalah


sosok yang dikenal karena kesombongan. Ingin selalu merebut apa saja yang


Kennie punya.


Kennie bersahabat bahka mereka seperti saudara tetapi Rose yang memiliki sifat


egois dan selalu ingin mengambil apapun yang Kennie miliki. Sejak mengetahui


Rose juga masuk disalah satu club boxing dan mereka kembali bertemu diturnamen


boxing. Kennie sempat berfikir mengapa ia harus bertarung dengan Rose?


Apa yang salah dengan


dirinya, Apa yang terjadi pada Rose, mengapa Rose begitu membencinya. Dan itu


pertanyaan masih ada didalam benak Kennie saat ini. Kennie yang sudah


mengenakan pakaian olahraganya. Lengkap dengan sarung tinju yang dikenakan


dikedua tangannya.


“Abang yakin lo bisa


menang melawannya, tetap focus jangan sampai terkecoh karena omongannya. Dan


ingat dia adalah Rival lo yang harus lo kalahkan di turnamen ini” jelas Baim


yang diangguki oleh Kennie.


“Pasti Bang,” ucap


Kennie begitu sangat yakin


Saat Host yang berada


di atas Ring memanggil keduanya masuk kedalam Ring tinju. Kennie tersenyum


lebar saat melihat wajah yang tidak asing baginya. Yap, seseorang itu adalah


Rose, yang merupakan rivalnya dalam turnamen kali ini. Rose tersenyum sinis.


Tepatnya mereka saling berhadapan, Rose menatap Kennie tajam seperti ada rasa


benci yang mendalam.


“Hey, Apa kabar lo,


akhirnya kita bertemu lagi. Setelah lo kalah dalam turnamen sebelumnya.” Ucap


Rose seperti mengejek Kennie.


“Gue baik, Tapi kali


ini gue akan kalahkan lo. Jangan sombong jadi orang. Dan gue harap lo bisa


kembali seperti dulu. Rose yang gue kenal” ucap Kennie begitu tenang. Rose

__ADS_1


masih menatap Kennie dengan tatapan tajam.


Saat wasit menjelaskan


pada mereka, untuk memulainya pertandingan. Mereka saling berhadapan. Sedangkan


Kennie masih menampakkan wajah tenangnya saat menghadapi Rose yang menatapnya


tajam.


Satu pukulan melayang


mengarah Kennie, tetapi berhasil ia hindari. “Apa pukulanmu segitu saja” ucap


Kennie meledek membuat Rose melayangkan pukulan itu padanya tetapi tidak


mengenai Kennie.


“Yailah loyo amat lo


jadi manusia, segitu aja nih” ledek Kennie membuat Rose merasa geram.


“Dasar Bunglon,” Erang


Rose melayangkan kembali pukulannya membuat Kennie terkejut.


Ia hanya tersenyum sinis


lalu membalas pukulan Rose secara bertubi-tubi. Wasit yang melihat langsung


saja memisahkan mereka. karens sudah lewat batas. Keringat yang membasahi tubuh


Kennie saat istirahat. Kennie menegukan satu botol air mineral yang di berikan


kepada Baim.


Sambil memijit kedua


punggung Kennie, Baim memberikan arahan “Abang bilang apa, focus saja, jangan


sampai terkecoh ya” ucapnya lagi, Coach Raka tersenyum lebar saat melihat


Kennie.


“Kamu bagus banget


tadi, Nak. Tetap ingat yang dikatakan oleh Abangmu ini” ucapnya menambahkan.


Kennie hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ronde kedua kembali dimulai.


Pertandingan


berlangsung sangat panas karena keduanya tidak bisa mengendalikan emosi mereka.


hingga wasit kewalan menghadapi keduanya. Rose tersenyum sinis saat menatap


Kennie jatuh tersungkur kebawa.


Kennie berusaha bangun


dan mengumpulkan seluruh tenaganya, saat melihat Rose yang tesenyum licik


padanya. ia perlahan bangun, wajahnya sudah mulai lebam. Tenaga Kennie sudah


terkumpul, keringat jatuh dipilisnya.


Pertandingan kembali


mulai. Sudah menunjukkan Ronde sepuluh, dan ini adalah menentuan akhir. Kennie


dapat membaca gerakan Rose lakukan sehingga dengan mudah ia kalahkan.


Satu pukulan terakhir


dari Kennie membuat Rose jatuh tersungkur hingga membuat Coach Raka dan Baim


berseru bahagia. Ada senyum dibalik itu semua strategi yang dilakukan Kennie.


“Jangan sombong jadi


orang. Karena kesombongan tidak menjamin keberhasilan” ucap Kennie kembali


mengingat pada mantan sahabatnya itu. wasit mengangkat kedua tangan Kennie


menandakan dirinya telah menang melawan Rose.


Coach Raka dan Baim


langsung saja menghampiri Kennie, dengan sekejap Kennie memeluk Baim.


“Lo gila, Apa gimana


sih? Gue tidak bisa nafas nih” Oceh Baim karena Kennie memeluknya erat. Kennie


melepaskan pelukan itu hingga Baim bisa bernafas lega. Coach Raka tersenyum


senang, “Coach bangga padamu Kennie” ucapnya memuji.


“Yaelah, Ini juga


berkat Coach yang selalu melatih Kennie hingga seperti ini” ucap Kennie


merendah. “Tanpa dukungan kalian Kennie tidak bisa menjadi seperti ini”


tambahnya lagi.


Itu yang sangat disukai


oleh Baim karena sikap kerendahan Kennie, membuat keduanya merasa sangat bangga


padanya.

__ADS_1


__ADS_2