
Kennie sedang berlatih
di club Boxing, dengan penuh semangat Kennie memukul samsak yang menggantung.
Didampingi oleh Coach Raka yang sedang berdiri disampingnya. Coach Raka sangat
senang melatih muridnya itu. semua gerakan Kennie sudah mengusai dengan cepat.
Ia menyeka keringat
yang sudah membasahi wajahnya sedari tadi, “KENNIE, Berhenti” sahut seseorang
membuat Kennie menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh terkejut saat melihat
siapa yang datang menemuinya.
“Mama” Gumam Kennie
Kennie melirik
disampingnya melihat Ben dengan tajam. Pasti
Ben yang memberitahu, Mama. Pikir Kennie dalam hati.
Dona menghampiri
Kennie, ia menatap anaknya kwatir. Ia baru mengetahui Kennie setelah Ben
menceritakannya. Dona tidak menyangka mengapa Kennie bisa masuk ke Club yang
berbahaya ini, itu menurut Dona.
“Sekarang pulang, Mama
perlu bicara sama kamu” ucap Dona
Kennie menghembuskan
nafas berat, “Sebaiknya kamu pulang saja dulu. kalau terjadi sesuatu bilang
saja sama Coach” ucap Coach Raka
Kennie hanya mengangguk
paham “Makasih Coach,” setelah berkata seperti, Kennie dengan begitu menyusul
Mamanya pulang.
Saat ini Kennie sedang
duduk disofa, ia hanya duduk diam karena sedari tadi Dona terus memarahinya.
“Kennie kamu dengar
Mama enggak sih” ucapnya
“Iya, Mama dengar kok.
lagian Kennie cuman latihan doang. Belum juga bertanding di arena” ucapnya
dengan santainya
“Astaga Ken, Mama tidak
mau kamu terluka. Apalagi sampai muka kamu babak belur. Biru-biru” ucap Dona
Heboh.
Kennie tahu Dona sangat
mengkawatirkan dirinya. Tetapi ini adalah sebuah tekad dalam diri Kennie
menjaga keluarganya. Meskipun tanpa ayah disisinya.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan
membuat Dona berhenti berbicara lalu berjalan keluar menuju pintu utama, Kennie
yang menghembuskan nafas lega karena akhirnya Dona-Mamanya berhenti mengoceh
sejak sejak dua jam lalu.
Dengan rasa penasaran
Kennie beranjak dari sofa menuju ruang tamu. Ia penasaran siapa yang datang.
Langkah Kennie terhenti saat melihat sosok gadis yang dikenalnya yaitu Rose,
mantan sahabatnya dahulu. Ngapain Dia ada disini?, pertanyaan itu terlintas
berada dibenaknya.
Sedangkan lelaki
setengah baya, itu duduk dengan wajah memohon pada Dona-Mamanya. Kennie
melangkah dengan memasang wajah datarnya serta menatap tajam Rose.
“Kennie,” Gumam Rose
saat melihat Kennie
“Dia siapa, Mah?” Tanya
Kennie dengan nada dingin
“Dia adalah Ayahmu,
__ADS_1
Ayah yang pernah meninggalkan kita” jawab Dona, Kennie terdiam. Ini adalah
pertemuan pertamanya.
“A-Ayah” sapa Kennie
terbata, menatap lelaki itu dengan intens. Lelaki baya itu berdiri dan langsung
memeluk Kennie dengan erat. Tetapi Kennie masih terdiam tanpa membalas pelukan
itu.
“Maaf, Aku tidak punya
Ayah seperti anda. Ayah yang tega meninggalkan kami” ucap Kennie dingin
sedingin es dikutup utara. Kennie memang merindukan sosok Ayah, tetapi setelah
mendengar fakta yang sebenarnya. Kennie malah bersikap dingin padanya.
“Kennie jaga ucapanmu,
dia adalah Ayahmu” tekan Dona
Kennie tersenyum
miring, “Maaf, Mah. Kennie tidak menerima orang asing seperti Dia” ucapnya
lagi.
“Kenalkan ini adalah
Kakak kamu, Rose Andala” ujar Hendra memperkenalkan anak sulungnya.
DEG
Kennie yang mendengar
pernyataan itu langsung tercekat, ternyata selama ini yang menjadi rivalnya di
ring tinju adalah saudara kandungnya sendiri. Rose berdiri lalu menampakkan
senyum lebarnya. Sementara Dona tersenyum senang saat melihat putri sulungnya,
yang dulu pernah dibawa pergi oleh Hendra.
“Aku tidak butuh Ayah
dan Saudara seperti mereka” ucap Kennie seketika lalu pergi begitu saja.
“Mungkin kalian harus bersabar
menghadapi Kennie, ia masih syok. Dengan kedatangan kalian” ucap Dona, memberi
saran.
Hendra bernafas berat,
Hendra heran mengapa Kennie bersikap dingin kepada siapapun. Dona sudah
menceritakan semua tentang kehidupan Kennie pada Hendra, Mantan suaminya.
“Aku akan mencoba lagi,
agar Kennie bisa menerimaku” ucap Hendra lirih, ia memijit pelipisnya.
Saat ini Kennie berada
disebuuah tempat yang tidak pernah diketahui oleh siapaun. Tempat yang selalu
untuk memberi ketenangan. Tempat yang sejuk. Kennie memandangi alam liar.
Pandangannya kosong, seakan semua masalah datang menghampirinya secara
bertubi-tubi. Kennie melipat kedua tangannya depan dada. Menatap kedepan. Menikmati
hembusan angina yang menerpa wajahnya.
Kemarin Ben yang
menembaknya secara tiba-tba dihadapan semua siswa SMA Garuda. Sekarang ia harus
bertemu dengan Ayahnya yang selama ini ditunggunya. Tepat saat itu juga Kennie
harus menerima kenyataan bahwa mantan sahabatnya dahulu yang pernah
menghianatinya. Dan juga menjadi rivalnya di ring tinju.
Merupakan Kakak
kandungnya sendiri. Kennie bingung entah ia harus apa sekarang. Disisi lain ia
merasa senang bisa bertemu dengan Ayahnya. Tetapi disisi lain ia belum bisa
menerimanya kembali.
Kennie menghela nafas
berat. Saat ini butuh ketenangan serta sandaran dari seseorang. Namun entah
siapa? Bahkan Kennie sangat tertutup pada siapapun. Termasuk kedua sahabatnya
sendiri.
“Ketika ada masalah
itu, cerita. Jangan dipendam. Entar sakit lo” Kennie menoleh, menatap seseorang
__ADS_1
yang mengganggu ketenangannya.
“Gue hanya mau sendiri,
Gue tidak suka. Ada orang menganggu disaat gue butuh ketenangan” ucap Kennie
dingin.
“Tetapi nyatanya lo
butuh seseorang, dan seseorang itu, -- Gue” ucap Ben melangkah menghampiri
Kennie dan mensejajarkan dirinya.
“Setiap masalah itu,
pasti ada jalannya. Asal kita tahu dimana arah untuk menempatkannya. Gue tahu
lo itu orangnya kuat. Buktinya lo bisa kalahkan para petinju diatas ring” jelas
Ben Bijak
“Menurutku Tuhan itu
adil, disaat kita lagi sedih. Pasti ada seseorang yang selalu menjadi sandaran
kita” lanjut Ben dengan senyum menawan.
Kennie menjadi bingung,
mengapa Ben berubah menjadi bijak begini, setahunya. Ben adalah orang yang
paling menyebalkan seantero SMA Garuda, dengan kepedean tingkat akut.
Ia terkekeh mendengar
penuturan Ben yang bijak, Ben tersenyum menoleh saat melihat Kennie ketawa
walaupun itu sedikit. Setidaknya ia bisa menenangkan gadis pujaannya itu.
Ahh, Emang dasarnya
Ben, yang tidak pernah peka.
“Ngapain ketawa?” Tanya
Kennie seketika Ben mengatup mulutnya diam.
“Tidak bisakah lo
sedikit saja menghargai usaha gue. cuman buat lo ketawa saja susah banget” Omel
Ben kesal
Kennie tertawa lepas
saat melihat Ben mengoceh dan memakinya seenak jidat. “Giliran gue kesal, lo
seenaknya ketawa. Emang dasar bunglon” ucap Ben merutuki dirinya sendiri.
Kennie terus ketawa
melihat tingkah konyol Ben, seketika Ben terhenti menatap Kennie dengan lekat.
baru kali ini ia bisa melihat Kennie tertawa selepas itu. tawa tanpa beban
sekalipun. Biar deh, Ben bersikap konyol, asalanya Kennie bisa tertawa.
“Lo cantik kalau
ketawa, tetapi kalau diam. kelihatan deh. Mukanya yang kayak tembok. Datar
banget” puji Ben.
“Lo muji gue, atau
menghina gue sihh” ucap Kennie menatap tajam Ben.
“Baru gue juga bilang
udah balik lagi seperti semula” balas Ben sambil menggelengkan kepala.
Menghadapi Kennie butuh
extra kesabaran, “Untung sayang” pikir Ben
“Begitu Kek, senyum
jangan muka tembok melulu. Dasar bunglon” ledek Ben lalu mengusap kepala Kennie
lembut.
Kennie yang mendapat
perlakuan seperti itu menjadi diam, “Makasih” Gumamnya yang masih dapat
didengar oleh Ben,
“Sama-sama” balas Ben
sambil terkekeh.
“Setidaknya lo lega,
dan terus begini ya. Ken” ucap Ben dalam hati
“Sekarang cerita sama
Gue—“ pinta Ben, seketika Kennie langsung menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Gue itu---“ Kennie
memulai ceritanya