Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 32


__ADS_3

Kennie sedang berlatih


di club Boxing, dengan penuh semangat Kennie memukul samsak yang menggantung.


Didampingi oleh Coach Raka yang sedang berdiri disampingnya. Coach Raka sangat


senang melatih muridnya itu. semua gerakan Kennie sudah mengusai dengan cepat.


Ia menyeka keringat


yang sudah membasahi wajahnya sedari tadi, “KENNIE, Berhenti” sahut seseorang


membuat Kennie menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh terkejut saat melihat


siapa yang datang menemuinya.


“Mama” Gumam Kennie


Kennie melirik


disampingnya melihat Ben dengan tajam. Pasti


Ben yang memberitahu, Mama. Pikir Kennie dalam hati.


Dona menghampiri


Kennie, ia menatap anaknya kwatir. Ia baru mengetahui Kennie setelah Ben


menceritakannya. Dona tidak menyangka mengapa Kennie bisa masuk ke Club yang


berbahaya ini, itu menurut Dona.


“Sekarang pulang, Mama


perlu bicara sama kamu” ucap Dona


Kennie menghembuskan


nafas berat, “Sebaiknya kamu pulang saja dulu. kalau terjadi sesuatu bilang


saja sama Coach” ucap Coach Raka


Kennie hanya mengangguk


paham “Makasih Coach,” setelah berkata seperti, Kennie dengan begitu menyusul


Mamanya pulang.


Saat ini Kennie sedang


duduk disofa, ia hanya duduk diam karena sedari tadi Dona terus memarahinya.


“Kennie kamu dengar


Mama enggak sih” ucapnya


“Iya, Mama dengar kok.


lagian Kennie cuman latihan doang. Belum juga bertanding di arena” ucapnya


dengan santainya


“Astaga Ken, Mama tidak


mau kamu terluka. Apalagi sampai muka kamu babak belur. Biru-biru” ucap Dona


Heboh.


Kennie tahu Dona sangat


mengkawatirkan dirinya. Tetapi ini adalah sebuah tekad dalam diri Kennie


menjaga keluarganya. Meskipun tanpa ayah disisinya.


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan


membuat Dona berhenti berbicara lalu berjalan keluar menuju pintu utama, Kennie


yang menghembuskan nafas lega karena akhirnya Dona-Mamanya berhenti mengoceh


sejak sejak dua jam lalu.


Dengan rasa penasaran


Kennie beranjak dari sofa menuju ruang tamu. Ia penasaran siapa yang datang.


Langkah Kennie terhenti saat melihat sosok gadis yang dikenalnya yaitu Rose,


mantan sahabatnya dahulu. Ngapain Dia ada disini?, pertanyaan itu terlintas


berada dibenaknya.


Sedangkan lelaki


setengah baya, itu duduk dengan wajah memohon pada Dona-Mamanya. Kennie


melangkah dengan memasang wajah datarnya serta menatap tajam Rose.


“Kennie,” Gumam Rose


saat melihat Kennie


“Dia siapa, Mah?” Tanya


Kennie dengan nada dingin


“Dia adalah Ayahmu,

__ADS_1


Ayah yang pernah meninggalkan kita” jawab Dona, Kennie terdiam. Ini adalah


pertemuan pertamanya.


“A-Ayah” sapa Kennie


terbata, menatap lelaki itu dengan intens. Lelaki baya itu berdiri dan langsung


memeluk Kennie dengan erat. Tetapi Kennie masih terdiam tanpa membalas pelukan


itu.


“Maaf, Aku tidak punya


Ayah seperti anda. Ayah yang tega meninggalkan kami” ucap Kennie dingin


sedingin es dikutup utara. Kennie memang merindukan sosok Ayah, tetapi setelah


mendengar fakta yang sebenarnya. Kennie malah bersikap dingin padanya.


“Kennie jaga ucapanmu,


dia adalah Ayahmu” tekan Dona


Kennie tersenyum


miring, “Maaf, Mah. Kennie tidak menerima orang asing seperti Dia” ucapnya


lagi.


“Kenalkan ini adalah


Kakak kamu, Rose Andala” ujar Hendra memperkenalkan anak sulungnya.


DEG


Kennie yang mendengar


pernyataan itu langsung tercekat, ternyata selama ini yang menjadi rivalnya di


ring tinju adalah saudara kandungnya sendiri. Rose berdiri lalu menampakkan


senyum lebarnya. Sementara Dona tersenyum senang saat melihat putri sulungnya,


yang dulu pernah dibawa pergi oleh Hendra.


“Aku tidak butuh Ayah


dan Saudara seperti mereka” ucap Kennie seketika lalu pergi begitu saja.


“Mungkin kalian harus bersabar


menghadapi Kennie, ia masih syok. Dengan kedatangan kalian” ucap Dona, memberi


saran.


Hendra bernafas berat,


Hendra heran mengapa Kennie bersikap dingin kepada siapapun. Dona sudah


menceritakan semua tentang kehidupan Kennie pada Hendra, Mantan suaminya.


“Aku akan mencoba lagi,


agar Kennie bisa menerimaku” ucap Hendra lirih, ia memijit pelipisnya.



Saat ini Kennie berada


disebuuah tempat yang tidak pernah diketahui oleh siapaun. Tempat yang selalu


untuk memberi ketenangan. Tempat yang sejuk. Kennie memandangi alam liar.


Pandangannya kosong, seakan semua masalah datang menghampirinya secara


bertubi-tubi. Kennie melipat kedua tangannya depan dada. Menatap kedepan. Menikmati


hembusan angina yang menerpa wajahnya.


Kemarin Ben yang


menembaknya secara tiba-tba dihadapan semua siswa SMA Garuda. Sekarang ia harus


bertemu dengan Ayahnya yang selama ini ditunggunya. Tepat saat itu juga Kennie


harus menerima kenyataan bahwa mantan sahabatnya dahulu yang pernah


menghianatinya. Dan juga menjadi rivalnya di ring tinju.


Merupakan Kakak


kandungnya sendiri. Kennie bingung entah ia harus apa sekarang. Disisi lain ia


merasa senang bisa bertemu dengan Ayahnya. Tetapi disisi lain ia belum bisa


menerimanya kembali.


Kennie menghela nafas


berat. Saat ini butuh ketenangan serta sandaran dari seseorang. Namun entah


siapa? Bahkan Kennie sangat tertutup pada siapapun. Termasuk kedua sahabatnya


sendiri.


“Ketika ada masalah


itu, cerita. Jangan dipendam. Entar sakit lo” Kennie menoleh, menatap seseorang

__ADS_1


yang mengganggu ketenangannya.


“Gue hanya mau sendiri,


Gue tidak suka. Ada orang menganggu disaat gue butuh ketenangan” ucap Kennie


dingin.


“Tetapi nyatanya lo


butuh seseorang, dan seseorang itu, -- Gue” ucap Ben melangkah menghampiri


Kennie dan mensejajarkan dirinya.


“Setiap masalah itu,


pasti ada jalannya. Asal kita tahu dimana arah untuk menempatkannya. Gue tahu


lo itu orangnya kuat. Buktinya lo bisa kalahkan para petinju diatas ring” jelas


Ben Bijak


“Menurutku Tuhan itu


adil, disaat kita lagi sedih. Pasti ada seseorang yang selalu menjadi sandaran


kita” lanjut Ben dengan senyum menawan.


Kennie menjadi bingung,


mengapa Ben berubah menjadi bijak begini, setahunya. Ben adalah orang yang


paling menyebalkan seantero SMA Garuda, dengan kepedean tingkat akut.


Ia terkekeh mendengar


penuturan Ben yang bijak, Ben tersenyum menoleh saat melihat Kennie ketawa


walaupun itu sedikit. Setidaknya ia bisa menenangkan gadis pujaannya itu.


Ahh, Emang dasarnya


Ben, yang tidak pernah peka.


“Ngapain ketawa?” Tanya


Kennie seketika Ben mengatup mulutnya diam.


“Tidak bisakah lo


sedikit saja menghargai usaha gue. cuman buat lo ketawa saja susah banget” Omel


Ben kesal


Kennie tertawa lepas


saat melihat Ben mengoceh dan memakinya seenak jidat. “Giliran gue kesal, lo


seenaknya ketawa. Emang dasar bunglon” ucap Ben merutuki dirinya sendiri.


Kennie terus ketawa


melihat tingkah konyol Ben, seketika Ben terhenti menatap Kennie dengan lekat.


baru kali ini ia bisa melihat Kennie tertawa selepas itu. tawa tanpa beban


sekalipun. Biar deh, Ben bersikap konyol, asalanya Kennie bisa tertawa.


“Lo cantik kalau


ketawa, tetapi kalau diam. kelihatan deh. Mukanya yang kayak tembok. Datar


banget” puji Ben.


“Lo muji gue, atau


menghina gue sihh” ucap Kennie menatap tajam Ben.


“Baru gue juga bilang


udah balik lagi seperti semula” balas Ben sambil menggelengkan kepala.


Menghadapi Kennie butuh


extra kesabaran, “Untung sayang” pikir Ben


“Begitu Kek, senyum


jangan muka tembok melulu. Dasar bunglon” ledek Ben lalu mengusap kepala Kennie


lembut.


Kennie yang mendapat


perlakuan seperti itu menjadi diam, “Makasih” Gumamnya yang masih dapat


didengar oleh Ben,


“Sama-sama” balas Ben


sambil terkekeh.


“Setidaknya lo lega,


dan terus begini ya. Ken” ucap Ben dalam hati


“Sekarang cerita sama


Gue—“ pinta Ben, seketika Kennie langsung menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Gue itu---“ Kennie


memulai ceritanya


__ADS_2