
“Begitulah Kennie”
Ben termenung setelah
mendengar cerita dari Jovan, saat ini mereka berada di balkon tepatnya di
rumahnya Jovan. Awalnya Jovan tidak mau menemuinya, tetapi karena Ben memaksa
akhirnya Jovan mengalah. Ben terdiam Ia. sudah mengetahui siapa Kennie yang
sebenarnya. Mengapa ia selalu saja membolos. Dan kenapa juga ia sering dapat
hukuman. Dan herannya, Ben bisa satu team olimpiade dengannya.
Semenjak ia bersekolah
di High School Nasional, ia tidak
pernah mengetahui keberadaannya. Bahkan ia mengenalnya pun baru lima bulan ini.
Ben yang mengenal
Kennie dengan wajahnya yang datar, “Jadi Kennie menutupi semua ini dengan
sifatnya yang dingin. Perubahannya itu semenjak ia kehilangan ayah dan
sahabatnya?” Tanya Ben yang diangguki Jovan.
“Lalu, Apa Mamanya
mengetahui Kennie ikut disebuah club tinju?” Tanya Ben, seketika Jovan mendelik
dan terkejut.
Ben menautkan alisnya
bingung “Jadi lo tidak tahu?” tanyanya, Jovan menggeleng kepala
“setahu gue Kennie
hanya menyukai Boxing, tetapi kalau ikut club Boxing? Gue tidak tahu” jelas
Jovan lagi
Ben mulai bercerita
tentang satu bulan lalu membuntuti Kennie tengah pergi kesuatu tempat. Dengan
rasa penasaran amat sangat. Ben pun mengikutinya. Hingga akhirnya ia terkejut
melihat Kennie memasuki sebuah gedung tinggi. Dan melihat Kennie sedang
berbincang dengan seorang lelaki baya umurnya sekitar setengah abad. Ben yakin
lelaki itu adalah pelatih Kennie.
“Jadi selama ini Kennie
menutupinya?” Jovan balik Tanya, Ben hanya mengangguk mengiyakan.
Jovan menghembuskan
nafas panjangnya, Pantesan saja, setiap melihat wajah adiknya itu penuh dengan
lebam.
“Bisa dikatakan
perubahan Kennie semenjak ia kehilangan kedua orang yang sangat berarti
baginya, jadi ia hanya melakukan kegiatan seperti boxing ini sebagai untuk
menghilangkan rasa kesepiannya” tebak Jovan,
“Tetapi? Siapa lelaki
itu ya?” gumam Ben dalam hati, karena ia sering melihat Kennie bersama seorang
lelaki berparas jangkung. Belasteran jerman-Indonesia. Membuat Ben kembali
bertanya dalam benaknya.
“Tenang aja gue akan
berusaha agar membuatnya bahagia, dan kembali tersenyum seperti sedia kala”
ucap Ben tulus, Jovan hanya tersenyum tipis.
“Buktikan saja dulu.
karena gue tidak ingin melihat adik kesayangan gue menderita” telak Jovan,
membuat Ben bungkam.
“Pastilah kakak ipar,
gue akan jaga dia baik-baik” jawab Ben dengan penuh keyakinan,
Jovan mendengus jengah,
“Terserah lo” jawab Jovan lalu membaringkan badannya di kasur King Sizenya.
Ben menghela nafas
panjang karena ditinggal tidur oleh Sahabatnya itu “Yaelah Gue malah ditinggal
tidur. Lalu Ben tersenyum penuh arti setelah mendapatkan lampu hijau dari
Jovan.
__ADS_1
Sesuai arahan Jovan Ben
pergi kerumah Kennie untuk meminta maaf padanya. ia sudah berdiri didepan pintu
rumah, ia mulai mengangkat tangannya membentuk kepalan.
Tok Tok Tok
Suara ketukan namun
beberapa detik kemudian keluar seseorang dibalik pintu. Ia tersenyum lebar saat
melihat Ben. “Ehh, Nak Ben. silakan masuk” sapa Dona mempersilakan.
Ben menundukkan sedikit
kepalanya lalu masuk menuju ruang tamu, sedangkan Dona berjalan menuju lantai
dua. Dona mengetuk kamarnya sambil memanggil. Kennie keluar dari kamarnya “Ada
apa Mah?” Tanya Kennie
“Dibawa ada Ben, cari
kamu. Pergi sana temuin dia” perintah Dona memberi tahu,
“Ngapain sih?, tuhh
cowok tengil kesini?” gumam Kennie sambil mencebikkan bibirnya.
“Iya, Mah.” Jawab
Kennie lagi lalu menutup pintu kamarnya kembali
Sebenarnya Kennie tidak
ingin menemui Ben. tetapi apa daya Dona-Mamanya menyuruhnya. Kennie berjalan
dengan malas menuju ruang tamu. Ia melihat Ben sedang duduk sambil meminum
segelas the hangat yang disediakan oleh Dona. Kennie duduk disamping Ben di
single Sofa, dengan wajah datarnya.
Ben memperbaiki
duduknya lalu menatap Kennie lekat, sedangkan yang ditatap malah acuh. “Katanya
mau ngomong, kok malah diem” ucap Kennie memecah keheningan dengan nada
ketusnya.
“Gu-gu-Gue mau minta
maaf sama lo” ucap Ben dengan nada suara terbata
menatap mata Ben seperti mencari
kebohongan. Tetapi ia tidak menemukannya. Perlahan ia beralih menatap kedepan
“Emang salah lo sama gue apa?” Tanya Kennie
Seketika Ben terdiam
menegukkan salivanya “Lo tidak salah apa-apa kok, Emang guenya aja, yang
terlalu kebaperan” ucap Kennie lagi.
Ben tersenyum mendengar
penuturan Kennie, “Lo itu kekasih sahabat gue, jadi mana mungkin gue mau
menghianatinya” lanjutnya
“Ternyata lo itu tidak
sejahat yang gue kira. Gue kira dengan sikap dingin lo seperti es dikutub
utara. Sedatar muka lo kayak papan triplek belum jadi. Ternyata dibalik itu
semua, lo baik banget” jelas Ben memuji.
Kennie tersenyum tipis
“Lo muji gue atau menghina gue sih?” Tanya Kennie ketus
“Enggak gue itu memuji
lo sekaligus meghina lo juga” jawab Ben dengan santainya membuat Kennie menjadi
geram.
Inilah hal membuat Ben
sangat senang bisa menjahili Kennie. Ben tertawa lebar, sedangkan Kennie
mengerucutkan bibirnya.
Dari jauh Dona dapat
melihat anaknya bisa kembali seperti dahulu lagi. Ia tidak ingin melihat Kennie
merasa kesepian. Meskipun ia mempunyai dua sahabat yaitu Keyla dan Nova. Namun
ia tidak pernah melihat Kennie tertawa selepas itu. Dona harap Ben bisa
mengubah sikap Kennie. Ada senyum terukir diwajah Dona, lalu berlalu
__ADS_1
meninggalkan keduanya yang sedang asik.
Ben mencolek dagu
Kennie, “Biasa aja kali mukanya” goda Ben hingga Kennie menatapnya tajam dengan
menampakkan satu kepalan diwajah Ben.
“Mau gue tonjok lo”
ketus Kennie lagi
“Enggak usah pake
tonjok segala, pake cium aja di pipi juga boleh” balas Ben dengan tingkat
kepedean akut.
Kennie memutar bola
matanya malas, ia merasa dongkol bila bersama Ben. kenapa juga Kennie harus
jatuh cinta padanya. “Pede amat” jawab Kennie singkat
“Biarin pede, dari pada
enggak sama sekali. Kan lumayan, selagi kegantengan gue bisa membuat semua
cewek klepek-klepek”
Pletak
Kennie menampol kepala
Ben, hingga ia meringis kesakitan “Aww, sakit tahu”
“Biarin” jawabnya
sambil melipat kedua tangannya depan dada
“Lo jadi cewek lembutan
dikit kek,” ucap Ben sambil mengusap kepala
“Bodo amat” jawab
Kennie
Seulas senyum kecil
Kennie mulai terukir, Ben yang menyadari itu seketika langsung menatap senyum
tulus yang tidak pernah terlihat sama sekali. “Ternyata lo lucu kalau senyum.
Begitu terus ya” ucap Ben masih menatap Kennie
Merasa diperhatikan
Kennie membuang muka dan memasang wajah datarnya, “Baru juga dipuji, sudah
datar lagi kayak papan triplek, Emang Dasar Bunglon. Tidak tahu apa. Gue lagi
enak-enaknya memandangi bidadari secara langsung” dumel Ben
Kennie heran mengapa
ada cowok setengil Ben dan pedenya pakai akut. Sudah satu dua jam mereka
mengobrol, dan mereka selalu saja berdebat. Ditambah lagi Ben yang selalu
memuji dan menjatuhkannya.
Kennie merasa sebal
seligus senang, Kennie berharap terus begini tiada lagi masalah yang datang
mengusiknya.
“Kenapa lo tidak kasih
tahu Mama lo, kalau lo ikut Club Boxing?” Tanya Ben tiba-tiba,
DEG
Seketika Kennie
terdiam, “Bukan urusan lo” jawab Kennie kembali ketus
Sudah Ben duga akan
reaksi Kennie saat menanyakan perihal masuknya di Club Boxing. Selama ini Dona
mengetahui bahwa Kennie sangat menyukai Boxing. Makanya dia membelikan samsak
yang menggantung di taman belakang dekat kolam. Jadi Kennie bisa mengeluarkan
amarahnya lewat Boxing.
“Jelas ini urusan gue,
karena gue tidak ingin lo kenapa-kenapa” jawab Ben dengan suara lembutnya.
“Makasih sudah peduli
sama gue, tetapi Gue tidak mau Mama gue kenapa-kenapa. Karena di salah satu
orang paling gue sayang.” Telak Kennie membuat Ben bungkam. Ben seperti melihat
sisi lain dari Kennie. ia tidak menyangka, Kennie akan melindungi orang yang
__ADS_1
disayang.