Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 30


__ADS_3

“Begitulah Kennie”


Ben termenung setelah


mendengar cerita dari Jovan, saat ini mereka berada di balkon tepatnya di


rumahnya Jovan. Awalnya Jovan tidak mau menemuinya, tetapi karena Ben memaksa


akhirnya Jovan mengalah. Ben terdiam Ia. sudah mengetahui siapa Kennie yang


sebenarnya. Mengapa ia selalu saja membolos. Dan kenapa juga ia sering dapat


hukuman. Dan herannya, Ben bisa satu team olimpiade dengannya.


Semenjak ia bersekolah


di High School Nasional, ia tidak


pernah mengetahui keberadaannya. Bahkan ia mengenalnya pun baru lima bulan ini.


Ben yang mengenal


Kennie dengan wajahnya yang datar, “Jadi Kennie menutupi semua ini dengan


sifatnya yang dingin. Perubahannya itu semenjak ia kehilangan ayah dan


sahabatnya?” Tanya Ben yang diangguki Jovan.


“Lalu, Apa Mamanya


mengetahui Kennie ikut disebuah club tinju?” Tanya Ben, seketika Jovan mendelik


dan terkejut.


Ben menautkan alisnya


bingung “Jadi lo tidak tahu?” tanyanya, Jovan menggeleng kepala


“setahu gue Kennie


hanya menyukai Boxing, tetapi kalau ikut club Boxing? Gue tidak tahu” jelas


Jovan lagi


Ben mulai bercerita


tentang satu bulan lalu membuntuti Kennie tengah pergi kesuatu tempat. Dengan


rasa penasaran amat sangat. Ben pun mengikutinya. Hingga akhirnya ia terkejut


melihat Kennie memasuki sebuah gedung tinggi. Dan melihat Kennie sedang


berbincang dengan seorang lelaki baya umurnya sekitar setengah abad. Ben yakin


lelaki itu adalah pelatih Kennie.


“Jadi selama ini Kennie


menutupinya?” Jovan balik Tanya, Ben hanya mengangguk mengiyakan.


Jovan menghembuskan


nafas panjangnya, Pantesan saja, setiap melihat wajah adiknya itu penuh dengan


lebam.


“Bisa dikatakan


perubahan Kennie semenjak ia kehilangan kedua orang yang sangat berarti


baginya, jadi ia hanya melakukan kegiatan seperti boxing ini sebagai untuk


menghilangkan rasa kesepiannya” tebak Jovan,


“Tetapi? Siapa lelaki


itu ya?” gumam Ben dalam hati, karena ia sering melihat Kennie bersama seorang


lelaki berparas jangkung. Belasteran jerman-Indonesia. Membuat Ben kembali


bertanya dalam benaknya.


“Tenang aja gue akan


berusaha agar membuatnya bahagia, dan kembali tersenyum seperti sedia kala”


ucap Ben tulus, Jovan hanya tersenyum tipis.


“Buktikan saja dulu.


karena gue tidak ingin melihat adik kesayangan gue menderita” telak Jovan,


membuat Ben bungkam.


“Pastilah kakak ipar,


gue akan jaga dia baik-baik” jawab Ben dengan penuh keyakinan,


Jovan mendengus jengah,


“Terserah lo” jawab Jovan lalu membaringkan badannya di kasur King Sizenya.


Ben menghela nafas


panjang karena ditinggal tidur oleh Sahabatnya itu “Yaelah Gue malah ditinggal


tidur. Lalu Ben tersenyum penuh arti setelah mendapatkan lampu hijau dari


Jovan.

__ADS_1



Sesuai arahan Jovan Ben


pergi kerumah Kennie untuk meminta maaf padanya. ia sudah berdiri didepan pintu


rumah, ia mulai mengangkat tangannya membentuk kepalan.


Tok Tok Tok


Suara ketukan namun


beberapa detik kemudian keluar seseorang dibalik pintu. Ia tersenyum lebar saat


melihat Ben. “Ehh, Nak Ben. silakan masuk” sapa Dona mempersilakan.


Ben menundukkan sedikit


kepalanya lalu masuk menuju ruang tamu, sedangkan Dona berjalan menuju lantai


dua. Dona mengetuk kamarnya sambil memanggil. Kennie keluar dari kamarnya “Ada


apa Mah?” Tanya Kennie


“Dibawa ada Ben, cari


kamu. Pergi sana temuin dia” perintah Dona memberi tahu,


“Ngapain sih?, tuhh


cowok tengil kesini?” gumam Kennie sambil mencebikkan bibirnya.


“Iya, Mah.” Jawab


Kennie lagi lalu menutup pintu kamarnya kembali


Sebenarnya Kennie tidak


ingin menemui Ben. tetapi apa daya Dona-Mamanya menyuruhnya. Kennie berjalan


dengan malas menuju ruang tamu. Ia melihat Ben sedang duduk sambil meminum


segelas the hangat yang disediakan oleh Dona. Kennie duduk disamping Ben di


single Sofa, dengan wajah datarnya.


Ben memperbaiki


duduknya lalu menatap Kennie lekat, sedangkan yang ditatap malah acuh. “Katanya


mau ngomong, kok malah diem” ucap Kennie memecah keheningan dengan nada


ketusnya.


“Gu-gu-Gue mau minta


maaf sama lo” ucap Ben dengan nada suara terbata


menatap  mata Ben seperti mencari


kebohongan. Tetapi ia tidak menemukannya. Perlahan ia beralih menatap kedepan


“Emang salah lo sama gue apa?” Tanya Kennie


Seketika Ben terdiam


menegukkan salivanya “Lo tidak salah apa-apa kok, Emang guenya aja, yang


terlalu kebaperan” ucap Kennie lagi.


Ben tersenyum mendengar


penuturan Kennie, “Lo itu kekasih sahabat gue, jadi mana mungkin gue mau


menghianatinya” lanjutnya


“Ternyata lo itu tidak


sejahat yang gue kira. Gue kira dengan sikap dingin lo seperti es dikutub


utara. Sedatar muka lo kayak papan triplek belum jadi. Ternyata dibalik itu


semua, lo baik banget” jelas Ben memuji.


Kennie tersenyum tipis


“Lo muji gue atau menghina gue sih?” Tanya Kennie ketus


“Enggak gue itu memuji


lo sekaligus meghina lo juga” jawab Ben dengan santainya membuat Kennie menjadi


geram.


Inilah hal membuat Ben


sangat senang bisa menjahili Kennie. Ben tertawa lebar, sedangkan Kennie


mengerucutkan bibirnya.


Dari jauh Dona dapat


melihat anaknya bisa kembali seperti dahulu lagi. Ia tidak ingin melihat Kennie


merasa kesepian. Meskipun ia mempunyai dua sahabat yaitu Keyla dan Nova. Namun


ia tidak pernah melihat Kennie tertawa selepas itu. Dona harap Ben bisa


mengubah sikap Kennie. Ada senyum terukir diwajah Dona, lalu berlalu

__ADS_1


meninggalkan keduanya yang sedang asik.


Ben mencolek dagu


Kennie, “Biasa aja kali mukanya” goda Ben hingga Kennie menatapnya tajam dengan


menampakkan satu kepalan diwajah Ben.


“Mau gue tonjok lo”


ketus Kennie lagi


“Enggak usah pake


tonjok segala, pake cium aja di pipi juga boleh” balas Ben dengan tingkat


kepedean akut.


Kennie memutar bola


matanya malas, ia merasa dongkol bila bersama Ben. kenapa juga Kennie harus


jatuh cinta padanya. “Pede amat” jawab Kennie singkat


“Biarin pede, dari pada


enggak sama sekali. Kan lumayan, selagi kegantengan gue bisa membuat semua


cewek klepek-klepek”


Pletak


Kennie menampol kepala


Ben, hingga ia meringis kesakitan “Aww, sakit tahu”


“Biarin” jawabnya


sambil melipat kedua tangannya depan dada


“Lo jadi cewek lembutan


dikit kek,” ucap Ben sambil mengusap kepala


“Bodo amat” jawab


Kennie


Seulas senyum kecil


Kennie mulai terukir, Ben yang menyadari itu seketika langsung menatap senyum


tulus yang tidak pernah terlihat sama sekali. “Ternyata lo lucu kalau senyum.


Begitu terus ya” ucap Ben masih menatap Kennie


Merasa diperhatikan


Kennie membuang muka dan memasang wajah datarnya, “Baru juga dipuji, sudah


datar lagi kayak papan triplek, Emang Dasar Bunglon. Tidak tahu apa. Gue lagi


enak-enaknya memandangi bidadari secara langsung” dumel Ben


Kennie heran mengapa


ada cowok setengil Ben dan pedenya pakai akut. Sudah satu dua jam mereka


mengobrol, dan mereka selalu saja berdebat. Ditambah lagi Ben yang selalu


memuji dan menjatuhkannya.


Kennie merasa sebal


seligus senang, Kennie berharap terus begini tiada lagi masalah yang datang


mengusiknya.


“Kenapa lo tidak kasih


tahu Mama lo, kalau lo ikut Club Boxing?” Tanya Ben tiba-tiba,


DEG


Seketika Kennie


terdiam, “Bukan urusan lo” jawab Kennie kembali ketus


Sudah Ben duga akan


reaksi Kennie saat menanyakan perihal masuknya di Club Boxing. Selama ini Dona


mengetahui bahwa Kennie sangat menyukai Boxing. Makanya dia membelikan samsak


yang menggantung di taman belakang dekat kolam. Jadi Kennie bisa mengeluarkan


amarahnya lewat Boxing.


“Jelas ini urusan gue,


karena gue tidak ingin lo kenapa-kenapa” jawab Ben dengan suara lembutnya.


“Makasih sudah peduli


sama gue, tetapi Gue tidak mau Mama gue kenapa-kenapa. Karena di salah satu


orang paling gue sayang.” Telak Kennie membuat Ben bungkam. Ben seperti melihat


sisi lain dari Kennie. ia tidak menyangka, Kennie akan melindungi orang yang

__ADS_1


disayang.


__ADS_2