
Sejak insiden
perkelahian Ben dan Jovan itu terjadi, Ben dan Gerry hanya berdua berada di
kantin tanpa Jovan. Ia masih marah tentang apa yang dilakukan Ben pada Kennie.
ia tahu kesalahan yang Ben perbuat sangat menyakiti hati Kennie. terlebih lagi
Ben baru mengetahui kedekatan Jovan dan Kennie itu sangat erat.
“Lo harus minta maaf
sama Kennie, Gue tahu lo belum bisa move
on dari Nina. Dan gue baru tahu juga ternyata Jovan itu Kakaknya Nina.
Cewek yang selama ini lo cari. Tapi kenapa Jovan tidak pernah kasih tahu lo,
ya” Tanya Gerry bingung sendiri.
Selama ini Jovan hanya
dikenal pendiam, bahkan untuk bercerita pun enggan. Ben terkejut mengetahui
bahwa Nina adalah adiknya.
Selama meraka
bersahabat Ben tidak cukup mengetahui banyak hal tentang Jovan selama ini. ia
hanya mengenal Jovan yang sosok pendiam, irit dalam berbicara. Bahkan juga
Jovan sering menyendiri di perpustakaan.
Ben menghembuskan nafas
berat memikirkan perkataan sahabatnya itu, Benar juga kata Gerry, Apa yang
dilakukannya itu menyakiti hati gadis Bunglon.
“Gue enggak tahu” jawab
Ben pasrah
“Gue masih bingung,
semua serba datang begitu saja. Nina yang selama ini gue cari ternyata dia
sudah pergi ninggalin gue. dan gue baru mengetahuinya sekarang” ucap Ben lirih,
Gerry menepuk pundak Ben untuk memberi semangat pada sahabatnya itu.
Kantin sudah dipenuhi
oleh siswa-siswi yang sedari tadi mengantri untuk memesan makanan. Sedari tadi
Nova dan Keyla berdiri menunggu. Sedangkan Kennie memilih menunggu. Menopang
dagunya dengan tangannya kanannya.
Matanya menelusuri
penjuru kantin padat oleh siswa, tanpa sengaja mata Kennie terhenti menatap Ben
yang sedang duduk berdua. Cukup lama ia memperhatikan cowok populer itu,
Ben yang menyadari
sedang diperhatikan seketika menoleh mendapati Kennie yang sedang gegalapan.
Ben tersenyum tipis, sedangkan Kennie kembali memasang wajah datarnya.
Nova dan Keyla yang
datang duduk di kedua sisi Kennie. Nova menatap Kennie dengan gelagat aneh.
“Woi, lo kenapa? Senyum tidak jelas begitu” ujar Nova heran
Matanya menelusuri
mencari apa yang dilihat Kennie, Nova mengangguk paham “Ohh, Jadi si Tengil ya.
Pantesan sumringah begitu” tambahnya
Kennie mendengus sebal menatap sahabatnya itu
jengah “Ngaco, Gue biasa aja” ketusnya
Keyla terkekeh melihat
reaksi Kennie yang salah tingkah “Dulunya aja dihujat, cuek. Sekarang malah di
__ADS_1
stalker” oceh Keyla
Seketika tawa Nova
pecah, “Tumben otak lo encer” sahut Nova, Kennie masih terdiam, sambil
menyeruput orange jus.
Kennie terkejut saat
melihat beberapa koper yang ditarik oleh Baim “Bang, sudah balik ya ke Jerman?”
Tanyanya
“See, Abang harus
kembali. Abang tidak bisa lama karena menyelesaikan Tesis” jelasnya
Kennie menghela nafas
berat “Apa secepat ini, perasaan baru kemarin” ucap Kennie langsung memeluk
Baim erat.
“Janji, kalau sudah
selesai langsung balik ya” ucap Kennie memberi ultimatum pada Kakak angkatnya
itu.
“Siap Bossku” balas
Baim sambil mengacak rambut Kennie
Tidak lama coach Raka
datang menghampiri keduanya, Coach Raka tersenyum menatap keduanya “Bagaimana
Baim sudah siap?” tanyanya yang langsung diangguki Baim.
“Kennie, Apa kamu mau
ikut antar Abangmu?” tanyanya, sejenak Kennie berpikir
“Maaf Bang, Kayaknya
Kennie tidak bisa mengantar kebandara. Soalnya Kennie sudah ada janji” ucapnya
Coach Raka mengarahkan
sopirnya untuk memasukkan koper kedalam bagasi. Setelah semuanya masuk sopir
tersebut memberitahu. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.00 tepat berarti sisa dua
jam lagi berangkat, maka dari itu. Baim harus berangkat secepat mungkin.
Saat ini Kennie berada
di rumah Baim, ia sengaja datang kesana karena sudah lama tidak mengunjungi
rumah Baim. Dan katanya Kennie sudah dirindukan oleh istri Coach Raka, yang
bernama Dara Ananta. Tidak lama kemudian keluarlah wanita bergaya modis, dengan
setelan rambut terurai. Bibir disunggingkan membentuk senyum menawan.
“Hallo, Tante” ucap
Kennie sambil mencium punggung tangan Dara
“Hmm, Anak kesayangan
Tante. Kemana aja? Kenapa baru Nongol” ucap Dara heboh,
Kennie tersenyum senang
“Ya, Biasa Tante. Latihan Boxing” jawabnya santai
Baim menghela nafas
panjang lalu menatap jam yang ada dipergelangan tangan kirinya. “Pa, ayo
berangkat. Nanti telat lagi” sahut Baim yang langsung diangguki oleh Raka.
Lalu Baim menoleh
menatap Kennie dengan senyum lebar lalu memeluk adiknya erat “Abang berangkat
dulu ya, sekolah yang bener. Jangan lupa latihannya dipermantap” Nasehat Baim
__ADS_1
sambil melepas pelukan itu. Kennie menampakkan wajah sedihnya.
“Lo baik-baik ya”
ucapnya lalu melangkah masuk kedalam mobil diikuti oleh Coach Raka. Sedangkan
Kennie dirangkul oleh Dara yang tidak ikut mengantar anak semata wayangnya.
Ben sedang sibuk
menyajikan pesanan pelanggan di meja Bar. Ia tampak sibuk. Setelah itu ia duduk
disebuah meja, meja yang selalu ditempati oleh Kennie dan juga kekasihnya
dahulu.
Sejenak ia memikirkan
perkataan Gerry, ia harus menemui Kennie dan meminta maaf padanya. sudah tiga
hari ia tidak pernah melihat gadis yang dianggap rivalnya itu, gadis yang
selalu mengajaknya berantem, gadis yang selalu membuat dirinya merasa geram karena
kelakuannya. Gadis yang selalu berubah sifatnya kapan saja. Ben sangat
merindukan itu.
“Masih galau aja” sahut
seseorang mengintrupsi, Ben menoleh mendapati Gerry sedang berdiri
disampingnya.
Ben mengembungkan
pipinya, “Iya, Gue usahakan” jawab Ben singkat
“Nahh gitu dong,
sekarang balik sana. Lihat Noh. Makin banyak pelanggan” perintah Gerry
Ben berdecih “Lo aja
sana. Gue mau sendiri” ucapnya ketus, Gerry yang melihat tingkah sahabatnya
semakin aneh. Ia hanya terkekeh lalu pergi meninggalkannya.
Saat ini satu-satunya
orang yang dekat dengan Kennie ialah Jovan. Berarti ia harus bertemu dengannya
sekarang. Ben berangjak dari tempatnya lalu menuju ruangan kerja untuk
mengganti bajunya.
Gerry yang sibuk
mengerjakan beberapa Dokumen menatap heran pada sahabatnya. “Heh, lo mau
kemana? Hari ini banyak pelanggan tahu. jangan pergi napa” oceh Gerry.
“Ada Bagas yang
menggantikan gue di Bar. Lo tenang aja di berbakat kok” jawabnya sambil
mengancing baju kemejanya.
Bagas adalah asisten
Ben di Bar, jika Ben sedangkan sibuk maka Bagaslah yang menggantikannya. Lagian
Ben sudah mengajarinya dengan berbagai rasa kopi. Dan Ben yakin Bagas bisa
diandalkan.
“Okelah, terserah lo
aja deh. Tetapi besok lo harus temani gue ketemu clien” teriak Gerry
memberitahu.
“Ya, kalau begitu gue
pergi dulu, Bye” ucap Ben lalu berjalan keluar meninggalkan Gerry terdiam
sambil menatap pintu yang sudah tertutup rapat.
“Emang dasar, enggak
__ADS_1
ada perubahan ye. Selalu saja begitu” gumam Gerry sambil menggeleng kepalanya
heran. Lalu kembali melanjutkan perkerjaan yang sempat tertunda.