
Kennie melangkah
kakinya menuju garasi mobil, lalu keluar dari gerbang, tanpa Kennie sadari ada
satu mobil yang mengikutinya dari belakang, awalnya Kennie tidak memperdulikan
mobil itu. tetapi lama-kelamaan Kennie merasa jengah.
Kennie memberhentikan
mobilnya dibibir jalan, lalu tidak lama mobil yang mengikuti ikut berhenti.
Kennie berdiri sambil menyandarkan dibadan mobil.
“Hey, Maafkan gue sudah
berhentikan mobil lo. Ada yang hal penting mau gue bicarakan sama lo” ucap Rose
dengan senyum lebarnya
Kennie menaikkan
alisnya heran “Penting, gue rasa tidak perlu” ucap Kennie lalu membalikkan
badannya untuk membuka mobilnya. Namun ditahan oleh Rose.
“Please, sebentar saja”
pinta Rose memohon
“Gue tidak punya waktu”
ucap Kennie begitu dingin
Rose menghela nafas
gusar “Sampai kapan mau seperti ini, gue ini Kakak lo. Ken” uca Rose merasa
jengah menghadapi sikap keras kepala adiknya.
“Lo bilang sampai
kapan. Setelah apa yang lo lakukan ke kita. Setelah apa yang lo lakukan pada
Nina. Sekarang lo datang begitu saja.” Ucap Kennie telak membuat Rose bungkam
“Asal lo tahu Ken,
selama ini gue menderita. Selama ini gue pendem rasa iri gue pada kalian.
Sedangkan gue apa.” Ucap Rose meluapkan yang selama ini ia rasakan
“Tetapi cara lo salah,
gue dan Nina selalu ada buat lo. Tetapi lo malah khianati semuanya. Gue dan
Nina berusaha menerima lo apa adanya. Tetapi karena rasa iri lo yang tinggi
membuat Nina tiada. Sekarang lo datang seenaknya. Minta maaf pada Nina. Bukan
pada gue” jelas Kennie selama ini memendam semuanya.
Rose bersimpuh dihadapan
Kennie, hingga membuatnya terlonjak kaget, Rose menangis sejadi-jadinya. Kennie
menghela nafas berat, lalu menakup kedua bahunya. Mengangkat Rose berdiri lalu
memeluknya erat.
“Tidak perlu lo
bersimpuh begitu, Gue sudah memaafkan daru dulu” ucap Kennie,
Rose membalas pelukan
darinya “Makasih, tetapi jangan hokum gue lagi. Gue ingin seperti dulu lagi”
pintanya.
__ADS_1
“Sekarang lo ikut gue
kesuatu tempat” pinta Kennie saat melepaskan pelukan itu
Rose menyerngit
bingung, “Mau kemana, tetapi bukannya lo sekolah?” ucap Rose heran, Kennie
menyentil dahi Rose jengah.
“Tidak berubah ya,
masih aja oon, Ya boloslah.” Jawab dengan santainya
“Lo yang masih tidak
berubah, Bolos kok dijadikan hobi” ucap Rose kesal sendiri pada adiknya ini
“Santai aja kali, Dari
pada lo terus mengomel tidak jelas sekarang kia pergi. Enggak apa sekali aja
bolos, anak rajin dan pintar” sindir Kenni lalu mendorong Rose menuju mobilnya.
Sekarang Rose merasa
lega karena Kennie sudah mulai menerimanya kembali walaupu masih sedikir canggung. Tetapi Rose sudah lega. Setidaknya
rasa bersalahnya sudah berkurang.
Harapan sedikit sudah
terkabul, ia juga bisa berkumpul dengan keluarganya. Rose menyerngit dahinya
saat Kennie membawanya disebuah tempat pemakaman umum. “Kenapa Kennie ajak gue
kesini?” Tanya pada diri sendiri.
Dari luar Kennie sudah
menunggu Rose yang sudah turun dari mobil lalu menghampirinya.
“Astaga Ken, ngapain
“Sekarang lo ikut gue”
ucap Kennie tegas lalu berjalan menuju suatu blok, sesampainya disana Rose
masih keheranan sebenarnya Kennie mau ngapain disini, sih?
“Sekarang lo minta maaf
pada Nina” ucap Kennie lalu Rose menunduk disana terdapat nisan.
Nina Anandita
Binti
Gilang Alven
Rose merasa tercekat
saat menatap makam sahabatnya itu yang pernah ia sakiti. Rose menunduk tanpa ia
sadari semuanya berputar begitu saja. Ada rasa sesak dalam dirinya. Sedangkan
Kennie masih berdiri menatap sahabatnya yang penuh dengan rasa penyesalan yang
mendalam.
Entah apalagi nasi
sudah menjadi bubur, dan itu semua tidak dapat dikembalikan lagi seperti
semula.
Rose masih tetap
berjongkok, sementara Kennie mulai ikut berjongkok disampingnya sambil menepuk
__ADS_1
bahu kanannya. “Gue harap ini yang terakhir kalinya, jadikan kemarin sebagai
pelajaran. Dan Nina sudah bahagia disana, ingat Nina berada disini. Dihati
kita” ucap Kennie bijak
Rose mengangguk, selama
ini ia hanya menuruti egonya. Hingga membuat persahabatan sekaligus adiknya ini
menderita karenanya.
“Sekali lagi, gue minta
maaf pada kalian berdua. Gara-gara gue Nina sekarang—“ ucapnya menggantung
Tetapi Kennie tersenyum
bahagia, “Santai aja, Gue yakin Nina pasti sudah memaafkan lo” ucap Kennie
meyakinkan.
Matahari sudah sampai
diubun, Kennie mendongak menatap terangnya. “Sudah siang, sekarang kita pergi.”
Mereka berdua pulang,
karena waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang.
“Hah”
“Yang benar itu Pah?”
Tanya Kennie dan Rose ketika sudah berada dirumah. Kali ini mereka berada di
ruang tamu, bersama dengan Dona dan Mahendra.
“Iya, kami berdua sudah
memutuskan untuk menikah kembali. Dan Papa sudah berjanji tidak akan
mengulanginya lagi” ucapnya dengan senyum merekah.
Rose berteriak heboh
sedangkan Kennie hanya tersenyum tipis saat mendengarnya. Rose mengguncang
badan adiknya itu. “Ish, bisa enggak sih, tidak pakai heboh segala. Yang
nikahkan mereka.” ucap Kennie kesal pasalnya badannya yang menjadi sasaran
Kakaknya.
“Tapi setidaknya lo
senangkan?” ucapnya menaikkan kedua alisnya sambil bersedekap dada.
“Biasa aja kali”
jawabnya lalu pergi meninggalkan mereka yang tercenung ditempat.
Mahendra dengan
keterkejutannya, sedangkan Rose mendengus sebal menatap adiknya. “Kamu harus
terbiasa menghadapi sikap Kennie yang selalu berubah-ubah” ucap Dona memberitahu
Mahendra hanya
mengangguk paham, “Iya”
Rose sudah berlari
menyusul Kennie yang sudah menaiki tangga, “KENNIE, DASAR BUNGLON. Gue pake
ditinggal lagi” teriak Rose menggema seluruh ruangan.
__ADS_1
Hingga Dona dan
Mahendra terkekeh pelan kelakuan kedua putrinya itu.