Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 37


__ADS_3

Kennie melangkah


kakinya menuju garasi mobil, lalu keluar dari gerbang, tanpa Kennie sadari ada


satu mobil yang mengikutinya dari belakang, awalnya Kennie tidak memperdulikan


mobil itu. tetapi lama-kelamaan Kennie merasa jengah.


Kennie memberhentikan


mobilnya dibibir jalan, lalu tidak lama mobil yang mengikuti ikut berhenti.


Kennie berdiri sambil menyandarkan dibadan mobil.


“Hey, Maafkan gue sudah


berhentikan mobil lo. Ada yang hal penting mau gue bicarakan sama lo” ucap Rose


dengan senyum lebarnya


Kennie menaikkan


alisnya heran “Penting, gue rasa tidak perlu” ucap Kennie lalu membalikkan


badannya untuk membuka mobilnya. Namun ditahan oleh Rose.


“Please, sebentar saja”


pinta Rose memohon


“Gue tidak punya waktu”


ucap Kennie begitu dingin


Rose menghela nafas


gusar “Sampai kapan mau seperti ini, gue ini Kakak lo. Ken” uca Rose merasa


jengah menghadapi sikap keras kepala adiknya.


“Lo bilang sampai


kapan. Setelah apa yang lo lakukan ke kita. Setelah apa yang lo lakukan pada


Nina. Sekarang lo datang begitu saja.” Ucap Kennie telak membuat Rose bungkam


“Asal lo tahu Ken,


selama ini gue menderita. Selama ini gue pendem rasa iri gue pada kalian.


Sedangkan gue apa.” Ucap Rose meluapkan yang selama ini ia rasakan


“Tetapi cara lo salah,


gue dan Nina selalu ada buat lo. Tetapi lo malah khianati semuanya. Gue dan


Nina berusaha menerima lo apa adanya. Tetapi karena rasa iri lo yang tinggi


membuat Nina tiada. Sekarang lo datang seenaknya. Minta maaf pada Nina. Bukan


pada gue” jelas Kennie selama ini memendam semuanya.


Rose bersimpuh dihadapan


Kennie, hingga membuatnya terlonjak kaget, Rose menangis sejadi-jadinya. Kennie


menghela nafas berat, lalu menakup kedua bahunya. Mengangkat Rose berdiri lalu


memeluknya erat.


“Tidak perlu lo


bersimpuh begitu, Gue sudah memaafkan daru dulu” ucap Kennie,


Rose membalas pelukan


darinya “Makasih, tetapi jangan hokum gue lagi. Gue ingin seperti dulu lagi”


pintanya.

__ADS_1


“Sekarang lo ikut gue


kesuatu tempat” pinta Kennie saat melepaskan pelukan itu


Rose menyerngit


bingung, “Mau kemana, tetapi bukannya lo sekolah?” ucap Rose heran, Kennie


menyentil dahi Rose jengah.


“Tidak berubah ya,


masih aja oon, Ya boloslah.” Jawab dengan santainya


“Lo yang masih tidak


berubah, Bolos kok dijadikan hobi” ucap Rose kesal sendiri pada adiknya ini


“Santai aja kali, Dari


pada lo terus mengomel tidak jelas sekarang kia pergi. Enggak apa sekali aja


bolos, anak rajin dan pintar” sindir Kenni lalu mendorong Rose menuju mobilnya.


Sekarang Rose merasa


lega karena Kennie sudah mulai menerimanya kembali walaupu masih sedikir  canggung. Tetapi Rose sudah lega. Setidaknya


rasa bersalahnya sudah berkurang.


Harapan sedikit sudah


terkabul, ia juga bisa berkumpul dengan keluarganya. Rose menyerngit dahinya


saat Kennie membawanya disebuah tempat pemakaman umum. “Kenapa Kennie ajak gue


kesini?” Tanya pada diri sendiri.


Dari luar Kennie sudah


menunggu Rose yang sudah turun dari mobil lalu menghampirinya.


“Astaga Ken, ngapain


“Sekarang lo ikut gue”


ucap Kennie tegas lalu berjalan menuju suatu blok, sesampainya disana Rose


masih keheranan sebenarnya Kennie mau ngapain disini, sih?


“Sekarang lo minta maaf


pada Nina” ucap Kennie lalu Rose menunduk disana terdapat nisan.


Nina Anandita


Binti


Gilang Alven


Rose merasa tercekat


saat menatap makam sahabatnya itu yang pernah ia sakiti. Rose menunduk tanpa ia


sadari semuanya berputar begitu saja. Ada rasa sesak dalam dirinya. Sedangkan


Kennie masih berdiri menatap sahabatnya yang penuh dengan rasa penyesalan yang


mendalam.


Entah apalagi nasi


sudah menjadi bubur, dan itu semua tidak dapat dikembalikan lagi seperti


semula.


Rose masih tetap


berjongkok, sementara Kennie mulai ikut berjongkok disampingnya sambil menepuk

__ADS_1


bahu kanannya. “Gue harap ini yang terakhir kalinya, jadikan kemarin sebagai


pelajaran. Dan Nina sudah bahagia disana, ingat Nina berada disini. Dihati


kita” ucap Kennie bijak


Rose mengangguk, selama


ini ia hanya menuruti egonya. Hingga membuat persahabatan sekaligus adiknya ini


menderita karenanya.


“Sekali lagi, gue minta


maaf pada kalian berdua. Gara-gara gue Nina sekarang—“ ucapnya menggantung


Tetapi Kennie tersenyum


bahagia, “Santai aja, Gue yakin Nina pasti sudah memaafkan lo” ucap Kennie


meyakinkan.


Matahari sudah sampai


diubun, Kennie mendongak menatap terangnya. “Sudah siang, sekarang kita pergi.”


Mereka berdua pulang,


karena waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang.



“Hah”


“Yang benar itu Pah?”


Tanya Kennie dan Rose ketika sudah berada dirumah. Kali ini mereka berada di


ruang tamu, bersama dengan Dona dan Mahendra.


“Iya, kami berdua sudah


memutuskan untuk menikah kembali. Dan Papa sudah berjanji tidak akan


mengulanginya lagi” ucapnya dengan senyum merekah.


Rose berteriak heboh


sedangkan Kennie hanya tersenyum tipis saat mendengarnya. Rose mengguncang


badan adiknya itu. “Ish, bisa enggak sih, tidak pakai heboh segala. Yang


nikahkan mereka.” ucap Kennie kesal pasalnya badannya yang menjadi sasaran


Kakaknya.


“Tapi setidaknya lo


senangkan?” ucapnya menaikkan kedua alisnya sambil bersedekap dada.


“Biasa aja kali”


jawabnya lalu pergi meninggalkan mereka yang tercenung ditempat.


Mahendra dengan


keterkejutannya, sedangkan Rose mendengus sebal menatap adiknya. “Kamu harus


terbiasa menghadapi sikap Kennie yang selalu berubah-ubah” ucap Dona memberitahu


Mahendra hanya


mengangguk paham, “Iya”


Rose sudah berlari


menyusul Kennie yang sudah menaiki tangga, “KENNIE, DASAR BUNGLON. Gue pake


ditinggal lagi” teriak Rose menggema seluruh ruangan.

__ADS_1


Hingga Dona dan


Mahendra terkekeh pelan kelakuan kedua putrinya itu.


__ADS_2