Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 14


__ADS_3

Mata Kennie di tutup


oleh sebuah kain berwarna biru, Kennie di tuntun berjalan masuk disebuah Caffe


yang disewa oleh Baim. Kennie tidak begitu mengerti mengapa ia dibawa ketempat


yang begitu misterius. dan ia tidak mengerti dimana ia berada sekarang.


Baim tersenyum lebar


saat sang pramusaji menyapanya masuk dan membawa mereka ketempat yang sudah


disewanya.


Sebuah kue ulang tahun


yang berukuran besar, tepat saat ini Kennie berdiri dihadapan kue tersebut.


Kennie yang mengenakan Dress berwarna merah serta, semua mata memandangnya.


Hingga Ben yang jauh disana sedang berdiri menatapnya tidak percaya.


Ternyata acara ulang


tahun tersebut untuk Kennie. tetapi saat menatap manik mata itu. Ben seketika


terdiam, entah pikirannya kemana, ia seperti mengingat seseorang. Mata yang


sama, namun dengan orang yang berbeda.


Tetapi Ben harus


professional terhadap pekerjaannya. Gerry dan Jovan masih berdiri ikut terdiam.


“Selamat ulang tahun,


Adek kecilku” gumam Jovan, seketika Ben menoleh menatap Jovan. “Adek kecil” batin Ben heran.


“Ternyata Si Bunglon


itu yang adakan acara di Café gue. apes amet” ucap Ben mengusap wajah gusarnya.


“Tapi dia cantik sih”


ucap Gerry menaikkan kedua alisnya


“sayangnya Troublemaker” tukas Ben lalu kembali


masuk keruangannya sedangkan Jovan dan Gerry masih berdiri menatap acara itu


berlangsung.


Kennie berdecak kagum


saat melihat dekorasi yang begitu mewah, ada senyum terpancar diwajahnya.


Tetapi ia heran mengapa juga Baim membuatkan acara megah di café yang sangat ia


kenali tempatnya. “Bukannya ini Cafenya


Ben ya. Kenapa harus ditempat ini?” ucapnya dalam dalam hati,


Kennie menghembuskan


nafas panjangnya. “Sekarang lo wish dulu setelah itu baru tiup lilinnya” ucapnya yang diangguki oleh Kennie.


Kennie mulai menutup


matanya, setelah itu ia meniup lilin yang ada dihadapannya, semua orang


bertepuk tangan dengan meriah. Baim membawa Kennie menjauh dari kerumunan orang


hingga akhirnya mereka bubar dan berbicara dengan tamu lainnya.


“Abang mau memberikan


lo sesuatu” ucap Baim, “Apa?” Tanya Kennie bingung


Baim tersenyum bahagia.


Baim memberikan sebuah kotak. Kennie menerimanya sambil tersenyum “Kado?”


Tanyanya


“Buka saja, semoga lo


suka” jawabnya dengan segera Kennie membuka kado yang di berikan oleh Kakaknya


itu.


Didalam itu sebuah dua


sarung tinju berwarna merah, Kennie tersenyum bahagia lalu memeluk Kakaknya


erat. Setelah itu ia mendapati sebuah brosur. Mata Kennie membelalak dan


melihat sebuah surat rekomendasi masuk turnamen tinju.


“Ini beneran Bang?”


Tanya Kennie memastikan


“Ya, menurut lo” jawab


Baim memicing


Setelah acara ulang


tahun selesai Kennie berdiri memandang langit malam yang di hiasi bintang dan


bulan. Angina berhembus riuh ditelinga. Hingga kesejukan datang menghampiri.

__ADS_1


Semua terasa begitu menyenangkan baginya. Mendapatkan semua apa yang kita


inginkan. Dan tetap bersenyukur pada yang maha kuasa.


Kennie duduk termenung.


Ada senyum terlukis indah diwajahnya. Harapan menjadi seorang atlet tinju,


adalah cita-citanya sejak dulu. dan banyak orang yang tidak mengetahui hal itu.


Dona yang berdiri


diambang pintu menatap anak semata wayangnya sedang berdiri sendirian di balkon


rumahnya.


“Langitnya indah ya”


sahutnya membuyarkan lamunan Kennie hingga menoleh melihat seseorang paruh baya


sedang menatap sambil tersenyum menghampirinya.


“Mama” panggil Kennie


lalu kembali menoleh menatap kedepan


“Seandainya Papa ada


disini, mungkin kamu tidak begini nak?” ucapnya ada rasa bersalah dalam diri


Dona.


“Mama, ngomong apa sih?


aku tidak ingin bahas itu? begini saja Kennie sudah bahagia bersama dengan


Mama” tuturnya membuat Dona menghela nafas berat memandang Kennie. seketika


Kennie langsung memeluk erat. Ia begitu menyayangi ibunya. Yang membesarkan


dirinya seorang diri.



Pagi ini Kennie sudah


bersiap untuk berangkat kesekolah, Kennie berjalan menuruni anak tangga. Hingga


mendapati seorang yang sangat ia kenali sedang duduk di single Sofa, mata


Kennie membulat saat melihat Baim.


“Bang Baim, ngapain


disini?” tanyanya heran


“Mau antar adik kecil


gue” jawabnya berdiri


dulu ya,” pamitnya teriak hingga Dona keluar dari dapur dengan tergesah-gesah


“Sarapan dulu, sayang”


ucapnya tetapi Kennie malah mencium punggung tangannya lalu berlari keluar,


begitu juga dengan Baim “Baim berangkat dulu, Tante” pamit Baim.


“hati-hati” ucapnya


sambil menggeleng-geleng kepala heran “Anak itu”


Baim melajukan mobilnya


menyusuri kota, sepajang jalan Kennie tersenyum “Tumben itu muka tidak triplek


lagi. Biasa kayak triplek kusut” ucapnya meledek


“Apaan sih, Bang? Diem


salah, bahagia juga salah? Apa maumu sih” Dumel Kennie heran


“Ya, enggak


gimana-gimana? Heran aja” jawabnya seadanya


Beberapa menit kemudian


mobil Baim berhenti tepat depan gerbang sekolah, disana sudah ada Nova dan


Keyla berdiri seperti menunggu seseorang. Kennie melambaikan tangan saat keluar


dari mobil.


“Makasih Bang, bentar


jemput lagi” ucapnya lalu pergi begitu saja. Hingga Baim kembali melajukan mobilnya.


Kennie menghampiri kedua sahabatnya dengan wajah sumringah. “Morning everyone”


sapanya dengan senyum lebar. Hingga kedua sahabatnya menautkan alisnya heran.


“Tumben amat, pagi ini


wajahnya cerah banget. Dianterin sapa tuh?” Tanya Nova penasaran, yang


diangguki oleh Keyla


“Pasti cowok ganteng,


Pacar lo ya?” tambah Keyla memastikan

__ADS_1


“Bukan, Sotoy amat dah


jadi orang” ucap Kennie datar lalu pergi begitu saja. Kedua sahabatnya


mendengus kesal melihat kelakuan Kennie yang selalu berubah kapan saja.


Kennie menjatuhkan


bokongnya di kursi diikuti Nova dan Keyla yang penasaran. “Kasih tau kita dong


siapa yang anterin lo tadi?” Tanya Nova lagi.


“Ohh itu, dia temen


gue. memangnya kenapa?” Tanya Kennie balik


“Hmm, Enggak sih. cuman


Tanya doang” ucap Keyla dengan cengirannya


Kennie mendengus sebal


mendengar pertanyaan kedua sahabatnya. Karena setahu Nova dan Keyla. Kennie


tidak pernah diantar oleh siapapun. Dan Nova tidak pernah tahu bahwa sahabatnya


itu tidak pernah dekat dengan siapapun apalagi seorang cowok.


Jam sudah hampir


menunjukkan pukul delapan, dan seharusnya pelajaran sudah dimulai sejak tadi.


tetapi tidak ada tanda-tanda guru yang akan masuk. Maka itu Kennie memutuskan


untuk ke pepustakaan.


“Mau kemana, Ken?”


Tanya Nova


“Mau ke perpus,”


jawabnya lalu pergi begitu saja


Kennie berjalan


sepanjang koridor menuju perpustakaan yang tidak jauh dari kelasnya. Kennie


memasuki ruangan yang penuh dengan keheningan dan sunyi. “Pagi Pak” sapa Kennie


pada penjaga perpustakaan yang sibuk mencatat.


“Pagi” jawabnya lalu


kembali focus pada buku agendanya


Kennie menelusuri


rak-rak buku seperti ia mencari buku novel yang akan dibacanya. Tanpa sengaja


mata Kennie berpapasan dengan lelaki yang tidak asing lagi baginya. “Jovan,


sejak kapan lo diperpus?” Tanya Kennie heran, karena setahu Kennie Jovan tidak


pernah membaca buku atau apapun.


“Sejak tadi, lo ngapain


pagi-pagi sudah di perpus. Bukannya ini jam pelajaran.” Ledek Jovan


Kennie mendengus sebal,


“Guru tidak masuk kelas, jadi gue kesini” jawabnya lalu mencari tempat duduk,


diikuti oleh Jovan yang duduk dihadapan Kennie


“Ini buat lo, selamat


ulang tahun adek kecil” ucapnya menyodorkan sebuah kotak kecil kepada Kennie.


lalu mengusap kepalanya lembut.


“Makasih Jojo. Kemarin


lo cantik banget make gaun” ucap Jovan tanpa sadar, Kennie menautkan alisnya


heran. Dari mana Jovan tahu kalau dia memakai pakaian Dress.


“Lo dateng diacara


ulang tahun gue kemarin ya, kok gue tidak lihat” ucap Kennie polos, Jovan malah


terkekeh.


“Gue kemarin ke Caffe


tidak sengaja lihat ada acara ulang tahun, tahunya elo yang ulang tahun. Tidak


bilang gue lagi.” Ucap Jovan kesal. Kennie mengerucutkan bibirnya.


“Ye, kemarin man ague


tahu kalau dirayakan di Caffe, gue aja dapat kejutan dari Bang Baim” ucap


Kennie tanpa sadar.


“Hah, Baim” kaget Jovan


karena nama itu tidak asing baginya


Kennie hanya mengangguk

__ADS_1


mengiyakan. “Tambah saingan lagi deh” gumam Jovan yang dapat didengar oleh Kennie


“Hah,”


__ADS_2