
Mata Kennie di tutup
oleh sebuah kain berwarna biru, Kennie di tuntun berjalan masuk disebuah Caffe
yang disewa oleh Baim. Kennie tidak begitu mengerti mengapa ia dibawa ketempat
yang begitu misterius. dan ia tidak mengerti dimana ia berada sekarang.
Baim tersenyum lebar
saat sang pramusaji menyapanya masuk dan membawa mereka ketempat yang sudah
disewanya.
Sebuah kue ulang tahun
yang berukuran besar, tepat saat ini Kennie berdiri dihadapan kue tersebut.
Kennie yang mengenakan Dress berwarna merah serta, semua mata memandangnya.
Hingga Ben yang jauh disana sedang berdiri menatapnya tidak percaya.
Ternyata acara ulang
tahun tersebut untuk Kennie. tetapi saat menatap manik mata itu. Ben seketika
terdiam, entah pikirannya kemana, ia seperti mengingat seseorang. Mata yang
sama, namun dengan orang yang berbeda.
Tetapi Ben harus
professional terhadap pekerjaannya. Gerry dan Jovan masih berdiri ikut terdiam.
“Selamat ulang tahun,
Adek kecilku” gumam Jovan, seketika Ben menoleh menatap Jovan. “Adek kecil” batin Ben heran.
“Ternyata Si Bunglon
itu yang adakan acara di Café gue. apes amet” ucap Ben mengusap wajah gusarnya.
“Tapi dia cantik sih”
ucap Gerry menaikkan kedua alisnya
“sayangnya Troublemaker” tukas Ben lalu kembali
masuk keruangannya sedangkan Jovan dan Gerry masih berdiri menatap acara itu
berlangsung.
Kennie berdecak kagum
saat melihat dekorasi yang begitu mewah, ada senyum terpancar diwajahnya.
Tetapi ia heran mengapa juga Baim membuatkan acara megah di café yang sangat ia
kenali tempatnya. “Bukannya ini Cafenya
Ben ya. Kenapa harus ditempat ini?” ucapnya dalam dalam hati,
Kennie menghembuskan
nafas panjangnya. “Sekarang lo wish dulu setelah itu baru tiup lilinnya” ucapnya yang diangguki oleh Kennie.
Kennie mulai menutup
matanya, setelah itu ia meniup lilin yang ada dihadapannya, semua orang
bertepuk tangan dengan meriah. Baim membawa Kennie menjauh dari kerumunan orang
hingga akhirnya mereka bubar dan berbicara dengan tamu lainnya.
“Abang mau memberikan
lo sesuatu” ucap Baim, “Apa?” Tanya Kennie bingung
Baim tersenyum bahagia.
Baim memberikan sebuah kotak. Kennie menerimanya sambil tersenyum “Kado?”
Tanyanya
“Buka saja, semoga lo
suka” jawabnya dengan segera Kennie membuka kado yang di berikan oleh Kakaknya
itu.
Didalam itu sebuah dua
sarung tinju berwarna merah, Kennie tersenyum bahagia lalu memeluk Kakaknya
erat. Setelah itu ia mendapati sebuah brosur. Mata Kennie membelalak dan
melihat sebuah surat rekomendasi masuk turnamen tinju.
“Ini beneran Bang?”
Tanya Kennie memastikan
“Ya, menurut lo” jawab
Baim memicing
Setelah acara ulang
tahun selesai Kennie berdiri memandang langit malam yang di hiasi bintang dan
bulan. Angina berhembus riuh ditelinga. Hingga kesejukan datang menghampiri.
__ADS_1
Semua terasa begitu menyenangkan baginya. Mendapatkan semua apa yang kita
inginkan. Dan tetap bersenyukur pada yang maha kuasa.
Kennie duduk termenung.
Ada senyum terlukis indah diwajahnya. Harapan menjadi seorang atlet tinju,
adalah cita-citanya sejak dulu. dan banyak orang yang tidak mengetahui hal itu.
Dona yang berdiri
diambang pintu menatap anak semata wayangnya sedang berdiri sendirian di balkon
rumahnya.
“Langitnya indah ya”
sahutnya membuyarkan lamunan Kennie hingga menoleh melihat seseorang paruh baya
sedang menatap sambil tersenyum menghampirinya.
“Mama” panggil Kennie
lalu kembali menoleh menatap kedepan
“Seandainya Papa ada
disini, mungkin kamu tidak begini nak?” ucapnya ada rasa bersalah dalam diri
Dona.
“Mama, ngomong apa sih?
aku tidak ingin bahas itu? begini saja Kennie sudah bahagia bersama dengan
Mama” tuturnya membuat Dona menghela nafas berat memandang Kennie. seketika
Kennie langsung memeluk erat. Ia begitu menyayangi ibunya. Yang membesarkan
dirinya seorang diri.
Pagi ini Kennie sudah
bersiap untuk berangkat kesekolah, Kennie berjalan menuruni anak tangga. Hingga
mendapati seorang yang sangat ia kenali sedang duduk di single Sofa, mata
Kennie membulat saat melihat Baim.
“Bang Baim, ngapain
disini?” tanyanya heran
“Mau antar adik kecil
gue” jawabnya berdiri
dulu ya,” pamitnya teriak hingga Dona keluar dari dapur dengan tergesah-gesah
“Sarapan dulu, sayang”
ucapnya tetapi Kennie malah mencium punggung tangannya lalu berlari keluar,
begitu juga dengan Baim “Baim berangkat dulu, Tante” pamit Baim.
“hati-hati” ucapnya
sambil menggeleng-geleng kepala heran “Anak itu”
Baim melajukan mobilnya
menyusuri kota, sepajang jalan Kennie tersenyum “Tumben itu muka tidak triplek
lagi. Biasa kayak triplek kusut” ucapnya meledek
“Apaan sih, Bang? Diem
salah, bahagia juga salah? Apa maumu sih” Dumel Kennie heran
“Ya, enggak
gimana-gimana? Heran aja” jawabnya seadanya
Beberapa menit kemudian
mobil Baim berhenti tepat depan gerbang sekolah, disana sudah ada Nova dan
Keyla berdiri seperti menunggu seseorang. Kennie melambaikan tangan saat keluar
dari mobil.
“Makasih Bang, bentar
jemput lagi” ucapnya lalu pergi begitu saja. Hingga Baim kembali melajukan mobilnya.
Kennie menghampiri kedua sahabatnya dengan wajah sumringah. “Morning everyone”
sapanya dengan senyum lebar. Hingga kedua sahabatnya menautkan alisnya heran.
“Tumben amat, pagi ini
wajahnya cerah banget. Dianterin sapa tuh?” Tanya Nova penasaran, yang
diangguki oleh Keyla
“Pasti cowok ganteng,
Pacar lo ya?” tambah Keyla memastikan
__ADS_1
“Bukan, Sotoy amat dah
jadi orang” ucap Kennie datar lalu pergi begitu saja. Kedua sahabatnya
mendengus kesal melihat kelakuan Kennie yang selalu berubah kapan saja.
Kennie menjatuhkan
bokongnya di kursi diikuti Nova dan Keyla yang penasaran. “Kasih tau kita dong
siapa yang anterin lo tadi?” Tanya Nova lagi.
“Ohh itu, dia temen
gue. memangnya kenapa?” Tanya Kennie balik
“Hmm, Enggak sih. cuman
Tanya doang” ucap Keyla dengan cengirannya
Kennie mendengus sebal
mendengar pertanyaan kedua sahabatnya. Karena setahu Nova dan Keyla. Kennie
tidak pernah diantar oleh siapapun. Dan Nova tidak pernah tahu bahwa sahabatnya
itu tidak pernah dekat dengan siapapun apalagi seorang cowok.
Jam sudah hampir
menunjukkan pukul delapan, dan seharusnya pelajaran sudah dimulai sejak tadi.
tetapi tidak ada tanda-tanda guru yang akan masuk. Maka itu Kennie memutuskan
untuk ke pepustakaan.
“Mau kemana, Ken?”
Tanya Nova
“Mau ke perpus,”
jawabnya lalu pergi begitu saja
Kennie berjalan
sepanjang koridor menuju perpustakaan yang tidak jauh dari kelasnya. Kennie
memasuki ruangan yang penuh dengan keheningan dan sunyi. “Pagi Pak” sapa Kennie
pada penjaga perpustakaan yang sibuk mencatat.
“Pagi” jawabnya lalu
kembali focus pada buku agendanya
Kennie menelusuri
rak-rak buku seperti ia mencari buku novel yang akan dibacanya. Tanpa sengaja
mata Kennie berpapasan dengan lelaki yang tidak asing lagi baginya. “Jovan,
sejak kapan lo diperpus?” Tanya Kennie heran, karena setahu Kennie Jovan tidak
pernah membaca buku atau apapun.
“Sejak tadi, lo ngapain
pagi-pagi sudah di perpus. Bukannya ini jam pelajaran.” Ledek Jovan
Kennie mendengus sebal,
“Guru tidak masuk kelas, jadi gue kesini” jawabnya lalu mencari tempat duduk,
diikuti oleh Jovan yang duduk dihadapan Kennie
“Ini buat lo, selamat
ulang tahun adek kecil” ucapnya menyodorkan sebuah kotak kecil kepada Kennie.
lalu mengusap kepalanya lembut.
“Makasih Jojo. Kemarin
lo cantik banget make gaun” ucap Jovan tanpa sadar, Kennie menautkan alisnya
heran. Dari mana Jovan tahu kalau dia memakai pakaian Dress.
“Lo dateng diacara
ulang tahun gue kemarin ya, kok gue tidak lihat” ucap Kennie polos, Jovan malah
terkekeh.
“Gue kemarin ke Caffe
tidak sengaja lihat ada acara ulang tahun, tahunya elo yang ulang tahun. Tidak
bilang gue lagi.” Ucap Jovan kesal. Kennie mengerucutkan bibirnya.
“Ye, kemarin man ague
tahu kalau dirayakan di Caffe, gue aja dapat kejutan dari Bang Baim” ucap
Kennie tanpa sadar.
“Hah, Baim” kaget Jovan
karena nama itu tidak asing baginya
Kennie hanya mengangguk
__ADS_1
mengiyakan. “Tambah saingan lagi deh” gumam Jovan yang dapat didengar oleh Kennie
“Hah,”