
“Lo seriusan, sudah
ketemu dengan bokap lo?” Tanya Nova terkejut
“Iya, kemarin dia
datang secara tiba-tiba dirumah” jawab Kennie datar, Nova menatap iba pada
sahabatnya itu. sebenarnya Kennie merasa senang bisa bertemu dengan ayahnya,
yang sejak dulu ia rindukan.
Seketika Nova terkejut
ketika Kennie memeluknya, ia heran mengapa Kennie tiba-tiba menangis. Entah apa
yang membuat sahabatnya itu terpuruk dan lemah seperti sekarang ini.
Tidak biasanya Nova
melihat Kennie seperti ini. entah apa yang terjadi Nova tidak tahu.
“Menangislah jika lo ingin menangis, tuangkan segala kerasahan hati lo. Jangan
biarkan diri lo terbebani dengan masalah yang lo hadapai” ucap Nova membalas
pelukan sahabatnya itu.
Selama ini Kennie hanya
memendam masalah sendiri, tanpa diketahui oleh kedua sahabatnya Kennie
menyimpannya secara rapat. Dan tepat saat ini Nova mengetahui semuanya. Nova
hanya mengetahui bahwa Kennie hanya tinggal bersama seorang ibunya tanpa
seorang Ayah.
Sedangkan Keyla hanya
duduk sambil mengunyah camilan yang sedari tadi dimakannya. Nova melirik
sahabatnya satu itu, ia tersenyum miring lalu melemparkan sebuah bantal kearah
Keyla.
Keyla terlonjak kaget
“Astaga, Nova lo bikin gue kaget aja” kesal Kayla
“Lo itu, udah tahu
sahabatnya lagi sedih, elo malah sibuk
makan, udah habis berapa bungkus lo?” geram Nova mengendus, memiliki sahabat
super lemot bin polos seperti Keyla membuat Nova merasa jengah sekaligus heran,
“Habis lima bungkus”
jawab Keyla polos,
Kennie dan Nova menepuk
jidat secara bersamaan, tetapi Kennie terkekeh pelan, ‘Astaga’ walaupun Keyla
kocak tetapi ia bisa menghibur. Ada untung juga Kennie bisa memiki sahabat
seperti Keyla.
“Lima bungkus,” ulang
Nova yang mendapatkan anggukan dari Keyla, ia hanya bisa menggeleng. Sungguh
ajaib.
Kennie yang baru saja
memakirkan mobilnya di parkiran, lalu turun. Kennie berjalan dengan wajah
seperti biasa. Tidak ada ekspresi sama sekali.
“Kennie Azzura
Mahendra” panggil seseorang dengan lemgkap,
Yang disebut namanya
seketika menoleh mendapati seseorang yang sedang berdiri dihadapannya, menatap
tajam kearahnya. Dari seragam sekolahnya saja sudah berbeda. Kennie tetap diam
tanpa ingin membalas sapaannya.
“Lo ngapain disini?”
__ADS_1
tanyanya dingin
Tepat saat ini Rose
mendatanginya, melangkah angkuh “Gue mau tantang lo di pertandingan kali ini.
dengan taruhan!! siapa yang akan menjadi tunangannya Ben Andova Pratama”
Kennie berdecih, Kenapa
harus cowok itu yang menjadi bahan taruhannya, kenapa bukan yang lain. “Sungguh
aneh lo, cowok jadiin taruhan. Bitch”
Rose menggeram kesal,
menahan segala amarahnya yang mulai memuncak, “Sorry, Gue tidak sudi taruhan dengan lo, karena gue tahu masih ada
yang lebih penting daripada harus meladeni cewek ***** kayak lo” ucap Kennie tajam namun menusuk. Lalu pergi
meninggalkan Rose yang mengepalkan kedua jemarinya.
Ben yang menyaksikan kejadian
itu hanya bisa menghela nafas panjang, kenapa harus seribet ini sih?. “Dasar
cewek laknat” ucap Ben menggeram,
“Emang gue barang apa?
Harus dijadiin taruhan, Awas ya lo Rose” ucapnya masih menatap punggung
perempuan itu dari belakang.
Yap, mantan tunangan
Ben. yang masih mengejarnya. Walau Ben
tidak mau padanya. sudah dipastikan Rose akan melakukan apapun demi mendapatkan
apa yang ia inginkan.
Ben berjalan masuk
untuk mencari keberadaan Kennie, sepanjang koridor tampak ramai dipadati oleh
siswa-siswi yang sedang berbicara.
Hanya satu tempat yang
Ben ketahui “Pasti ada disana” ucapnya, Ben langsung berjalan menaiki tangga
diacari ternyata berada disana sedang duduk sendirian. Menghadap keatas,
Ben melangkah pelan
menghampiri Kennie lalu duduk disampingnya, seulas senyum saat melihat wajah
itu, dengan mata yang terpejam “Gila tuh cewek, seenaknya aja gue jadi bahan
taruhan, emang perlu dimutilasi tuh orang” ucap Ben menggeram kesal.
Kennie terlonjak kaget,
lalu menatap Ben intens. Sejak kapan cowok tengil itu berada disampingnya,
pikirnya.
“Ihh, bisa enggak sih,
tidak bikin kaget” dumel Kennie
Ben terkekeh, “Ehh, itu
nenek lampir, ngapain datang kesini sih? malah ngajakin lo taruhan lagi. Dan
gue yang jadi taruhan kalian. Gue bukan barang kali, emang muka gue gantengnya
pake ketulungan juga sih” Oceh Ben panjang lebar,
“Pede amat jadi
manusia”
“Emang gue manusia,
bukan monyet”
“Lo lebih cocok jadi
monyet daripada manusia, malahan lebih mirip lagi” balas Kennie membuat Ben
mendelik tidak terima, karena Kennie mengatainya.
“Wahh, emang resek nih
bocah. Gue cubit juga lo”
__ADS_1
“Cubit aja kalau
berani, Wleee” tantang Kennie sambil menjulurkan lidahnya. Seketika Ben
mencubit hidung mancungnya “Aww, hidung gue” Ben terkekeh,
Pemandangan yang tidak
biasa antara dua insan yang saling jatuh cinta, ternyata dibalik dinginnya
Kennie ternyata ada sisi lain yang ia lihat. Ben sudah merasa bahagia saat
melihat senyum lepas yang tak pernah diperlihatkan Kennie oleh siapapun.
“Kamu
seperti ini terus ya, bahagia berada disamping aku.”Pikir Ben dalam hati
“Makasih Ben, Gue yakin
lo bisa bahagiain Kennie. lebih dari apapun itu. karena gue percaya sama lo”
ucap seseorang lalu pergi begitu saja.
Dikantin Jovan dan
Gerry sedang duduk sambil melahap makanan. Gerry yang sedari tadi sudah memesan
empat porsi mie ayam kini sudah mangkuk kelima. Jovan hanya bisa menggeleng
kepala menatap sahabatnya itu.
“Mbak satu porsi lagi
ya” sahut Gerry menambah porsi,
“Gila, itu perut apa
gentong air. Lihat sudah berapa porsi lo makan. Kasian itu perut. Ger” peringat
Jovan sambil menggeleng heran.
Ben yang baru saja
datang melihat mangkuk bersusun lima. Menatap terkejut “Jo, siapa yang makan
sebanyak ini, elo ya?” Tanya Ben sambil menggeleng
“Bukan gue, tapi itu
nohh, Gerry si rakus” tunjuk Jovan, Gerry baru saja memulai makanannya yang
keenam.
“Waduhhh,Gerry. Badan
boleh atletis. Tapi makan lo nauzubillah.” Ucap Ben menggelengkan kepalanya. Sudah
menjadi pemandangan tidak asing lagi bagi Ben dan Jovan melihat kelakuan Gerry
ketika mendapatkan makanan.
“Tapi Ben lo yang
bayarin, Gue pergi dulu. biasa apelin doi” ucap Gerry cengengesan, setelah menghabiskan
enam porsi mie ayam.
“Ehh, somplak, Gue aja
belum makan minta dibayarin. Emang dasar tuhh bocah” teriak Ben namun diacuhkan
oleh Gerry.
“Gue juga ya, bayarin.
Sebagai tanda traktiran karena lo sudah jadian dengan adik gue” ucap Jovan
beranjak pergi meninggalkan Ben sendiri.
“Gila, ditinggalin
sendiri lagi. Sudah makan banyak begini. Pake gue yang bayar. Emang somplak lo
berdua” teriak Ben
Akhirnya Ben makan
sendiran dikantin, meski tidak terlalu ramai tetapi Ben menikmati makanan
dihadapannya dengan lahap. Banyak yang memperhatikan cowok populer itu ketika
sedangkan makan. Dengan makan pun Ben masih pun tebar pesona kepada seluruh
kaum hawa. Emang ya muka kegantengan gue
__ADS_1
tidak akan luntur begitu saja, gumam Ben dengan tingkat kepedean akut.