Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 34


__ADS_3

“Lo seriusan, sudah


ketemu dengan bokap lo?” Tanya Nova terkejut


“Iya, kemarin dia


datang secara tiba-tiba dirumah” jawab Kennie datar, Nova menatap iba pada


sahabatnya itu. sebenarnya Kennie merasa senang bisa bertemu dengan ayahnya,


yang sejak dulu ia rindukan.


Seketika Nova terkejut


ketika Kennie memeluknya, ia heran mengapa Kennie tiba-tiba menangis. Entah apa


yang membuat sahabatnya itu terpuruk dan lemah seperti sekarang ini.


Tidak biasanya Nova


melihat Kennie seperti ini. entah apa yang terjadi Nova tidak tahu.


“Menangislah jika lo ingin menangis, tuangkan segala kerasahan hati lo. Jangan


biarkan diri lo terbebani dengan masalah yang lo hadapai” ucap Nova membalas


pelukan sahabatnya itu.


Selama ini Kennie hanya


memendam masalah sendiri, tanpa diketahui oleh kedua sahabatnya Kennie


menyimpannya secara rapat. Dan tepat saat ini Nova mengetahui semuanya. Nova


hanya mengetahui bahwa Kennie hanya tinggal bersama seorang ibunya tanpa


seorang Ayah.


Sedangkan Keyla hanya


duduk sambil mengunyah camilan yang sedari tadi dimakannya. Nova melirik


sahabatnya satu itu, ia tersenyum miring lalu melemparkan sebuah bantal kearah


Keyla.


Keyla terlonjak kaget


“Astaga, Nova lo bikin gue kaget aja” kesal Kayla


“Lo itu, udah tahu


sahabatnya  lagi sedih, elo malah sibuk


makan, udah habis berapa bungkus lo?” geram Nova mengendus, memiliki sahabat


super lemot bin polos seperti Keyla membuat Nova merasa jengah sekaligus heran,


“Habis lima bungkus”


jawab Keyla polos,


Kennie dan Nova menepuk


jidat secara bersamaan, tetapi Kennie terkekeh pelan, ‘Astaga’ walaupun Keyla


kocak tetapi ia bisa menghibur. Ada untung juga Kennie bisa memiki sahabat


seperti Keyla.


“Lima bungkus,” ulang


Nova yang mendapatkan anggukan dari Keyla, ia hanya bisa menggeleng. Sungguh


ajaib.



Kennie yang baru saja


memakirkan mobilnya di parkiran, lalu turun. Kennie berjalan dengan wajah


seperti biasa. Tidak ada ekspresi sama sekali.


“Kennie Azzura


Mahendra” panggil seseorang dengan lemgkap,


Yang disebut namanya


seketika menoleh mendapati seseorang yang sedang berdiri dihadapannya, menatap


tajam kearahnya. Dari seragam sekolahnya saja sudah berbeda. Kennie tetap diam


tanpa ingin membalas sapaannya.


“Lo ngapain disini?”

__ADS_1


tanyanya dingin


Tepat saat ini Rose


mendatanginya, melangkah angkuh “Gue mau tantang lo di pertandingan kali ini.


dengan taruhan!! siapa yang akan menjadi tunangannya Ben Andova Pratama”


Kennie berdecih, Kenapa


harus cowok itu yang menjadi bahan taruhannya, kenapa bukan yang lain. “Sungguh


aneh lo, cowok jadiin taruhan. Bitch”


Rose menggeram kesal,


menahan segala amarahnya yang mulai memuncak, “Sorry, Gue tidak sudi taruhan dengan lo, karena gue tahu masih ada


yang lebih penting daripada harus meladeni cewek ***** kayak lo” ucap Kennie tajam namun menusuk. Lalu pergi


meninggalkan Rose yang mengepalkan kedua jemarinya.


Ben yang menyaksikan kejadian


itu hanya bisa menghela nafas panjang, kenapa harus seribet ini sih?. “Dasar


cewek laknat” ucap Ben menggeram,


“Emang gue barang apa?


Harus dijadiin taruhan, Awas ya lo Rose” ucapnya masih menatap punggung


perempuan itu dari belakang.


Yap, mantan tunangan


Ben. yang masih mengejarnya. Walau  Ben


tidak mau padanya. sudah dipastikan Rose akan melakukan apapun demi mendapatkan


apa yang ia inginkan.


Ben berjalan masuk


untuk mencari keberadaan Kennie, sepanjang koridor tampak ramai dipadati oleh


siswa-siswi yang sedang berbicara.


Hanya satu tempat yang


Ben ketahui “Pasti ada disana” ucapnya, Ben langsung berjalan menaiki tangga


diacari ternyata berada disana sedang duduk sendirian. Menghadap keatas,


Ben melangkah pelan


menghampiri Kennie lalu duduk disampingnya, seulas senyum saat melihat wajah


itu, dengan mata yang terpejam “Gila tuh cewek, seenaknya aja gue jadi bahan


taruhan, emang perlu dimutilasi tuh orang” ucap Ben menggeram kesal.


Kennie terlonjak kaget,


lalu menatap Ben intens. Sejak kapan cowok tengil itu berada disampingnya,


pikirnya.


“Ihh, bisa enggak sih,


tidak bikin kaget” dumel Kennie


Ben terkekeh, “Ehh, itu


nenek lampir, ngapain datang kesini sih? malah ngajakin lo taruhan lagi. Dan


gue yang jadi taruhan kalian. Gue bukan barang kali, emang muka gue gantengnya


pake ketulungan juga sih” Oceh Ben panjang lebar,


“Pede amat jadi


manusia”


“Emang gue manusia,


bukan monyet”


“Lo lebih cocok jadi


monyet daripada manusia, malahan lebih mirip lagi” balas Kennie membuat Ben


mendelik tidak terima, karena Kennie mengatainya.


“Wahh, emang resek nih


bocah. Gue cubit juga lo”

__ADS_1


“Cubit aja kalau


berani, Wleee” tantang Kennie sambil menjulurkan lidahnya. Seketika Ben


mencubit hidung mancungnya “Aww, hidung gue” Ben terkekeh,


Pemandangan yang tidak


biasa antara dua insan yang saling jatuh cinta, ternyata dibalik dinginnya


Kennie ternyata ada sisi lain yang ia lihat. Ben sudah merasa bahagia saat


melihat senyum lepas yang tak pernah diperlihatkan Kennie oleh siapapun.


“Kamu


seperti ini terus ya, bahagia berada disamping aku.”Pikir Ben dalam hati


“Makasih Ben, Gue yakin


lo bisa bahagiain Kennie. lebih dari apapun itu. karena gue percaya sama lo”


ucap seseorang lalu pergi begitu saja.



Dikantin Jovan dan


Gerry sedang duduk sambil melahap makanan. Gerry yang sedari tadi sudah memesan


empat porsi mie ayam kini sudah mangkuk kelima. Jovan hanya bisa menggeleng


kepala menatap sahabatnya itu.


“Mbak satu porsi lagi


ya” sahut Gerry menambah porsi,


“Gila, itu perut apa


gentong air. Lihat sudah berapa porsi lo makan. Kasian itu perut. Ger” peringat


Jovan sambil menggeleng heran.


Ben yang baru saja


datang melihat mangkuk bersusun lima. Menatap terkejut “Jo, siapa yang makan


sebanyak ini, elo ya?” Tanya Ben sambil menggeleng


“Bukan gue, tapi itu


nohh, Gerry si rakus” tunjuk Jovan, Gerry baru saja memulai makanannya yang


keenam.


“Waduhhh,Gerry. Badan


boleh atletis. Tapi makan lo nauzubillah.” Ucap Ben menggelengkan kepalanya. Sudah


menjadi pemandangan tidak asing lagi bagi Ben dan Jovan melihat kelakuan Gerry


ketika mendapatkan makanan.


“Tapi Ben lo yang


bayarin, Gue pergi dulu. biasa apelin doi” ucap Gerry cengengesan, setelah menghabiskan


enam porsi mie ayam.


“Ehh, somplak, Gue aja


belum makan minta dibayarin. Emang dasar tuhh bocah” teriak Ben namun diacuhkan


oleh Gerry.


“Gue juga ya, bayarin.


Sebagai tanda traktiran karena lo sudah jadian dengan adik gue” ucap Jovan


beranjak pergi meninggalkan Ben sendiri.


“Gila, ditinggalin


sendiri lagi. Sudah makan banyak begini. Pake gue yang bayar. Emang somplak lo


berdua” teriak Ben


Akhirnya Ben makan


sendiran dikantin, meski tidak terlalu ramai tetapi Ben menikmati makanan


dihadapannya dengan lahap. Banyak yang memperhatikan cowok populer itu ketika


sedangkan makan. Dengan makan pun Ben masih pun tebar pesona kepada seluruh


kaum hawa. Emang ya muka kegantengan gue

__ADS_1


tidak akan luntur begitu saja, gumam Ben dengan tingkat kepedean akut.


__ADS_2