
Ben menyeret Kennie
begitu saja keluar dari kelas, banyak pasang mata yang melihat cowok populer
itu. Kennie mengerang ingin melepaskan gemgaman kuat dari Ben. namun sia-sia,
Kennie menghempaskan tangan tersebut dengan kasar. “Sakit bego” bentaknya
“Lo masih punya hutang
sama gue” ucap Ben, Kennie menyerngit bingung
“Hutang? Sejak kapan
gue punya hutang sama lo?” Tanya Kennie polos
Ben cengengesan “Ialah
ada, lo harus kasih tahu gue dimana Nina sekarang?” Tanya Ben to the point
“Gue bingung sama Nina,
kenapa juga dia suka sama cowok tengil kayak lo” balas Kennie heran sambil
melipat kedua tangannya depan dada.
“Ialah, karena gue
ganteng” ucapnya dengan pedenya membuat Kennie menatap jijik
Seketika Kennie tertawa
lebar, tawa yang tidak pernah dilihat oleh Ben. Cantik, batinnya.
“Ganteng dari mananya,
enggak ganteng sama sekali” ledek Kennie masih dengan tawanya, membuat Ben
kesal karena ledekannya.
Ben mendengus “Sekarang
beritahu gue dimana Nina sekarang?” Tanya Ben
“Gue sibuk banyak
urusan, nanti saja ya” ucap Kennie santai lalu pergi begitu saja
Ben yang menjatuhkan
bokongnya ke tempat duduk panjang bercat putih itu. Ben masih terdiam, ia masih
mencari gadis yang sangat disayanginya itu. dan disaat ia menatap mata Kennie
ia seakan berada didekat gadis itu. meski Kennie terkadang sering menyebalkan
karena sikapnya yang kadang bisa berubah kapan saja. Namun ia tetap berusaha
keras.
Dari arah jauh Gerry
dan Jovan datang menghampiri Ben yang sedang duduk sendirian. Seperti sedang
memikirkan sesuatu, entah itu apa?. Gerry menepuk bahu Ben sehingga lelaki itu
mendongak lalu tersenyum tipis.
“Sepertinya lo sedang
galau, mikirin apa sih?” Tanya Gerry sedangkan Jovan berdiri sambil memasukkan
kedua tangannya kedalam saku celana.
“Siapa lagi kalau bukan
cewek itu, Ger” jawab Jovan,
“Mau sampai kapan lo
tunggu dia, padahal cewek yang lo tunggu tidak ada kabar sama sekali?” Tanya
Jovan
“Enggak tahu, tetapi
yang pasti gue akan mencarinya sampai dapat” ucapnya yang medapat kekehan dari
kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
Ben menceritakan pada
kedua sahabatnya itu tentang gadis yang selama ini ia cari, gadis yang selama
ini ia tunggu kabarnya. Namun sampai sekarang tak kunjung ada kabar darinya.
“Nin, lo berada dimana
sih? gue kangen sama lo” ucapnya dalam hati
Kedua sahabatnya
menatap iba, itulah gunanya sahabat selalu berada disaat kita sedang mengalami
kesusahan.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu
membuat Kennie yang sedang asik membaca buku novelnya, terpaksa ia hentikan.
Melipat buku lalu beranjak dari tempat tidurnya membuka pintu. Kennie tersenyum
saat melihat ternyata Dona-Mamanya.
“Mama, ada apa?” Tanya
Kennie
Dona hanya tersenyum
“Itu diluar ada teman kamu” Kennie menyerngit bingung, biasanya jika ada kedua
sahabatnya datang mereka langsung berteriak masuk kedalam kamarnya. Namun kali
ini siapa datang bertamu kali ini.
Dengan rasa penasaran
Kennie segera turun dari lantai dua menuju ruang tamu, mata Kennie melebar saat
melihat ternyata Ben yang datang kerumahnya.
“Dari mana lo tau rumah
Kennie bertubi-tubi
Ben berdiri lalu
kembali menatap Kennie, Dona yang datang sambil membawa segelas minuman diatas
mampang.
“Nak Ben duduk dulu,
ini silakan diminum” tawar Dona yang dianggukinya “Makasih tante”
Begitu juga dengan
Kennie dan Dona ikut duduk, “Ini pacar kamu, Ken?” Tanya Dona membuat keduanya
terkejut
“Bukan” jawabnya
serempak
“Kalian cocok kalau
begitu” ucapnya lagi, mereka hanya terdiam saling pandang satu sama lainnya
membuat Dona tersenyum senang. Dan terjadi kecanggungan antara mereka berdua.
Menyebalkan dengan
situasi seperti ini, disaat Ben ingin menanyakan tentang Nina pada Kennie.
namun di urungkan. Lama dalam keheningan. Kennie memilih untuk beranjak.
“Mau kemana, Ken?”
Tanya Dona
“Mau kekamar mah, ambil
sesuatu” jawab Kennie hanya berteriak disana
__ADS_1
Ben masih terdiam
seperti memikirkan sesuatu, Dona yang berpamitan untuk masuk kedalam Karena
sedang membuat kue, “Kalau begitu tante kedalam dulu ya” ia mengangguk lalu
menyandarkan badannya di single sofa.
Kennie yang datang dan
duduk tepat disamping Ben, Kennie menyodorkan sebuah buku Diary yang selama ini
ia baca, buku itu pemberian dari Nina sahabatnya. “Jika lo mau tahu lebih
lengkap lebih baik baca buku diary ini” jelasnya
Ben menyerngit dahinya
bingung “Buku Diary?” tanyanya lagi
“Jangan banyak Tanya,
lo akan tahu semua di situ” ucap Kennie lagi, seketika Ben mengambilnya.
Setelah dari rumah
Kennie, Ben sekarang berada dikamarnya duduk terdiam di bibir kasur. Memegang
buku Diary pemberian dari Kennie. Ben menghela nafas berat ada rasa penasaran
dalam dirinya. Masih menatap buku bergambar Camera seperti kesukaan Nina.
Ia mulai membuka buku
tersebut, ada senyum lebar saat pertama kali melihat dua buah foto yang
tertempel didalamnya.
Ada foto dirinya, ada
juga foto Kennie dengan Nina sedang tersenyum lebar. Gubrakkkk, pintu terbuka
begitu saja menampakkan dua orang lelaki. Ben terkejut lalu menaruh buku
tersebut kedalam lacinya.
“Kalian ini kenapa sih?
orang datang pake assalamu alaikum, ini main masuk aja.” Dumel Ben kesal
melihat kedua sahabatnya.
Gerry yang langsung
duduk seperti kelelahan, sedangkan Jovan duduk dengan wajah tenang seperti
biasanya.
“Roman-romannya ada
yang lagi dekat dengan Si Bunglon, Si muka triplek” ledek Gerry,
“Ngacoo, gue dekat
karena mau cari informasi doang, enggak lebih” jelas Ben
“Alahh, awalnya cuman
informasi doang lama-lama baper juga” balas Gerry,
“Enggak ada kata baper
bagi gue” ucap Ben kekeuh pada penderiannya, karena itu adalah misinya dekatin
Kennie, karena ia baru mengetahui setelah Kennie mendatangi dirinya tiba-tiba.
Dan mengatakan hal tentang Nina padanya.
Ben menghela nafas
berat, sungguh merindukan seseorang itu sangat sakit ya, bila kita tidak tahu
dimana keberadaannya sekarang.
Berdiri dekat jendela
sambil menatap luar, Ben terdiam tidak biasanya ia seperti ini. bila ia sedang
__ADS_1
berkumpul dengan kedua sahabatnya. Akan menjadi gilaaaa