Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 06


__ADS_3

Malam ini Kennie pergi


bersama Jovan, tepatnya ia pergi di sebuah tempat toko buku. Mereka berjalan


bersama, menyusuri rak buku yang dipenuhi oleh buku-buku novel sastra. Kennie


tersenyum saat menemukan Novel yang dicarinya.


“Nahh dapet, Inikan


novel yang baru launching kemarin” Ucap Kennie sumringah, sementara Jovan hanya


berdiri menatap Kennie lekat.


“Jo, Gimana keren


enggak?” Tanya Kennie yang mendapat anggukan dari Jovan


“Masih ada lagi?” Tanya


Jovan balik, Kennie tersenyum lalu pergi lagi mencari novel. Jovan hanya


menghela nafas gusar sambil mengacak rambutnya. Setelah mendapatkan novel yang


diinginkan Kennie dengan segera membayarnya ke kasir. Sedangkan Jovan hanya


menunggu Kennie.


“Sekarang kita pergi ke


timezone ya” pinta Kennie yang diangguki lagi oleh Jovan, lengan Jovan ditarik


begitu saja, ia hanya pasrah menghadapi sikap manja Kennie padanya.


Mereka sampai di sebuah


permainan yang digemari oleh semua orang itu, dengan antusias Kennie menuju


kasir untuk  card, setelah itu Jovan dan


Kennie menelusuri permainan yang akan dimainkannya.


Jovan juga terkadang


heran dengan sikap Kennie yang suka berubah kapan saja. Hari ini Kennie tampak


seperti anak kecil. Ia sangat bahagia saat memainkan bola basket. Dengan


berbagai gaya ia lakukan. Jovan hanya bisa menggeleng kepalanya. “Muncul lagi


sikap anak kecilnya. Deh” Gumam Jovan sambil berdiri tersenyum senang.


“Jo, ayoo sini main


juga” Ucap Kennie sambil memberikan bola basket itu.


Jovan menaikkan sebelah


“Oke, tapi yang kalah harus traktir. Ya” tantangnya,


“Oke, siapa takut.


Lagian palingan gue lagi yang menang” Balas Kennie tidak mau kalah dari


sahabatnya.


“Oke, kita gambreng aja


deh. Siapa yang main pertama”


“Hom pim pam alay yung


gambreng” seru keduanya, Jovan menepuk jidatnya. Kali ini dia yang pertama,


yang melakukan lemparan bola ke ring.


Kennie berseru memberi


semangat pada Jovan yang melakukan aksinya. Jovan pun juga melakukan berbagai


gaya yang menurut Kennie sangat aneh.


Kali ini giliran Kennie


yang melakukan aksinya. Ia melemparkan bola basket ke ring. Dan selanjutnya


hingga bola itu habis. Seperti yang dilakukan Jovan sebelumnya. Kennie juga


melakukan berbagai antraksi hingga membuat Jovan menggeleng kepalanya tidak


percaya.


sebuah sorakan tepuk


tangan dari Jovan yang mengaku kalah, sedangkan Kennie memasang tampang


centilnya “Gue gitu lho”


Kennie menelusuri


berbagai mainan, matanya terhenti di salah satu permainan, “ayoo, kesana”


seketika tangan Jovan ditarik lagi


Permainan yang paling

__ADS_1


banyak diminati oleh kaum hawa, didalamnya terdapat berbagai macam boneka. “Lo,


ambilkan aku boneka itu. sekarang” pinta Kennie menampakkan wajah memelasnya.


Jovan menghembus nafas gusar. karena sedari tadi mereka terus berkeliling di


mall.


Dan Kennie belum juga


puas, “Main lagi, sekarang nih” Jawab Jovan jengah, Kennie melotot, menatap


geram.


“Tahun depan. Ya


sekaranglah” Ucap Kennie sambil melipat kedua tangan depan dada, menatap Jovan


kesal.


“Oke” Jawab Jovan


pasrah,


Jovan mulai menggesek


card, lalu mencoba menggerakkan penjepit itu pada boneka yang ditunjuk oleh


Kennie. Namun gagal, ia kembali mengulanginya, tetap gagal, sedari tadi Kennie


sudah menampakkan wajah cemberutnya karena Jovan belum juga berhasil.


“Ayo, coba lagi” kesal


Kennie


Jovan menngacak


rambutnya frustasi, “Gue harus bisa” Ucap setelah itu ia melakukan dengan focus


pada boneka yang sedari tadi di incarnya, senyum lebar saat Jovan berhasil


mencapitnya. Boneka itu masuk kedalam lubang keluar.


Jovan kegirangan begitu


juga dengan Kennie “Yeahhh, berhasil” Ucap keduanya sambil tos. Lalu Kennie


mengambil boneka itu. ada senyum lebar saat melihat boneka tersebut.


“Makasih, Jojo” Ucap


Kennie menampakkan deretan gigi putihnya. Jovan mengacak rambutnya gemas. “Apa


tersenyum.


Ben bersama Gerry


berada di caffe, mereka duduk di pojok, sesekali Ben menyeruput jus Avocadonya.


Sementara Gerry menyempulkan asap rokoknya.


“Btw, Jovan kemana?


Tumben tidak nongkrong bareng kita?” Tanya Ben seketika menyadari tidak ada


sahabatnya yang satu itu.


“Dia ada urusan


katanya, nggak tau apaan? Katanya gitu” jawab Gerry masih menikmati semburan


asap di mulutnya. Ben hanya mengangguk sesekali memainkan ponselnya.


“Ger, gue bisa minta


tolong sama elo?” Tanya Ben yang memastikan membuat Gerry terkejut


“Apaan?” Tanya balik


Gerry


“Gue mau kerjain, cewek


bunglon itu” jawab Ben membuat Gerry melongo, “Seriously, enggak salah. Lo ma


tega amat jadi manusia” umpat Gerry, Ben berdecak kesal padanya.


“Mau bantuin enggak?


Kalau tidak mau. Biar gue sendiri yang melakukannya” tukas Ben.


“Gila ya, lo mau balas


dendam sama si cewe aneh itu, hah” umpatnya lagi namun tidak jawab oleh Ben.


karena sahabatnya itu tidak mau membantunya.


Tetapi Ben tidak


tinggal diam, dia harus balas pada cewek yang sudah membuat Ben merasa kesal


karena ulahnya. Ben menarik nafasnya panjang. Sudah cukup harinya dibuat sial.


“Terserah, lo mau bantu

__ADS_1


gue atau tidak” akhir Ben, Gerry hanya bisa menggeleng. Segitu bencinya sama


cewek itu sampai-sampai mau kerjain begitu. pikir, Gerry dalam hati. Ia tidak


habis pikir mengapa sahabatnya ingin membalas dendam. Gerry menarik nafas


panjang lalu menghembuskan secara perlahan.



Nova dan Keyla sedang berjalan


sepanjang koridor, menatap semua siswa yang kelakuannya pada aneh. Nova melihat


semua siswa berkerumanan disebuah madding sekolah. Dengan rasa penasaran Nova


dan Keyla menghampirinya. Membela kerumunan siswa tersebut.


“WHAT’S?, ini beneran Kennie. gue rasa ini tidak mungkin” Ucap Nova


terkejutnya sementara Keyla hanya melongo masih menatap foto tersebut tanpa


berkedip.


“Kennie harus tau ini”


Ujarnya lalu menarik tangan Keyla bergegas pergi menemui Kennie.


Kennie sedang berjalan


menatap aneh di sekelilingnya, semua siswa melihat dengan tatapan buronan.


Tetapi Kennie tidak perduli itu semua. Karena menurutnya itu sudah biasa saja.


Kennie tetap berjalan terus menuju kelas. Hingga ia menemukan dua sahabatnya


sedang berdiri dan menghampirinya dengan wajah panic.


“Kalian kenapa pada


lari kayak di kejar anjing aja” Ucap Kennie heran


“Lo harus ikut kita,


ada yang harus lo lihat” Ucap Nova dengan wajah panic,


“Iya lo harus lihat,


itu bukan elo kan. Tidak mungkin lo seperti itu” tambah Keyla semakin dibuat tidak


mengerti oleh Kennie.


“kalian pada kenapa


sihh?” tanyanya heran, lalu menyeret Kennie menuju sebuah madding sekolah.


Kennie berhenti saat


kerumunan siswa memberinya jalan, ia menatap madding dengan keterkejutan yang


sama seperti Nova dan Keyla. Amarahnya mulai muncul saat salah satu tulisan


menyindirnya. Kennie mulai mengepalkan kedua tangannya, ia tahu siapa pelaku di


balik semua ini.


Kennie berjalan cepat


sepanjang koridor untuk menemui si pelaku. Nova dan Keyla langsung menyusulnya.


Karena ia tahu Kennie sedang marah besar. Semua siswa menatap Kennie horror.


Dari kejauhan Kennie


melihat Ben berjalan bersama dua orang temannya. Kennie menghampirinya dan


langsung mendaratkan sebuah bogeman di pipi Ben. hingga tersungkur jatuh


kebawa. Ben yang mengusap pinggir mulutnya karena darah segar keluar begitu


saja. Ben mendongak menatap siapa yang telah memukulnya. Sedangkan Gerry dan


Jovan menatap terkejut.


Nova mendengus “Ben,


Ben lo telah membangunkan singa yang lagi tidur” Ujar Keyla sambil


menggelengkan kepalanya.


“Woi, santuy dong. Main


pukul saja” Ucap Ben ketus


“Ini tidak seberapa.


Tapi bagi gue ini sakit banget. Mungkin bogeman itu. sakit menurut lo. Tapi


bagi gue lo lebih nyakitin” Ucap Kennie penuh penekanan. Ben menatap manik mata


itu, seketika mengingat seseorang. Ben hanya terdiam, ia menyakiti hati


seseorang. Setelah mengucapkan kata itu, Kennie pergi begitu saja dengan


perasaan yang begitu sangat ancur.

__ADS_1


__ADS_2