
Malam ini Kennie pergi
bersama Jovan, tepatnya ia pergi di sebuah tempat toko buku. Mereka berjalan
bersama, menyusuri rak buku yang dipenuhi oleh buku-buku novel sastra. Kennie
tersenyum saat menemukan Novel yang dicarinya.
“Nahh dapet, Inikan
novel yang baru launching kemarin” Ucap Kennie sumringah, sementara Jovan hanya
berdiri menatap Kennie lekat.
“Jo, Gimana keren
enggak?” Tanya Kennie yang mendapat anggukan dari Jovan
“Masih ada lagi?” Tanya
Jovan balik, Kennie tersenyum lalu pergi lagi mencari novel. Jovan hanya
menghela nafas gusar sambil mengacak rambutnya. Setelah mendapatkan novel yang
diinginkan Kennie dengan segera membayarnya ke kasir. Sedangkan Jovan hanya
menunggu Kennie.
“Sekarang kita pergi ke
timezone ya” pinta Kennie yang diangguki lagi oleh Jovan, lengan Jovan ditarik
begitu saja, ia hanya pasrah menghadapi sikap manja Kennie padanya.
Mereka sampai di sebuah
permainan yang digemari oleh semua orang itu, dengan antusias Kennie menuju
kasir untuk card, setelah itu Jovan dan
Kennie menelusuri permainan yang akan dimainkannya.
Jovan juga terkadang
heran dengan sikap Kennie yang suka berubah kapan saja. Hari ini Kennie tampak
seperti anak kecil. Ia sangat bahagia saat memainkan bola basket. Dengan
berbagai gaya ia lakukan. Jovan hanya bisa menggeleng kepalanya. “Muncul lagi
sikap anak kecilnya. Deh” Gumam Jovan sambil berdiri tersenyum senang.
“Jo, ayoo sini main
juga” Ucap Kennie sambil memberikan bola basket itu.
Jovan menaikkan sebelah
“Oke, tapi yang kalah harus traktir. Ya” tantangnya,
“Oke, siapa takut.
Lagian palingan gue lagi yang menang” Balas Kennie tidak mau kalah dari
sahabatnya.
“Oke, kita gambreng aja
deh. Siapa yang main pertama”
“Hom pim pam alay yung
gambreng” seru keduanya, Jovan menepuk jidatnya. Kali ini dia yang pertama,
yang melakukan lemparan bola ke ring.
Kennie berseru memberi
semangat pada Jovan yang melakukan aksinya. Jovan pun juga melakukan berbagai
gaya yang menurut Kennie sangat aneh.
Kali ini giliran Kennie
yang melakukan aksinya. Ia melemparkan bola basket ke ring. Dan selanjutnya
hingga bola itu habis. Seperti yang dilakukan Jovan sebelumnya. Kennie juga
melakukan berbagai antraksi hingga membuat Jovan menggeleng kepalanya tidak
percaya.
sebuah sorakan tepuk
tangan dari Jovan yang mengaku kalah, sedangkan Kennie memasang tampang
centilnya “Gue gitu lho”
Kennie menelusuri
berbagai mainan, matanya terhenti di salah satu permainan, “ayoo, kesana”
seketika tangan Jovan ditarik lagi
Permainan yang paling
__ADS_1
banyak diminati oleh kaum hawa, didalamnya terdapat berbagai macam boneka. “Lo,
ambilkan aku boneka itu. sekarang” pinta Kennie menampakkan wajah memelasnya.
Jovan menghembus nafas gusar. karena sedari tadi mereka terus berkeliling di
mall.
Dan Kennie belum juga
puas, “Main lagi, sekarang nih” Jawab Jovan jengah, Kennie melotot, menatap
geram.
“Tahun depan. Ya
sekaranglah” Ucap Kennie sambil melipat kedua tangan depan dada, menatap Jovan
kesal.
“Oke” Jawab Jovan
pasrah,
Jovan mulai menggesek
card, lalu mencoba menggerakkan penjepit itu pada boneka yang ditunjuk oleh
Kennie. Namun gagal, ia kembali mengulanginya, tetap gagal, sedari tadi Kennie
sudah menampakkan wajah cemberutnya karena Jovan belum juga berhasil.
“Ayo, coba lagi” kesal
Kennie
Jovan menngacak
rambutnya frustasi, “Gue harus bisa” Ucap setelah itu ia melakukan dengan focus
pada boneka yang sedari tadi di incarnya, senyum lebar saat Jovan berhasil
mencapitnya. Boneka itu masuk kedalam lubang keluar.
Jovan kegirangan begitu
juga dengan Kennie “Yeahhh, berhasil” Ucap keduanya sambil tos. Lalu Kennie
mengambil boneka itu. ada senyum lebar saat melihat boneka tersebut.
“Makasih, Jojo” Ucap
Kennie menampakkan deretan gigi putihnya. Jovan mengacak rambutnya gemas. “Apa
tersenyum.
Ben bersama Gerry
berada di caffe, mereka duduk di pojok, sesekali Ben menyeruput jus Avocadonya.
Sementara Gerry menyempulkan asap rokoknya.
“Btw, Jovan kemana?
Tumben tidak nongkrong bareng kita?” Tanya Ben seketika menyadari tidak ada
sahabatnya yang satu itu.
“Dia ada urusan
katanya, nggak tau apaan? Katanya gitu” jawab Gerry masih menikmati semburan
asap di mulutnya. Ben hanya mengangguk sesekali memainkan ponselnya.
“Ger, gue bisa minta
tolong sama elo?” Tanya Ben yang memastikan membuat Gerry terkejut
“Apaan?” Tanya balik
Gerry
“Gue mau kerjain, cewek
bunglon itu” jawab Ben membuat Gerry melongo, “Seriously, enggak salah. Lo ma
tega amat jadi manusia” umpat Gerry, Ben berdecak kesal padanya.
“Mau bantuin enggak?
Kalau tidak mau. Biar gue sendiri yang melakukannya” tukas Ben.
“Gila ya, lo mau balas
dendam sama si cewe aneh itu, hah” umpatnya lagi namun tidak jawab oleh Ben.
karena sahabatnya itu tidak mau membantunya.
Tetapi Ben tidak
tinggal diam, dia harus balas pada cewek yang sudah membuat Ben merasa kesal
karena ulahnya. Ben menarik nafasnya panjang. Sudah cukup harinya dibuat sial.
“Terserah, lo mau bantu
__ADS_1
gue atau tidak” akhir Ben, Gerry hanya bisa menggeleng. Segitu bencinya sama
cewek itu sampai-sampai mau kerjain begitu. pikir, Gerry dalam hati. Ia tidak
habis pikir mengapa sahabatnya ingin membalas dendam. Gerry menarik nafas
panjang lalu menghembuskan secara perlahan.
Nova dan Keyla sedang berjalan
sepanjang koridor, menatap semua siswa yang kelakuannya pada aneh. Nova melihat
semua siswa berkerumanan disebuah madding sekolah. Dengan rasa penasaran Nova
dan Keyla menghampirinya. Membela kerumunan siswa tersebut.
“WHAT’S?, ini beneran Kennie. gue rasa ini tidak mungkin” Ucap Nova
terkejutnya sementara Keyla hanya melongo masih menatap foto tersebut tanpa
berkedip.
“Kennie harus tau ini”
Ujarnya lalu menarik tangan Keyla bergegas pergi menemui Kennie.
Kennie sedang berjalan
menatap aneh di sekelilingnya, semua siswa melihat dengan tatapan buronan.
Tetapi Kennie tidak perduli itu semua. Karena menurutnya itu sudah biasa saja.
Kennie tetap berjalan terus menuju kelas. Hingga ia menemukan dua sahabatnya
sedang berdiri dan menghampirinya dengan wajah panic.
“Kalian kenapa pada
lari kayak di kejar anjing aja” Ucap Kennie heran
“Lo harus ikut kita,
ada yang harus lo lihat” Ucap Nova dengan wajah panic,
“Iya lo harus lihat,
itu bukan elo kan. Tidak mungkin lo seperti itu” tambah Keyla semakin dibuat tidak
mengerti oleh Kennie.
“kalian pada kenapa
sihh?” tanyanya heran, lalu menyeret Kennie menuju sebuah madding sekolah.
Kennie berhenti saat
kerumunan siswa memberinya jalan, ia menatap madding dengan keterkejutan yang
sama seperti Nova dan Keyla. Amarahnya mulai muncul saat salah satu tulisan
menyindirnya. Kennie mulai mengepalkan kedua tangannya, ia tahu siapa pelaku di
balik semua ini.
Kennie berjalan cepat
sepanjang koridor untuk menemui si pelaku. Nova dan Keyla langsung menyusulnya.
Karena ia tahu Kennie sedang marah besar. Semua siswa menatap Kennie horror.
Dari kejauhan Kennie
melihat Ben berjalan bersama dua orang temannya. Kennie menghampirinya dan
langsung mendaratkan sebuah bogeman di pipi Ben. hingga tersungkur jatuh
kebawa. Ben yang mengusap pinggir mulutnya karena darah segar keluar begitu
saja. Ben mendongak menatap siapa yang telah memukulnya. Sedangkan Gerry dan
Jovan menatap terkejut.
Nova mendengus “Ben,
Ben lo telah membangunkan singa yang lagi tidur” Ujar Keyla sambil
menggelengkan kepalanya.
“Woi, santuy dong. Main
pukul saja” Ucap Ben ketus
“Ini tidak seberapa.
Tapi bagi gue ini sakit banget. Mungkin bogeman itu. sakit menurut lo. Tapi
bagi gue lo lebih nyakitin” Ucap Kennie penuh penekanan. Ben menatap manik mata
itu, seketika mengingat seseorang. Ben hanya terdiam, ia menyakiti hati
seseorang. Setelah mengucapkan kata itu, Kennie pergi begitu saja dengan
perasaan yang begitu sangat ancur.
__ADS_1