
Ben masih tidak
percaya, entah apa yang terjadi selama ini. ia baru saja mengetahui yang
sebenarnya terjadi pada kekasihnya itu. Ben menghela nafas berat. entah ada
penyesalan dalam dirinya tidak bisa menjaga Nina. “Maafkan aku, Nin. Tidak bisa
menjaga kamu,” Ucap Ben lirih.
Menoleh mengambil
camera yang tergeletak pada meja belajarnya. Itu adalah camera yang selalu
dipakai Nina setiap kali bepergian mencari objek. Didalam Camera itu terdapat
banyak memory kenangannya bersama Nina.
Ia mulai mengaktifkan
camare itu menampakkan foto dilayar kecilnya. Andai waktu bisa berputar
kembali, Ben akan merasa sangat bahagia. Namun takdir berkata lain.
Ben tersenyum lebar
saat menatap foto kenangan bersama kekasihnya, “Nin, gue kangen lo” ucapnya
tidak dapat didengar oleh empunya.
“Masih aja galau, Bro. Move on dong. Kan masih ada Kennie” ucap
Gerry yang entah sejak kapan ia berada didalam kamarnya. Dan Ben tidak
menyadari keberadaan dua sahabatnya.
Gerry merangkul Ben
memberikan semangat pada sahabatnya. sedangkan Jovan hanya tersenyum tipis
sambil melipat kedua tangannya depan dada. Ben menoleh tersenyum, ia senang
memiliki sahabat yang selalu mendukungnya. Dan selalu ada disaat ia butuh
tempat mencurahkan segala keluh kesahnya.
Ben menyerngit dahinya
bingung “Kennie?” tanyanya
“Iya, Kennie. sapa
lagi. Emangnya?” Tanya Gerry balik
“Ngacoo” tukas Ben
Ben menghempaskan
tubuhnya pada kasur King sizenya, sedangkan Gerry dan Jovan sibuk menyalakan
PS. Hari ini adalah hari libur. Sebenarnya Ben ingin sendiri, tetapi karena dua
sahabatnya datang secara mendadak tanpa memberitahunya.
Ben hanya bisa menghela
nafas panjang, saaat menatap kedua sahabatnya itu tengah sibuk bermain game. Sementara otak dan
pikiraan masih memikirkan antara perasaan dan masalalunya. Menatap langit kamar
yang sama sekali tidak ada hiasannya. Mengambil gulingan bantal untuk menutupi
wajahnya.
“Woi, Kenapa tidur, sini
napa main” ujar Gerry
“Gue mau tidur,” teriak
Ben
“Enggak asik lo,” balas
Gerry
“Kan sudah gue bilang,
gue tidak mau ikut main.” Pungkas Ben lagi
Hari ini Kennie malas
__ADS_1
bepergian, meski hari libur ia malas untuk bergerak. Matahari sudah berada di
atas ubun. Sedangkan Kennie masih saja berada ditempat tidur. Dona masuk dengan
menggeleng kepalanya. Anak gadisnya itu masih tidur. Dona membuka jendela yang
langsung menyilaukan wajah Kennie yang masih tidur pulas.
Mata Kennie
mengerjap-ngerjap saat ada siluet matahari, samar-samar ia melihat Dona
tersenyum.
“Bangun sayang, sudah
siang. Enggak baik anak gadis bangun siang” oceh Dona, membuat Kennie
mengurutkan bibirnya.
“Mahh, Mama. Masih
ngantuk Ihh” rajuk Kennie membanting badannya kembali pada kasurnya.
“Sepuluh menit Mama
tunggu karena Baim ada dibawah menunggu kamu” ucapnya lalu keluar dari kamar.
Seketika Kennie terbangun
“Hah” segera bergegas untuk bersiap, setelah sepuluh menit berlalu. Kennie
menuruni anak tangga lalu menuju ruang makan. Matanya tertuju pada sosok lelaki
yang datang menemuinya.
“Bang Baim. Pagi amat
kesini?” Tanya Kennie menduduk bokongnya pada salah satu kursi.
“Gue mau mengajak lo
jalan” ucap Baim, seketika mata Kennie berbinar.
“seriously?” Tanya
Kennie yang diangguki Baim
singkat
Setelah sarapan Kennie
juga sudah bersiap dengan pakaian Casualnya. Baim membukakan pintu mobil lalu
berjalan duduk di jok mobil. Baim menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan
dengan kecepatan sedang.
Dalam perjalanan tampak
lengang karena hari ini ialah hari libur. Kennie tersenyum lebar, sedangkan
Baim masih focus menatap kedepan.
“Sebenarnya Bang Baim
mau bawa Kennie, kemana sih?” Tanya Kennie penasaran
“Ada deh, nanti lo
pasti suka” jawabnya
Beberapa saat kemudian
mobil Baim terparkir di tempat begitu tidak asing bagi Kennie. yaitu sebuah
tempat yang mempunyai banyak wahana menantang. Kennie tersenyum lebar, Baim
menoleh menatap adiknya itu.
“Lo suka?” tanyanya,
Kennie mengangguk lalu menyeret Baim
Sudah lama Kennie tidak
pernah berkunjung ditempat ini. dimana dulu, Nina dan Rose selalu mengajaknya
kesini. Langkah kaki Kennie terhenti saat mengingat kenangannya dulu. semua
sirna begitu saja karena iri serta keegoisan Rose.
Baim yang melihat itu
__ADS_1
langsung saja mengajak Kennie menuju sebuah permainan Roll Coaster.
“Abang tahu lo lagi
sedih, makanya Abang bawa lo kesini. Biar rasa sedih lo hilang.” Ucapnya
menenangkan Kennie dan memeluknya erat.
“Makasih Bang, selalu
ada buat Kennie” ucapnya
“Dari pada sedih
mendingan sekarang kita naik salah satu wahana. Roll Coaster” ujar Baim,
langsung membawa Kennie.
Setelah puas bermain
berbagai wahana, Kennie dan Baim membeli permen kapas, dengan sigap Kennie
mengambil dan memakannya. Baim hanya bisa menghela nafas pelan. Melihat tingkah
adiknya itu yang semakin aneh.
“Bagaimana hubungan lo
dengan Ben?” Tanya Baim
Kennie menyerngit
dahinya bingung lalu berfikir sejenak “Baik-baik saja” jawabnya santai
Ia bingung kenapa semua
orang menyakan hubungannya dengan Ben. perasaan ia dan Ben baik-baik saja.
Tetapi mengapa semua orang menanyakan hal itu. Kennie menarik nafas panjang
lalu terdiam. Selama dekat Ben. Kennie merasa ada hal berbeda dalam dirinya.
Kennie tahu bahwa Ben adalah rivalnya disekolah. Bahkan tidak jarang mereka
selalu saja berdebat dengan masalah yang sepele.
Hati
tidak bisa menentukan dimana ia berlabuh, tetapi hati itu selalu bergejolak
bila berada didekatnya.
Satu hal Kennie ketahui
bahwa Ben pernah menjalin hubungan dengan sahabatnya, Nina Anandita, tetapi
Kennie tahu bahwa ia tidak bisa memaksa, cukup dirinya saja. Dan menyimpan rasa
itu.
Baim yang melihat
Kennie melamun seketika menepuk kedua tangannya mengagetkan adiknya. Kennie
mendengus kesal “Apa sih Bang. Bikin gue jantungan aja” ucap Kennie berubah
menjadi dingin tak tersentuh.
“Biasa aja dong
mukanya, Benar kata Ben. muka lo kayak triplek belum jadi” balas Baim tersenyum
miring.
“Ye, ngatain lagi.
Mending beradu di ring aja kak. Dari pada berdebat tidak jelas” keluh Kennie
seketika membuat Baim terkekeh. Sungguh ini sangat menggemaskan bila sudah
melihat adiknya marah.
“Sorry, lo bukan level
gue” ucap baim dengan pedean tingkat tinggi
Suasana café semakin
ramai hingga Kennie merasa risih, Baim yang melihat adiknya itu. langsung saja
mengajak pulang. “Lebih baik kita pulang saja, ya” ucapnya yang diangguki
Kennie.
__ADS_1