Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 27


__ADS_3

Ben masih tidak


percaya, entah apa yang terjadi selama ini. ia baru saja mengetahui yang


sebenarnya terjadi pada kekasihnya itu. Ben menghela nafas berat. entah ada


penyesalan dalam dirinya tidak bisa menjaga Nina. “Maafkan aku, Nin. Tidak bisa


menjaga kamu,” Ucap Ben lirih.


Menoleh mengambil


camera yang tergeletak pada meja belajarnya. Itu adalah camera yang selalu


dipakai Nina setiap kali bepergian mencari objek. Didalam Camera itu terdapat


banyak memory kenangannya bersama Nina.


Ia mulai mengaktifkan


camare itu menampakkan foto dilayar kecilnya. Andai waktu bisa berputar


kembali, Ben akan merasa sangat bahagia. Namun takdir berkata lain.


Ben tersenyum lebar


saat menatap foto kenangan bersama kekasihnya, “Nin, gue kangen lo” ucapnya


tidak dapat didengar oleh empunya.


“Masih aja galau, Bro. Move on dong. Kan masih ada Kennie” ucap


Gerry yang entah sejak kapan ia berada didalam kamarnya. Dan Ben tidak


menyadari keberadaan dua sahabatnya.


Gerry merangkul Ben


memberikan semangat pada sahabatnya. sedangkan Jovan hanya tersenyum tipis


sambil melipat kedua tangannya depan dada. Ben menoleh tersenyum, ia senang


memiliki sahabat yang selalu mendukungnya. Dan selalu ada disaat ia butuh


tempat mencurahkan segala keluh kesahnya.


Ben menyerngit dahinya


bingung “Kennie?” tanyanya


“Iya, Kennie. sapa


lagi. Emangnya?” Tanya Gerry balik


“Ngacoo” tukas Ben


Ben menghempaskan


tubuhnya pada kasur King sizenya, sedangkan Gerry dan Jovan sibuk menyalakan


PS. Hari ini adalah hari libur. Sebenarnya Ben ingin sendiri, tetapi karena dua


sahabatnya datang secara mendadak tanpa memberitahunya.


Ben hanya bisa menghela


nafas panjang, saaat menatap kedua sahabatnya itu  tengah sibuk bermain game. Sementara otak dan


pikiraan masih memikirkan antara perasaan dan masalalunya. Menatap langit kamar


yang sama sekali tidak ada hiasannya. Mengambil gulingan bantal untuk menutupi


wajahnya.


“Woi, Kenapa tidur, sini


napa main” ujar Gerry


“Gue mau tidur,” teriak


Ben


“Enggak asik lo,” balas


Gerry


“Kan sudah gue bilang,


gue tidak mau ikut main.” Pungkas Ben lagi



Hari ini Kennie malas

__ADS_1


bepergian, meski hari libur ia malas untuk bergerak. Matahari sudah berada di


atas ubun. Sedangkan Kennie masih saja berada ditempat tidur. Dona masuk dengan


menggeleng kepalanya. Anak gadisnya itu masih tidur. Dona membuka jendela yang


langsung menyilaukan wajah Kennie yang masih tidur pulas.


Mata Kennie


mengerjap-ngerjap saat ada siluet matahari, samar-samar ia melihat Dona


tersenyum.


“Bangun sayang, sudah


siang. Enggak baik anak gadis bangun siang” oceh Dona, membuat Kennie


mengurutkan bibirnya.


“Mahh, Mama. Masih


ngantuk Ihh” rajuk Kennie membanting badannya kembali pada kasurnya.


“Sepuluh menit Mama


tunggu karena Baim ada dibawah menunggu kamu” ucapnya lalu keluar dari kamar.


Seketika Kennie terbangun


“Hah” segera bergegas untuk bersiap, setelah sepuluh menit berlalu. Kennie


menuruni anak tangga lalu menuju ruang makan. Matanya tertuju pada sosok lelaki


yang datang menemuinya.


“Bang Baim. Pagi amat


kesini?” Tanya Kennie menduduk bokongnya pada salah satu kursi.


“Gue mau mengajak lo


jalan” ucap Baim, seketika mata Kennie berbinar.


“seriously?” Tanya


Kennie yang diangguki Baim


singkat


Setelah sarapan Kennie


juga sudah bersiap dengan pakaian Casualnya. Baim membukakan pintu mobil lalu


berjalan duduk di jok mobil. Baim menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan


dengan kecepatan sedang.


Dalam perjalanan tampak


lengang karena hari ini ialah hari libur. Kennie tersenyum lebar, sedangkan


Baim masih focus menatap kedepan.


“Sebenarnya Bang Baim


mau bawa Kennie, kemana sih?” Tanya Kennie penasaran


“Ada deh, nanti lo


pasti suka” jawabnya


Beberapa saat kemudian


mobil Baim terparkir di tempat begitu tidak asing bagi Kennie. yaitu sebuah


tempat yang mempunyai banyak wahana menantang. Kennie tersenyum lebar, Baim


menoleh menatap adiknya itu.


“Lo suka?” tanyanya,


Kennie mengangguk lalu menyeret Baim


Sudah lama Kennie tidak


pernah berkunjung ditempat ini. dimana dulu, Nina dan Rose selalu mengajaknya


kesini. Langkah kaki Kennie terhenti saat mengingat kenangannya dulu. semua


sirna begitu saja karena iri serta keegoisan Rose.


Baim yang melihat itu

__ADS_1


langsung saja mengajak Kennie menuju sebuah permainan Roll Coaster.


“Abang tahu lo lagi


sedih, makanya Abang bawa lo kesini. Biar rasa sedih lo hilang.” Ucapnya


menenangkan Kennie dan memeluknya erat.


“Makasih Bang, selalu


ada buat Kennie” ucapnya


“Dari pada sedih


mendingan sekarang kita naik salah satu wahana. Roll Coaster” ujar Baim,


langsung membawa Kennie.


Setelah puas bermain


berbagai wahana, Kennie dan Baim membeli permen kapas, dengan sigap Kennie


mengambil dan memakannya. Baim hanya bisa menghela nafas pelan. Melihat tingkah


adiknya itu yang semakin aneh.


“Bagaimana hubungan lo


dengan Ben?” Tanya Baim


Kennie menyerngit


dahinya bingung lalu berfikir sejenak “Baik-baik saja” jawabnya santai


Ia bingung kenapa semua


orang menyakan hubungannya dengan Ben. perasaan ia dan Ben baik-baik saja.


Tetapi mengapa semua orang menanyakan hal itu. Kennie menarik nafas panjang


lalu terdiam. Selama dekat Ben. Kennie merasa ada hal berbeda dalam dirinya.


Kennie tahu bahwa Ben adalah rivalnya disekolah. Bahkan tidak jarang mereka


selalu saja berdebat dengan masalah yang sepele.


Hati


tidak bisa menentukan dimana ia berlabuh, tetapi hati itu selalu bergejolak


bila berada didekatnya.


Satu hal Kennie ketahui


bahwa Ben pernah menjalin hubungan dengan sahabatnya, Nina Anandita, tetapi


Kennie tahu bahwa ia tidak bisa memaksa, cukup dirinya saja. Dan menyimpan rasa


itu.


Baim yang melihat


Kennie melamun seketika menepuk kedua tangannya mengagetkan adiknya. Kennie


mendengus kesal “Apa sih Bang. Bikin gue jantungan aja” ucap Kennie berubah


menjadi dingin tak tersentuh.


“Biasa aja dong


mukanya, Benar kata Ben. muka lo kayak triplek belum jadi” balas Baim tersenyum


miring.


“Ye, ngatain lagi.


Mending beradu di ring aja kak. Dari pada berdebat tidak jelas” keluh Kennie


seketika membuat Baim terkekeh. Sungguh ini sangat menggemaskan bila sudah


melihat adiknya marah.


“Sorry, lo bukan level


gue” ucap baim dengan pedean tingkat tinggi


Suasana café semakin


ramai hingga Kennie merasa risih, Baim yang melihat adiknya itu. langsung saja


mengajak pulang. “Lebih baik kita pulang saja, ya” ucapnya yang diangguki


Kennie.

__ADS_1


__ADS_2