
Kennie baru saja
melangkah masuk ke kelas “Surprise,
Selamat ulang tahun Bunglon” seru kedua sahabatnya hingga Kennie tersenyum
tipis dan meniup lilin berangka 17 itu. ketiganya melangkah menuju bangku.
“Ciye ulang tahun traktir kita-kita dong” Ucap Keyla dengan tampang memelasnya.
“Iya, tenang saja” Balas
Kennie santai
Nova dan Keyla langsung
bertepuk tangan dan langsung memeluk Kennie erat. “Ken, diluar. Ada yang cari
lo. Tuh” sahut salah satu siswa yang baru saja datang memberi tahu Kennie.
“Oke,”
“Guys, Gue keluar dulu”
Kennie beranjak langsung keluar kelas, siapa yang mencarinya sepagi ini.
seseorang yang tengah berdiri. Siapa lagi kalau bukan Ben Andova Syaputra yang
menarik lengan Kennie secara tiba-tiba. Ben membawa Kennie masuk kedalam sebuah
ruangan terttutup disana terdapat susunan buku yang begitu banyak.
“Lepasin tangan gue”
Kennie menghempas lengannya,
“Kita belajar sekarang”
Kennie melongo saat Ben menunjuk kearah buku-buku yang menumpuk di atas meja
“Lo gila, banyak
banget”
“Banyak lo bilang, itu
masih kurang” Kennie menepuk jidatnya, heran melihat makhluk satu ini
didepannya. Bahkan ia tidak pernah belajar buku sebanyak ini. palingan cuman
koleksi buku novel yang banyak.
“Lo kehabisan obat ya?”
Tanya Kennie
Ben menyerngit dahinya
bingung “Enggak, Gue tidak sakit. Gue masih waras. Plus Ganteng lagi” Ucap Ben
dengan pedenya.
Kennie berdecih “Pede
amat lo” melangkah menghampiri setumpuk buku-buku. Hari ini sangat menyebalkan
baginya. “Lo kerjakan soal ini” Ben memberikan beberapa lembar kertas dan
menyuruhnya seenak jidat. Hingga Kennie mendengus sebal.
“Enak banget lo. Lo
juga kerjakan masa cuman gue doang” Ucap Kennie tidak terima, karena hanya
dirinya saja yang mengerjakan.
“Gue temenin lo. Gue
sudah menyelesaikan dari tadi” Tukas Ben duduk dihadapan Kennie sambil melipat
kedua tangannya depan dada.
“Just info, Minggu depan tepat pada hari senin, Olimpiade sudah
dimulai” Ucap Ben memberitahu, Kennie terkejut seketika langsung memikirkan
pertandingannya juga sudah dimulai di hari yang sama.
“Aduh, Bagaimana ini?
__ADS_1
pertandingan gue di hari itu juga” gumam Kennie bingung harus berbuat apa
sekarang. Setelah mendapatkan infomarsi ini. membuatnya bimbang. Di sisi lain,
ia harus mengikuti turnamen yang dulu diimpikannya. Ben menatap Kennie heran.
Seperti memikirkan sesuatu.
Ben sempat mendengar
gumaman Kennie tentang pertandingan turnamen “Lo ikut Turnamen apaan?”
pertanyaan itu langsung meluncur begitu saja.
“Bukan urusan lo” Ketus
Kennie
Ben yang semakin
penasaran padanya, entah siapa Kennie sebenarnya. Dan kenapa mata itu semakin
mirip dengan seseorang yang sangat dirindukannya selama ini. setiap kali ia
melihat mata itu. mengingatkan seseorang padanya. entah dimana keberadaannya
Ben juga tidak tahu.
Melihat Kennie yang selalu
bersikap Ketus, dingin, dan selalu berubah kapan saja. Membuat Ben merasa
jengah menghadapinya.
Sepulang sekolah Ben
bergegas pergi, Jovan dan Gerry heran melihat kepergiannya. “Mau kemana lo.
Cepet banget balik. Singgah di Caffe dulu” Cegah Jovan,
“Gue tidak bisa, ada
urusan” Ucap Ben melangkah pergi keluar dari kelas. Sepanjang koridor Ben
Seketika langsung saja diikutinya.
Ia melihat Kennie
memasuki mobilnya lalu keluar dari gerbang sekolah. Ben yang mengikutinya dari
belakang. Sepanjang perjalan Ben mengikuti Kennie. tepat itu mobil Kennie
berhenti disebuah tempat yang menurut Ben sangat asing. “Club bela diri?” Tanya
Ben pada dirinya sendiri
Ben berjalan masuk,
melihat ruangan yang dipenuhi peralatan tinju. Dari arah jauh Ben melihat
Kennie sedang berbicara dengan seorang lelaki jangkung. Ben terpaku melihat
Kennie yang begitu sangat humble sama lelaki jangkung itu. dan Ben pertama kali
melihat Kennie tertawa lepas seperti dari beban.
Ben tidak tahu siapa
lelaki itu, Mungkin saja itu pacarnya
Kennie, pikir Ben dalam hati.
Ben melihat Kennie
sedang latihan bersama lelaki jangkung itu. dan Ben baru saja mengetahui fakta
baru tentang Kennie, yaitu Kennie anak Mua Thai. “Mas, mau latihan juga?” Tanya
seseorang membuyarkan lamunan Ben. “Enggak Mas.” Jawab Ben langsung pergi begitu saja.
Ben berjalan keluar
dari Club bela diri, lalu menaiki motornya dan menancap gas pergi meninggalkan
tempat itu. Ben sejenak termenung. “Setttt” Motor Ben terhenti saat ada seorang
kucing menyebrang begitu saja. “Apaan sih? ngapain juga gue pikir cewek Bunglon
__ADS_1
itu. lagian dia sudah ada pacar kali Ben. lo makin ngacoo deh” rutuk Ben pada
dirinya sendirinya. Sambil memukul stir motornya. Ia berhenti dibibir jalan.
Sebuah mobil berhenti
tepat samping motor Ben. jendela kaca terbuka begitu saja. “Woi, ngapain
melamun dijalan. Yuk pergi di Caffe orang-orang pada tungguin lo” Ben mendengus
sebal. “Iya, gue pergi. lagian siapa yang melamun” Ucap Ben ketus lalu
mengikuti mobil itu pergi menuju sebuah Caffe.
Lima belas menit
kemudian mereka sampai di Caffe. Ben mamarkirkan motornya. Dan menyimpan helm full facenya. Lalu berjalan masuk
kedalam Caffe.
Ben masih mengingat
saat baru pertama kali melihat Kennie tertawa lepas. Berbeda dari biasanya. Tetapi siapa lelaki itu, kenapa tampaknya
tidak asing banget. Apalagi ia sangat akrab dengan Kennie, pikir Ben.
“Woii, lo kenapa sih?
dari tadi melamun mulu kerjanya. Ini ada pesanan” Ucap seseorang sambil
menggebrak meja bar.
“Lo ada masalah, cerita
sama gue” tawarnya
“Enggak ada, Ger” balas
Ben singkat sambil membuat pesanan
“Hmm, Ben ada yang mau
menyewa Caffe kita, mungkin besok kita harus membenahi sesuai permintaan Klien”
Ben tersenyum sumringah. “Wahh, Alhamdulillah.” Ucap Ben antusias.Semua
karyawan dikumpulkan mereka berbaris berjejer, Ben berdiri dihadapan mereka.
“Gue memberi informasi
untuk kalian, bahwa besok ada yang menyewa Caffe kita. Gue ingin kalian
memberikan pelayanan yang terbaik pada Klien mereka. dan kalian harus bebenah
hari ini. dan Gerry sudah memberikan pada gue konsep acara besok” Ucap Ben
tegas, yang diangguki oleh mereka
“Baik, Pak” Ucap mereka
serempak
“Bubar, silakan kembali
bekerja” Ucap Ben dengan serempak mereka bubar dan kembali pada pekerjaannya
masing-masing.
Ben masih memikirkan
siapa orang yang telah menyewa Caffenya. Ia masuk kedalam ruangan yang penuh
keheningan. Ben langsung saja duduk lalu menyandarkan badannya di kursi
kebersarannya. Mengambil berkas yang tersimpan di meja.
Map plastic berwarna
biru lalu Ben membukanya, ada sebuah nama tertera didalamnya yang menyewa Caffe
Ben. setelah itu ia menyimpannya kembali ke meja dan mengerjakan perkerjaan
yang tertunda.
Banyak yang tidak
mengetahui Ben adalah pengusaha. Nama Caffe mereka BGJ Caffe. Yang di dirikan
oleh mereka bertiga. Meskipun banyak yang tidak tahu.
__ADS_1