Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 24


__ADS_3

Ben memasuki tempat


yang sangat asing baginya yaitu toko buku. Ia mengutuk adik sepupunya itu


karena telah memesan buku novel. Ben berjalan masuk lalu menitipkan tasnya pada


penjaga setelah itu berjalan menyusuri rak buku.


Ben bingung seperti apa


novel yang dipesan adiknya. Ia merogoh saku celananya mengambil ponselnya.


Menampakkan sebuah picture buku novel. Setelah melihat itu Ben kembali


menyusuri buku. Mencari buku.


“Sejak kapan cowok


tengil baca buku?” Intrupsi seseorang, Ben menghentikan langkahnya lalu


menoleh.


Kennie tersenyum lalu


menghampirinya mengambil buku novel yang dipegang Ben. “Suka baca buku juga?”


tanyanya Kennie lagi,


“Hmm, Enggak. Ini


pesanan adik gue” jawabnya menampakkan senyum lebar


Kennie mengangguk meng’iya’kan,


“Hmm, mau bantuin gue mencari buku?” tawar Ben. sejenak Kennie berpikir. Lalu


mengangguk.


Mereka kembali


berjalan. Kennie menjelaskan buku apa saja yang bagus untuk dibaca. Ben yang


melihat Kennie berbicara panjang lebar dari biasanya. Ia tetap memperhatikan


Kennie bagaimana menjelaskan buku novel.


Ben baru mengetahui


sisi lain dari Kennie. sambil berjalan menyusuri rak-rak buku. “Lo yakin beli


buku sebanyak ini?” Tanya Ben, seketika Kennie mengangguk lagi


“Selain jago tinju,


ternyata lo hobi baca novel sastra juga ya” ucap Ben


Kennie tersipu malu,


baru kali ini ada seseorang yang memujinya. “Biasa aja” jawab Kennie santai.


Ben yang melihat langsung saja pergi meninggalkan Kennie begitu saja. Tetapi


Kennie kembali mencari buku.


Terdengar suara gitar,


membuatnya memghentikannya lalu menoleh dimana asal suara tersebut. Kennie


begitu terkejut saat Ben duduk disebuat tepi meja lalu memainkan gitar mengarah


kearahnya. Semua pengunjung memperhatikan aksi Ben.


Guess


it’s true


I’m


not good


At


a one night stand


But


I still need love


Cos


I’m just a man


These


nights never seem to go plan


Ada seulas senyum


diwajah Kennie, begitu dengan Ben membalas senyumnya. Menampakkan deretan gigi


putihnya. Ia terus memainkan gitarnya sambil menatap Kennie.


I


don’t want you leave


Will


you hold my hand


Oh


won’t you


with me


Cos

__ADS_1


you’re


All


I need


This


ain’t love


It’s


clear to see


But


darling


with me


Kennie masih tetap


berdiri, tidak bergeming. Tetap matanya masih tertuju pada sosok cowok yang


selalu menjadi rivalnya di sekolah. Apakah benar Kennie sedang jatuh cinta


padanya? entahlah itu semua menjadi tanda Tanya.


Tetapi saat ini Kennie


bukan melihat Ben sebagai sosok lelaki yang menyebalkan melainkan sosok lelaki


yang romantic.


Why


am I so emotional?


No


it’s not a good look


Gain


some self control


Deep


down I know this never works


But


you can lay with me


So


it doesn’t hurt


Oh


won’t you


with me


Hingga lagu itu


berakhir semua pengunjung bertepuk tangan, Kennie hanya berdiri, lalu Ben


menyimpan gitar tersebut lalu menghampiri Kennie. masih dengan senyum lebar.


“lagunya bagus” ucap


Kennie


“Lagunya bagus atau


suara gue yang bagus?” Tanya Ben sambil menaikkan kedua alisnya


Kennie berdecih “CK,


Pedenya kumat lagi” jawabnya datar


Setelah membayar buku


yang mereka beli, Kennie dan Ben berjalan menuju restorant. Mereka berjalan


kaki sekitar sepuluh menit. Memasuki ruangan yang sepi pengunjung. Karena


memang Ben tahu Kennie tidak suka keramaian.


“Kenapa lo suka boxing,


bukannya suka main di mall atau segala macam?” Tanya Ben penasaran. Saat ini


mereka duduk berhadapan.


“Karen ague ingin


melindungi, Mama” jawab Kennie singkat


“Karen ague ingin melindungi


orang yang gue sayang” tambahnya lagi membuat Ben mematung


“Menurut gue, lo beda.


Biasanya cewek itu selalu saja suka make up. Terlihat anggun” ucap Ben


“Lebih baik jadi diri


sendiri, dari pada harus melakukan hal yang tidak membuat gue nyaman. Dan inilah


gue, Apa adanya. Bukan ada apanya” jawabnya panjang lebar membuat Ben terdiam


“Iya juga sih”


Tidak lama kemudian

__ADS_1


pesanan mereka datang, Kennie menatap binar. Karena ia melihat sebuah makanan


kesukaannya. Ben terdiam menatap makanan. Ia teringat pada Nina. Ternyata Nina


dan Kennie memiliki kesamaan yang sama. Dan itu membuat terkejut. Ben tahu Nina


dan Kennie sahabatan sejak kecil. dan mereka sangat dekat.


Tetapi Ben senang


karena berada didekat Kennie ia seperti berada didekat Nina. Sosok seseorang yang


selama ini ia rindukan.


Meski


kau tidak lagi berada di sisi, tetapi aku merasa bahwa kamu masih berada


dihadapanku saat ini,gumam Ben dalam hati  masih menatap lekat Kennie.


Cuma beda hal antara


keduanya, Kennie yang tomboy sedangkan Nina dia sangat feminim dan sederhana.



Kennie tersenyum lebar


saat menatap foto dirinya bersama dengan Ben. Nova dan Keyla mendapati


sahabatnya sedang duduk sendirian. Lalu menghampirinya “Ngapain senyam-senyum


sendirian? Kesambet ya?” Tanya Nova, yang diangguki Keyla.


“Gue tahu pasti abis


ngedate sama Ben ya?” tebak Keyla memang benar, membuat Kennie tersipu malu.


Dan kedua sahabatnya menatap tidak percaya.


“What?”Tanyanya kompak


“Biasa aja kale, gue


mau pergi dulu. bye” ucap Kennie berlalu,


“Begini ini, yang lagi


kasmaran” oceh Nova menatap kepergian sahabatnya itu


Kennie berjalan


sepanjang koridor lalu menaiki anak tangga menuju rooftop. Tempat yang selalu


disinggahhinya. Gadis tomboy ini berdiri sambil merentangkan kedua tangannya


menghirup udara bebas. Menampakkan gedung-gedung tinggi. Serta awan masih setia


menghiasi langit biru.


Entah apa yang membuat


Kennie merasa bahagia. Dan hampir semua misinya sedikit lagi terselesaikan.


Mungkin Kennie saat ini lagi jatuh cinta. “Jangan sendirian aja, enggak baik.


Nanti diculik hantu” sahut seseorang mengintrupsi Kennie, ia menoleh siapa yang


datang menganggunya ketenangannya.


“Cowok tengil, ganggu


aja lo” ketus Kennie


Ben hanya terkekeh lalu


duduk disampingnya, “Kenapa sih? lo itu suka nongkrong ditempat sepi seperti


ini?” Tanya Ben


Kennie menoleh sambil


tersenyum lebar, “Gue suka, karena gue suka merasakan hembusan angin, melihat


gedung-gedung tinggi. Jauh lebih menyenangkan” ucapnya


“Dulu gue dan Nina itu


suka banget pergi kegedung yang tinggi berdiri sambil menikmati pemandangan


yang indah dari atas.” Lanjut Kennie bercerita


“Iya, Nina juga suka


banget mengambil objeck, ya seperti kayak begini” tambah Ben memperlihat gaya


imutnya. Membuat Kennie tertawa lebar. Karena mukanya yang kurang sesuai.


“Jelek ya” keluh Ben,


“Iya, cocok banget”


ledek Kennie lalu beranjak dari sofa berlari, yang diikuti Ben ikut berlari


Apakah ini yang


dimanakan bahagia, Kennie merasakan apa yang belum pernah dirasakannya selama


ini. semua berubah begitu saja tanpa sengaja. Cinta datang begitu saja. Hanya


hati yang tahu dimana ia berlabuh, dan itu dirasakan oleh Kennie.


Dari arah jauh Jovan


berdiri menatap adiknya kecilnya bersama sahabatnya itu. Jovan menghembuskan


nafas panjang lalu pergi meninggalkan keduanya. Tanpa Kennie dan Ben sedari.

__ADS_1


__ADS_2