
Ben yang baru saja
memasuki ruang kerjanya, disana terdapat Jovan dan Gerry yang sedang duduk santai
di sofa, karena ini merupakan jam istirahat. Ben menjatuhkan bokongnya pada
single sofa. Ia menghembuskan nafas banjang seraya membuka celemek yang
dikenakannya.
“Roma-romannya, Si Pak
Boss lagi seneng banget nih” ucap Gerry
Gerry dan Jovan sudah
mengetahui kedekatannya Ben dan Kennie semenjak selesainya Olimpiade sekolah.
Entah apa yang membuat Ben dekat dengannya, yang jelas ia juga ingin mengetahui
seseorang yang telah ia cari selama ini.
Setelah mengatakan
bahwa Kennie adalah sahabat dari kekasihnya itu, “Jadi lo sudah ketemu dengan
cewek lo?” Tanya Gerry
Ben tersenyum tipis
“Sudah, tetapi dia sudah tidak ada didunia ini” jawab Ben dengan lesuh.
Gerry terlonjak kaget
“Maksudnya?” tanyanya lagi
“Ya, Dia sudah tidak
ada didunia ini, dan kemarin Kennie mengantarkan gue ke makamnya” jelas Ben,
Gerry menatap iba pada sahabatnya itu.
“Doakan saja, ia tenang
disana. Dan sekarang lo harus move on,
dan gue rasa Kennie suka sama lo” ucapnya
“Itu tidak mungkin”
tukas Gerry
“Mungkin saja” balas
Gerry begitu sangat yakin
Sedangkan Jovan hanya
sibuk memainkan ponsel tanpa memperdulikan percakapan kedua sahabatnya itu.
“Woi, dari tadi diem
mulu lo, lagi ngapain sih?” Tanya Gerry karena sedari tadi Jovan hanya diam
saja
“Bukan urusan lo” ucap
Jovan ketus
“Gue pergi dulu,” ucap
Jovan beranjak dari sofa lalu pergi begitu saja meninggalkan keduanya.
“Kebiasaan lo main
pergi begitu saja” teriak Gerry yang dibalas lambaian tangan dari Jovan. Ben
hanya mengendikkan bahunya.
Kennie sudah
menceritakan semua tentang kedekatannya dengan Ben, pada kedua sahabatnya itu.
Nova dan Keyla terlonjak kaget sekaligus bahagia. “Gue senang akhirnya sahabat
gue ini, bisa merasakan yang namanya jatuh cinta, Ciyeee” ledek Nova yang
sedang duduk dipinggiran kasur.
“Cinta, datang begitu
saja, namun dirasakan karena kenyaman” ucap Kennie menampakkan senyumnya
menatap luar.
“Iya deh, yang lagi
__ADS_1
jatuh cinta, begitu deh. Lupa segalanya. Yang dulu rival sekarang menjadi
gebetan” sahut Keyla,
“Tumben otak lo encer,
biasanya lemot kayak siput” tukas Nova
Terdengar suara
deringan ponsel, Kennie menoleh lalu mengambilnya melihat siapa yang
menghibunginya dipagi ini.
“Hallo, Bang” sapa
Kennie pada seseorang yang diseberang sana
“Tadi Rose datang di
club, dia meminta untuk pertandingan ulang pada lo. Dan katanya juga dia ingin
balas dendam sama lo. Dan sekarang Abang bingung sebenarnya apa masalah lo
dengannya” jelasnya membuat Kennie terlonjak kaget.
“What? Tunggu gue
disana” ucap Kennie begitu dingin
Nova dan Keyla bingung
apa yang terjadi pada Kennie, setelah menerima telepon entah itu dari siapa?.
Nova dan Keyla hanya melongo menatap Kennie pergi dengan terburu-buru.
“Lo hubungi Ben sekarang
juga” ucap Keyla yang diangguki Nova
Kennie melajukan
mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tahu mengapa Rose selalu saja mencari
masalah padanya. padahal dia sudah menyelesaikan di ring. Kennie memarkirkan
mobilnya lalu turun dengan wajah datarnya. Ia memasuki club olahraga. Disana
Baim duduk dengan wajah menunduk.
Ia melihat semua barang
Baim menceritakan
kejadian tersebut pada adiknya itu, hingga Kennie mengepalkan keduanya geram.
“Apa sih maunya dia. Sudah cukup dia membuat hidup gue menderita seperti ini.
Abang tunggu saja disini. Kennie ingin menemuinya” ucap Kennie dingin.
Selama ini ia hanya
diam saja atas perlakuan Rose, mantan sahabatnya itu padanya. tetapi ini sudah kelewat
batas baginya. Sudah cukup Ia menderita karenanya.
Baim yang melihat
kemarahan Kennie “Ken, tenang lebih baik kita selesaikan dengan cara baik-baik
aja” ucap Baim menenangkan.
“Enggak Bang, ini tidak
bisa dibiarin” ucap Kennie tegas
Baim mengusap wajahnya
gusar, kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Baim tahu Kennie keras kepala dan
tidak bisa dibantah. “Lebih baik gue ikutin ini bocah, gue takut dia terjadi
apa-apa padanya” ucap Baim pergi menyusul adiknya itu.
Kennie melihat Rose
sedang berkumpul dengan teman-temannya, dengan wajah datarnya Kennie melangkah
menghampiri mantan sahabatnya itu. Rose yang menoleh menatap tajam.
“Ternyata lo punya
nyali juga” ucap Rose menghampiri Kennie, ada senyum licik terpancar
diwajahnya.
“Sudah cukup semuanya,
__ADS_1
tentang apa yang lo lakuin ke gue dan Nina, Gue kira lo itu baik. Tetapi lo
lebih licik dari apa yang gue kira. Gue sudah bertemu dengan cowok yang Nina
maksud. Yang lo bilang tunangan lo itu. Gue sudah cukup sabar menghadapi cewek
murahan kayak lo. Dan yang membuat bokap lo bangkrut itu, karena ulahnya
sendiri bukan ulah om Gilang,” telak Kennie membuat Rose semakin geram terhadap
perkataannya.
Rose melayangkan
tinjuan pada Kennie namun tangan itu tertahan, Rose menoleh mendapati Ben
sedang berdiri disampingnya. Rose terkejut, “Jadi selama ini, Lo yang membuat
Nina menderita” ucapnya Ben menatap tajam.
Rose menghempaskan
tangannya dari genggaman Ben, Kennie terkejut, sejak kapan Ben berada disini?
Apa dia mendengar semuanya, Apa yang dikatakannya?, pertanyaan itu masih berada
dibenaknya.
“Ben, Maafkan aku,
bukannya aku bermaksud seperti itu, aku hanya ingin memberi dia pelajarannya”
ucap Rose menatap Ben dengan sendu.
“Dari awal, gue sudah
menduga. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Namun dirasakan dengan perasaan yang
nyaman. Cinta tidak bisa diatur, namun hati yang menentukan” jelas Ben.
“Ya,
Karena cinta lo pada Nina begitu dalam”ucap Kennie dalam
hati, namun ia merasa seperti teriris pisau begitu dalam. Sakit.
Sedangkan Baim hanya
diam melihat apa yang terjadi, karena ia tidak ingin mencapuri urusan adik
angkatnya itu. sejenak Baim melihat adiknya itu, ia tahu Kennie hanya bisa
memendam perasaannya. Cukup dia yang merasakan sakit, karena cowok yang
disukainya belum juga bisa melupakan sahabatnya itu.
Baim menghampiri Kennie
dan merangkulnya memberikan sebuah ketenangan. Kennie menoleh menampakkan
senyum tipisnya.
“Lo, enggak apa-apa?”
Tanya Baim, yang di balas anggukan olehnya
Kennie masih
menyaksikan perdebatan Ben dengan Rose, mantan tunangannya itu. tetapi Kennie
tetap senang karena bisa memenuhi permintaan Nina sahabatnya. Ben menghampiri
Kennie lalu membawanya pergi menjauh dari Rose.
Kennie sempat menoleh
betapa menyesalnya dirinya. Atas apa yang telah ia perbuat selama ini.
“Lebih baik kita pergi
dari sini, tidak usah perdulikan dia” ucap Ben dengan wajah datarnya.
Langkah kaki Ben
terhenti tepat pada pemakaman Nina, seseorang yang pernah mengisi hatinya.
Membuat dirinya bisa tersenyum lagi. Ben berjongkok tepat didepan pusaran nisan
kekasihnya itu.
Lalu meletak bucket
bunga lily, “Hai, Aku datang, aku kangen banget sama kamu. Aku harap kamu
bahagia disana. Aku sudah tahu yang sebenarnya. Apa yang menyebab kamu
menghilang begitu saja.” Ucap Ben lirih, tetapi takdir berkata lain, Nina telah
__ADS_1
pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.