Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 26


__ADS_3

Ben yang baru saja


memasuki ruang kerjanya, disana terdapat Jovan dan Gerry yang sedang duduk santai


di sofa, karena ini merupakan jam istirahat. Ben menjatuhkan bokongnya pada


single sofa. Ia menghembuskan nafas banjang seraya membuka celemek yang


dikenakannya.


“Roma-romannya, Si Pak


Boss lagi seneng banget nih” ucap Gerry


Gerry dan Jovan sudah


mengetahui kedekatannya Ben dan Kennie semenjak selesainya Olimpiade sekolah.


Entah apa yang membuat Ben dekat dengannya, yang jelas ia juga ingin mengetahui


seseorang yang telah ia cari selama ini.


Setelah mengatakan


bahwa Kennie adalah sahabat dari kekasihnya itu, “Jadi lo sudah ketemu dengan


cewek lo?” Tanya Gerry


Ben tersenyum tipis


“Sudah, tetapi dia sudah tidak ada didunia ini” jawab Ben dengan lesuh.


Gerry terlonjak kaget


“Maksudnya?” tanyanya lagi


“Ya, Dia sudah tidak


ada didunia ini, dan kemarin Kennie mengantarkan gue ke makamnya” jelas Ben,


Gerry menatap iba pada sahabatnya itu.


“Doakan saja, ia tenang


disana. Dan sekarang lo harus move on,


dan gue rasa Kennie suka sama lo” ucapnya


“Itu tidak mungkin”


tukas Gerry


“Mungkin saja” balas


Gerry begitu sangat yakin


Sedangkan Jovan hanya


sibuk memainkan ponsel tanpa memperdulikan percakapan kedua sahabatnya itu.


“Woi, dari tadi diem


mulu lo, lagi ngapain sih?” Tanya Gerry karena sedari tadi Jovan hanya diam


saja


“Bukan urusan lo” ucap


Jovan ketus


“Gue pergi dulu,” ucap


Jovan beranjak dari sofa lalu pergi begitu saja meninggalkan keduanya.


“Kebiasaan lo main


pergi begitu saja” teriak Gerry yang dibalas lambaian tangan dari Jovan. Ben


hanya mengendikkan bahunya.



Kennie sudah


menceritakan semua tentang kedekatannya dengan Ben, pada kedua sahabatnya itu.


Nova dan Keyla terlonjak kaget sekaligus bahagia. “Gue senang akhirnya sahabat


gue ini, bisa merasakan yang namanya jatuh cinta, Ciyeee” ledek Nova yang


sedang duduk dipinggiran kasur.


“Cinta, datang begitu


saja, namun dirasakan karena kenyaman” ucap Kennie menampakkan senyumnya


menatap luar.


“Iya deh, yang lagi

__ADS_1


jatuh cinta, begitu deh. Lupa segalanya. Yang dulu rival sekarang menjadi


gebetan” sahut Keyla,


“Tumben otak lo encer,


biasanya lemot kayak siput” tukas Nova


Terdengar suara


deringan ponsel, Kennie menoleh lalu mengambilnya melihat siapa yang


menghibunginya dipagi ini.


“Hallo, Bang” sapa


Kennie pada seseorang yang diseberang sana


“Tadi Rose datang di


club, dia meminta untuk pertandingan ulang pada lo. Dan katanya juga dia ingin


balas dendam sama lo. Dan sekarang Abang bingung sebenarnya apa masalah lo


dengannya” jelasnya membuat Kennie terlonjak kaget.


“What? Tunggu gue


disana” ucap Kennie begitu dingin


Nova dan Keyla bingung


apa yang terjadi pada Kennie, setelah menerima telepon entah itu dari siapa?.


Nova dan Keyla hanya melongo menatap Kennie pergi dengan terburu-buru.


“Lo hubungi Ben sekarang


juga” ucap Keyla yang diangguki Nova


Kennie melajukan


mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tahu mengapa Rose selalu saja mencari


masalah padanya. padahal dia sudah menyelesaikan di ring. Kennie memarkirkan


mobilnya lalu turun dengan wajah datarnya. Ia memasuki club olahraga. Disana


Baim duduk dengan wajah menunduk.


Ia melihat semua barang


Baim menceritakan


kejadian tersebut pada adiknya itu, hingga Kennie mengepalkan keduanya geram.


“Apa sih maunya dia. Sudah cukup dia membuat hidup gue menderita seperti ini.


Abang tunggu saja disini. Kennie ingin menemuinya” ucap Kennie dingin.


Selama ini ia hanya


diam saja atas perlakuan Rose, mantan sahabatnya itu padanya. tetapi ini sudah kelewat


batas baginya. Sudah cukup Ia menderita karenanya.


Baim yang melihat


kemarahan Kennie “Ken, tenang lebih baik kita selesaikan dengan cara baik-baik


aja” ucap Baim menenangkan.


“Enggak Bang, ini tidak


bisa dibiarin” ucap Kennie tegas


Baim mengusap wajahnya


gusar, kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Baim tahu Kennie keras kepala dan


tidak bisa dibantah. “Lebih baik gue ikutin ini bocah, gue takut dia terjadi


apa-apa padanya” ucap Baim pergi menyusul adiknya itu.



Kennie melihat Rose


sedang berkumpul dengan teman-temannya, dengan wajah datarnya Kennie melangkah


menghampiri mantan sahabatnya itu. Rose yang menoleh menatap tajam.


“Ternyata lo punya


nyali juga” ucap Rose menghampiri Kennie, ada senyum licik terpancar


diwajahnya.


“Sudah cukup semuanya,

__ADS_1


tentang apa yang lo lakuin ke gue dan Nina, Gue kira lo itu baik. Tetapi lo


lebih licik dari apa yang gue kira. Gue sudah bertemu dengan cowok yang Nina


maksud. Yang lo bilang tunangan lo itu. Gue sudah cukup sabar menghadapi cewek


murahan kayak lo. Dan yang membuat bokap lo bangkrut itu, karena ulahnya


sendiri bukan ulah om Gilang,” telak Kennie membuat Rose semakin geram terhadap


perkataannya.


Rose melayangkan


tinjuan pada Kennie namun tangan itu tertahan, Rose menoleh mendapati Ben


sedang berdiri disampingnya. Rose terkejut, “Jadi selama ini, Lo yang membuat


Nina menderita” ucapnya Ben menatap tajam.


Rose menghempaskan


tangannya dari genggaman Ben, Kennie terkejut, sejak kapan Ben berada disini?


Apa dia mendengar semuanya, Apa yang dikatakannya?, pertanyaan itu masih berada


dibenaknya.


“Ben, Maafkan aku,


bukannya aku bermaksud seperti itu, aku hanya ingin memberi dia pelajarannya”


ucap Rose menatap Ben dengan sendu.


“Dari awal, gue sudah


menduga. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Namun dirasakan dengan perasaan yang


nyaman. Cinta tidak bisa diatur, namun hati yang menentukan” jelas Ben.


“Ya,


Karena cinta lo pada Nina begitu dalam”ucap Kennie dalam


hati, namun ia merasa seperti teriris pisau begitu dalam. Sakit.


Sedangkan Baim hanya


diam melihat apa yang terjadi, karena ia tidak ingin mencapuri urusan adik


angkatnya itu. sejenak Baim melihat adiknya itu, ia tahu Kennie hanya bisa


memendam perasaannya. Cukup dia yang merasakan sakit, karena cowok yang


disukainya belum juga bisa melupakan sahabatnya itu.


Baim menghampiri Kennie


dan merangkulnya memberikan sebuah ketenangan. Kennie menoleh menampakkan


senyum tipisnya.


“Lo, enggak apa-apa?”


Tanya Baim, yang di balas anggukan olehnya


Kennie masih


menyaksikan perdebatan Ben dengan Rose, mantan tunangannya itu. tetapi Kennie


tetap senang karena bisa memenuhi permintaan Nina sahabatnya. Ben menghampiri


Kennie lalu membawanya pergi menjauh dari Rose.


Kennie sempat menoleh


betapa menyesalnya dirinya. Atas apa yang telah ia perbuat selama ini.


“Lebih baik kita pergi


dari sini, tidak usah perdulikan dia” ucap Ben dengan wajah datarnya.



Langkah kaki Ben


terhenti tepat pada pemakaman Nina, seseorang yang pernah mengisi hatinya.


Membuat dirinya bisa tersenyum lagi. Ben berjongkok tepat didepan pusaran nisan


kekasihnya itu.


Lalu meletak bucket


bunga lily, “Hai, Aku datang, aku kangen banget sama kamu. Aku harap kamu


bahagia disana. Aku sudah tahu yang sebenarnya. Apa yang menyebab kamu


menghilang begitu saja.” Ucap Ben lirih, tetapi takdir berkata lain, Nina telah

__ADS_1


pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.


__ADS_2