Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 36


__ADS_3

Waktu telah tiba,


Diruangan indoor yang


dipadati riuhnya para pendukung di masing-masing kedua kubu. Diruangan ganti


Kennie sudah bersiap dengan pakaian olahraganya. Ben yang menemaninya terus


mengoceh sedari tadi, membuat Kennie mendengus sebal. Mengapa Ben jadi cerewet


begini, pikirnya.


Sedangkan Coach Raka


tersenyum senang melihat kedua pasangan tersebut, Coach Raka menjadi terkekeh.


“Sudahlah Ben jangan terlalu mencemaskan Kennie, dia bisa kok jaga dirinya di


ring dan mengalahkan Rose, Rivalnya” peringat Coach Raka,


“Tapi Coach, aku kwatir


sama Ken” ucap Ben dramatis


“Ben, makasih udah mau


perhatian sama gue, Gue yakin kok bisa jaga diri. Dan gue juga sangat bahagia. Karena


lo mendukung gue” ucap Kennie tulus,


Ben menggenggam kedua


tangan Kennie, lalu menatap mata jingga itu lekat. “Iya, Karen ague yakin lo


pasti bisa.” Ucapnya sambil menampakkan senyum menawannya.


“Aduh, Aduh, berasa gue


nonton di film-film. Romantis amat. Berasa milik berdua. Kita mah, cuman


numpang” sahut Gerry yang baru saja datang bersama Jovan.


“Jojo, Gerry” sapa


Kennie


“Ehh, perusak suasana


aja lu berdua.” Ucap Ben sewot


Suasana lapangan Indoor


sangat ramai, riuh penonton menambah kesan semangat. Kennie berjalan keluar


setelah dapat intrupsi dari si pembawa acara, dengan wajah datarnya Kennie


berjalan.


Sementara di kubu lain,


Rose tengah berjalan dengan angkuh, menampakkan senyum lebarnya menyapa


penonton.


Mereka sudah berdiri


berhapan dengan jarak dua meter, Kennie yang sudah memasang helm pengaman


diwajahnya begitu pula dengan Rose.


Kennie yang terlihat


biasa saja sedangkan Rose menatap tajam. “Gue akan bales lo, dan lo akan


bertekuk lutut” ucap Rose dengan penuh penekanan.


Kennie tersenyum miring,


“Silakan saja, Gue tidak takut.”


Rose memukul Kennie


secara membabi buta, entah meluapkan segala amarahnya yang sudah sampai puncak.


Dona dan Mahendra hanya


bisa diam menyaksikan perkelahian antara dua anak kandungnya. Dona sangat


mengkwatirkan anak kesayangannya itu, sedangkan Mahendra hanya bisa menghela


nafas berat. Kenapa bisa sampai begini, pikirnya


Menyaksikan kedua


anaknya bertarung, adalah hal yang sangat dibenci oleh Mahendra. Ia baru


mengetahui bahwa Kennie dan Rose ternyata saling membenci.


Hingga perkelahian itu

__ADS_1


berakhir, Kennie menatap Rose sengit, sorot mata penuh kebencian. Membalas Rose


adalah hal yang paling ia tunggu.


Melihat Rose sudah


tidak berdaya lagi, Kennie tersenyum miring, “Semua yang gue lakukan sudah


setimpal dengan apa yang lo lakukan ke gue dan Nina.”


Rose yang dibanjiri


darah pada hidung kini tergeletak pingsan. Kennie menghembuskan nafas lelah


setelah bertarung lebih dari dua jam lamanya. Tenaganya kini sudah berkurang.


Langkah Kennie berhenti


tepat dihadapan Mahendra-Ayahnya, “Jangan ganggu hidup gue dan Mama, karena


bagi gue, Anda adalah orang asing.” Ucap Kennie begitu dingin lalu kembali


berjalan.


“Yang sabar, mungkin


Kennie belum bisa menerimamu sepenuhnya. Dia butuh waktu” ucap Dona ikut


menyusul Kennie.


Didalam ruangan ganti,


Dona menatap anaknya yang sedang sibuk merapikan dirinya. Ada helaan nafas


panjang sebelum Dona memulai.


“Ken, Cobalah kamu


membuka diri untuk Ayahmu dan Rose. Dan Mama mohon terima mereka kembali” pinta


Dona memohon


“Setelah apa yang


mereka lakukan dan meninggalkan kita begitu saja,” potong Kennie cepat.


“Maaf, Mah. Kennie


belum bisa menerima mereka” ucap Kennie lalu duduk disebuah sofa.


“Kesalahan apapun yang


Ayahmu dan Rose perbuat dimasalalu, cobalah untuk menerimanya. Karena sebuah


Kennie hanya diam,


menyimak semua perkataan Ibunya.



Kennie tengah berbaring


di paha Dona, saat ini ia sangat ingin sekali bermanja pada sang Mama. Dona


yang duduk di sofa sambil mengusap kepala Kennie dengan lembut. merasakan


didekapan orang kita sayangi itu sangat membuat kita nyaman.


Dona bercerita tentang


bagaimana dirinya kecil hingga sampai sekarang. Dona Kennie begitu dingin dan


tertutup terhadap orang lain. Terkadang Dona heran melihat tingkah Kennie yang


menggemaskan. Yang selalu berubah sikap.


“Mama harap kamu bisa


menerima Ayah dan Kakakmu kembali. Bagaimana pun mereka adalah keluargamu juga”


pinta Dona memohon.


Kennie terbangun


sejenak mencerna apa yang dikatakan oleh Dona. “Kennie akan coba” ujar,


seketika membuat Dona tersenyum.


“Mama sempat kwatir


kemarin melihat kamu berantem dengan Rose diatas ring kemarin. Mama harap kamu


bisa berdamai dengan Kakakmu” pintanya lagi,


Kennie menghela nafas


berat, ia belum bisa menerima Rose sebagai kakaknya. Walaupun balik pada


kenangan mereka bersama dulu. tentang apa yang dilakukan Rose padanya. Apakah

__ADS_1


secepat itu Kennie bisa memaafkan Dia. Kennie rasa dirinya butuh waktu. Hanya


waktu yang bisa menjawab semuanya.


“Kennie akan lakukan


demi Mama” ucapnya


Dona tersenyum simpul,


“Makasih sayang” Kennie mengangguk lalu memeluk erat Dona.


“Kennie kekamar dulu,


mau istirahat.” Ucapnya lalu beranjak pergi menuju kamar


Kennie melangkah menuju


jendela kamarnya, sejenak menatap langit yang begitu banyak dihiasi oleh


bintang. Menghembuskan nafas pelan, lalu kembali menatap langit malam.


“Tuhan, bantu Kennie


agar bisa menerima semua kenyataan ini. bahwa dia adalah seorang Kakak yang


dulu pernah hadir mengisi hari-hariku. Janganlah buat aku dengan segala penuh


kekecewaan dan dendam padanya” ungkapnya ada helaan nafas,


Terdengar suara ketukan


hingga Kennie menoleh untuk membuka pintunya. Menampakkan sosok Dona yang


tersenyum lebar menatap anak semata wayangnya. “Ayahmu ada dibawah, Mama mohon


termui dia, dia sangat merindukanmu, Nak” pinta Dona


“Tapi, Ma-“ jawab


Kennie menggantung


“Tidak ada tapi-tapian,


sekarang ayokkk turun” ucap Dona tegas, kalau sudah begini mana bisa Kennie


bantah, Kennie mendengus sebal, lalu berjalan mendahului Dona.


Kennie menuruni anak


tangga, menatap dari kejauhan melihat sosok lelaki setengah baya, tengah duduk


diruang keluarga. Seperti sedang menunggunya. Kennie berjalan melambat.


Meskipun sedikit ragu. Tetapi ia menemui Ayahnya.


Mahendra tersenyum saat


menoleh menatap putri bungsunya. Mahendra berdiri lalu menghampiri anak saat


ingin memeluknya namun ditepis olehnya.


Dengan wajah datar


Kennie duduk diikuti oleh Mahendra, “Gimana kabarmu, Nak?” Tanya Mahendra


memulai


“Baik” jawabnya


Mahendra mengangguk


mengerti, mungkin Kennie bleum bisa menerimanya sepenuhnya. Dona datang dengan


membawa tiga gelas diatas mampang. Lalu duduk disamping Kennie.


“Kok Rose tidak ada,


dia kemana? Kenapa kamu diajak dia?” Tanya Dona saat menyadari tidak ada


kehadiran Rose, Kakak Kennie.


“Dia sedang ada


latihan, mungkin besok baru mengunjungimu” ucapnya memberi tahu


“Kennie Mama harap kamu


dapat mereka kembali, lupakan semuanya. Kita buka lembaran baru” pinta Dona,


memang Kennie belum mengetahui perencanaan mereka. hingga Kennie menoleh


seperti meminta penjelasan.


“Kalau itu mau Mama,


Kennie bisa apa? Aku hanya menuruti dan mencoba merimanya walau itu masih


sulit”

__ADS_1


Dona mengelus puncak


kepala Kennie lembut “Makasih sayang”


__ADS_2