
Waktu telah tiba,
Diruangan indoor yang
dipadati riuhnya para pendukung di masing-masing kedua kubu. Diruangan ganti
Kennie sudah bersiap dengan pakaian olahraganya. Ben yang menemaninya terus
mengoceh sedari tadi, membuat Kennie mendengus sebal. Mengapa Ben jadi cerewet
begini, pikirnya.
Sedangkan Coach Raka
tersenyum senang melihat kedua pasangan tersebut, Coach Raka menjadi terkekeh.
“Sudahlah Ben jangan terlalu mencemaskan Kennie, dia bisa kok jaga dirinya di
ring dan mengalahkan Rose, Rivalnya” peringat Coach Raka,
“Tapi Coach, aku kwatir
sama Ken” ucap Ben dramatis
“Ben, makasih udah mau
perhatian sama gue, Gue yakin kok bisa jaga diri. Dan gue juga sangat bahagia. Karena
lo mendukung gue” ucap Kennie tulus,
Ben menggenggam kedua
tangan Kennie, lalu menatap mata jingga itu lekat. “Iya, Karen ague yakin lo
pasti bisa.” Ucapnya sambil menampakkan senyum menawannya.
“Aduh, Aduh, berasa gue
nonton di film-film. Romantis amat. Berasa milik berdua. Kita mah, cuman
numpang” sahut Gerry yang baru saja datang bersama Jovan.
“Jojo, Gerry” sapa
Kennie
“Ehh, perusak suasana
aja lu berdua.” Ucap Ben sewot
Suasana lapangan Indoor
sangat ramai, riuh penonton menambah kesan semangat. Kennie berjalan keluar
setelah dapat intrupsi dari si pembawa acara, dengan wajah datarnya Kennie
berjalan.
Sementara di kubu lain,
Rose tengah berjalan dengan angkuh, menampakkan senyum lebarnya menyapa
penonton.
Mereka sudah berdiri
berhapan dengan jarak dua meter, Kennie yang sudah memasang helm pengaman
diwajahnya begitu pula dengan Rose.
Kennie yang terlihat
biasa saja sedangkan Rose menatap tajam. “Gue akan bales lo, dan lo akan
bertekuk lutut” ucap Rose dengan penuh penekanan.
Kennie tersenyum miring,
“Silakan saja, Gue tidak takut.”
Rose memukul Kennie
secara membabi buta, entah meluapkan segala amarahnya yang sudah sampai puncak.
Dona dan Mahendra hanya
bisa diam menyaksikan perkelahian antara dua anak kandungnya. Dona sangat
mengkwatirkan anak kesayangannya itu, sedangkan Mahendra hanya bisa menghela
nafas berat. Kenapa bisa sampai begini, pikirnya
Menyaksikan kedua
anaknya bertarung, adalah hal yang sangat dibenci oleh Mahendra. Ia baru
mengetahui bahwa Kennie dan Rose ternyata saling membenci.
Hingga perkelahian itu
__ADS_1
berakhir, Kennie menatap Rose sengit, sorot mata penuh kebencian. Membalas Rose
adalah hal yang paling ia tunggu.
Melihat Rose sudah
tidak berdaya lagi, Kennie tersenyum miring, “Semua yang gue lakukan sudah
setimpal dengan apa yang lo lakukan ke gue dan Nina.”
Rose yang dibanjiri
darah pada hidung kini tergeletak pingsan. Kennie menghembuskan nafas lelah
setelah bertarung lebih dari dua jam lamanya. Tenaganya kini sudah berkurang.
Langkah Kennie berhenti
tepat dihadapan Mahendra-Ayahnya, “Jangan ganggu hidup gue dan Mama, karena
bagi gue, Anda adalah orang asing.” Ucap Kennie begitu dingin lalu kembali
berjalan.
“Yang sabar, mungkin
Kennie belum bisa menerimamu sepenuhnya. Dia butuh waktu” ucap Dona ikut
menyusul Kennie.
Didalam ruangan ganti,
Dona menatap anaknya yang sedang sibuk merapikan dirinya. Ada helaan nafas
panjang sebelum Dona memulai.
“Ken, Cobalah kamu
membuka diri untuk Ayahmu dan Rose. Dan Mama mohon terima mereka kembali” pinta
Dona memohon
“Setelah apa yang
mereka lakukan dan meninggalkan kita begitu saja,” potong Kennie cepat.
“Maaf, Mah. Kennie
belum bisa menerima mereka” ucap Kennie lalu duduk disebuah sofa.
“Kesalahan apapun yang
Ayahmu dan Rose perbuat dimasalalu, cobalah untuk menerimanya. Karena sebuah
Kennie hanya diam,
menyimak semua perkataan Ibunya.
Kennie tengah berbaring
di paha Dona, saat ini ia sangat ingin sekali bermanja pada sang Mama. Dona
yang duduk di sofa sambil mengusap kepala Kennie dengan lembut. merasakan
didekapan orang kita sayangi itu sangat membuat kita nyaman.
Dona bercerita tentang
bagaimana dirinya kecil hingga sampai sekarang. Dona Kennie begitu dingin dan
tertutup terhadap orang lain. Terkadang Dona heran melihat tingkah Kennie yang
menggemaskan. Yang selalu berubah sikap.
“Mama harap kamu bisa
menerima Ayah dan Kakakmu kembali. Bagaimana pun mereka adalah keluargamu juga”
pinta Dona memohon.
Kennie terbangun
sejenak mencerna apa yang dikatakan oleh Dona. “Kennie akan coba” ujar,
seketika membuat Dona tersenyum.
“Mama sempat kwatir
kemarin melihat kamu berantem dengan Rose diatas ring kemarin. Mama harap kamu
bisa berdamai dengan Kakakmu” pintanya lagi,
Kennie menghela nafas
berat, ia belum bisa menerima Rose sebagai kakaknya. Walaupun balik pada
kenangan mereka bersama dulu. tentang apa yang dilakukan Rose padanya. Apakah
__ADS_1
secepat itu Kennie bisa memaafkan Dia. Kennie rasa dirinya butuh waktu. Hanya
waktu yang bisa menjawab semuanya.
“Kennie akan lakukan
demi Mama” ucapnya
Dona tersenyum simpul,
“Makasih sayang” Kennie mengangguk lalu memeluk erat Dona.
“Kennie kekamar dulu,
mau istirahat.” Ucapnya lalu beranjak pergi menuju kamar
Kennie melangkah menuju
jendela kamarnya, sejenak menatap langit yang begitu banyak dihiasi oleh
bintang. Menghembuskan nafas pelan, lalu kembali menatap langit malam.
“Tuhan, bantu Kennie
agar bisa menerima semua kenyataan ini. bahwa dia adalah seorang Kakak yang
dulu pernah hadir mengisi hari-hariku. Janganlah buat aku dengan segala penuh
kekecewaan dan dendam padanya” ungkapnya ada helaan nafas,
Terdengar suara ketukan
hingga Kennie menoleh untuk membuka pintunya. Menampakkan sosok Dona yang
tersenyum lebar menatap anak semata wayangnya. “Ayahmu ada dibawah, Mama mohon
termui dia, dia sangat merindukanmu, Nak” pinta Dona
“Tapi, Ma-“ jawab
Kennie menggantung
“Tidak ada tapi-tapian,
sekarang ayokkk turun” ucap Dona tegas, kalau sudah begini mana bisa Kennie
bantah, Kennie mendengus sebal, lalu berjalan mendahului Dona.
Kennie menuruni anak
tangga, menatap dari kejauhan melihat sosok lelaki setengah baya, tengah duduk
diruang keluarga. Seperti sedang menunggunya. Kennie berjalan melambat.
Meskipun sedikit ragu. Tetapi ia menemui Ayahnya.
Mahendra tersenyum saat
menoleh menatap putri bungsunya. Mahendra berdiri lalu menghampiri anak saat
ingin memeluknya namun ditepis olehnya.
Dengan wajah datar
Kennie duduk diikuti oleh Mahendra, “Gimana kabarmu, Nak?” Tanya Mahendra
memulai
“Baik” jawabnya
Mahendra mengangguk
mengerti, mungkin Kennie bleum bisa menerimanya sepenuhnya. Dona datang dengan
membawa tiga gelas diatas mampang. Lalu duduk disamping Kennie.
“Kok Rose tidak ada,
dia kemana? Kenapa kamu diajak dia?” Tanya Dona saat menyadari tidak ada
kehadiran Rose, Kakak Kennie.
“Dia sedang ada
latihan, mungkin besok baru mengunjungimu” ucapnya memberi tahu
“Kennie Mama harap kamu
dapat mereka kembali, lupakan semuanya. Kita buka lembaran baru” pinta Dona,
memang Kennie belum mengetahui perencanaan mereka. hingga Kennie menoleh
seperti meminta penjelasan.
“Kalau itu mau Mama,
Kennie bisa apa? Aku hanya menuruti dan mencoba merimanya walau itu masih
sulit”
__ADS_1
Dona mengelus puncak
kepala Kennie lembut “Makasih sayang”