Tengil VS Bunglon

Tengil VS Bunglon
TB 31


__ADS_3

Kennie membuka pintu


utama, ia terkejut melihat kedatangan Ben, yang sudah berdiri sambil melipat


kedua tanganya depan dada. Lalu menampakkan wajah smirknya. Pertanyaan Kennie, sejak kapan Ben berada di disini?


Kennie menghampirinya “Mau ngapain berada dirumah orang pagi-pagi?” Tanya


Kennie,


Ben memperbaiki


rambutnya yang acak lalu menatap Kennie “Mau jemput lo” jawabnya


Kennie menaikkan


alisnya bingung, “Jemput gue?” Tanya Kennie sambil terkekeh


“Gue bisa pergi


sendiri” lanjutnya


“Gue tidak terima


penolakan, karena gue datang jauh-jauh kesini. Capek tahu” dumel Ben


“Itu sih derita lo,


sapa suruh datang kesini. Tidak yang suruhkan” balas Kennie tidak kalah sengit


Ben memutar bola


matanya malas, ia malas untuk berdebat pagi ini, “Ide brilian” Ben manaikkan


alisnya lalu menyeret Kennie masuk kedalam mobil sport Ferrari milik Ben. ini


untuk pertama kali Ben menggunakan mobilnya setalah sekian lama, tidak terpakai


semenjak Nina tiada.


Kennie mendengus jengah,


lalu melipat kedua tangannya depan dada. Ben masuk kedalam jok kemudi dengan


senyum sumringah. “Gitu Kek, dari tadi” dumel Ben lalu menyalakan mesin dan


melajukan mobilnya.


Hanya ada keheningan


yang diselingi lagu Charlie puth yang berjudul, we don’t talk anymore.


Sesekali Ben menoleh


menatap Kennie yang sedang menghadap ke jendela mobil menatap luar.


“Bisa tidak mukanya


tidak triplek? Jelek tau” ucap Ben memecah keheningan, Kennie tersenyum miring.


Sungguh pagi ini sangat menyebalkan baginya. Cowok yang berada disampingnya ini


sangat aneh.


“Gue tidak mau” jawab


Kennie ketus,


Ia belum menunjukkan


senyum diwajahnya yang sedari tadi Ben tunggu. Kenapa Ben sangat susah sekali


untuk meluluhkan gadis pujaannya itu. Ben mendengus jengah karena sedari tadi


Kennie hanya diam saja. Dasar makhluk


aneh, pikir Ben.


Sekitar lima belas


menit mereka sudah sampai disekolah. Semua mata tertujuh pada mobil yang


memasuki parkiran. Ben keluar dari mobil memakai kacamata hitamnya, lalu


berjalan membuka pintu untuk Kennie.


“Ayokkk keluar, Gue


sudah ganteng begini masih saja dicuekin” ucap Ben dengan pedenya.


Kennie mengembungkan


kedua pipinya, lalu keluar dari mobil. Semua siswa berbisik satu sama lainnya.


Ben berjalan santai sedangkan Kennie melipat kedua tanganya depan dada acuh


karena seluruh siswa menatapnya dengan tatapan aneh.


Dari jauh Nova dan


Keyla menatap takjub tentang pemandangan yang mereka lihat. Keyla masih


mengucek matanya, sedangkan mata Nova masih memandang Kennie berjalan dengan


cowok populer itu.


Secara tidak sengaja


Ben memegang tangan Kennie secara tiba-tiba, Kennie tersentak kaget. Lalu


menatap Ben tajam. Ini adalah saatnya Ben menujukkan pada semua siswa.


“Gue anter lo kekelas”


pinta Ben

__ADS_1


Kennie menghentikan


langkahnya “Enggak perlu, Gue bisa sendiri” ucap Kennie ketus


“Please, kali ini aja” ucap Ben dengan wajah memelas,


Kennie memutar bola


matanya malas, Ben menunduk memasang wajah puppy


eyes. “Oke” jawabnya singkat membuat Ben langsung terjingkrak seperti


memenangkan undian berhadiah.


Ben langsung berjalan


sambil merangkul Kennie, namun ia langsung menepisnya. Karena Kennie merasa


risih,


“Kok dilepas sih?


biarkan begini saja” ucap Ben langsung lalu kembali merangkul Kennie.


MENYEBALKAN


Ben tersenyum penuh


kemenangan, Nova, Keyla tetap berdiri mematung sementara Ben dan Kennie


berjalan menghampiri mereka. “Wihh, kayaknya ada yang sudah jadian nih. Pejenya


mana?” pinta Keyla menampakkan senyum puppy eyesnya.


“Peje, buat apa?” Tanya


Kennie dengan tampang polosnya


Ben terkekeh


mendapatkan pertanyaan aneh, “Nanti, tunggu aja di kantin” ucap Ben membuat


Keyla kegirangan.


“Kayaknya tiap hari ada


yang bakalan nempel terus kayak prangko” ledek Nova yang mendapatkan tatapan


tajam dari Kennie.


Kennie kembali


melangkah menuju kelas, karena ia sangat malas meladeni kedua sahabatnya itu.



Suasana kantin yang


sangat riuh dengan segala kegaduhan oleh siswa, diantara mereka yang sibuk


Dan sibuk memainkan ponselnya sedari tadi. Ben yang masih duduk dengan setia


menatap Kennie sambil tersenyum.


Entah apa yang membuat


Ben sangat menyukai bila gadis tomboy itu, namun dibalik wajah datarnya. Kennie


menyimpan sejuta pesona yang tidak pernah Ben lihat sebelumnya.


Merasa diperhatikan


Kennie mendongakkan wajahnya, “Sudah puas lihatnya? Gue bukan pejengan untuk


dilihat terus, sana lo pesan makan” ucap Kennie ketus


“Belum puas, Gue sudah


kenyang bila menatap bidadari tembok didepan gue” ucap Ben menggodanya.


Seakan Kennie ingin


menimpuk Ben dengan satu kali pukulan, namun ia masih dalam kewarasannya


menghadapi makhluk teraneh seperti Ben. Kennie menghela nafas lalu kembali pada


ponselnya.


Ben bingung harus


dengan cara apalagi agar bisa meluluhkan hati Kennie. Ben tersenyum miring, Ben


berdiri lalu berteriak keras. Semua siswa menoleh menatap Ben. entah hal apa


yang akan Ben sampaikan hingga suasana kantin menjadi hening.


“Terimakasih kepada


kalian semua, ada hal yang ingin gue sampaikan. Ini menyangkut hidup dan mati


gue” ucap Ben dengan suara toanya. Kennie menaikkan alisnya bingung. sepertinya


Ben melakukan sesuatu, entah itu apa, Kennie tetap acuh dan tidak mau


memperhatikan Ben.


Ben naik diatas meja,


memebuat semua siswa menatapnya dengan intens. Semua siswa berbisik.


“DIAM” teriak Ben


membuat semua terdiam


Ben menoleh menatap Kennie,

__ADS_1


ia kembali turun lalu melangkah kearahnya, Kennie menyerngit dahinya, Ben


menampakkan keseriusan diwajahnya. Ben meraih tangan Kennie yang langsung


berdiri. Mereka berhadapan. Ben ingin mengungkapkan semua yang ada di dalam


lubuk hatinya. Ben ingin membuka hati.


“Ken, sebenarnya sudah


lama gue ingin mengatakan semua apa yang gue alami setelah bersama lo. Gue


tahu, semua orang tahu. kalau kita ini adalah rival. Dengan cara tidak baik


kita bisa dekat. Berkat olimpiade itu. dan gue yang tidak pernah mengetahui


keberadaan lo disekolah.


Saat pertama kali lo


datang dicaffe dan duduk ditempat itu. gue merasa ada sesuatu dalam diri lo. Dan


saat gue mengetahui bahwa kita satu sekolah, gue senang banget.” Ben menghela


nafas “Lo mau enggak jadi pacar gue, sekaligus pendamping hidup gue?” ucap Ben


dengan satu tarikan nafas.


Hal yang paling tidak


sukai Kennie adalah menjadi pusat perhatian, apalagi dengan Ben merupakan salah


satu cowok populer disekolah.


“Maaf, Gue tidak bisa,”


jawab Kennie karena ia belum sepenuhnya percaya apa yang dikatan oleh Ben.


Kennie tahu ini terlalu


cepat baginya. Apakah secepat itu Ben melupakan Nina, kekasihnya dulu. apakah


cuman karena sebuah mata indah itu. Kennie beluum tahu. “Kenapa lo tolak gue?”


Tanya Ben


“Karena gue---“ jawab Kennie


“Nina” potong Ben


“Apakah ini karena Nina, lo tidak terima gue?” Tanya Ben lagi


Kennie hanya diam, ini


bukan situasi yang tepat untuk berdepat, apalagi harus didepan semua siswa.


“Sorry Ben, Gue harus


berfikir dulu. Apakah hatimu pada masalalu ataukah ini hanya pelampiasan


kerinduan lo pada Nina?” ucap Kennie  memberi pilihan, lalu pergi dihadapan Ben.


Sedangkan Ben hanya


terdiam tidak bisa berkutik “segitunya


kah, lo? Tidak bisa menerima gue” ucap Ben dalam diamnya. Semua siswa


menatap iba. Cowok populer itu ditolak oleh salah satu cewek yang terkesan


dingin dan berwajah tembok.


“Aduhhhh, seorang cowok


populer yang dikagumi semua cewek disekolah, ditolak sama cewek dingin berwajah


tembok seperti Kennie. ini adalah sejarah baru bagi seorang Ben” ledek Gerry


dengan gelak tawanya.


Ben berdecih tidak


suka, “Lihat saja nanti, gue akan taklukin hatinya. tidak sejarah bagi gue


ditolak” ucap Ben dengan penuh penekanan.


“Oke, gue tunggu,


buktiin” ucap Gerry menggebu-gebu


Ben mengusap wajahnya


frustasi, sejak penolakan Kennie dikantin. Ia merasa malu untuk menunjukkan


diri depan semua siswa SMA Garuda. Predikat cowok populer sudah tercemar.


“Gue juga bilang apa,


lo bakalan enggak bisa dapetin dia” sahut seseorang membuat keduanya menoleh.


Disana ada Jovan yang baru saja datang dan memasuki kelas, dengan santainya ia


duduk.


“Dia adalah adek gue,


kalau sampai lo sakiti dia, lo berhadapan dengan gue” ancam Jovan sambil


menatap tajam.


“Inget, Ini janji gue”


Jawab Ben penuh ketegasan


“Gue pegang janji lo”

__ADS_1


Balas Jovan menampakkan wajah smirknya.


__ADS_2