
Kennie membuka pintu
utama, ia terkejut melihat kedatangan Ben, yang sudah berdiri sambil melipat
kedua tanganya depan dada. Lalu menampakkan wajah smirknya. Pertanyaan Kennie, sejak kapan Ben berada di disini?
Kennie menghampirinya “Mau ngapain berada dirumah orang pagi-pagi?” Tanya
Kennie,
Ben memperbaiki
rambutnya yang acak lalu menatap Kennie “Mau jemput lo” jawabnya
Kennie menaikkan
alisnya bingung, “Jemput gue?” Tanya Kennie sambil terkekeh
“Gue bisa pergi
sendiri” lanjutnya
“Gue tidak terima
penolakan, karena gue datang jauh-jauh kesini. Capek tahu” dumel Ben
“Itu sih derita lo,
sapa suruh datang kesini. Tidak yang suruhkan” balas Kennie tidak kalah sengit
Ben memutar bola
matanya malas, ia malas untuk berdebat pagi ini, “Ide brilian” Ben manaikkan
alisnya lalu menyeret Kennie masuk kedalam mobil sport Ferrari milik Ben. ini
untuk pertama kali Ben menggunakan mobilnya setalah sekian lama, tidak terpakai
semenjak Nina tiada.
Kennie mendengus jengah,
lalu melipat kedua tangannya depan dada. Ben masuk kedalam jok kemudi dengan
senyum sumringah. “Gitu Kek, dari tadi” dumel Ben lalu menyalakan mesin dan
melajukan mobilnya.
Hanya ada keheningan
yang diselingi lagu Charlie puth yang berjudul, we don’t talk anymore.
Sesekali Ben menoleh
menatap Kennie yang sedang menghadap ke jendela mobil menatap luar.
“Bisa tidak mukanya
tidak triplek? Jelek tau” ucap Ben memecah keheningan, Kennie tersenyum miring.
Sungguh pagi ini sangat menyebalkan baginya. Cowok yang berada disampingnya ini
sangat aneh.
“Gue tidak mau” jawab
Kennie ketus,
Ia belum menunjukkan
senyum diwajahnya yang sedari tadi Ben tunggu. Kenapa Ben sangat susah sekali
untuk meluluhkan gadis pujaannya itu. Ben mendengus jengah karena sedari tadi
Kennie hanya diam saja. Dasar makhluk
aneh, pikir Ben.
Sekitar lima belas
menit mereka sudah sampai disekolah. Semua mata tertujuh pada mobil yang
memasuki parkiran. Ben keluar dari mobil memakai kacamata hitamnya, lalu
berjalan membuka pintu untuk Kennie.
“Ayokkk keluar, Gue
sudah ganteng begini masih saja dicuekin” ucap Ben dengan pedenya.
Kennie mengembungkan
kedua pipinya, lalu keluar dari mobil. Semua siswa berbisik satu sama lainnya.
Ben berjalan santai sedangkan Kennie melipat kedua tanganya depan dada acuh
karena seluruh siswa menatapnya dengan tatapan aneh.
Dari jauh Nova dan
Keyla menatap takjub tentang pemandangan yang mereka lihat. Keyla masih
mengucek matanya, sedangkan mata Nova masih memandang Kennie berjalan dengan
cowok populer itu.
Secara tidak sengaja
Ben memegang tangan Kennie secara tiba-tiba, Kennie tersentak kaget. Lalu
menatap Ben tajam. Ini adalah saatnya Ben menujukkan pada semua siswa.
“Gue anter lo kekelas”
pinta Ben
__ADS_1
Kennie menghentikan
langkahnya “Enggak perlu, Gue bisa sendiri” ucap Kennie ketus
“Please, kali ini aja” ucap Ben dengan wajah memelas,
Kennie memutar bola
matanya malas, Ben menunduk memasang wajah puppy
eyes. “Oke” jawabnya singkat membuat Ben langsung terjingkrak seperti
memenangkan undian berhadiah.
Ben langsung berjalan
sambil merangkul Kennie, namun ia langsung menepisnya. Karena Kennie merasa
risih,
“Kok dilepas sih?
biarkan begini saja” ucap Ben langsung lalu kembali merangkul Kennie.
MENYEBALKAN
Ben tersenyum penuh
kemenangan, Nova, Keyla tetap berdiri mematung sementara Ben dan Kennie
berjalan menghampiri mereka. “Wihh, kayaknya ada yang sudah jadian nih. Pejenya
mana?” pinta Keyla menampakkan senyum puppy eyesnya.
“Peje, buat apa?” Tanya
Kennie dengan tampang polosnya
Ben terkekeh
mendapatkan pertanyaan aneh, “Nanti, tunggu aja di kantin” ucap Ben membuat
Keyla kegirangan.
“Kayaknya tiap hari ada
yang bakalan nempel terus kayak prangko” ledek Nova yang mendapatkan tatapan
tajam dari Kennie.
Kennie kembali
melangkah menuju kelas, karena ia sangat malas meladeni kedua sahabatnya itu.
Suasana kantin yang
sangat riuh dengan segala kegaduhan oleh siswa, diantara mereka yang sibuk
Dan sibuk memainkan ponselnya sedari tadi. Ben yang masih duduk dengan setia
menatap Kennie sambil tersenyum.
Entah apa yang membuat
Ben sangat menyukai bila gadis tomboy itu, namun dibalik wajah datarnya. Kennie
menyimpan sejuta pesona yang tidak pernah Ben lihat sebelumnya.
Merasa diperhatikan
Kennie mendongakkan wajahnya, “Sudah puas lihatnya? Gue bukan pejengan untuk
dilihat terus, sana lo pesan makan” ucap Kennie ketus
“Belum puas, Gue sudah
kenyang bila menatap bidadari tembok didepan gue” ucap Ben menggodanya.
Seakan Kennie ingin
menimpuk Ben dengan satu kali pukulan, namun ia masih dalam kewarasannya
menghadapi makhluk teraneh seperti Ben. Kennie menghela nafas lalu kembali pada
ponselnya.
Ben bingung harus
dengan cara apalagi agar bisa meluluhkan hati Kennie. Ben tersenyum miring, Ben
berdiri lalu berteriak keras. Semua siswa menoleh menatap Ben. entah hal apa
yang akan Ben sampaikan hingga suasana kantin menjadi hening.
“Terimakasih kepada
kalian semua, ada hal yang ingin gue sampaikan. Ini menyangkut hidup dan mati
gue” ucap Ben dengan suara toanya. Kennie menaikkan alisnya bingung. sepertinya
Ben melakukan sesuatu, entah itu apa, Kennie tetap acuh dan tidak mau
memperhatikan Ben.
Ben naik diatas meja,
memebuat semua siswa menatapnya dengan intens. Semua siswa berbisik.
“DIAM” teriak Ben
membuat semua terdiam
Ben menoleh menatap Kennie,
__ADS_1
ia kembali turun lalu melangkah kearahnya, Kennie menyerngit dahinya, Ben
menampakkan keseriusan diwajahnya. Ben meraih tangan Kennie yang langsung
berdiri. Mereka berhadapan. Ben ingin mengungkapkan semua yang ada di dalam
lubuk hatinya. Ben ingin membuka hati.
“Ken, sebenarnya sudah
lama gue ingin mengatakan semua apa yang gue alami setelah bersama lo. Gue
tahu, semua orang tahu. kalau kita ini adalah rival. Dengan cara tidak baik
kita bisa dekat. Berkat olimpiade itu. dan gue yang tidak pernah mengetahui
keberadaan lo disekolah.
Saat pertama kali lo
datang dicaffe dan duduk ditempat itu. gue merasa ada sesuatu dalam diri lo. Dan
saat gue mengetahui bahwa kita satu sekolah, gue senang banget.” Ben menghela
nafas “Lo mau enggak jadi pacar gue, sekaligus pendamping hidup gue?” ucap Ben
dengan satu tarikan nafas.
Hal yang paling tidak
sukai Kennie adalah menjadi pusat perhatian, apalagi dengan Ben merupakan salah
satu cowok populer disekolah.
“Maaf, Gue tidak bisa,”
jawab Kennie karena ia belum sepenuhnya percaya apa yang dikatan oleh Ben.
Kennie tahu ini terlalu
cepat baginya. Apakah secepat itu Ben melupakan Nina, kekasihnya dulu. apakah
cuman karena sebuah mata indah itu. Kennie beluum tahu. “Kenapa lo tolak gue?”
Tanya Ben
“Karena gue---“ jawab Kennie
“Nina” potong Ben
“Apakah ini karena Nina, lo tidak terima gue?” Tanya Ben lagi
Kennie hanya diam, ini
bukan situasi yang tepat untuk berdepat, apalagi harus didepan semua siswa.
“Sorry Ben, Gue harus
berfikir dulu. Apakah hatimu pada masalalu ataukah ini hanya pelampiasan
kerinduan lo pada Nina?” ucap Kennie memberi pilihan, lalu pergi dihadapan Ben.
Sedangkan Ben hanya
terdiam tidak bisa berkutik “segitunya
kah, lo? Tidak bisa menerima gue” ucap Ben dalam diamnya. Semua siswa
menatap iba. Cowok populer itu ditolak oleh salah satu cewek yang terkesan
dingin dan berwajah tembok.
“Aduhhhh, seorang cowok
populer yang dikagumi semua cewek disekolah, ditolak sama cewek dingin berwajah
tembok seperti Kennie. ini adalah sejarah baru bagi seorang Ben” ledek Gerry
dengan gelak tawanya.
Ben berdecih tidak
suka, “Lihat saja nanti, gue akan taklukin hatinya. tidak sejarah bagi gue
ditolak” ucap Ben dengan penuh penekanan.
“Oke, gue tunggu,
buktiin” ucap Gerry menggebu-gebu
Ben mengusap wajahnya
frustasi, sejak penolakan Kennie dikantin. Ia merasa malu untuk menunjukkan
diri depan semua siswa SMA Garuda. Predikat cowok populer sudah tercemar.
“Gue juga bilang apa,
lo bakalan enggak bisa dapetin dia” sahut seseorang membuat keduanya menoleh.
Disana ada Jovan yang baru saja datang dan memasuki kelas, dengan santainya ia
duduk.
“Dia adalah adek gue,
kalau sampai lo sakiti dia, lo berhadapan dengan gue” ancam Jovan sambil
menatap tajam.
“Inget, Ini janji gue”
Jawab Ben penuh ketegasan
“Gue pegang janji lo”
__ADS_1
Balas Jovan menampakkan wajah smirknya.