
Kennie
terdiam menatap makam sahabatnya, ia masih tidak percaya bahwa sahabatnya pergi
begitu cepat. Jovan memberikan sebuah surat berwarna biru laut. “Ini Apa?”
tanyanya
“Baca
aja, mungkin lo akan tahu semuanya disitu” ucapnya Jovan menatap Kennie sendu.
Lalu membuka sebuah amplop berwarna merah bergambar. Kennie membaca dengan
seksama. Ia mulai membaca, tanpa ia sadari air bening jatuh begitu saja.
Setelah itu Kennie kembali menatap makam tersebut. “Terimakasih sahabat,”
ucapnya dengan lirih
“Jadi
mata ini Nina yang memdonorkan?” tanyanya yang diangguki oleh Jovan
“Kita
balik sekarang” ucap Kennie datar
Jovan
membiarkan Kennie duduk dengan tatapan datar, ada raut wajah kesedihan ia
rasakan saai ini. Kennie berdiri lalu pergi meninggalkan makam tersebut. Jovan
bisa merasakan keadaan Kennie. saat menatap mata itu, seolah menjadi kenangan
tentang adiknya tersebut.
“Gue
akan menjaga lo dengan sepenuh hati gue. karena gue sudah anggap lo seperti
adik gue sendiri, Ken” ucap Jovan dalam hati sambil sesekali menoleh lalu
kembali focus menatap jalan yang dipenuhi oleh kendaraan.
Kennie
masih terdiam, “Gue antar lo pulang” ucapnya yang diangguki Kennie
“Jadi itu cerita
lengkapnya,” ucap Kennie mengakhiri
Ben masih terdiam
terpaku lalu kembali menatap mata itu. mata yang dia rindukan selama ini.
adalah sebagian milik Nina.
“Boleh gue peluk lo,
sebentar saja” pinta Ben membuat Kennie terkejut
“Bo-boleh” jawabnya
gagap
Ben langsung saja
memeluk Kennie, Hingga membuatnya merasa keanehan dalam dirinya. Entah itu apa?
Kennie tidak tahu. tetapi ia sudah menyampaikan pesan dari sahabatnya itu.
hingga membuatnya merasa lega.
Cowok yang menyebalkan
itu membuatnya terpaku. Ben melepaskan pelukan itu, lalu menatap mata indah
Kennie. ada senyum menawan. Mata indah itu sudah melekat pada gadis tomboy itu.
“Makasih rasa rindu gue
sudah terobati” ucapnya, Kennie mengangguk mengiyakan
“Aduh, enak banget ya,
__ADS_1
dipeluk mau dong” ledek Gerry berdiri dibelakang mereka. seketika keduanya
menoleh.
“Sinis amat tampangnya,
kompak lagi” lanjutnya sambil terkekeh
“Heh, somplak ganggu
aja lo” balas Ben
Jovan baru saja datang
langsung menyerngit dahinya bingung. “Ternyata sahabat kita yang satu ini lagi
kasmaran cuy” ucap Gerry
Jovan hanya tersenyum
tipis menanggapinya, “Gue cabut dulu” ucap Kennie lalu pergi meninggalkan
keduanya.
Suasana kantin cukup
ramai, Kennie, Nova, dan Keyla sedang berada ditempat ramai itu. sebenarnya ini
bukan kemauan Kennie berada ditempat ramai seperti ini. tetapi kedua sahabatnya
yang memaksanya untuk makan. Karena ia tahu Kennie tidak akan menginjakkan
kakinya dikantin bila tidak dipaksa.
Kennie mendengus sebal
sedari tadi ia menunggu Keyla sedang memesan makanan. Ia memainkan ponselnya.
Terlintas dibenaknya tentang kejadian tadi pagi. Mengapa juga ia harus memiliki
rasa yang entah sejak kapan itu muncul begitu saja. Nova yang melihat Kennie
sedang gelisah.
“Woi, kenapa dari tadi
melamun mulu?” Tanya Nova
mengendikkan bahu, Keyla datang dengan membawa tiga mangkuk mie ayam. Seketika
Kennie langsung mengambil dan melahapnya. Nova dan Keyla menatap terkejut.
“Woi, santai dong.
Pelan-pelan makannya, nanti keselek lo” Oceh Nova,
Ben, Jovan, dan Gerry
memasuki kantin, Ben menebar senyum kesemua siswi. Mata Ben berhenti, tepat
saat Kennie sedang makan. Nova yang mendongak langsung saja memukul bahu
Kennie. “Ada Ben yang tatap lo”
UHUKKK
“Ini minum dulu,
makanya kalau makan pelan-pelan” dumel Keyla
“Baru gue bilang” Oceh
Nova lagi
Ben datang menghampiri
lalu duduk disamping Kennie, muka yang penuh dengan kotoran makanan sehingga
Ben tersenyum lebar lalu membersihkan mulut Kennie dengan lembut.
Kennie terpaku,
sedangkan Ben menampakkan wajah cengiran. “Kalau makan jangan blepotan” oceh
Ben yang tidak diindakkan oleh Kennie. dan mereka menjadi pusat perhatian.
Ahh
__ADS_1
so sweet banget siihh
Aku
juga mau
Kenapa
juga cewek yang tidak pernah nongol itu disukai Ben, huffhh
Babang
Ben, Aku aja
Begitulah tanggapan
siswi lainnya, Ben dan Kennie menjadi pusat perhatian dari cowok populer, makan
Kennie beranjak dan pergi begitu saja. Meninggalkan kedua sahabatnya serta Ben.
Kennie merasa risih karena menjadi pusat perhatian.
Saat ini Kennie berada
di rooftop, ia membuka seragamnya menampakkan baju kaos putih. Seragam ia
lembar kearah sofa. Lalu memasang kain berwarna putih. Kennie memukul samsak
kuat. Setelah beberapa kali memukul samsak. Kennie duduk menyandarkan badannya
pada sofa kumuh. Sejenak ia memikirkan kejadian dikantin, Ben membuat pikiran
kacau.
Seulas senyum saat
mengingatnya, Apakah dirinya sedang jatuh cinta pada cowok tengil itu. Ahh, ini
adalah hal paling konyol. Kenapa juga harus cowok tengil itu sih. pikirnya.
Kennie masih bingung
dengan perasaan sendiri. Cowok tengil itu merupakan rivalnya disekolah.
Terlebih lagi ia pernah menjalin kasih dengan sahabatnya. Ia mengusap wajahnya
gusar.
“Tidak usah diucek juga
kali wajahnya, nanti lecek lo” ucap seseorang membuat Kennie menoleh melihat
siapa yang menghampirinya
“Ben?” gumamnya
Ben menampakkan wajah
cengirannya saat duduk disamping Kennie. Ben melihat wajah Kennie yang
berkeringat “Pantesan aja berkeringat. Abis pukul samsak ya” ucap Ben selembut
mungkin.
Kennie masih bingung
dengan Ben padanya, Ben mengusap wajahnya yang basah. “Ada apa dengan Elo sih,
Tengil?” Tanya Kennie dalam hati, ia masih tidak menanggapi ucapan Ben.
“Jangan diliatin, entar
jatuh cinta lagi” ucap Ben dengan pede tingkat akut,
“Gue bisa sendiri”
tukas Kennie
“Ini diminum dulu,
pasti capekkan” Ben menyodorkan sebotol air mineral, Kennie terdiam. “Di ambil
kenapa diam aja?” Tanya Ben lagi
Kennie mengambil lalu
meminumnya hingga tandas, Ben melongo “Lo haus banget ya” gumam Ben.
__ADS_1
“Makasih ya” ucap
Kennie tersenyum