
Rasty masih asyik menikmati perasaannya saat ini, senyum manis terus terbit dari bibir merah chery alami itu, hati dan pikirannya kini seolah menjelma menjadi taman bunga yang begitu indah, bermekaran warna warni harum mempesonakan.
Jujur ini pertama kalinya Rasty merasakan seperti ini. mengingat kedua orang tuanya yang sangat over protective padanya mbuat Rasty tak memiliki kebebasan untuk bergaul dan berteman dengan Anak - anak seusianya, ruang gerak pergaulannya selalu diawasi dengan ketat hal itu wajar karena orang tuanya menginginkan yang terbaik untuk putri satu - satunya.
Mereka tak ingin putrinya terjerumus pada pergaulan yang salah mengingat zaman yang mulai salah kaprah juga saat ini. Meski terkadang hal itu seperti menjadi sebuah ketidak adilan yang mengekang kebebasannya namun sebenarnya itu adalah cara tepat untuk menjaganya dari hal yang kurang baik.
Rasty memang sekarang sudah berusia 18 tahun dan itu artinya ia sudah dewasa tapi bukan berarti itu syarat mutlak untuk mendapatkan kebebasannya. Kedua orangtua Rasty bukanlah orangtua yang tak tahu perkembangan zaman tapi prinsip tetaplah prinsip yang telah Ayahnya yakini dan itulah yang harus diterapkan untuk putri kesayangannya.
tritthh
Suara bunyi notifikasi dari Handphonenya mengembalikan kesadaran Rasty yang tengah melayang - layang di udara dengan bebas.
Sagaπ©
Aku udah sampai rumah dengan selamat, sekarang kamu tidur aku juga mau tidur.π΄
Rasty membaca isi pesan itu seketika bibirnya melengkung menerbitkan senyuman tanpa menunggu lama ia pun langsung membalas pesan tersebut
Rasty π©
ia lega denger nya, nggak yakin kamu langsung tidur pasti masih harus kerjain pekerjaan kantor π€
Saga π©
nggak aku beneran istirahat badan aku rasanya capek dan kurang fit
Rastyπ©
kamu sakit ?
tadi ok ok saja kulihat
Saga π©
nggak cuma capek, istirahat cukup pasti baikan lagi, aku ngantuk kita tidur yuk
Rastyπ©
selamat istirahat Saga,
Setelah saling berbalas pesan Rasty pun tak seberapa lama juga langsung ikut terlelap memasuki alam bawah sadarnya, berharap mendapatkan mimpi yang indah mengingat hatinya sedang penuh warna dan seolah bergejolak bahagia
πππ
Adzan subuh telah berkumandang saling bersahutan antara satu pengeras masjid dengan masjid lainnya. Rasty pun menggeliatkan tubuh nya mencari peregangan. Hal ini seperti ini memang sudah menjadi keharusan bangun tepat saat jam subuh kecuali saat ia sedang libur beribadah
" Hoammm "
ia tampak berusaha mengusir rasa kantuknya, sesaat kemudian ia kembali teringat pada Saga kembali
kemudian cepat - cepat ia mengambil handphone yang semalam ia letakkan di meja nakas
__ADS_1
Rasty π©
gimana apa kamu udah kembali baik setelah istirahat , jangan lupa bangun sholat subuh dulu ya
Tak menunggu pesan balasan Rasty segera berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudhlu dan segera menyelesaikan kewajibannya.
setelah selesai Rasty melipat dan merapikan kembali peralatan sholat nya kemudian kembali meraih hand phone nya berharap ada balasan chat dari Saga, namun seketika raut wajahnya menjadi pias jangankan mendapat balasan bahkan pesan yang ia kirimkan justru hanya terdapat tanda cek list
" yahh, mungkin handphone belum diaktifkan dia pasti belum bangun "
Rasty bergumam sendiri mencoba menetralisir kekecewaannya saat ini. kemudian ia beranjak pada meja belajarnya mempersiapkan buku - buku pelajaran miliknya yang sesuai jadwal pelajaran sekolahnya hari ini. ia pun kembali mengechek tugas tugas sekolahnya yang sudah ia kerjakan hal seperti ini merupakan aktivitas rutinya karena Rasty merupakan siswa yang cukup smart dan memiliki catatan akademis yang mumpuni, karena ia memiliki cita - cita menjadi dokter ahli kejiwaan ataupun psikiater.
Jarum Jam telah menunjukkan pukul 06.00 Rasty pun telah bersiap dengan seragam sekolahnya dan beranjak turun ke lantai bawah untuk sarapan dengan kedua orang tuanya sebelum Saga menjemputnya seperti biasanya.
" selamat pagi, Ayah, Bunda "
sapanya dengan wajah cerianya
" pagi juga nak "
jawab keduanya bersamaan
" ceria banget anak gadis Bunda, lagi happy ya ?"
" bunda kayak nggak tahu saja putri kita ini sepertinya sedang terjangkit virus merah jambu "
sang Ayah pun tak mau kalah kini ikut menggoda sang putri
sanggahnya
" iya deh kita nurut apa kata kamu saja nak "
" tapi Rast , ingat selalu pesan Ayah meski saat ini Ayah dan Bunda memberi izin kamu untuk pulang dan pergi sekolah dengan Saga, sebagai perempuan kamu tetap harus waspada dan jaga diri kamu baik - baik. Ayah tahu antara kalian ada perasaan lain selain sebagai teman. tapi kamu harus ingat tak ada laki - laki dan perempuan itu yang murni berteman pasti akan ada timbul rasa selain itu "
" iya Yah Rasty tahu, aku pasti menjaga diriku dengan baik Ayah dan Bunda jangan khawatirkan itu "
" satu lagi tolong jaga kepercayaan dan kebebasan Ayah dan Bunda jangan kecewakan kami ya Nak "
Ayah melanjutkan lagi
" Sayang... kamu ingat perempuan itu memiliki harga diri dan kehormatan yang harus kamu jaga dan pertahankan jangan sampai perasaan kamu melemahkan itu karena perempuan itu tidak ubahnya gelas ketika sudah retak atau pun pecah tidak akan bisa di perbaiki lagi. ingat pesan Bunda ya sayang "
" iya Bunda "
keduanya saling bersitatap dengan perasaan yang mendalam, dari manik mata Bunda mengisyaratkan pengharapan yang sangat besar dan Rasty tahu itu
" ya Sudah cepat selesaikan sarapan kamu, Ayah harus berangkat pagi karena hari ini ada Apel pagi "
Ayah pun telah menyelesaikan sarapan paginya dan langsung berangkat ke POLRES dan Bunda seperti biasa mengantarkan hingga ke depan pintu kemudian mencium punggung tangan Ayah dan Ayah mencium kening Bunda pemandangan itu sudah menjadi rutinitas yang Rasty saksikan selama kurang lebih tiga belas tahun sepanjang ingatan Rasty berfungsi dengan baik. Tapi sebenarnya hal itu sudah terjadi dan berlaku sejak hampir 30 tahun semenjak Bunda bergelar sebagai istri dan Ibu bayangkari.
Tak berselang lama sebuah motor sport memasuki pekarangan rumah sederhana itu, sang pengendara pun turun dan membuka helm nya kemudian menuju ke Ayah Rasty ya g kini tengah bersiap membuka pintu mobilnya
__ADS_1
" selamat pagi Yah , sudah mau berangkat tugas yah "
ucapnya sambil menyalami dan mencium punggung tangan perwira polisi berpangkat tiga bintang itu.
" selamat pagi Saga, iya Ayah ada Apel pagi titip putri Ayah ya, ingat jangan kebut - kebutan dan tetap taati peraturan lalu lintas dan berkendara "
" siap laksanakan "
jawabnya seraya bersikap dengan tangan memberi hormat, seketika Ayah Budi pun tertawa renyah
" baiklah Ayah berangkat dulu "
" silahkan hati - hati dijalan Yah "
Tak berselang lama Rasty pun sudah berada tak jauh dari tempat Saga berdiri dan Bunda pun berdiri tak jauh darinya
" hey.. sudah baikan Ga ?"
" iya, udah kok. berangkat sekarang?"
" iya "
" aku pamit Bunda dulu "
Saga pun berjalan berpamitan pada Bunda yang sejak tadi hanya tersenyum menyaksikan interaksi pemuda itu dengan suaminya sebelum berangkat tadi
" kami berangkat Bunda "
Saga pun menyalami tangan Bunda
" oh iya, bekal kamu Bunda titipin sama Rasty ya, kamu pasti nggak sempat sarapan "
" Bunda tak perlu repot - repot , nanti Saga bisa sarapan di kantin sekolah kok "
" tidak repot kok cuma tinggal masukin ke kotak bekal "
" terimakasih Bunda kami berangkat "
" hati - hati di jalan ya "
Rasty pun naik ke boncengan motor Saga setelah berpamitan dan memakai helm serta masker tak lupa jaket jeans ia kenakan untuk melindunginya dari rasa dingin saat di perjalanan.
Rasty pun memegangi ujung jaket Saga karena sejujurnya ia takut jika tak berpegangan akan jatuh, Saat memasuki jalan raya Saga pun menjalankan motornya dengan kecepatan lumayan laju sehingga Rasty mendadak panik
" Saga... bawa motornya jangan kenceng begini aku takut nih "
Rasty sedikit berteriak agar suaranya di dengar oleh Saga, Justru Saga malah terkekeh dan menambah kecepatanya lebih kencang lagi , tak mau sesuatu yang buruk terjadi Rasty pun segera melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Saga dan memeluknya dengan erat. menyadari hal itu Saga tersenyum tipis dan segera menormalkan kecepatan motornya
" Makanya kalau di boncengi tuh pegangan yang bener gini "
ucap Saga sambil memegang tangan Rasty yang melingkar di perutnya itu
__ADS_1
sesaat keduanya terasa canggung jantung mereka berdetak tak beraturan karena kini keduanya sangat dekat hanya terbatas pakaian dan jaket yang mereka kenakan, entah perasaan apa ini yang pasti mereka menikmati rasa itu.