Tentang Saga

Tentang Saga
27. Ke kawatiran Saga


__ADS_3

Pelajaran sekolah telah berakhir, Saatnya untuk pulang Saga dan Rasty pun bergegas ke parkiran karena hari ini Rasty akan kerumah Saga untuk menemui Mama Novita. Semenjak pergantian status mereka tempo hari kedua remaja yang tengah dilanda virus merah jambu kini terlihat tampak sangat bahagia terlihat jelas mereka sangat menikmati setiap detik waktu kebersamaaan mereka lalui dengan penuh rasa bahagia, ingin selalu bersama seperti layaknya pasangan remaja lainnya.


Rasty kini tampak menempel erat di punggung Saga persis seperti tas rangsel kedua tanganya melingkar diperut Saga meskipun berkendara dengan kecepatan normal namun Saga tetap berkonsentrasi memacu kuda besinya membelah jalanan menuju ke rumah Saga, sesekali diselingi dengan canda tawa yang membuat keduanya merasa sangat bahagia.


" Ga.... jadi nanti kalau Mama kamu beneran mau berobat ke Malaysia kamu cuma sama Arga dhonk dirumah itu "


tanya Rasty disela kebersamaan mereka


" Kak Arga juga bakal eyang bawa kesana tadi malam beliau memberitahu jika semua sudah dipersiapkan termasuk perawat yang akan membantu kak Argha nantinya, jadi Eyang bilang aku hanya harus fokus belajar dan menjalankan perusahaan dan... "


" apa ?"


" dan... fokus macari kamu "


"isshh.. kok gitu emang kamu nggak takut sama Ayah kok berani - beraninya mau enak - enakan macari anak gadisnya kelamaan "


" kalau soal itu sih kamu tenang saja, aku bisa saja kok secepatnya jadikan kamu pacar halal ku "


" ngawur kamu,.. yang ada tuh kamu nanti setelah lulus bakal langsung diminta buat nikahin Sesha iya "


" kalau gitu sebelum itu terjadi aku bakal minta kamu ke Ayah buat aku nikahin terlebih dulu "


" ehh... kamu ya masih juga bau kencur dah mikir kejauhan "


" kok kejauhan sih, denger ya kita deketan gini tuh kalau kelamaan juga bakal numpuk dosa loh "


" ya udah jauh - jauh sana biar nggak dosa "


Rasty pun melepaskan pelukan tangan yang melingkar di perut Saga


" ya nggak gitu juga kali Rast.. baru juga jadian kamu malah main jauh - jauhan "


" tapi kalau deketan numpuk dosa "


Rasty pun memanyunkan bibir mungilnya hingga membentuk kerucut


" kalau selama Dosanya bikin happy gini nggak apa- apa deh,, aku rela kok "


Selama hampir 30 menit menempuh perjalanan dari sekolah akhirnya mereka sampai dirumah Saga


" Rast... udah sampai nih, mau lanjut tidur di punggung aku atau lanjut di kamar aku ?"


Saga berbisik seraya menggoda kekasih hatinya, hingga membuat sang gadis reflek mencubit perutnya


" auh... sakit tahu, kamu ternyata ganas juga jadi nggak.. "


belum lagi dilanjutkan ucapanya sudah terlebih dulu dipotong oleh Rasty


" awas aja kamu macem - macem nggak ingat apa Ayahku seorang perwira polisi loh "


" haahaaa... kok jadi bawa jabatan sih sayang "


" idihh... berani kamu pakai sayang sayangan sekarang "


" emang beneran sayang... cinta juga sih "

__ADS_1


" hemmmsss... gombal "


" ya udah masuk yuk,.. haus gerah juga nih pingin yang adem adem seger "


Saga pun meraih tangan Rasty dan segera menggandengnya untuk di bawa masuk ke dalam rumah tiga lantai yang cukup megah dan besar itu namun terlihat sangat sepi


langkah keduanya terhenti di ruang keluarga saat mendapati sesosok wanita paruh baya yang tengah duduk berhadapan dengan anak lelakinya, sungguh pemandangan yang tak pernah terlihat selama beberapa tahun ini, lebih tepatnya semenjak sang Mama mengalami depresi berat. Ya... Mama Novita sedang duduk bersama Arga putra keduanya yang memiliki kebutuhan khusus, selama ini keduanya seperti orang asing yang tidak saling mengenal yang memiliki dunia mereka sendiri- sendiri.


" Assalamualaikum Ma.. , Arga "


ucap Rasty seraya mengurai rasa keterkejutanya


" Kamu datang nak,.. "


jawab sang Mama dengan senyum dan ekspresi datarnya, Rasty pun menyambut tangan perempuan itu untuk menyalaminya


" Mama sehat ?, oh iya sedang apa ini ? "


" dia bilang Mamaku jadi aku mau ajak main "


jawab Arga dengan polosnya


" oh.. begitu ya "


terlihat Arga dengan mainan mobil - mobilan dan juga beberapa pewarna dan kertas tampak berserakan di meja


" Rast.. aku ke kamar dulu ya ganti baju "


seru Saga sambil beranjak berjalan menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban Rasty


" iya aku mau bobok siang dulu , dadah.. Mama ,dadah teman cantik "


kemudian lelaki berusia dua puluh tahun itu berlalu dari ruangan tersebut dengan membawa mainannya menuju kamar pribadinya.


" Ma... "


panggil Rasty pelan dan wanita itu pun menoleh dan tersenyum


" bantu Mama berkemas ya Nak, Mama mau pergi Lusa "


" iya Ma, tentu mari kita ke kamar Mama mempersiapkan semua keperluan Mama yang akan di bawa"


merekapun berjalan beriringan menuju kamar selayaknya ibu dan anak keduanya tampak begitu dekat.


kondisi kejiwaan Mama Novita memang belum stabil namun jika sedang baik - baik saja seperti saat ini akan tampak seperti orang normal pada umumnya


" Nak,.. selama Mama pergi kamu jaga diri bai k- baik ya, Mama mau sembuh untuk kalian semua anak - anak Mama "


wanita itu berucap sambil memasukkan beberapa potong pakaianya meskipun pandanganya masih tampak kosong namun setidaknya itu sudah lebih tenang.


" tentu mama ,.. Mama disana semangat ya berobatnya biar cepat pulih dan bisa kembali kerumah ini, Saga , Arga dan aku sangat membutuhkan Mama terutama Arga, jadi Mama harus semangat ya "


Mama Novita pun hanya diam sembari menerbitkan senyuman tipisnya. dari raut wajahnya terlihat jelas sisa guratan kesedihan dari masa lalu yang menimpanya hingga memporak porandakan kehidupanya yang dulu sangat bahagia dengan anak - anak dan suaminya. kini keadaan berbanding berbalik 180 derajat dari sebelumnya.


" titip Saga ya "

__ADS_1


ucapnya kembali sambil mengelus wajah ayu Rasty


" iya Ma Mama tenang Saga pasti akan baik - baik saja disini "


" Setelah ini Saga akan sendirian disini, apa dia bisa merawat dirinya dengan baik nantinya "


" Mama Novita tenang saja Saga pasti akan baik - baik saja, Saga itu orang yang kuat, dia pasti bisa ngurus dirinya dengan baik, Mama fokus saja dengan kesehatan dan pengobatan disana biar secepatnya pulih"


" maukah kamu berjanji akan terus menemani Saga ?"


suara Mama novita terdengar pelan dan penuh harap hingga membuat Rasty merasa tidak tega selain dengan menjawab mengiyakan


" iya.. Rasty janji, tapi Rasty juga minta Mama berjanji juga kalau bakal semangat buat sembuh demi Saga dan Arga "


Mama novita tampak mengangguk dengan sedikit senyum menembang, sebelum akhirnya mereka menyelesaikan acara berkemas.


Jarum jam sudah menunjuk pada angka 14.30 Rasty masih berada dirumah Saga setelah membantu berkemas Rasty pun kini tengah bersantai di gazebo belakang ditemani Saga lengkap dengan minuman Lemon Tea hangat kesukaan Rasty yang di request pada Bik Minah tadi serta beberapa camilan sebagai pelengkapnya.


" Jadi besok sore bisa kan antar Mama dan kak Arga ke bandara ?"


ucap Saga memulai percakapan mereka


" iya, mana mungkin aku nggak ikut "


" huuffff... sebentar lagi rumah ini pasti akan bertambah sepi setelah Mama dan Kak Arga pergi "


Saga tampak berbicara dengan pandangan mata menerawang jauh entah kemana


" kan masih ada mbok Minah, dan pak Taryo"


" kamu juga nanti bakalan ninggalin aku kan ?"


" aku kan perginya buat menuntut ilmu untuk masa depan nanti "


" tidak menutup kemungkinan kalau nanti beasiswa kamu disetujui kamu juga bakal pergi ninggalin aku sendiri di sini "


tampak sekali gurat kesedihan di wajah pemuda berusia 19 tahun itu, mungkin untuk kebanyakan seumuran dia hanya memikirkan sekolah dan bermain bersenang - senang dengan teman- temannya, namun itu tak berlaku untuk seorang Saga semua karena keadaan yang memaksanya hingga menjadi terbiasa dan akhirnya bisa


" apa artinya kamu kurang setuju dengan rencanaku akan masa depan nantinya ?"


" entahlah ... yang pasti aku hanya tak sanggup jika harus kamu tinggalkan, semenjak mengenalmu selama setahun ini aku mulai menemukan keyakinanku untuk berjuang dan juga bertahan. kamu yang sudah merubahku menjadi lebih percaya diri menghadapi kehidupan ini Rast"


Saga tertunduk dengan mata berkaca - kaca menahan airmata andai saja dia bukan lelaki pasti dia sudah menumpahkan air matanya, namun ia sadar sepenuhnya tak mungkin lelaki sejati akan menjatuhkan airmatanya karena hal temeh remeh seperti ini.


Tanpa berkata- kata lagi Rasty menarik lengan Saga kemudian memeluk tubuh jangkung itu sebagai penguatan.


" udah ya, sekarang jangan lagi bahas hal yang belum tentu terjadi, aku janji aku akan selalu bersamamu menemani kamu selama kamu mau dan kamu ingin "


Kini bergantian Saga yang memeluk Rasty dengan segala perasaan yang ia rasa sesekali ia mengecup pucuk kepala Rasty yang masih berkuncir ekor kuda, seketika ada damai dan rasa tenang yang menentramkan jiwanya.


" terimakasih kamu sudah hadir dalam hidupku, aku janji nggak akan pernah menyerah dan berhenti memperjuangkan perasaanku sehingga aku bisa leluasa memiliki seluruh hati juga jiwamu, bantu aku menghadapi belengu itu Rast "


Rasty hanya mengangguk sambil menegadahkan wajahnya sehingga dapat melihat dengan jelas wajah pemuda yang kini memeluknya dengan erat.


Lama mereka terdiam dengan saling menenangkan gejolak perasaan masing - masing hingga keduanya telah benar - benar merasa lega dan tenang. karena cinta yang sesungguhnya akan memberikan rasa tenang dan Nyaman ketika bersamanya.

__ADS_1


Begitupun dengan Saga yang kini tengah bergejolak dengan pemikiran dan segala kekhawatiranya terhadap perasaan takut kehilangan sosok yang membuatnya selalu merasa nyaman dan menjadi menyemangatnya saat ini, mungkinkah ini keegoisan yang timbul sebagai efek dari rasa cinta itu entahlah, setidaknya Saga hanya ingin tetap bersama gadis sederhana pemilik hatinya saat ini.


__ADS_2