
Hari hampir petang ketika Saga mengantarkan Rasty untuk pulang kerumah kedua orang tuanya,kali ini Bunda Riyanti dan Ayah Budi tengah bersantai di teras depan sambil bercengkrama mereka baru saja selesai melakukan panggilan video call dengan putra kedua mereka yang saat ini sedang menjalani masa pendidikan sebagai calon anggota POLRI, kurang lebih 6 bulan lagi masa pendidikannya berakhir, dan kemudiannakan mulai penugasan.
" Assalamu alaikum Ayah, Bunda "
sapa keduanya setelah sampai di teras rumah
" waalaikumsalam,.. nak "
" Ayah , Bunda maaf ya kesorean antar Rasty pulangnya soalnya tadi Mama masih ingin berlama - lama dengan Rasty dan juga kak Rangga masih tampak betah bermain dengan Rasty "
" iya nggak apa kok nak, selama Rasty juga nggak keberatan kami juga santai kok nak "
" terimaksih banyak Ayah dan Bunda juga Rasty sudah banyak membantu dan sering di buat repot oleh Mama dan kak Arga "
" jangan bicara begitu nak, kita hidup ini harus saling membantu dan saling menolong sesama, Ayah justru senang jika anak Ayah menjadi orang yang dibutuhkan untuk orang lain "
" Ayah apaan sih "
celoteh Rasty sambil merangkul dari belakang tubuh ayahnya yang tengah duduk di kursi kayu teras rumah
" Saga duduk dulu, sudah lama Ayah tidak ngobrol denganmu belakangan ini Ayah agak sibuk "
serunya sambil menarik kursi kayu yang kosong disebelahnya
" terimaksih Yah "
sementara Rasty masih bergelayut manja dengan sanga Ayah, karena memang Rasty sangat manja jika dengan Ayahnya, hal itu tak luput dari penglihatan Saga yang turut merasa sedikit heran pasalnya selama bersama dengan Rasty gadis itu sama sekali tak menunjukkan sifat manjanya justru sebaliknya dia terlihat lebih dewasa terutama saat sedang mengiatkan Saga
" Sayang.. kenapa kamu manja seprti itu pada Ayahmu kamu nggak malu ada Saga lo "
__ADS_1
Bunda Rianti tampak memberi peringatan pada anak gadisnya
" memangnya kenapa Bunda kan Rasty masih rindu dengan Ayah , itu mah bodo amat Bund"
" kamu nggak malu sudah mau lulus SMA masih kolokan seperti ini ?"
" nggak kan Rasty seperti ini cuma dengan Ayah dan Bunda "
jawabnya santai kemudian berdiri disamping sang Ayah
" sayang ambilkan minum untuk Saga dhonk biar ada temen Ayah minum Teh "
seru Sang Bunda
" oh iya,.. tunggu sebentar ya Ga "
Rasty pun melangkah menuju dalam rumah untuk meminta Teh hangat pada Bik Narti
ucap Ayah Budi setelah putrinya masuk kedalam rumah, sem3ntara Saga hanya tersenyum tipis merespon perkataan sang Ayah
" wajarlah Yah jika Rasty manja seprti itu kan anak bontot dan perempuan satu- satunya pula "
sela Saga yang memang sangat paham dengan karakter pujaan hatinya saat ini
" syukurlah kamu bisa memahaminya Saga, terkadang Ayah merasa kuatir dengan sikap manjanya pada kami jika Ayah dan Bunda jauh darinya akan menyusahkan dia sendiri nantinya, dan karena hal itulah sekarang Ayah memberi kelonggoran untuk bergaul tentunya dengan Ayah meminta bantuan kamu untuk mengawasinya "
" Terimakasih untuk amanat ini Yah, tapi kalau boleh jujur ini tu semacam simbiosis mutualisme , kami saling membutuhkan. Rasty butuh Saga sebagai pengawalnya dan keluarga Saga membutuhkanya sebagai penganti sosok yang telah hilang dalam keluarga kami "
Saga tampak lebih serius dan tampak sekali ada gurat kesedihan yang kini menaungi pikiranya
__ADS_1
" Ayah percayakan Rasty padamu, Ayah sadar di jaman sekarang pergaulan anak muda tentulah sangat berbeda jauh dengan zaman ketika Yah muda dulu, karena itu Kami sebagai orang tua sering merasa was - was, meskipun kami sudah memberikan edukasi - edukasi yang akan menjadi bekal untuk anak - anak menjalani proses menjalani masa depannya namun rasa khawatir tetap saja ada. kami percaya Rasty anak yang cukup cerdas untuk menangkap semua arahan dan ilmu yang kami bekalkan salah satunya ilmu Agama sehingga ia dapat membedakan mana yang boleh dan tak boleh sebagai batasan dalam bergaul ataupun menjalin sebuah komitmen "
Ayah Rasty menjeda dengan menyruput secangkir Teh yang sedari tadi telah tersaji di atas meja, kenudian melanjutkan lagi pembicaraannya
" Ayah tahu kalian berdua saling memiliki ketertarikan sebagai lawan jenis, dan itu manusiawi Ayah juga tahu usia kalian saat ini memang fasenya, hanya saja ingat pesan Ayah jaga diri kalian masing - masing jangan melampaui batasan akibat gejolak perasaan kalian yang masih labil. mengikuti rasa suka ataupun cinta itu tidak salah tapi jangan menyertakan hawa nafsu sebagai pengacaunya. Ayah rasa kalian cukup faham mencerna perkataan Ayah. seindah apapun perasaan kalian saat ini tentu harus disertai dengan control. ingat kalian masih punya cita - cinta dan harapan untuk masa depan fokys kalian saat ini adalah belajar dan belajar untuk pendidikan kalian diatas segalanya, karena itu nantinya yang akan kalian butuhkan untuk menunjang mewujudkan perasaan kalian yang pastinya tengah bermekaran saat ini"
Rasty dan Saga masih terduduk sambil tertunduk merenungi nasehat dan wejangan dari sang Ayah.
" maaf.. Yah, juka Saga belum bercerita tentang status hubungan saya dan Rasty, tapi saya tak bermaksud tidak jujur"
Saga pun seolah tertantang untuk memberi penjelasan dengan status hubungan mereka
" Ayah tahu kamu lelaki yang gentle Ayah percaya padamu kamu pasti busa menjaga Rasty dengan baik "
" terimakasih Yah, Bunda Saga akan berusaha mewujudkan dan menjaga kepercayaan itu, karena saya tahu Rasty sangat berharga "
" Kami merestui hubungan kalian untuk menjalin komitmen tapi tetap Restu untuk mempersatukan kalian akan kami berikan saat kalian nanti sudah cukup mampu dan matang setidaknya sampai kalaian menyelesaikan study kalian"
kini giliran sang Bunda yang memberi wejangan
" karena menjalani pernikahan itu bukan perkara sepele, butuh kedewasaan dan juga modal yang mumpuni bukan hanya secara financial tapi secara mental juga mengingat menyatukan dua karakter yang berbeda itu tidak mudah nak "
" bunda... kok berat banget sih wejangannya udah kayak kita mau minta dinikahkan sekarang juga, padahal kan kami cuma berkomitmen selayaknya apa yang anak seusia kami rasakan, bukanya mau minta dikawinkan "
Rasty menyeletuk dengan Pipi yang telah merona menahan malu, pasalnya wejangan dari Ayah dan bundanya memang terdengar seperti mengarah kesana
" Bunda tahu sayang, hanya saja terkadang pergaulan zaman sekarang yang menjadikan kami sebagai orang tua merasa was - was, tapi kami percaya Saga adalah anak yang baik dan bertanggung jawab kok, makanya kami memberi izin, jika selama ini Ayah terlalu memproteksi kamu karena menjaga anak gadus itu lebih susah nak seperti menjaga berlian yang berada dalam kaca yang tipis jika salah saja meletakanya bisa - bisa kaca itu retak "
" sebentar lagi kalian lulus SMA dan kalian akan melanjutkan ke perguruan tinggi tentu kalian sudah memiliki rencana untuk mengambil langkah apakan ? kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan memberi arahan seperlunya , karena kalian bukan berasal dari keluarga sultan seperti yang ada dalam negeri pernovelan yang mau apa, butuh apa tinggal menjentikan jari, kalian berasal dari keluarga sederhana Rasty ayahmu sebagai abdi negara dengan gaji ya yang.. kamu tahu sendiri kisaranya, dan Saga yang harus mandiri menjalankan usaha keluarganya "
__ADS_1
keduanya kini tampak sangat paham dengan wejangan orang tua Rasty
Hari mampir petang dan suara adzan pun telah berkumandang Saga diminta untuk sekalian ikut sholat berjamaah di surau dekat rumah oleh Ayah Rasty sekaligus makan malam bersama, Saga pun tak menolak karena memang ia merasa menemukan sosok seorang Ayah yang tak pernah ia miliki selama ini dan juga rasa kebersamaan dengan keluarga yang harmonis seperti dengan keluarga Rasty.