
Rangga kembali ke rumah, saat ini Tania sedang berada di ruang tamu, memainkan ponsel nya.
Rangga menghampiri Tania, namun wanita itu terlihat cuek dengan ke datangan Rangga. Dia sibuk memainkan ponsel nya, benda yang dulu sempat di sita oleh Rangga.
"Hari ini kamu keluar dengan Rayhan?" mendengar pertanyaan itu, Tania langsung menoleh, dan menatap Rangga dengan ujung mata nya.
"Apa pertanyaan itu pantas kamu tanya 'kan? kamu sendiri keluar dengan kekasih mu? jika bisa di katakan Tuan Rangga, saat ini kamu lah yang sedang berselingkuh di belakang pernikahan kita" tukas Tania, masih menatap pria itu dengan ekor matanya.
"Jangan terbiasa pertanyaan di balas dengan pertanyaan yang lain"
"Heeh" Tania langsung berdiri dan membuat Rangga tidak senang.
"Kamu masih ingat dengan janji kita bukan?"
"Tentu saja, aku tidak mungkin lupa "
"Bagus, malam ini kamu tahu apa tugas mu"
Tania menghempaskan tangan Rangga, saat mendengar pria itu mengingat apa tugas diri nya dalam rumah itu.
"Hallo Han, bagaimana ? apa kau sudah mengetahui siapa yang membayar dokter untuk membunuh Papa Tania?"
[Tidak Tuan, aku tidak mengetahui nya, seperti nya mereka sudah mengetahui rencana kita, dan menghilangkan bukti itu sejak lama, namun aku menemukan bukti yang mengarahkan pada seseorang, dan itu bisa jadi orang dekat kita]
"Berikan bukti itu, kepada ku, tidak mungkin orang terdekat kita, untuk apa dia melakukan itu semua, Papa Tania tidak pernah memiliki musuh, kecuali sektretaris nya itu, bekerja sama dengan seseorang" pungkas Rangga.
[Aku akan tiba, dalam waktu dua puluh menit lagi]
"Baik"
Rangga memutuskan panggilan dengan Han, dan ia kembali menatap tangga, dimana bayangan Tania tak lagi terlihat.
Dua puluh menit telah berlalu. . .
Dari luar, terdengar suara mobil, saat ini Rangga sedang berada di ruangan kerja nya. Queen, yang sedang berada di dapur, bergegas pergi membuka pintu.
Ceklek !
"Tuan Rangga ada?"
"Ada, langsung ke ruangan nya saja, tadi Tuan sudah berpesan"
"Baik"
Han, langsung pergi menemui Rangga yang saat ini ada di ruangan kerja nya.
Tok ! Tok !
"Langsung masuk, tidak di kunci"
Han masuk ke dalam ruangan itu, dan membawa dokumen bersama dengan nya.
"Kau membawa nya?" tanya Rangga,
"Iya!" Han, meletakkan sebuah dokumen di atas meja. Rangga langsung mengambil dan memeriksa nya.
Rangga menyempitkan mata nya saat melihat foto yang ada di dalam dokumen tersebut.
"Jepit rambut?" gumam Rangga, namun Han, bisa mendengar dan mengangguk.
"Milik siapa ini?" Rangga menatap Ha,
" Yang sering menggunakan jepit rambut seperti itu, biasa nya Nona Adelia" begitu mendengar jawaban Han, Rangga menatap nya dengan tajam.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bermaksud begitu Tuan, namun aku juga cukup lama mengenal Nona Adelia, semenjak Nona Adelia berpacaran dengan Tuan" ungkap Han, Rangga kembali menatap foto itu.
"Simpan dokumen ini, dan cari tahu siapa dalang di balik kematian Papa Tania"
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu"
"Eeemm" Han, pun berlalu dari ruangan tersebut.
Rangga kembali mengingat foto yang ada dalam dokumen tadi, namun ia juga berpikir Adelia pernah memakai jepit rambut seperti yang ada ada foto bukti itu, hanya saja Rangga ragu dengan pemikiran nya sendiri.
Drrt... Drrt...
Ponsel Rangga bergetar itu adalah Adelia yang menelpon nya. Rangga langsung mengangkat panggilan itu.
"Hallo Adelia?"
[ Rangga, seseorang menyerang ku, kamu harus datang kesini, aku takut, hiks hiks] terdengar suara panik Adelia dari balik telepon, Rangga langsung bergegas keluar dari ruangan kerja.
"Tunggu aku, aku akan pergi ke sana"
[Baik!]
Panggilan terputus, Adelia menyimpan kembali ponsel di atas nakas, dia sudah berhasil menipu Rangga untuk datang ke apartemen nya.
"Malam ini, aku bersumpah, kau akan menjadi milik ku Rangga" gumam Adelia sembari tersenyum bahagia membayangkan malam yang panjang bersama dengan Rangga.
Sekitar dua puluh menit kemudian terdengar suara mobil Rangga di luar apartemen Adelia, wanita ini bergegas pergi untuk membuka pintu apartemen nya.
Ceklek !
"Rangga" Adelia langsung memeluk Rangga, begitu membuka pintu.
"Adelia, apa yang terjadi?" tanya Rangga, dan menutup pintu apartemen dan membawa wanita itu masuk.
"Siapa yang meneror mu ? katakan, apa perlu aku menguruskan orang untuk berjaga di depan?"
"Tidak perlu, Rangga aku mohon, tinggal lah disini, aku takut" Adelia memeluk lengan Rangga, pria ini berusaha untuk melepaskan tangan Adelia, dia teringat punya janji lain dengan Tania malam ini.
"Kamu tidur lah, aku tidak akan pergi, sebelum kau tertidur" ujar Rangga, namun Adelia menolak nya.
"Temani aku, bagaimana kalau kita minum sebelum aku tidur?"
Rangga menaikan alis nya, dia ragu untuk menyetujui ajakan Adelia.
"Ayolah Rangga, kita sudah lama tidak minum, dan akhir - akhir ini kamu sudah banyak berubah" tukas Adelia, yang berpura - pura sedih untuk menarik perhatian Rangga.
"Baik lah, hanya satu gelas"
"Baik, tidak masalah"
Adelia segera mengeluarkan minuman yang sudah dia siapkan untuk Rangga, dan memberikan minuman itu, kepada Rangga.
Meskipun ingin menolak, namun Rangga terpaksa menuruti keinginan Adelia.
' maaf Rangga, aku terpaksa melakukan ini' batin Adelia menatap Rangga yang sedang minum.
Beberapa saat kemudian, Rangga merasa kepala nya sedikit pusing, dia segera berdiri dari tempat duduk nya.
"Adelia, aku harus pulang"
"Jangan pulang, aku takut sendirian"
"Tidak bisa Adelia, aku harus pulang" Rangga segera berjalan ke arah pintu, Adelia mengejar nya agar pria itu tidak pergi.
__ADS_1
Adelia menahan Rangga untuk pulang, tapi pria itu tetap memaksa untuk pergi dari apartemen Adelia.
Ceklek !
"Rangga jangan pergi" Adelia menahan lengan Rangga agar tidak pergi dari tempat itu, lalu Rangga menatap nya dengan tajam.
Dugh!
Rangga mendorong Adelia hingga terjatuh, " Aku tidak menyangka Kau bisa melakukan hal serendah ini kepada ku" Rangga menatap tajam ke arah Adelia, dia sudah mengetahui niat jahat Adelia.
"Rangga, aku melakukan ini, karena aku mencintai mu, maaf 'kan aku Rangga, aku mohon jangan tinggalkan aku!" Adelia masih berusaha menahan Rangga, agar tidak pergi.
Tap...Tap...Tap...
Terdengar suara orang yang berlari ke arah mereka, itu adalah Han, untung saja Rangga sempat mengirim pesan kepada Han agar datang ke apartemen Adelia.
'Sial, sedang apa Han disini?' Adelia menatap sinis ke arah Han, wanita ini tidak menyukai kedatangan Han.
"Tuan, apa anda baik - baik saja? " tanya Han, membantu memapah tubuh Rangga.
"Iya, kita pulang"
"Baik!"
"Tunggu, Han kau mau membawa kemana Rangga, dia akan menginap disini"
Han, terus membawa Rangga dari tempat itu, Adelia masih berusaha mengejar Rangga sampai ke mobil, Han yang memang dari awal tidak menyukai Adelia tidak memperdulikan wanita itu, yang melarang nya untuk membawa Rangga.
Mobil Rangga, pun pergi meninggalkan tempat itu, dan tiba di jalan Rangga bergumam tidak jelas.
"Han, hubungi Tania, suruh dia menunggu ku di depan rumah!"
"Baik Tuan"
Han, segera menghubungi Tania, sepeti yang di katakan Rangga.
Lima belas menit berlalu, dengan laju mobil yang begitu cepat, sehingga mereka segera tiba di villa Rangga.
Tania sudah menunggu Rangga dengan cemas di depan teras. Melihat mobil Rangga masuk ke dalam pekarangan villa, Tania bergegas pergi menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Tania kepada Han, saat Han sudah turun, lalu membuka pintu belakang.
Han membantu memapah tubuh Rangga, dan di bantu oleh Tania, mereka membawa Rangga ke kamar, dan membaringkan nya di ranjang.
"Nyonya, saya permisi dulu, dan seperti nya Tuan Rangga, meminum minuman yang di beri obat oleh seseorang" tukas Han, masih tidak mau berkata jika orang itu adalah Adelia, Han takut melukai hati Tania.
"Baiklah, terimakasih"
Han segera pergi, meninggalkan kamar Rangga, Tania menutup kembali pintu kamar dan berjalan ke arah ranjang, dimana Rangga berada.
"Panas, panas sekali"
Rangga mencoba membuka baju nya, namun Tania menahan, dan Rangga malah mencengkram kuat lengan Tania, lalu menjatuhkan tubuh Tania di atas ranjang.
"Tania...." lirih Rangga, menyentuh wajah Tania, dan menyibak rambut yang menutupi mata Tania.
"Kenapa kamu cantik sekali malam ini?" gumam Rangga, dalam keadaan pengaruh obat.
"Tuan Rangga, apa yang anda katakan, lepaskan saja, anda harus sadar!"
"Ssstttt" Rangga meletakkan jari telunjuk di bibir Tania dan menyuruh wanita itu, untuk diam.
"Jangan berisik, aku sudah tidak bisa menahan nya" bisik Rangga, lalu ia mulai menciumi leher jenjang milik Tania, dan membuat wanita itu menggeliat.
__ADS_1
Tania yang kalah tenaga dengan Rangga, tidak bisa menolak nya. Apalagi saat ini Rangga sedang di bawah pengaruh obat, membuat Rangga lebih bersemangat.