Terikat Pernikahan Keluarga

Terikat Pernikahan Keluarga
Part 39


__ADS_3

Rangga meletakkan nampan itu di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang, sembari melihat ke arah Tania yang masih setia memejamkan mata nya.


"Mari berpisah, "ucap Rangga pelan, Tania terkesiap, tetapi tak membuka matanya, tangan nya yang berada di dalam selimut langsung gemetar mendengar ucapan Rangga.


"Aku tidak akan mengekang kamu lagi, seperti nya kita memang tidak bisa terus bersama, kau bisa memiliki siapapun dalam hidup mu dengan terbebas dari ku," lanjut Rangga, Tania masih bungkam, semakin lama dada nya semakin sesak, Tania tidak sanggup lagi menahan air mata serta tangis nya ketika mendengar ucapan sang suami.


"Kau bisa bersama dengan Rayhan, aku bisa bersama dengan Adelia. Aku akan menikahi Adelia," ujar Rangga dengan bangga tanpa memedulikan perasaan Tania saat ini, wanita ini tengah mengandung anak dari Rangga, tetapi Rangga tak pernah tahu akan hal itu.


Melihat tak ada jawaban dari Tania, Rangga pun bangkit dari tempat duduk nya serta membuka dasi dan juga jas yang dia kenakan tadi.


"Aku tak ingin berpisah," ucap Tania lirih, dan akhirnya air mata Tania tumpah dan tak terbendung lagi. Rangga menghentikan langkah kaki nya saat mendengar ucapan Tania padahal pria ini baru saja akan pergi ke kamar mandi.


Rangga berbalik, dan melihat Tania yang bangun dan duduk di atas ranjang. Rangga mendekat, dan berdiri di samping ranjang.


"Jangan gila kamu, dulu kamu yang menginginkan perpisahan, hari ini aku memberikan mu perpisahan itu, dan kamu menolak nya? jangan egois kamu, Tania!" teriak Rangga dengan keras, hingga membuat Tania memejamkan mata nya.


"Aku akan memberikan mu rumah dan juga fasilitas yang layak, serta aku akan memberikan mu sejumlah uang untuk mu, jadi mari kita berpisah, " lanjut Rangga, Tania mengepalkan tangan nya, Tania mendongakkan kepala nya lalu menatap pria itu penuh iba, Rangga langsung berpaling karena tak sanggup melihat Tania yang menangis.


"Baiklah, kalau itu mau mu aku menunggu surat cerai dari mu, "ujar Tania pasrah, membuat Rangga tersentak lalu mengepalkan tangan nya.


"Besok, aku akan menyuruh Han untuk menyiapkan semua berkas, dan aku akan membawa pulang surat tersebut kalau sudah selesai,"tukas Rangga, dan berbalik pergi ke kamar mandi. Tiba di kamar mandi, Rangga menatap dirinya di kaca, dengan raut wajah yang penuh amarah.


"Tenang Rangga, bukan kah ini yang kau mau? jadi untuk apa kau marah, ketika dia setuju untuk berpisah?" gumam Rangga, masih memikirkan ucapan Tania yang telah setuju berpisah dengan nya.


****Flashback****!


Rangga kembali ke rumah, saat ini Tania sedang berada di ruang tamu, memainkan ponsel nya.


Rangga menghampiri Tania, namun wanita itu terlihat cuek dengan ke datangan Rangga. Dia sibuk memainkan ponsel nya, benda yang dulu sempat di sita oleh Rangga.


"Hari ini kamu keluar dengan Rayhan?" mendengar pertanyaan itu, Tania langsung menoleh, dan menatap Rangga dengan ujung mata nya.


"Apa pertanyaan itu pantas kamu tanya 'kan? kamu sendiri keluar dengan kekasih mu? jika bisa di katakan Tuan Rangga, saat ini kamu lah yang sedang berselingkuh di belakang pernikahan kita" tukas Tania, masih menatap pria itu dengan ekor matanya.


"Jangan terbiasa pertanyaan di balas dengan pertanyaan yang lain"


"Heeh" Tania langsung berdiri dan membuat Rangga tidak senang.


"Kamu masih ingat dengan janji kita bukan?"


"Tentu saja, aku tidak mungkin lupa "


"Bagus, malam ini kamu tahu apa tugas mu"


Tania menghempaskan tangan Rangga, saat mendengar pria itu mengingat apa tugas diri nya dalam rumah itu.


"Hallo Han, bagaimana ? apa kau sudah mengetahui siapa yang membayar dokter untuk membunuh Papa Tania?"


[Tidak Tuan, aku tidak mengetahui nya, seperti nya mereka sudah mengetahui rencana kita, dan menghilangkan bukti itu sejak lama, namun aku menemukan bukti yang mengarahkan pada seseorang, dan itu bisa jadi orang dekat kita]


"Berikan bukti itu, kepada ku, tidak mungkin orang terdekat kita, untuk apa dia melakukan itu semua, Papa Tania tidak pernah memiliki musuh, kecuali sektretaris nya itu, bekerja sama dengan seseorang" pungkas Rangga.


[Aku akan tiba, dalam waktu dua puluh menit lagi]


"Baik"


Rangga memutuskan panggilan dengan Han, dan ia kembali menatap tangga, dimana bayangan Tania tak lagi terlihat.


Dua puluh menit telah berlalu. . .


Dari luar, terdengar suara mobil, saat ini Rangga sedang berada di ruangan kerja nya. Queen, yang sedang berada di dapur, bergegas pergi membuka pintu.


Ceklek !


"Tuan Rangga ada?"


"Ada, langsung ke ruangan nya saja, tadi Tuan sudah berpesan"


"Baik"


Han, langsung pergi menemui Rangga yang saat ini ada di ruangan kerja nya.


Tok ! Tok !


"Langsung masuk, tidak di kunci"


Han masuk ke dalam ruangan itu, dan membawa dokumen bersama dengan nya.

__ADS_1


"Kau membawa nya?" tanya Rangga,


"Iya!" Han, meletakkan sebuah dokumen di atas meja. Rangga langsung mengambil dan memeriksa nya.


Rangga menyempitkan mata nya saat melihat foto yang ada di dalam dokumen tersebut.


"Jepit rambut?" gumam Rangga, namun Han, bisa mendengar dan mengangguk.


"Milik siapa ini?" Rangga menatap Ha,


" Yang sering menggunakan jepit rambut seperti itu, biasa nya Nona Adelia" begitu mendengar jawaban Han, Rangga menatap nya dengan tajam.


"Maaf, saya tidak bermaksud begitu Tuan, namun aku juga cukup lama mengenal Nona Adelia, semenjak Nona Adelia berpacaran dengan Tuan" ungkap Han, Rangga kembali menatap foto itu.


"Simpan dokumen ini, dan cari tahu siapa dalang di balik kematian Papa Tania"


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu"


"Eeemm" Han, pun berlalu dari ruangan tersebut.


Rangga kembali mengingat foto yang ada dalam dokumen tadi, namun ia juga berpikir Adelia pernah memakai jepit rambut seperti yang ada ada foto bukti itu, hanya saja Rangga ragu dengan pemikiran nya sendiri.


Drrt... Drrt...


Ponsel Rangga bergetar itu adalah Adelia yang menelpon nya. Rangga langsung mengangkat panggilan itu.


"Hallo Adelia?"


[ Rangga, seseorang menyerang ku, kamu harus datang kesini, aku takut, hiks hiks] terdengar suara panik Adelia dari balik telepon, Rangga langsung bergegas keluar dari ruangan kerja.


"Tunggu aku, aku akan pergi ke sana"


[Baik!]


Panggilan terputus, Adelia menyimpan kembali ponsel di atas nakas, dia sudah berhasil menipu Rangga untuk datang ke apartemen nya.


"Malam ini, aku bersumpah, kau akan menjadi milik ku Rangga" gumam Adelia sembari tersenyum bahagia membayangkan malam yang panjang bersama dengan Rangga.


Sekitar dua puluh menit kemudian terdengar suara mobil Rangga di luar apartemen Adelia, wanita ini bergegas pergi untuk membuka pintu apartemen nya.


Ceklek !


"Adelia, apa yang terjadi?" tanya Rangga, dan menutup pintu apartemen dan membawa wanita itu masuk.


Rangga menuntun nya ke sofa, lalu memberikan Adelia segelas air untuk di minum, Adelia hanya memakai baju tidur panjang dengan lengan pendek, dan baju nya kali ini sedikit terbuka untuk menggoda Rangga.


"Siapa yang meneror mu ? katakan, apa perlu aku menguruskan orang untuk berjaga di depan?"


"Tidak perlu, Rangga aku mohon, tinggal lah disini, aku takut" Adelia memeluk lengan Rangga, pria ini berusaha untuk melepaskan tangan Adelia, dia teringat punya janji lain dengan Tania malam ini.


"Kamu tidur lah, aku tidak akan pergi, sebelum kau tertidur" ujar Rangga, namun Adelia menolak nya.


"Temani aku, bagaimana kalau kita minum sebelum aku tidur?"


Rangga menaikan alis nya, dia ragu untuk menyetujui ajakan Adelia.


"Ayolah Rangga, kita sudah lama tidak minum, dan akhir - akhir ini kamu sudah banyak berubah" tukas Adelia, yang berpura - pura sedih untuk menarik perhatian Rangga.


"Baik lah, hanya satu gelas"


"Baik, tidak masalah"


Adelia segera mengeluarkan minuman yang sudah dia siapkan untuk Rangga, dan memberikan minuman itu, kepada Rangga.


Meskipun ingin menolak, namun Rangga terpaksa menuruti keinginan Adelia.


' maaf Rangga, aku terpaksa melakukan ini' batin Adelia menatap Rangga yang sedang minum.


Beberapa saat kemudian, Rangga merasa kepala nya sedikit pusing, dia segera berdiri dari tempat duduk nya.


"Adelia, aku harus pulang"


"Jangan pulang, aku takut sendirian"


"Tidak bisa Adelia, aku harus pulang" Rangga segera berjalan ke arah pintu, Adelia mengejar nya agar pria itu tidak pergi.


Adelia menahan Rangga untuk pulang, tapi pria itu tetap memaksa untuk pergi dari apartemen Adelia.

__ADS_1


Ceklek !


"Rangga jangan pergi" Adelia menahan lengan Rangga agar tidak pergi dari tempat itu, lalu Rangga menatap nya dengan tajam.


Dugh!


Rangga mendorong Adelia hingga terjatuh, " Aku tidak menyangka Kau bisa melakukan hal serendah ini kepada ku" Rangga menatap tajam ke arah Adelia, dia sudah mengetahui niat jahat Adelia.


"Rangga, aku melakukan ini, karena aku mencintai mu, maaf 'kan aku Rangga, aku mohon jangan tinggalkan aku!" Adelia masih berusaha menahan Rangga, agar tidak pergi.


Tap...Tap...Tap...


Terdengar suara orang yang berlari ke arah mereka, itu adalah Han, untung saja Rangga sempat mengirim pesan kepada Han agar datang ke apartemen Adelia.


'Sial, sedang apa Han disini?' Adelia menatap sinis ke arah Han, wanita ini tidak menyukai kedatangan Han.


"Tuan, apa anda baik - baik saja? " tanya Han, membantu memapah tubuh Rangga.


"Iya, kita pulang"


"Baik!"


"Tunggu, Han kau mau membawa kemana Rangga, dia akan menginap disini"


Han, terus membawa Rangga dari tempat itu, Adelia masih berusaha mengejar Rangga sampai ke mobil, Han yang memang dari awal tidak menyukai Adelia tidak memperdulikan wanita itu, yang melarang nya untuk membawa Rangga.


Mobil Rangga, pun pergi meninggalkan tempat itu, dan tiba di jalan Rangga bergumam tidak jelas.


"Han, hubungi Tania, suruh dia menunggu ku di depan rumah!"


"Baik Tuan"


Han, segera menghubungi Tania, sepeti yang di katakan Rangga.


Lima belas menit berlalu, dengan laju mobil yang begitu cepat, sehingga mereka segera tiba di villa Rangga.


Tania sudah menunggu Rangga dengan cemas di depan teras. Melihat mobil Rangga masuk ke dalam pekarangan villa, Tania bergegas pergi menghampiri mereka.


"Apa yang terjadi?" tanya Tania kepada Han, saat Han sudah turun, lalu membuka pintu belakang.


Han membantu memapah tubuh Rangga, dan di bantu oleh Tania, mereka membawa Rangga ke kamar, dan membaringkan nya di ranjang.


"Nyonya, saya permisi dulu, dan seperti nya Tuan Rangga, meminum minuman yang di beri obat oleh seseorang" tukas Han, masih tidak mau berkata jika orang itu adalah Adelia, Han takut melukai hati Tania.


"Baiklah, terimakasih"


Han segera pergi, meninggalkan kamar Rangga, Tania menutup kembali pintu kamar dan berjalan ke arah ranjang, dimana Rangga berada.


"Panas, panas sekali"


Rangga mencoba membuka baju nya, namun Tania menahan, dan Rangga malah mencengkram kuat lengan Tania, lalu menjatuhkan tubuh Tania di atas ranjang.


"Tania...." lirih Rangga, menyentuh wajah Tania, dan menyibak rambut yang menutupi mata Tania.


"Kenapa kamu cantik sekali malam ini?" gumam Rangga, dalam keadaan pengaruh obat.


"Tuan Rangga, apa yang anda katakan, lepaskan saja, anda harus sadar!"


"Ssstttt" Rangga meletakkan jari telunjuk di bibir Tania dan menyuruh wanita itu, untuk diam.


"Jangan berisik, aku sudah tidak bisa menahan nya" bisik Rangga, lalu ia mulai menciumi leher jenjang milik Tania, dan membuat wanita itu menggeliat.


Tania yang kalah tenaga dengan Rangga, tidak bisa menolak nya. Apalagi saat ini Rangga sedang di bawah pengaruh obat, membuat Rangga lebih bersemangat.


Selesai!


Prang!


Rangga melempar kaca yang ada di wastafel dengan botol sabun. Sehingga kaca tersebut pecah, mengenai tangan nya.


"Aggrrh!" Teriak Rangga frustrasi, karena ini semua salah dia, dia yang lebih dulu mendekati Tania dan menyentuh wanita itu, membuat Tania kini tidak bisa lepas dari nya.


"Seandainya, malam itu aku tak menyentuh nya, mungkin aku tak kan jatuh cinta kepada Tania," gumam Rangga tanpa sadar, dan mengusap kasar rambut nya.


'Apa yang ku katakan? apa aku jatuh cinta kepada nya?' kini Rangga melihat diri nya dari pantulan kaca wastafel kamar mandi.


Rangga langsung melakukan ritual mandi, agar semua pikiran nya kembali tenang dan normal kembali.

__ADS_1


__ADS_2