Terikat Pernikahan Keluarga

Terikat Pernikahan Keluarga
Part 41


__ADS_3

"Apa kau gila?" Leo, geram melihat tingkah Rangga, dan ingin sekali menghajar Rangga saat itu juga, tetapi Leo masih menghargai Shanti dan Bram yang berada di ruang tamu.


Plak!


Kali ini Bram yang menampar kuat pipi Rangga, sehingga membuat pria itu terjatuh ke lantai, Tania melihat Rangga dengan ekor mata nya, tak terasa air mata Tania membasahi pipi bulat nya.


"Kalau kau berani bercerai, seluruh aset yang kau miliki di sini, bukan lagi milik mu, aku akan mencabut semua aset mu!" ucap Bram tegas, tetapi tak membuat Rangga takut.


"Papa lupa? aku sudah mandiri sejak kecil, jangan papa pikir aku tidak bisa hidup dari harta keluarga ini? aku bisa pa, aku memiliki perusahaan sendiri di luar negeri papa jangan lupakan itu!" teriak Rangga lantang.


"Kau berani berteriak di depan papa mu! Haah?" Leo mencengkram kuat kerah piyama Rangga, pria ini segera menepis tangan Leo, tapi tak membuat Leo berhenti di situ saja.


Leo kembali menarik piyama Rangga, dan menatap nya dengan lekat.

__ADS_1


"Kau ingin bercerai, saat ini Tania sedang meng...."


"Cukup!" teriak Tania kemudian, yang membuat Leo dan Rangga menoleh ke arah wanita itu. Bram dan juga Shanti juga melihat ke arah Tania.


"Aku tidak apa-apa, segera kirim surat cerai kepada ku, setelah surat itu keluar aku akan menandatangi nya dan pergi dari rumah ini," ujar Tania, dan berlalu pergi meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamar nya.


"Kau lihat! apa kau tidak bisa mencintai nya seperti kau mencintai ****** itu!" teriak Shanti yang sudah geram melihat tingkah Rangga.


"Aagrrh! sial!" teriak Rangga melempar bantal sopa ke lantai, lalu mengacak rambut nya frustrasi.


Shanti pergi melihat Tania yang ada di kamar, Shanti takut sesuatu terjadi dengan menantu nya yang saat ini sedang mengandung cucu nya.


Ceklek !

__ADS_1


Pintu kamar terbuka, Shanti mendapati Tania yang menangis di balkon duduk di lantai, hembusan angin menerpa kain gorden dan sesekali menyibaknya. Melihat Tania dalam keadaan yang terisak Shanti langsung memeluk erat tubuh yang sudah terasa dingin itu.


"Sayang, kenapa di sini, ayo kita masuk, nanti kamu masuk angin," tukas Shanti yang berusaha membujuk menantu nya itu. Tania tak menghirau ajakan Shanti, Tania masih meringkuk di lantai, lalu Shanti membantu Tania untuk berdiri karena Shanti gak tega membiarkan Tania dalam keadaan dingin.


Cuaca pagi itu tiba-tiba mendadak mendung, dan terlihat sesekali angin mulai menggoyangkan pohon besar yang ada di dekat kamar mereka.


Shanti menuntun langkah kaki Tania menuju ranjang. Lalu, Shanti mengambil mantel bulu yang ada di dalam lemari dan memakai nya untuk Tania.


"Sayang, apa yang ingin kau makan, mama akan mengambil nya untuk mu," Shanti memegang ke dua tangan Tania, tetapi Tania hanya diam saja, dan tidak mau berbicara.


"Mama harus mengatakan kehamilan mu sama Rangga, agar pria itu sadar!"ucap Shanti dengan tegas, tetapi Tania sekali lagi melarang nya.


"Jangan, ma...."

__ADS_1


__ADS_2