
Rangga bersama dengan Adelia, kini tiba di depan kamar dimana Tania berada. Sebelum masuk, Rangga terlebih dulu melihat ke arah Adelia. "Kenapa? kenapa kamu senyum - senyum? ini bukan ulah mu 'kan?" tanya Rangga, mengintimidasi Adelia.
"Ke-kenapa harus aku yang kamu tuduh? sayang, apa kamu tidak menganggap aku lagi? Tania itu keponakan kamu, dia calon keponakan, ku juga bukan?" Adelia, tersenyum ke arah Rangga, berharap apa yang Adelia inginkan dapat terjadi di dalam kamar itu, sehingga Rangga akan membenci Tania.
Setelah menghela nafas panjang nya, Rangga membuka pintu kamar tamu, baru hanya terbuka sebentar, Han dan Rayhan tiba, sehingga mengejutkan Rangga dan Adelia.
"Loh, kenapa kamu disini?" tanya Adelia, yang melirik ke arah Rayhan.
"Memang nya aku harus dimana?" tanya Rayhan, Adelia melihat ke arah Rangga. Pria itu segera membuka pintu kamar dengan lebar. Bukan hanya Rangga yang terkejut, Rayhan dan juga yang lain juga ikut terkejut, saat melihat Tania yang berbaring di atas tempat tidur hanya mengenakan baju mandi, sedangkan gaun Tania ada di atas nakas.
"Astaga, Tania!" ucap Adelia, yang membuat ekspresi terkejut nya, lalu berjalan ke arah ranjang dimana Tania, yang masih pingsan.
Tanpa menunggu Tania siuman, Rangga langsung berbalik dan menghajar Rayhan, yang saat itu juga ada disana. Beruntung Han, memisahkan Rangga dan Rayhan, agar Rayhan tidak mati di tangan Rangga yang sudah di kuasai emosi.
"Pak, tahan!" ucap Han, Rayhan langsung berdiri yang tadi sempat tersungkur ke lantai akibat di hajar oleh Rangga.
"Lepas!" teriak Rangga, Han langsung melepaskan tangan nya.
Rangga berjalan ke arah Tania, dan membangunkan wanita itu. Setelah berusaha memanggil Tania tapi tidak ada jawaban, Rangga mengundangkan tubuh Tania dengan begitu kuat.
"Bangun!" teriak Rangga, yang kesabaran nya mulai habis, tapi tidak ada jawaban dari Tania.
"Pak, mungkin Nyo...."
"Kamu cepat bawakan gaun Tania kesini!" titah Rangga, " kalian semua keluar!" setelah mendapatkan gaun Tania dari Han, Rangga menyuruh Han untuk menunggu di luar kamar.
Di luar kamar, Rayhan masih disana, menunggu kabar Tania, karena jujur saja Rayhan juga khawatir dengan kondisi wanita itu.
"Tuan, Rayhan. Lebih baik, anda pergi dari sini, saya takut, Pak Rangga akan lebih marah lagi," tukas Han,
"Tapi...."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Tania akan baik-baik saja" Han, langsung memotong ucapan Rayhan, karena tidak ingin Adelia mengetahui jika Tania adalah istri Rangga. Padahal, tanpa mereka sadari, Adelia sudah mengetahui hal itu sejak lama.
Setelah Rayhan, pergi. Kini Han, melihat Adelia yang sedang berdiri di depan pintu, menunggu Rangga keluar.
"Nona Adelia, ku harap ini bukan rencana Anda, karena jika Anda terlibat, saya akan memberitahu hal ini kepada Nyonya besar, dan Kamu akan tahu apa yang bisa Nyonya besar lakukan untuk menyingkirkan mu!" tegas Han, Adelia hanya menatap malas ke arah Han.
"Bicara lah sesuka hati mu, nanti setelah aku menjadi Nyonya muda, kau bahkan tidak bisa membuka mulut mu di depan ku." setelah mengatakan itu, Adelia berlalu dari depan Han, dan membuat pria itu menahan emosi nya sesaat.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Nyonya muda" gumam Han, dan berbalik saat pintu kamar terbuka, ternyata Rangga mengendong Tania dan membawa nya keluar dari kamar tersebut.
"Han, siapkan mobil,"
"Baik, Tuan."
Mereka berdua langsung keluar dari tempat tersebut, melalui pintu yang lain. Agar tidak di ketahui oleh orang lain.
Tiba di mobil, Han dapat melihat raut wajah Rangga, yang menahan amarah terhadap Tania. Bahkan, Rangga membiarkan Tania tidur di kursi penumpang, dan tidak menemani wanita itu.
"Tuan, saya yakin, Nyonya pasti di jebak," tukas Han, langsung Rangga menatap nya dengan tajam.
Rangga masih terbayang bagaimana dia melihat Tania tertidur di atas ranjang, yang hanya menggunakan baju mandi saja, Rangga tidak dapat bayang 'kan jika Rayhan dan Tania benar - benar bermain di belakang Rangga.
"Tuan, " panggil Han, Rangga menoleh. Han menggantungkan ucapan nya.
"Katakan !" tegas Rangga, saat melihat Han, yang sempat ragu untuk membuka suara nya.
"Kenapa Tuan marah? bukan kah harusnya Tuan senang, dengan begini Anda dan Nyonya bisa berpisah?"
Ya itu lah keinginan dan harapan Rangga selama ini, tapi siapa sangka, mendengar pertanyaan itu yang keluar dari mulut Han, membuat Rangga menatap nya penuh amarah, dan ingin sekali mencabik mulut Han, saat ini juga.
"Kau sadar apa yang barusan kau katakan?"
__ADS_1
"Heeemmm," angguk Han, Rangga hanya diam, tidak ingin memarahi asisten nya itu, tetapi sejenak kemudian ia berpikir, tidak ada yang salah dengan ucapan Han, memang Rangga sendiri yang ingin berpisah dengan Tania. Bahkan, Rangga dulu menolak untuk menikah dengan Tania.
Selama perjalanan di dalam mobil nampak hening, Rangga maupun Han, sama-sama diam. Terlebih lagi, Tania belum siuman.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, baru lah mereka tiba di villa milik Rangga.
"Kau langsung pulang saja, jika mama menghubungi mu, katakan Tania sakit, sehingga kita tidak dapat melihat acara itu sampai selesai," titah Rangga.
"Apa perlu saya memanggil dokter, Tuan?"
"Tidak perlu, dia hanya pingsan nanti juga siuman!"
"Biak lah."
Rangga langsung mengendong Tania ke dalam villa, sementara itu Han pun pergi meninggalkan halaman villa tersebut.
Queen, yang sejak tadi menunggu mereka pulang setelah mendapat kabar Tania pingsan, langsung membuka pintu, saat mendengar suara mobil di luar.
"Tuan, apa yang terjadi?" Queen, terlihat panik, apalagi raut wajah Tania yang sedikit pucat.
"Dia hanya pingsan, Queen tolong siapkan handuk kecil dan air aku akan membersihkan tubuh nya"
"Bak, Tuan."
Rangga membawa Tania ke kamar, ada berbagai macam pertanyaan yang Rangga simpan untuk Tania. Namun, ia masih menunggu Tania siuman baru lah bertanya.
Selama Rangga membersihkan tubuh Tania, bayangan Rayhan dan Tania yang bercumbu di atas kasur terus saja berputar di kepala Rangga, membuat Pria ini emosi seketika.
"Sial!" umpat Rangga, lalu ia menghentikan aktivitas nya, meminta Queen untuk menggantikan baju Tania, dan meninggalkan Tania bersama dengan Queen di kamar.
Saat ini, Rangga berada di lantai dasar, di dalam ruangan yang bernuansa gelap, dengan cat tembok berwarna hitam, cahaya hanya menggunakan lampu tidur saja.
__ADS_1
Di atas meja ada beberapa botol yang berdiri disana, sudah ada dua botol habis di teguk oleh Rangga, untuk menghilangkan kegelisahan nya terhadap Tania.
Rangga menolak untuk memikirkan itu semua, tetapi bayangan Rayhan dan Tania terus saja bermain di ingatan Rangga, sehingga membuat pria itu sedikit berantakan.