
Masa kritis telah Tania lewati, saat ini Rangga duduk di sofa yang sedikit jauh dari ranjang pasien. Tania masih belum sadar, Rangga masih dengan setia menemani Tania, menunggunya untuk siuman.
Beberapa saat kemudian Tania membuka mata, melihat ke arah Rangga dengan samarnya. Wanita ini memegang perut nya yang rata, memang sebelum nya juga tidak terlalu menonjol kehamilan Tania.
Tania meneteskan air mata mengingat saat dia baru saja tiba di rumah sakit, lalu samar-samar mendengar seorang dokter berbicara mengenai kehamilannya. Ternyata Rangga menginginkan Tania selamat, Rangga telah membuktikan cintanya pada Tania dengan memilih menyelamatkan Tania dari pada calon bayi mereka yang belum lahir.
Flashback!
Di dalam ruangan pemeriksaan, seorang dokter memegang surat perjanjian yang telah di tanda tangani oleh Rangga.
"Dok, selamatkan anak saya, saya mohon. Hanya ini harapan saya, jika anak saya berhasil selamat tolong rahasiakan kehamilan saya ini dari suami saya yang di luar,"pinta Tania, sebelum kesadarannya menghilang.
__ADS_1
Meskipun dalam keadaan yang tak sadarkan diri lagi, Tania yakin sepenuh hati nya jika anaknya akan selamat.
Flasback selesai!
"Sayang, kamu sudah sadar?" Rangga bertanya mengejutkan Tania yang sedang melamun bagaimana dirinya berada di dalam ruangan pemeriksaan satu jam yang lalu.
Tania, tak menjawab dia memilih untuk diam dan memperhatikan raut wajah Rangga, yang begitu gusar.
"Mari berpisah mas,"ucap Tania pelan, membuat Rangga terkejut lalu menatap ke arah Tania tak percaya.
"Apa yang kamu katakan? Aku meminta maaf, aku tahu aku salah, tapi tolong maafkan aku,"ucap Rangga yang memohon maaf kepada Tania, tetapi terlihat Tania yang menahan air matanya yang ingin keluar. Rangga mencium serta memejamkan matanya di tangan Tania berharap sang istri mau memaafkan nya.
__ADS_1
Tania hendak membelai rambut hitam milik Rangga, tetapi dia menarik kembali tangannya. Kini Tania berpikir Rangga hanya merasa bersalah saja bukan karena Rangga benar-benar mencintainya karena cinta.
"Aku ingin kita berpisah hari ini, ceraikan aku mas,"ucap Tania lagi, Rangga menggelengkan kepala nya yang tak ingin berpisah dari Tania.
"Aku membawa surat perceraian yang kamu berikan kepada ku, pulang dari sini aku akan langsung bertanda tangan dan menyetujui perceraian yang kamu ajukan beberapa Minggu yang lalu," ucap Tania pelan menahan isak tangis agar tak menangis di depan Rangga.
"Jangan katakan itu Tania, aku tak ingin berpisah, aku ngaku salah. Aku telan melukai hatimu, berikan aku kesempatan sekali lagi, Aku janji tak akan menyia-nyiakanmu kita akan bisa memiliki anak lagi di masa depan Tania, asalkan kamu tak meminta pisah,"Rangga mengusap rambut Tania dan air matanya menetes membasahi tangan Tania.
"Tinggal aku sendiri Rangga,"
Awalnya Rangga menolak tetapi, melihat Tania yang terus memaksanya Rangga pun pergi meninggalkan Tania di dalam ruangannya, agar Tania bisa lebih tenang lagi.
__ADS_1
Di luar ruangan inap Tania, Rangga duduk di lantai sembari menangisi Tania, begitu juga dengan Tania yang sebenarnya tak ingin berpisah dari Rangga. Tatapi, Tania tak ingin hidup dengan orang yang belum bisa melupakan masa lalu, dan juga Tania tak ingin jadi orang ketiga di antara Rangga dan Adelia.