
Siena, pergi dari taman tersebut sambil mendorong, stroller baby, yang saat ini di duduki oleh Sherly.
"Sherly Sayang maaf Bunda tidak bisa berjalan-jalan di taman, karena saat ini mommy tidak mau cari keributan" ucap Siena yang kini sedang mendorong stroller sambil sesekali mengusap air mata nya, yang jatuh tanpa izin.
sementara itu Fero yang sedang memandangi punggung, Siena yang berlalu dengan anak nya bergumam dalam hati nya.
"Sien,,, aku tau kau kecewa dengan ku tapi satu yang harus kamu tahu semua ini bukan lah ketidak sengajaan, aku membawa istriku kemari sebagai balasan karena kamu memberikan izin tinggal dengan mantan suami mu, sakit gak sayang" Fero tahu semua yang terjadi orang-orang yang memata-matai Siena saat ini, selalu melaporkan, apa yang di lakukan. Siena termasuk seorang Nanny, di rumah Siena yang di pekerjakan oleh Fero untuk mengetahui kegiatan Siena di dalam rumah tersebut.
Adnan, dan anak-anak nya kini telah sampai di Jakarta, mereka langsung ke rumah lama mereka sebelum besok pergi menemui keluarga besar nya.
"sayang, apa kalian lapar, sebaiknya kita makan di luar saja, soalnya ayah belum siapkan bibi tukang masak di rumah ini,dulu saat Bunda,ada di sini dia yang ambil alih semua nya, sekarang kita harus belajar mandiri" ucap Adnan.
"ayah, boleh Sinan tanya sesuatu pada ayah?" tanya Sinan pada Adnan.
"tanya kan saja sayang, mau tanya apa?" ucap Adnan,
"Ayah, masih sayang Bunda, atau tidak ?" ucap Sinan, sambil menatap sang ayah yang kini duduk di sofa.
"tentu saja ayah sayang Bunda kalian dia cinta sejati ayah bahkan sampai, ayah mati pun rasa ini tidak akan pernah bilang" jawab Adnan jujur.
"lalu kenapa ayah menikah dengan orang lain" tanya Sinan lagi.
"ayah di paksa menikah oleh kakek dan nenek mu" ucap Adnan ada begitu besar rasa kecewa yang, saat ini Adnan perlihatkan, Daniel hanya terdiam, tidak banyak bicara.
"Daniel, ayah minta maaf atas semua yang terjadi,ayah salah, dan sangat merasa tidak pantas untuk di maafkan, karena sikap ayah yang kurang tegas menghadapi, mereka dulu malah melukai hati kalian berdua" kata Adnan yang langsung,membawa mereka berdua dalam pelukan nya.
ya, Adnan beruntung saat ini anak nya tidak seperti korban broken home, seperti yang lain nya karena Jimi benar-benar, mengasuh dan membesarkan nya dengan kasih sayang yang penuh, sebagai kakek sekaligus, menjadi seorang ayah bagi kedua cucunya itu.jadi mereka tidak lah kekurangan, kasih sayang.
"Sudah, lah ayah semua itu adalah masalalu yang harus di jadikan contoh,di masa depan jangan sampai semua terulang kembali" ucap Daniel bijak.
"kalian, memang anak ayah dan Bunda yang terbaik, oya gimana dengan Sherly, apa kalian sayang dengan nya ?" tanya adnan.
"aku dan Sinan sangat sayang Sherly tapi kadang Sinan,iri karena tidak jadi anak bungsu, hehehe Sinan tidak pernah menggendong Sherly hanya sesekali mengajak dia bermain kalo Bunda lagi sibuk itu pun aku yang gendong" jawab Daniel jujur.
"hmmm... anak bungsu ayah jangan begitu harus nya, kamu jadi kakak yang baik di hadapan Sherly biar bagaimanapun, kamu itu sudah di takdir kan untuk menjadi kakak nya sayang apa sudah mengerti anak kesayangan ayah?" ucap adnan yang langsung di sambut tawa oleh Daniel.
"hahahaha... Dengar tuh gadis manja" ucap Daniel sambil mengejek.
"Ayah kakak ngejekin aku, aku kan jadi sakit hati, hiks hiks hiks"Sinan langsung menangis manja di dada bidang sang ayah yang selalu mereka rindukan selama ini.
"kakak, jangan begitu tidak baik sayang kalian harus saling menjaga, dan menyayangi, bukan nya seperti itu" kata Adnan menasehati.
setelah rasa lelah sedikit berkurang mereka bertiga pun, langsung bergegas pergi menuju restoran.
kini Adnan melirik ke kiri tempat duduk yang seharusnya di isi oleh Siena kini di tempati Sinan sang anak bungsu nya.
"hmmm Sien aku sangat merindukan mu, aku sangat mencintaimu, entah sampai kapan rasa ini ada dan akan selalu tersimpan untuk mu mungkin sampai akhir hayat ku" gumam Anda dalam hati, iya merasakan sakit yang teramat kala mengingat kebahagiaan nya dulu bersama Siena,malah di renggut paksa oleh orang tua nya sendiri.
tidak terasa air mata nya lolos begitu saja saat,ia sedang memegang kemudi, dan Sinan melihat itu.
"ayah, apa ayah menangis?" tanya Sinan.
"tidak sayang, hanya saja ayah sering begini kala mengingat Bunda kalian selalu duduk di samping ayah, ayah terlalu merindukan nya tapi ayah tidak mau menyakiti dia lagi makanya ayah tidak memaksa dia untuk kembali, sedari dulu, bukan karena ayah tidak mencintai nya, hanya saja ayah tidak mau kalian terluka lagi" ucap Adnan jujur.
__ADS_1
"sabarlah ayah, saat ini, mungkin kita masih di uji tapi Sinan yakin suatu saat nanti, entah kapan itu kita pasti bisa berkumpul kembali" ucap Sinan menghibur,sang ayah.
Adnan bisa tersenyum, sedikit demi sedikit beban di hati nya bisa berkurang, saat ini, karena mereka ada.
sementara itu Daniel, berkata dalam hati nya saat ini
"aku tidak akan pernah mengecewakan wanita barang sedikit pun, karena Bunda, dan adik ku adalah seorang wanita, seburuk apapun wanita itu, nanti nya" gumam Daniel dalam hati.
mereka pun sampai di sebuah restoran mewah,Adnan sengaja membawa kedua anak nya kemari karena mulai saat ini ia berjanji akan membahagiakan, kedua anak nya tersebut.
sementara itu, di keluarga Sanjaya, Inez Sanjaya, sedang mempersiapkan penyambutan sang cucu besok yang akan datang kerumah nya.
"Daddy, besok cucu kita akan datang saat nya kita menyambut kehadiran mereka, mommy menyesal dulu telah menyia-nyiakan mereka, saat ini mommy, akan berusaha menebus nya" ucap Inez.
"syukur lah semoga mereka datang dengan menantu kita, aku sangat merasa bersalah pada nya, karena tidak pernah menganggap nya selama ini kita sangat, berdosa" ucap suami Adriyan, saat ini.
memang penyesalan itu selalu datang di akhir, karena kalo di awal itu namanya pendaftaran bos.
berbeda, dengan Siena yang kini di rundung kesedihan, karena suaminya, tidak pernah menemui nya saat ini, setelah tadi mereka bertemu di taman, tadi sore.
Siena memutuskan untuk memejamkan mata nya di temani, oleh Sherly, putri yang ada di sisinya kini Siena bahkan, merindukan sumber kebahagiaan nya ya itu Daniel dan Sinan.
Siena, memejamkan mata nya walau bulir kesedihan, selalu menyelimuti nya saat ini ia menahan nya sendiri, saat terasa sepi sendiri.
🌹💖💖💖🌹
pagi, pun tiba, saat ini Siena baru membuka mata, iya melihat seseorang duduk di sofa kamar nya, Siena menggosok mata nya perlahan, dan pandangan nya tetap pada sosok tersebut,ia kini sadar Fero sedang menatap wajah nya.
Siena bangun, dan berjalan melewati, Fero yang masih menatap ke arah nya.
iya kini bercermin di depan meja rias nya sambil menyisir rambut nya, tanpa menoleh ke arah Fero, Siena benar-benar mengacuhkan nya, saat ini Fero benar-benar sudah tidak bisa menahan kesabaran nya, iya membanting benda yang ada di hadapannya, hingga suara nya terdengar nyaring, bahkan Sherly pun langsung menangis saat ini,karena kaget mendengar suara benda jatuh.
"Sherly, kamu kaget, ya sini Bunda peluk,ayo turun kita mandi setelah itu kita ke butik Ok sayang" ucap Siena, yang kini menggendong anak nya bermaksud keluar namun tiba-tiba ada yang masuk seorang pengasuh Sheryl mengambil anak itu.
"tidak usah sus...biar saya saja yang mandikan dia, kamu siap kan saja, keperluan nya saya akan membawa dia ke butik hari ini" ucap Siena lembut.
"bawa dia sekarang juga suster, aku akan bicara dengan Nyonya",teriak Fero.
"baik tuan, saya akan segera membawa nya"suster itu membawa Sherly ke bawah menutup pintu kembali,namun Siena malah pergi mengambil tas nya iya memasukkan, ponsel dan dompet nya saat iya akan bergegas Fero menghalangi jalan nya.
"mau sampai kapan, kamu mengabaikan aku heuhhhh, jawab Sien?" Fero berteriak, dan menatap tajam kearah nya.
"kenapa, giliran aku mengacuhkan mu kamu bisa semarah ini, tapi saat kau mengacuhkan ku, di tempat umum, kulihat kamu biasa saja tanpa beban" jawab Siena yang menatap balik ke arah Fero.
"aku minta jawab pertanyaan, bukan menyuruh mu untuk bertanya" ucap Fero tidak mau kalah.
"itu jawaban ku harus nya kamu tanya pada hati mu sendiri apa aku masih ada di sana atau memang tidak pernah ada, aku tidak ingin berharap, apa pun itu dari mu karena sudah berulang kali aku kecewa, dan saat ini lebih baik kamu ceraikan aku, percuma bertahan kalo sikapmu tidak pernah berubah, aku cape" ucap Siena yang kini berbalik menuju kamar mandi, namun lagi-lagi Fero mencegah nya.
"jaga bicara mu, sampai kapan pun, aku tak kan pernah melepaskan mu dan ya sampai mati pun, kamu tidak akan pernah kembali ke mantan mu itu ingat itu" ucap Fero sambil mencengkram erat bahu Siena yang mulai meringis kesakitan.
"apa maksudnya kata-kata mu itu, kamu pikir aku meminta cerai karena hal itu" tanya Siena.
"alah, sudah lah jangan berpura-pura polos aku tahu semua nya, kamu menampung nya di Mension ini dan membiarkan dia menyentuh mu, aku tahu itu"...
__ADS_1
plakkkkk....satu tamparan keras mendarat di pipi Fero, hingga nyaris membuat Fero semakin marah,pada Siena.
"kau berani menampar wajah ku Sien, kamu pikir aku ini apa hmmm..." ucap Fero yang langsung mencengkeram,rahang Siena.
"kau pantas mendapatkan itu, karena kamu telah memfitnah istri mu sendiri,kalau kamu hidup bahagia dengan istri mu itu tidak usah mencari kesalahan,ku aku tidak akan menolak kapan saja kau pergi dari ku untuk menceraikan ku pun tidak perlu menunggu waktu lama" ucap Siena yang menahan sakit,di rahang nya.
"mimpi kamu aku sudah katakan sampai langit runtuh pun aku tidak akan pernah lepas kan kamu" Fero melepaskan tangan nya dari rahang Siena, Siena langsung bergegas pergi namun pintu sudah terkunci.
"Ahhhhhh.... apa mau mu kenapa kau tidak membunuh ku saja saat ini juga, hiks,,,hiks.."
Siena, melorot ke bawah terduduk di lantai menangis pilu meratapi nasibnya.
"sampai, aku mengizinkan mu, kamu tidak akan pernah bisa keluar dari dalam kamar ini" ucap Fero tegas.
Siena, hanya menangis tak menjawab, perkataan Fero saat ini.
"siapa yang mengizinkan mereka ikut pria brengsek itu" tanya Fero, namun Siena tidak mau menjawab.
"Ok, baik lah jangan salah kan aku jika aku mencelakakan mereka" ucap Fero.
" berani' kamu sentuh mereka,maka aku tidak akan segan untuk menggugurkan kandungan ini" balas Siena.
"wow... kamu mengancam ku, kita lihat saja seberani apa kamu saat ini" Fero langsung menelpon seseorang di balik telpon.
"beri mereka pelajaran saat ini"
"tidak jangan kau berani menyentuh nya atau aku akan menghabisi anak mu saat ini juga"
Siena memegang obat, dalam genggaman tangan nya saat ini, dalam dosis yang banyak, sontak Fero melotot kearah nya.dan langsung merebut obat itu dari tangan nya Siena.
"Siena... apa yang ingin kamu lakukan, heuhhhh, jangan coba-coba, melakukan nya"
ucap Fero sambil membuang kasar obat dari tangan Siena.
"kau ingin menyakiti kedua anak ku, maka aku juga akan membunuh anak mu" ucap Siena saat ini.
"siapa yang akan menyakiti anak mu heuhh mereka juga anak ku kamu pikir, aku segila itu, apa aku bukan manusia" Fero menatap mata Siena yang masih menangis dalam diam.
Fero,membawa Siena ke dalam pelukan nya, dia minta maaf dan Siena hanya terdiam, tanpa kata tiba-tiba saja .
"AW... ahhhhhh sakit" teriak Siena yang memegangi perutnya .
Fero, kaget' melihat darah mengalir di ************ Siena iya buru-buru mengangkat tubuh Siena dan langsung membawanya kedalam mobil dan bergegas menuju rumah sakit terdekat.
Fero langsung berteriak minta tolong saat sampai di depan parkiran, petugas pun berlari membantu nya dan membawa Siena ke dalam IGD, saat itu juga Fero mengacak rambut nya prustasi, iya bahkan tidak sadar telah membuat Siena merasakan kesakitan, seperti ini lagi.
dokter yang menangani, Siena kini iya menyuntik kan obat penguat kandungan, beruntung janin nya masih bisa bertahan, dan Siena tidak harus berduka karena kehilangan anak nya, hanya saja dia harus melakukan istirahat total selama satu bulan kedepan,agar tidak membahayakan,janin nya lagi saat ini.
seminggu sudah Siena, di rumah sakit, hari ini dia di perbolehkan pulang,namun tetap harus istirahat, total tanpa aktivitas yang berarti.
"sayang, kamu ingin makan sesuatu" ucap Fero yang baru selesai menyiapkan bantal untuk Siena.
Siena hanya menatap nya seperti yang selalu ia lakukan, selama ini, terhadap Fero, bukan tanpa alasan, Siena bertanya-tanya dalam hati nya, siapa laki-laki yang kini ada di hadapannya, benarkah dia cinta pertama nya, yang sangat dia cintai dulu, kenapa cinta nya begitu egois.
__ADS_1
Siena tidak menjawab dia malah memejamkan mata nya.
"baik lah sayang istirahat lah, setelah nanti kamu bangun, kita akan bicara lagi" ucap Fero.