
"Tolong, tinggalkan kami kami berdua"ujar Arthurro, yang langsung mendekat pada Terry.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa jamin apa dia masih ingin hidup bersama dengan mu atau tidak, yang pasti satu hal dia sudah sangat kecewa pada mu"ujar Dandi.
Arthurro, hanya diam dan enggan untuk menggubris ucapan dari Dandi, dia duduk di samping istrinya, saat ini dan menggenggam tangan nya Air mata nya menetes dari pelupuk mata nya, dia begitu terluka melihat Terry, yang hampir saja kehilangan nyawa nya.
"Bangun, sayang aku tau kamu marah padaku, tapi aku bisa menjelaskan semua nya, maafkan semua salah ku"ujar Arthurro, Air mata Arthurro, menetes di tangan Terry, saat ini dan itu yang membuat sebuah keajaiban, Terry, tiba-tiba menggerakkan telunjuk nya, Arthurro pun langsung memanggil nama istrinya itu.
"Terry, sayang bangun lah, aku di sini kamu boleh marah sesuka hati mu, pada ku tapi aku mohon jangan seperti ini"ujar Arthurro sambil mencium puncak kepala istrinya itu.
sesaat, setelah pergerakan di tangan nya,mata Terry, pun berkedip perlahan, dia membuka mata nya, Arthurro, begitu bahagia saat melihat nya.
"sayang kamu sudah sadar, syukurlah, aku sangat takut kehilanganmu"ujar Arthurro, namun Terry, tidak merespon ucapan nya, bahkan untuk melihat Arthurro, pun seperti nya enggan dia lakukan,air mata nya menetes, dia membuang pandangannya, sementara itu Arthurro langsung memijat tombol emergency agar dokter segera datang untuk memeriksa nya.
dan tidak menungu lama setelah itu Dokter pun tiba dan langsung memeriksa kondisi Terry.
"kondisi, nyonya Terry, saat ini sudah jauh lebih baik, tinggal masa pemulihan, saja agar lebih stabil"ujar sang dokter yang langsung melepaskan peralatan dari badan Terry, saat ini.
sementara itu Arthurro, langsung memeluk dan mencium bibir Terry, sekilas dia begitu bahagia istrinya di nyatakan baik-baik saja.
"sayang, aku sangat bahagia mendengar nya"ujar Arthurro, dan kini perawat membawa Terry,ke ruang rawat inap VVIP, sesuai permintaan Arthurro.
setelah semua selesai, Arthurro, langsung duduk di samping Terry, dan dia kembali menggenggam tangan istrinya itu,namun Terry, memalingkan wajahnya, bahkan dia membelakangi Arthurro.
"sayang, aku tau aku sangat bersalah pada mu, tapi aku mohon bicara lah"ujar Arthurro, yang masih menggenggam tangan Terry.
"ceraikan aku "ujar Terry, lirih.
Deg...bagai di hantam batu besar rasa sakit yang kini menghujam jantung, Arthurro, dia langsung menangis dan memohon kepada Terry, agar tidak berkata, yang sangat tidak ingin di dengar oleh nya.
"sayang, aku mohon jangan pernah minta itu, jangan sayang, aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilangan mu, sampai kapan pun"ujar Arthurro,di sela tangisnya, dia langsung memeluk tubuh Terry, begitu erat dia tidak ingin kehilangan Terry, meski Terry, benar-benar membenci nya.
"baiklah, mungkin kau tidak ingin bercerai, tapi kamu menginginkan kematian ku,baiklah itu juga lebih baik"ujar Terry, yang kini langsung bangkit walau masih gontai,namun Arthurro, menahan nya.
"jika kamu minta aku menceraikan mu itu artinya kamu ingin melihat kematian ku sayang baiklah-baiklah, akan segera aku wujud kan keinginan mu itu"ujar Arthurro, yang kini memegang pistol di tangan nya, dia menodongkan pistol tersebut tepat di pelipis nya.
"kenapa kamu begitu egois, Arthurro, kamu sudah bahagia bersama dengan nya, tanpa adanya aku di sisi mu lalu untuk apa aku terus kamu pertahanan kan, apa??kamu tau bagaimana rasanya jadi aku, jika kamu ingin aku membayar, untuk biyaya pengobatan ku, aku sudah menyiapkan semuanya, aku akan membayar uang itu sekarang juga"ujar Terry.
Arthurro, langsung melempar pistol itu ke hadapan Terry, dia menatap lekat wajah pucat Terry, dan berkata"jika kamu tidak puas, dengan semua perbuatan ku,ayo kamu bisa membunuhku saat ini juga"Arthurro, menatap nya tanpa berkedip sedikit pun.
Terry, melempar benda tersebut dan, pada akhirnya dia kembali membaringkan tubuhnya, dan membuang pandangannya.
"sayang, ikut aku ke Paris, aku mohon"ujar Arthurro.
"tidak, sampai kapan pun, aku akan tetap di sini"ujar Terry.
"aku tidak bisa jauh lagi dari mu"ucap Arthurro.
"sudah lah Arthurro, jangan bahas apa pun lagi mulai saat ini kita jalani hidup masing-masing"ujar Terry, yang langsung melukai hati Arthurro.
"tidak sayang, mulai saat ini dan seterusnya aku akan tetap bersama dengan mu"ucap Arthurro.
" itu hanya mimpi yang selalu kamu berikan, tapi kenyataannya tidak ada , sebaiknya kamu fokus pada nya dan calon anak kalian"ujar Terry,lirih sambil menggigit bibir bawahnya, sakit teramat sakit, tapi Terry, tidak akan pernah memberitahu perasaan nya pada siapapun saat ini, Terry, hanya ingin pergi jauh membawa rasa sakit itu .
Terry, kini memejamkan mata nya walaupun air mata nya terus bercucuran dia menangis dalam diam, dan Arthurro, hanya bisa melihat itu dari tubuh Terry, yang bergetar saat ini Arthurro , mencoba membalikkan tubuhnya namun Terry menahan nya.
"sayang, aku tidak ingin melihat mu seperti ini, kamu boleh luapkan kemarahan mu pada ku, tapi jangan pernah memendam nya sendirian, aku memang bajingan Terry,aku tidak pantas mendapatkan maaf dari mu, tapi aku tidak pernah ingin menyakiti hati mu, sedikit pun, aku sangat mencintaimu sangat Terry, please bicara dan luapan emosi mu pada ku"Arthurro memohon Sambil memeluk tubuh Terry, tapi Terry, tidak menggubris kata-kata nya, dia malah tidur di dalam kesakitan nya saat ini
__ADS_1
dua, hari berlalu,kini Terry, sudah di nyatakan sehat, dia pulang setelah mengurus administrasi nya sendiri, karena kebetulan Arthurro, sedang meeting, saat ini Terry, pun pulang sendirian dengan menaiki taksi, hingga sampai di halaman rumah nya.
sesampainya di sana, Terry, langsung membuka pintu, rumah nya yang terlihat begitu sepi dan sedikit berdebu, tapi dia langsung menutup pintu, dan bergegas menuju kamar nya saat itu juga, dia merasa sangat lemas saat ini.
Terry, pun tertidur pulas hingga jam tujuh malam, dia terbangun dari tidurnya, dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa sangat lengket.
"Aku, kesepian ayah Bunda kakak, bawa aku bersama dengan kalian, aku sudah tidak sanggup lagi harus menahan beban hidup ini"ujar Terry, lirih dia melihat dinding yang terlihat lurus dari kamar mandi, dan terpangpang jelas foto keluarga nya, saat dia masih kelas 1smp dulu saat bunda nya masih hidup.
setelah selesai, mandi Terry, langsung menggunakan baju nya, dan langsung menuju cermin, dilihat nya,kini wajah nya yang terlihat pucat, Terry, tersenyum kecut pada dirinya sendiri, dia adalah wanita yang bodoh saat ini bahkan terasa sangat bodoh, Terry, menyisir rambut nya yang pendek itu dengan sangat cepat setelah itu dia bergegas menuju samping ranjang nya, dan membuka laci nakas tersebut hanya untuk ,mengambil obat tidur yang biasa dia minum, tapi Terry, tidak tau obat itu menghilang entah kemana.
🌹💖💖💖🌹
Terry, merebahkan diri di kasur empuk nya saat ini dia bahkan tidak mengisi perut nya sama sekali, waktu terus berjalan,kini Arthurro,baru selesai memimpin rapat perusahaan nya yang kini tengah mengurus proyek pembangunan hotel termegah di Indonesia hotel berbintang .
"sayang, aku datang"ujar Arthurro, yang tidak mengetahui bahwa, Terry, sudah pulang, saat ini, tapi setelah ia masuk ia melihat ruangan Terry kosong dan ranjang nya pun sudah rapi tanpa ada penghuninya.
Arthurro, segera bertanya kepada resepsionis ternyata Terry, sudah pulang sedari pagi, dan dia tidak diberitahu oleh siapapun, Arthurro, langsung pergi menuju kediaman Terry.
"sayang kamu di mana"ujar Arthurro, yang kini langsung mencari keberadaan istrinya itu, Namun Arthurro, saat ini tidak mendapatkan jawaban.
sesampainya di dalam kamar, dilihat nya Terry, sedang memeluk pigura foto,kecil foto keluarga nya yang sudah tiada sambil memejamkan mata nya.
"sayang, maafkan aku, aku tidak tau bahwa kamu pulang dari rumah sakit pagi ini, aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan"ujar Arthurro.
"sudah lah jangan pernah, minta maaf, lagian kita bukan siapa-siapa lagi, saat ini sebaiknya kamu minta maaf kepada nya, karena telah diam-diam pergi di saat dia sangat membutuhkan mu"ujar Terry dingin.
"stop, jangan pernah membahas tentang nya lagi"ujar Arthurro, dan Terry, langsung terdiam saat itu juga.
Terry, pun memunggungi Arthurro, dan menutup tubuh nya dengan selimut, dia menangis di dalam nya, Arthurro , mengeratkan genggaman tangan nya, rasanya, dia ingin menghajar seseorang untuk melupakan emosi nya, dia tau Terry, begitu terluka dengan semua itu.
dia memeluk Terry, dari belakang," sayang maafkan aku, aku sangat bersalah aku juga sangat merindukan mu, please lihat aku"ujar Arthurro.
satu jam kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar nya, dan Arthurro, pun bangkit dan langsung menemui pelayan yang datang.
"tuan makanan nya, sudah siap"ujar nya, dan langsung bergegas menuju lantai bawah.
"baiklah"jawab Arthurro.
"sayang,ayo kita makan malam"ujar Arthurro, Sambil menggenggam tangan Terry, yang sedari tadi hanya diam, dan tidak berkata apa-apa.
Terry, pun hanya bisa pasrah dan bangkit mengikuti ajakan suami nya itu, dan berjalan menuju lantai bawah.
sesampainya di sana semua sudah terhidang begitu rapi dan sangat menggoda, Arthurro, pun menggeser kursi untuk istrinya itu dan langsung menyiapkan piring nya, Arthurro, juga langsung mengambil kan makan untuk Terry.
mereka pun makan malam tanpa gangguan dari siapapun, Terry, juga makan walaupun masih anteng dengan tatapan kosong nya saat ini.
"sayang, apa makanan nya tidak enak"ujar Arthurro, Terry hanya menggeleng, sementara Arthurro, menarik nafas panjang dan menghembuskan nya, setelah itu dia langsung mengambil alih sendok milik Terry, dan menyendok makanan di piring tersebut, dan menyodorkan nya ke bibir Terry.
"Aaaa... sayang aku saja yang suapin kamu", tapi Air mata Terry, tiba-tiba jatuh begitu saja saat ini, dan Arthurro langsung menjatuhkan sendok tersebut dan bunyi nya begitu nyaring, semua nya menoleh kearah meja makan.
"Baiklah, Terry, jika itu yang kamu mau, aku pastikan, mulai besok kamu hanya akan melihat jasadku"ujar Arthurro, yang sudah sekuat tenaga menahan emosi nya, Arthurro langsung pergi dari rumah tersebut, dan Terry, pun menangis sesenggukan.
Terry, berlari ke kamar nya, dia mengunci pintu kamar nya saat ini, dan satu hal yang kini mereka lakukan di ruang terpisah, mereka menangis, cinta itu mungkin sangat menyakitkan tapi mereka enggan untuk melepaskan satu sama lain nya, Arthurro, melajukkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan saat ini dia begitu terluka, Arthurro, pun langsung bergegas masuk dalam Mension miliknya, dan saat itu juga dia mengambil minuman beralkohol tinggi yang tersimpan di rak milik nya.
sementara itu seseorang, yang mengetahui bahwa Arthurro, ingin melukai diri nya sendiri dia langsung menelpon Terry, dan meminta nya untuk segera datang ke mension tersebut, dia adalah asisten pribadi Arthurro, yang kini meminta sopir untuk menjemput Terry, sebelum kejadian mengerikan itu terjadi.
setelah kehadiran Terry di sana asisten nya itu langsung membawa Terry, ke ruang kerja milik Arthurro,di mana kini Arthurro, tengah mabuk berat, dan ingin melukai diri sendiri namun di tahan oleh para asisten nya.
__ADS_1
"tolong tinggalkan kami berdua"ujar Terry, Arthurro pun di lepaskan dan pistol itu sudah di amankan oleh mereka begitu juga benda-benda yang mungkin akan mengakibatkan Arthurro, terluka parah.
"kamu sudah gila ya apa dengan cara itu bisa menyelesaikan masalahmu, apa dengan cara itu kamu pikir aku akan memaafkan mu, Arthur, aku tau kamu mencintai dia dan anak kalian, setidaknya kamu harus berpikir ulang untuk mereka, aku tidak patut untuk mendapatkan cinta mu, aku bahkan tidak seberharga itu dan sebaiknya segera lah kembali ke sisinya, maafkan aku yang mungkin tidak sengaja telah membuat mu datang ke hadapan ku, Jujur, aku tidak pernah ingin kan itu, bahkan aku tidak pernah ingin ada yang tau saat aku aku akan mati"ucap Terry,sambil berbalik dan hendak melangkah pergi,namun Arthurro, langsung memeluk nya dari belakang, Terry pun memejamkan mata nya saat ini.
"aku tidak ingin yang lain, aku hanya ingin kamu, dan aku sangat mencintaimu, Terry, aku sangat mencintaimu apa kamu dengar itu"teriak Arthurro.
Arthurro, langsung membawa Terry, ke atas sofa mewah yang ada di sana dan dia mendudukkan nya perlahan bibirnya langsung mencium bibir Terry, dengan sangat lembut dan menuntut hingga Arthurro , perlahan membaringkan tubuh Terry di sana dia mengungkung nya, dan semua tidak terelakkan lagi,di saat Arthurro, dalam keadaan mabuk dia menggauli istri nya berkali-kali, dan berkali-kali pula dia menanam kan benih cinta nya di rahim Terry, saat ini.
Arthurro, pun tertidur pulas di atas sofa yang berukuran lebar tersebut, sementara Terry, menyeka air matanya, dan bangkit untuk menggunakan pakaian nya kembali, Terry hendak pergi,namun Arthurro langsung l
menahan nya, jangan pergi aku mohon tinggallah di sini bersama dengan ku, karena ini juga rumah mu sayang"ucap Arthurro.
namun Terry menggeleng dia melepaskan tangan Arthurro, saat itu juga dan berjalan keluar, Arthurro, yang sudah sadar dia langsung mengejar Terry, saat itu juga dan dengan cepat nya menggunakan bathroob, yang sedari awal dia kenakan.
"sayang, jangan pergi,ini rumah mu"ujar Arthurro.
"tidak tuan Arthurro,ini rumah istri mu"ucap Terry.
"dan kau adalah istri ku, satu-satunya"ucap Arthurro.
"tidak Arthurro, dia lebih berhak dari ku, bahkan sebentar lagi, anak kalian akan lahir"ujar Terry, yang terus berjalan namun Arthurro, langsung membawa Terry dengan paksa menuju ke lift untuk masuk ke dalam kamar nya.
"Arthurro, lepaskan aku, aku harus segera kembali ke rumah ku"ucap Terry.
"rumah mu di sini titik tidak ada penolakan, apa pun itu"ujar Arthurro.
sesampainya di kamar dia langsung membuka kunci pintu dengan sidik jari nya, dan pintu pun terbuka dan setelah itu pintu terkunci otomatis.
Terry, hanya bisa pasrah, dia duduk di tepi ranjang nya dan menatap ke arah foto, yang membuat nya merasa sakit', foto pernikahan mereka terpangpang jelas di hadapan nya, Arthurro, dan Sharena, begitu serasi.
Arthurro, saat ini baru menyadari nya, dia pun langsung melepaskan foto tersebut dan melempar kan nya dari balkon .
"kenapa harus di singkirkan, foto itu sudah seharusnya ada di sini karena ini adalah kamar kalian, dan aku yang seharusnya,tau diri"ujar Terry, yang kini berdiri dan berjalan menuju pintu, namun saat hendak membuka pintu dia tidak bisa membuka pintu tersebut.
"Arthurro,tolong buka pintu nya, aku harus segera kembali, aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan secepatnya"ujar Terry, beralasan.
"tidak ada pekerjaan apapun, mulai detik ini aku tidak mengizinkan mu, keluar dari tempat ini"ujar Arthurro.
"kau ingin menjadikan ku, tahanan rumah ini"ujar Terry.
"bukan begitu aku hanya tidak mengizinkan mu pergi lagi"ujar Arthurro.
"setidaknya, izinkan aku untuk membereskan barang-barang milik ku, sebelum aku tinggal di sini"ucap Terry, lembut, dia berharap Arthurro, bisa luluh.
"mereka yang akan mengurus semua nya"ucap Arthurro.
"Arthurro, aku hanya minta kamu membiarkan aku tinggal di rumah ku sendiri, apa itu sangat sulit, apa karena aku tidak pernah berharga bagi mu, hingga,satu permintaan ku saja kamu tidak mau mengabulkan nya"teriak Terry, yang jengah dan kini menangis sesenggukan, dia begitu kesal saat ini.
"sayang, aku mohon jangan minta itu, aku sangat mencintaimu dan aku ingin terus bersama dengan mu"ucap Arthurro, lembut sambil mengusap air mata Terry.
"apa kamu tau Arthurro, apa yang sangat aku sesali di dunia ini, aku sangat menyesal bisa melihat kembali, dan karena hal itu semua ini terjadi andaikan saja waktu itu hingga saat ini aku masih buta, mungkin rasanya tidak akan se menyakitkan ini"ujar Terry yang semakin terisak.
"please Honey, jangan katakan itu aku mohon, karena dengan begitu kamu juga menyesali pernikahan kita"ucap Arthurro.
"kamu tau sendiri jawaban nya"ucap Terry,sambil mengusap wajah nya dengan kasar.
Arthurro,kini berlutut di hadapan Terry, dia memohon ampun dan meminta Terry, mencabut kata-kata nya itu.
__ADS_1