
"Bantuin aku, aku kesulitan membuka resleting baju," ucap Ganesa pada akhirnya.
Nicho melirik ke arah Ganesa, menghela napas panjang. Dia melirik tangan Ganesa yang masih menggenggam tangannya.
"Kau mau menggodaku?" tanya Nicho. Ganesa mencoba untuk tenang, tidak mau juga dia terlihat lemah di hadapan Nicho.
"Apa tidak salah baru mempertanyakan hal ini Honney?" tanya Ganesa.
Wanita cantik itu melangkah dua langkah mendekat ke arah Nicho, hingga kini berdiri tepat di hadapan Nicho. Tangan kirinya masih memegang tangan Nicho, dan tangan kanannya kini dengan berani dikalungkannya di leher suaminya. Hingga Keduanya dekat merapat.
Keduanya saling berpandangan, beradu tatapan teduh yang entah menyiratkan perasaan yang bagaimana.
"Bukankah kau memang tergoda denganku sejak malam itu, bahkan sampai mengambil suatu yang berharga dan berujung menikahiku, sehingga pernikahanku dengan orang yang aku cintai gagal. Menyedihkan sekali kamu, memiliki jiwaku, tapi tidak dengan hatiku," ucap Ganesa sambil menepuk dada Nicho.
Nicho mengepalkan tangannya. Apa apaan wanita di depannya ini. Dia memang meminta Ganesa menikah dengannya, tapi bukan karna alasan apapun. Kecuali karna kakeknya, apa dia harus mengatakan semua, agar wanita di depannya tak besar kepala?
"Sombong sekali jika kau berpikir aku tergoda padamu Nona. Sudah aku jelaskan, jika saat yang sama, aku memesan satu wanita bayaran. Dimataku kau tak lebih dari itu Nona, kau kubayar dengan satu kata ijab, membelenggumu dalam satu status yang tidak pernah aku lepaskan, karna aku butuh status itu untuk menjaga perasaan kakekku," ucap Nicho.
Lelaki tampan itu melepaskan tangannya dari genggaman Ganesa. Kedua tangannya melingkar sempurna di tubuh Ganesa, mengulur untuk menurunkan resleting gaun yang dipakai Ganesa.
__ADS_1
Genesa diam, sakit hatinya mendengarkan penuturan Nicho. Penuturan yang ternyata hanya mengambil keuntungan dari pernikahan yang terjadi. Dia pikir, Nicho nekat menikahinya karna rasa bersalah. Tapi ternyata hanya sebuah tameng untuk membuat kakeknya bahagia, setelah dia dihianati oleh kekasihnya. Pantas saja dia sangat tunduk pada perintah kakeknya.
Ganesa mendongak, menatap Nicho yang mengurungnya dalam rengkuhan tangan. Posisi seperti ini sangat nyaman. Detak jantungnya tak bisa dikondisikan saat Nicho telah menurunkan resleting baju Ganesa dengan sempurna. Hawa dingin membuat Ganesa berdesir.
"Terima saja pernikahan ini, nikmati semua fasilitas yang aku berikan. Aku diuntungkan, kau juga diuntungkan karna pernikahan ini. Bukankah kau butuh juga status ini untuk menutupi aibmu?"
"Kau tenang saja, Ini sangat menguntungkanmu, jika memang ada kehidupan di sini, kau tidak akan malu," ucap Nicho sambil melepaskan rengkuhannya pada Ganesa, kemudian mengusap lembut perut datar istrinya.
Ganesa memejamkan matanya sejenak, hatinya sakit mendengar ini. Kenapa Nicho setega ini? Tak mau melepaskanya? Sampai kapan? Air mata Ganesa mendesak keluar. Tapi dia tak mau memperlihatkan kerapuhannya. Dipandangnya Nicho yang juga memandangnya.
"Trimakasih Honney, aku bangga padamu yang memikirkan nasipku," ucap Ganesa. Ganesa berjinjit dan mencium pipi suaminya, kemudian berlalu pergi meninggalkan si wajah dingin itu.
Nicho mengernyitkan dahinya. Hatinya sangat tak karuan, antara kesal dan marah. Bagaimana bisa Ganesa setenang itu? Padahal dia berharap wanita itu emosi dan marah marah karna sakit hati. Lalu, Kenapa malah menciumnya? Kenapa seakan tak terjadi apa apa? Nicho tau Ganesa sakit hati, Nicho tau wanita itu tersiksa karna ucapannya. Tapi bukankah Ganesa sendiri yang memulainya?
Ganesa masuk dalam kamar mandi, menutup pintu dan bersandar di pintu. Air matanya mendesak keluar. Dia meratapi nasipnya yang tak beruntung itu.
"Kau benar Tuan Nicho, aku memang juga diuntungkan, tapi kerugianku juga sangat besar. Jauh lebih besar lagi jika aku larut dalam kesedihan. Sepertinya menikmati hidup dan bermain main denganmu sangat menyenangkan. Karena jika aku terlalu larut dalam sedih, aku hanya bisa menyakiti diriku sendiri," sambil mengusap air matanya.
Dua puluh menit kemudian Ganesa keluar dari kamar mandi, dengan pakaian yang berbeda. Dia memakai dres berwarna hitam. Membuat dirinya terlihat sangat cantik. Ganesa mengedarkan matanya, tak ada Nicho. Kemana dia? Entahlah.
__ADS_1
Ganesa kini berdiri di depan kaca rias, memoles wajahnya dengan cantik. Ganesa memandang dirinya, dia harus terlihat sangat menarik. Tak ingin menggoda, tapi dia sengaja ingin menarik perhatian Nicho saja, membuat Nicho kesal dan sebal sepertinya sangat membahagiakan. Dia harus menikmati hidup dalam pernikahan yang konyol ini.
"Selesai," ucap Ganesa.
Dia hampir saja keluar dari kamarnya, akan tetapi suara Nicho di balkon kamar membuatnya mengurungkan niatnya. Wanita cantik itu berjalan ke arah balkon kamar.
"Siapkan semuanya, aku akan segera ke sana," ucapan Nicho diakhir panggilan yang mampu di dengar oleh Ganesa.
Ganesa segera berjalan keluar, sedangkan Nicho berjalan masuk, sehingga keduanya saling berpapasan di pintu.
Nicho mundur beberapa langkah sehingga bersandar di dinding. Netranya menatap Ganesa yang menggunakan pakaian yang senada dengannya. Wajahnya cantik mempesona. Nicho memasukan kedua tangannya di saku celana. Menatap ke arah wanita cantik yang kini menarik perhatiannya.
Ganesa tampak terkejut, bagaimana bisa mereka sama sama memakai baju berwarna hitam? Bagaimana bisa Nicho terlihat tampan sekali? Tampan? Oh No. Ganesa membuang pikiran liarnya.
"Honney, kamu mau pergi? Aku ikut," ucap Ganesa membuka percakapan.
__ADS_1
Nicho menautkan alisnya, dia di telpon untuk menjalankan misi. Menyelamatkan satu anak kecil yang disandra. Bagaimana bisa Wanita di depannya menawarkan diri untuk ikut?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...