Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Pasangan yang menjengkelkan


__ADS_3

Vino hampir melangkah mendekat ke arah Micela yang bermain dengan putrinya, tapi netranya mendapati seseorang berada di bawah sana.


"Ganesa?" ucap Vino.


Micel menoleh karna mendengar suara suaminya memanggil nama sepupunya.


"Ganesa Mas?" tanya Micel antusias. Micel menyerahkan putrinya kepada baby siter kemudian mendekat ke arah Nicho.


"Ya, bisa-bisanya dia datang kesini. Padahal Nicho sadar dan mencarinya," ucap Vino sambil mempeelihatkan grup chat yang dibuat Nala.


"Keterlaluan banget ini kakak sepupu aku, sebaiknya kita giring Kak Ganes ke sana deh. Ajak juga yang lain kesana sekarang, kita beri pelajaran kakak nakal kita," ucap Micel.


Vino menghela napas panjang, dia mengamati wajaj Micela. Hanya memastikan saja bagaimana wajah Micel mendapati Nicho sudah sadar, dan biasa saja. Bahagia pasti, tapi sepertinya memang tak ada kesepesialan nama Nicho di hati Micela.


"Ide yang bagus," ucap Vino.


Vino mengambil gambar Ganesa yang ada di depan rumahnya. Kemudian mengirimkan di dalam grup chat keluarga yang dibuat Nala.


Target ada di sini. Kita semua bersiap ke rumah sakit sekarang. Sepertinya kita harus memberi pelajaran pada sepupu kita yang najkal ini. @Nala, @Delon, @Dani, @ Radit.


Wah. Kau benar. Aku segera bersiap. Delon.


Alhamdulilah Ganesa sudah ditemukan. Kami otw. Dani.


Kak Vino, bawa Ganesa segera. Aku juga akan ke sana. Nala.


@Dani, @Nala, @ Radit. Oke aku akan memintanya ke rumah sakit sekarang. Vino.


"Sayang segera bersiap. Biarkan baby di rumah saja," ucap Vino.


"Hem, aku ambil tas dulu," ucap Micela sambil mencuri ciuman di pipi Vino kemudian melenggang pergi.


Vino tersenyum dan menatap kepergian istrinya yang mengambil tas di dalam kamar.


Diluar sana, Ganesa melangkah pelan menatap ke arah rumah megah milik sepupunya. Air matanya mengalir. Bayangan Nicho memenuhi otaknya, ingin dia memeluknya, tapi saat ini dia sepertinya tak punya daya untuk kembali ke sana. Bahkan, sengaja dia mematikan ponsel untuk menghindar dari banyak orang.


Yang ingin dia lakukan adalah meminta Micela untuk datang ke rumah sakit seperti apa yang dikatakan oleh Vito, kakak iparnya.


Ganesa mengusap air mata, dia mengulurkan tangannya untuk memencet bel. Akan tetapi belum sempat dia memencet. Micela dan Vino sudah berdiri di depan pintu.


"Jangan berkata apapun sekarang ikut kami ke rumahsakit," ucap Micela sebelum Ganesa mengatakan sesuatu. Micel menampakan wajah kesal pada sepupunya itu.


"Tapi aku...."

__ADS_1


"Ikut sekarang," ucap Vino dengan tatapan seakan mengimtimidasi.


Ganesa merasa tatapa tajam itu melukainya. Dilihatnya Micel dan Vino yang menatapnya.


"Aku...."


"Tidak ada penolakan, ikut sekarang Kak. Kau itu istri macam apa? Kak Nicho sakit, dia butuh kakak dan seenaknya kakak bermain kesana-kesini?" tanya Micel.


Deg


Jantung Ganesa berdetak hebat, matanya berkaca. Bagaimana bisa Micel berkata seperti itu? Apa dia benar-benar tak tau jika cinta Nicho untuknya? Bukam dia yang diinginkan, tapi Micela.


"Masuk mobil sekarang juga, kita ke rumah sakit sekarang," ucap Vino.


Ganesa menghela napas panjang, mungkin ini memang ikatan batin antara Micel dan Nicho suaminya. Tanpa dia memintapun, ternyata Micela sudah mau ke sana. Apa Micela sedih karna keadaan Kak Nicho? Atau bagaimana? Perasaan Ganesa tak karuan, menerla sesuatu yang menyakiti hatinya sendiri. Lalu, bagaimana Vino setenang ini?


"Aku naik taksi saja, kalian duluan. Aku akan mengikuti kalian," ucap Ganesa.


"Kenapa tak ikut sekalian? Mobilnya muat kok Kak," sahut Micel.


"Aku tak mau obat nyamuk diantara kalian," ucap Ganesa.


Vino dan Micele menghela napas panjang, pada akhirnya mereka menuju ke arah mobil dan menancap gas menuju ke arah rumah sakit.


"Kemana Non?" tanya supir taksi.


"Alamat ini ya Pak," ucap Ganesa sambil memberikan alamat pada pak supir.


Ganesa menghela napas panjang, saat ini dia merasa semakin tak berguna. Bahkan dia tak melakukan apapun. Tanpa dimintapun Micele juga menuju ke rumahsakit. Air matanya mengalir deras, sesak menyeruak dalam benaknya.


Aku benar-benar tak berguna, bahkan keberadaanku tak pernah ada artinya. Maaf Nicho, aku tak bisa datang kembali. Cukup sampai disini aku bertahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lorong rumah sakit kini seperti pasar. Pasalnya semua keluarga beekumpul. Mulai papa Mama Ganesa. Dani Emeli, Radit Nada, Delon Zifana, Vino Micela, Rangga Nala, Vito Davina. Mereka tampak berada di depan pintu kamar Nicho.


"Jadi ceritanya Nicho marah, karna Ganesa tak ada," ucap Vito.


"Makanya dia minta waktu sendiri sejak dua jam yang lalu. Dan aku maupun Davina tak bisa melakukan apapun," ucap Vito.


"Memangnya apa yang membuat Ganesa pergi?" tanya Mama Nina sambil menatap ke arah anak dan cucunnya.


Vito menghela napas panjang. Dia malu untuk menceritakan. Tapi baginya ini persoalan yang harus diselesaikan.

__ADS_1


"Ganesa pergi karna kesalah pahaman yang terjadi. Dan semua itu karna aku," ucap Vito.


"Kesalahan apa yang kakak maksud?" tanya Delon.


Vito menghela napas dalam dalam, sebenarnya dia malu mengatakan, tapi ini adalah hal yang semestinya dikatakan.


"Aku pikir cinta Nicho masih ada untuk wanita yang dicintainya sejak remaja. Akan tetapi semua itu ternyata salah. Dibalik kepanikanku, aku meminta Rangga untuk mendatangkannya ke sini untuk membatu mengembalikan kesadaran Nicho. Tapi ternyata tanpa wanita itupun Ganesa bisa," ucap Vito.


"Lagian Kak Vito ngaco. Seharusnya kakak paham kalau keberadaan Kak Ganesa cukup. Kak Ganesa istri Kak Nicho lo, pantas aja dia marah dan pergi," ucap Micel ketus.


Vito diam, dia merasa sangat bersalah. Vino memejamkan matanya, dia tau apa maksud Vito. Jadi Ganesa datang ke rumahnya untuk membujuk Micela? Karna Ganesa pikir Micel cinta sejati suaminya? Astaga. Dan sampai sekarangpun Ganesa belum ada muncul kemana lagi dia?


"Udah jangan bertengkar. Malu kedengaran orang, sebaiknya kita masuk," ucap Nala.


Semua orang menganggukan kepalanya. Nala dan Micel saling berpandangan.


"Ayo kita masuk," ucap Nala. Semua orang mengikuti gerakan Nala. Mereka tampak melangkah. Perlahan Nala membuka pintu. Alangkah terkejutnya saat melihat kamar rawat itu kosong.


"Kemana Kak Nicho?"


Ucap Nala nyaring. Semua orang menatap ke arah ruang kamar itu. Mereka membelalakan mata saat melihat inpus tergeletak, bahkan baju pasien berserakan.


Delon, Radit, Rangga, Vino, Dani, mereka saling berpandangan. Dipastikan mereka tau kemana Nicho pergi. Mereka sudah berumahtangga dan tau apa itu cinta. Dipastikan Nicho sangat mencintai Ganesa sehingga dia nekat pergi hanya karna Ganesa tak kunjung kembali.


Vino merasa lega, dia yakin Nicho sudah menemukan pelabuhan cintanya. Vino mendekat ke arah Micela.


"Sepertinya kita harus membantu Nicho berbicara pada Ganesa," ucap Vino.


"Kita?" tanya Micela. Vino mengangguk.


"Ya, kalian harus membantu pasangan menjengkelkan itu untuk rukun. Sepertinya kita terlalu pandai sehingga datang kesini hanya menjenguk Ranjang," ucap Radit.


Delon terkekeh, Dani menggelengkan kepalanya. Bagaimana Bisa Nicho senekat ini. Vito menghela napas panjang.


"Perlu kita cari mereka?" tanya Rangga.


"Tak usah, cinta yang akan mempertemukan mereka. Sebaiknya semuanya pulang, aku dan Micela yang akan mencari mereka," sahut Vino.


Micel tampak memandang Vino, dia masih tak tau apa maksud dari ucapan suaminya tadi. Tapi dia iyakan saja.


Semua orang pulang, Vito dan Davina saling memandang.


"Kau yakin sekarang? Ganesa adalah cinta untuk Nicho," lirih Davina dan diangguki oleh Vito.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2