
Ganesa membuka pintu kamar Nicho, dilihatnya Nicho terbaring lemah dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.
Ganesa memang diperbolehkan masuk oleh Dokter Arfan. Ganesa diminta untuk berinteraksi dengan Nicho. Berbicara pada lelaki yang menutup matanya itu. Berharap alam bawah sadar Nicho merespon, hingga lelaki itu bisa sadar kembali.
Ganesa berjalan perlahan ke arah Nicho. Mendekat, menatap ke arah Nicho.Tangis Ganesa semakin menjadi. Ganesa mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Nicho dan menciumnya. Air mata Ganesa menetes disana. Membasahi tangan hangat sang suami.
Ganesa mengangkat wajahnya dan mendekat ke wajah Nicho. Tangan Kanannya masih menggenggam tangan suaminya. Entah, dia tak mau melepas walau untuk sejenak.
"Nicho, Honney," ucap Ganesa disela isak tangisnya.
"Tadi aku minta izin dokter untuk masuk, entah jawabanya boleh atau tidak. Akan tetapi aku tak perduli itu, aku mau tetap masuk, aku mau berada di sampingmu," ucap Ganesa sambil mengusap air matanya.
"Tapi kamu jangan senang dulu, aku memaksa masuk bukan karna hawatir. Atau ingin menjengukmu, itu tidak mungkin, kamu jangan terlalu percaya diri," ucap Ganesa dalam isak tangisnya. Ganesa menangis tersedu.
"Kamu harus tau Nicho, aku mau masuk karna aku mau marah, aku mau menghukummu. Kamu mengabaikan permintaanku untuk tetap tinggal. Kamu pergi, kamu tak mendengarku. Dan akhirnya kamu menyakiti dirimu sendiri. Tapi nyatanya bukan hanya kamu saja yang sakit, tapi aku juga sakit. Kenapa kamu tidak pernah berpikir itu? Bisakah kamu tidak egois? Kenapa tidak pernah memikirkan perasaanku?" tanya Ganesa.
"Aku tau aku bukan siapa siapa Nicho, tapi jujur keberadaanmu sangat berarti untukku. Mungkin aku bukan wanita yang kamu cintai, tapi aku adalah istrimu. Harusnya aku bahagia kalau kamu sampai meninggal, karna pada saat itu aku bisa dengan bebas untuk pergi. Tapi kau tau Nicho, bahkan saat aku mendengar kamu kecelakaan, hatiku hancur. Aku seperti manusia yang tak punya arti apapun," ucap Ganesa. Kembali Ganesa mengusap air matanya.
Tangan Ganesa terulur dan mengusap wajah Nicho.
"Nicho, tolong bertahanlah. Tolong tetaplah hidup kamu mau apa dari aku? Katakan, atau mungkin kamu mau aku mempertemukan kamu dengannya?" tanya Ganesa.
"Tapi semua itu tidak gratis Nicho, kamu harus mengajak aku jalan-jalan. Mengajak aku menjalankan misi, aku tau kamu lemah. Tanpa aku, kamu akan kalah," ucap Ganesa sambil menatap ke arah Nicho.
__ADS_1
"Jika pada suatu saat nanti kamu bisa meraih cintanya kembali. Mungkin berpisah adalah hal yang tepat, walau kamu tak pernah mau menceraikan aku," ucap Ganesa.
Ganesa tampak terkejut, pasalnya dia merasakan gerakan tangan Nicho. Dia melihat sudut mata Nicho berair. Dia bahagia Nicho merespon. Akan tetapi, sebentar kemudian terdengar helaan napas di sertai dengan layar monitor yang menandakan detakan jantung berhenti.
"Dokter, Dokter," Ganesa histeris.
Dokter Arvan dan juga beberapa perawat berbondong masuk. Sedangkan Ganesa hanya menggelengkan kepalanya saat Nicho ditangani dengan alat pacu jantung.
Ganesa yang tidak kuat melihat pemandangan ini tampak keluar. Disana, dia melihat Vito, Davina dan juga Dimas. Ganesa mendekat, tapi langkahnya terhenti saat mendengar mereka terlibat sebuah percekcokan.
"Dokter Arvan bilang tadi, semoga Nicho membaik dengan datangnya orang yang dia cintai. Kalian tau, cinta Nicho hanya satu," ucap Vito.
"Iya, dan maksud dokter adalah kedatangan Ganesa. Bukan orang lain," ucap Davina.
"Bukan Ganesa yang Nicho cintai," sahut Vito.
"Davina tolong mengerti untuk kali ini saja, ini soal nyawa. Nicho adiku satu-satunya. Aku tidak bisa mlihat dia seperti ini, aku mau yang terbaik untuk Nicho. Kita minta Micela datang saat ini," ucap Vito.
Deg
Jantung Ganesa berdetak tak karuan, air mata Ganesa semakin deras.
"Micela?" lirihnya.
__ADS_1
Bayangan Micela berputar-putar diotaknya. Bahkan kini ingatannya tertuju pada satu kotak kado yang dibuka Micela semalam. Saat ini ingatanya betul betul bisa mengingat dengan jelas, kado itu adalah salah satu kado yang berada diantara paperbag yang diberikan Nicho padanya. Ganesa memwjamkan matanya.
"Micela?"
"Jika itu yang terbaik, aku tidak keberatan," sahut Ganesa dengan suara tegasnya.
Vito, Davina dan Rangga menoleh. Mereka tampak terkejut melihat keberadaan Ganesa.
"Ganesa," ucap Davina. Davina mendekat, tapi sepertinya Ganesa tak bisa untuk tetap diam. Hatinya hancur, kenapa dia seolah bersaing dengan bayangan Micela, saudara sepupunya. Ganesa berlari keluar dan menjauh.
"Ganesa," teriak Davina. Tapi Ganesa seakan tak mau mendengar.
Vito, Davina dan Rangga hampir saja mengejar. Akan tetapi dokter tampak keluar dari ruangan Nicho.
"Dokter bagaimana dengan adik saya? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Vito.
Dokter Arvan tampak menghela napas, beliau tersenyum.
"Sempat drop, tapi tenyata drop hanya beberapa saat saja. Dan Alhamdulilah Mas Nicho telah berhasil melewati masa kritisnya. Keadaanya saat ini jauh lebih baik, semoga Mas Nicho segera sadar," ucap Dokter.
"Amin, boleh kami menjenguk?" tanya Vito.
"Boleh, ajak ngobrol dia," ucap Dokter Arvan.
__ADS_1
Mereka tampak bernapas lega, hingga mereka bersamaan masuk ke ruangan Nicho. Sedang dokter segera melangkah pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...