
"No," sahut Ganesa. Dia mendorong tubuh Nicho.
Nicho terkejut saat tiba-tiba ciumannya terlepas dan dia menjauh. Ditatapnya wajah Ganesa yang tegang.
"Keluar, atau aku dulu yang keluar?" tanya Ganesa.
Nicho diam, kenapa dengan Ganesa? Nicho mencoba untuk kembali mendekat. Tapi Ganesa mendorongnya.
"Aku mau mandi sendiri, Nicho!" ucapnya tegas.
Nicho menghela napas panjang, dia tau Ganesa saat ini tidak main-main. Pada akhirnya Nicho mengangguk dan keluar dengan perasaan yang campur aduk.
Ganesa merasakan sesak, dia tak mau menerima perasaan yang berkecamuk dalam hatinya dari Nicho untuk saat ini, sebelum dia memastikan bagaimana hati Nicho sesungguhnya. Ganesa memejamkan matanya, dia mulai mandi.
Tiga puluh menit berlalu, Ganesa keluar dari kamar mandi. Dia terkejut saat melihat Nicho sudah dengan kostum yang lain, dipastikan lelaki itu mandi di tempat mandi lain.
Ganesa yang tiba-tiba kesal di dalam kamar mandi tadi tak berniat menyapa Nicho yang membaca koran. Dia yang masih menggunakan jubah handuk mendekat ke arah tasnya yang berada di atas nakas. Dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Waalaikumsalam mbak, mbak bisa Tolong kirimkan aku baju di alamat...."
Nicho yang mendengar ucapan Ganesa segera mendekat dan menyambar ponsel Ganesa.
"Maaf Mbak, salah sambung," ucap Nicho kemudian mematikan ponsel Ganesa.
Ganesa membelalakan matanya, dia menatap Nicho dengan kesal.
__ADS_1
"Kenapa dimatikan?" tanya Ganesa dengan marah, baru kali ini Nicho mendapati Ganesa sesadis ini.
"Disana ada baju," ucap Nicho.
"Berikan ponselnya, aku bisa pesan sendiri," ucapnya.
"Aku bilang ada baju," sahut Nicho.
"Tidak, Aku tidak mau," sahutnya cuek sambil berusaha mengambil ponsel yang diangkat tinggi oleh Nicho.
"Kenapa?" tanya Nicho yang seakan mengintimidasi.
"Aku bilang mana ponselnya!" kesal Ganesa sambil melompat dan mencoba mengambil ponsel. Akan tetapi Ganesa terhuyung, hingga keduanya jatuh di atas ranjang. Ganesa berada di atas tubuh Nicho yang saat ini memeluknya dengan erat. Ganesa yang semula memejamkan mata tampak membukanya, Keduanya berpandangan.
Nicho tersenyum, dia sangat tampan dan Ganesa tak bisa memungkiri itu.
"Tak perlu repot membeli baju," ucap Nicho.
"Aku tidak mau memakai baju wanita lain, aku tidak mau memakai baju yang kamu siapkan untuk wanita lain. Meski itu pas sama aku, biar tersimpan disitu. Karna aku tidak mau hidup dalam bayangan dia dimata kamu," ucap Ganesa.
Ganesa memalingkan wajahnya, entahlah sepertinya dia terluka. Tapi tak mau larut dalam kesedihanya. Matanya berkaca, terlepas dari semua yang menimpanya sebenarnya dia hanya ingin berdamai dengan keadaan. Dia tak mau terluka, dan baginya jujur itu lebih baik.
Nicho tersenyum dan mengusap air mata Ganesa, semenjak perkataan Ganesa yang menanyakan sandal dan baju saat itu, dia telah menyingkirkan baju untuk Micela. Dia membelikan yang baru untuk Ganesa.
"Aku sudah menyingkirkan, dan entahlah disingkirkan dimana aku tak tau. Aku membelikan baju baru untukmu, disana," ucap Nicho sambil menatap sofa yang tadi digunakan untuk membaca koran.
__ADS_1
Ganesa menoleh, itu paperbag yang dibawah tadi. Ganesa segera melepas tangan Nicho dan berdiri. Tapi bukannya tadi ada baju bayi? Dimana baju itu?
"Gantilah," ucap Nicho.
Ganesa diam, bahkan dia tak bisa berkata. Apa Nicho benar benar membuang baju yang ada di walk in closed?
"Nicho aku," Ganesa tak bisa mengerti dengan dirinya. Dia harus bagaimana? Senang? Atau bagaimana?
"Gantilah. Kakek sudah menunggu di kamarnya, kita diminta untuk ke sana, Darling," ucap Nicho sambil mengecup puncak kepala Ganesa dan melenggang pergi.
Ganeaa menatap kepergian Nicho dan melangkah menuju sofa, dia melirik walk in closed yang tembus pandang dan memang tak ada satu bajupun disana. Tangan Ganesa terulur mengambil satu paper bag.
Dibukanya paperbag itu, dia melihat kartu ucapan disana. Dia mengambil kartu itu dan dibukanya.
Untuk Ganesa, Istriku
Ganesa memejamkan matanya, dia tak tau apa yang dirasakan. Dia melihat banyak paperbag dan setiap paperbag ada kartu ucapan. Apa ucapan Nicho?
Ganesa bukannya ganti malah mengambil kartu ucapan lain.
Kau terindah, Ganesa.
Ganesa berbunga, wajahnya yang tadi sedih menghilang sudah. Dia malah ingin membaca semua. Ganesa mengulur tangannya lagi.
"Harus berapa lama lagi Kakek menunggu?" tanya suara tepat ditelinganya.
__ADS_1
Ganesa terkejut, dia menoleh. Dan saat ini bibirnya menempel sempurna di bibir Nicho. Tak mau melewatkan saat ini, Nicho yang seakan mendapat harta karun kini mulai beraksi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...