
"Rangga, jaga Ganesa," ucap Kakek. Rangga mengangguk dan mengejar langkah Ganesa menuju ke arah parkiran mansion.
Kakek mengambil ponselnya dan menghubungi kontak Vito, kakak Nicho. Kakek meminta Vito untuk datang juga ke rumah sakit.
Kini Ganesa dan Rangga berada dalam satu mobil, dengan perlahan Rangga melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ganesa yang merasa khawatir berlebihan menoleh ke arah asisten dari suaminya.
"Tak bisakah kau mengendarai mobil lebih cepat dari ini Ngga?" tanya Ganesa dengan tatapan yang dingin. Suaranya seakan menekan Rangga untuk lebih cepat, air mata membendung di pelupuk mata. Dan itu sangat terlihat jelas oleh Rangga.
"Tenanglah Nona, ini sangat ramai. Bahaya jika ngebut," ucap Rangga yang bisa membaca kondisi Ganesa yang sedang hawatir. Tak pernah dilihatnya wajah wanita itu setegang ini. Lalu, apa kini Ganesa mulai jatuh cinta pada bosnya? Rangga juga melihat banyak perubahan yang dialami Nicho sejak bertemu Ganesa, bahkan lelaki tampan yang sangat tertutup dan diam itu kini tampak banyak bicara dan periang.
"Tenang kau bilang? Saat keadaan suamiku seperti ini?!" bentak Ganesa.
Hening, suasana hening. Ganesa menatap Rangga yang diam. Dia menyadari ada yang salah dengan dirinya. Suami? Begitu hawatirkah dirinya sehingga dia begini? Kenapa dia membentak Rangga?
"Maaf Rangga, aku tidak bermaksud untuk membentakmu," ucap Ganesa. Ganesa mengalihkan pandangannya. Menyembunyikan tangis yang dia pendam sejak tadi.
Rangga menoleh dan menatap ke arah istri bos kesayanganya. Dia yakin Ganesa terluka, walau bagaimana Ganesa menyembunyikan nyatanya kehawatiran tetap terlihat jelas.
"Tak apa kau membentakku Nona Ganesa, itu adalah bukti cinta tulusmu pada Tuan Nicho. Sepertinya kau memang bidadari yang sengaja dikirim Tuhan untuk Tuan Nicho," ucap Rangga.
Deg
__ADS_1
Jantung Nicho berdetak tak beraturan, bukan bahagia. Justru Ganesa malah mengalirkan air mata semakin jelas. Cinta? Apa iya? Pasalnya bayangan Nicho bermunculan di pelupuk matanya. Entah bagaimana perasaanya, dia ingin saat ini berada di samping suaminya.
"Aku bukan siapa-siapa Rangga, aku hanya wanita...."
"Wanita yang sangat berharga untuk Tuan Nicho," sahut Rangga menyela ucapan Ganesa.
Ganesa menoleh, seyakin itu Rangga mengatakan hal itu. Dia merasakan, tapi belum bisa dia meyakini.
"Dihatinya ada nama orang lain, Rangga, dan itu bukan aku," ucap Ganesa.
"Tapi nama itu bisa luntur seiring berjalanya waktu, Nona, keberadaanmu yang akan menggeser nama wanita itu, aku yakin," ucap Rangga.
Tes
Ganesa mengusap air matanya, dia merasakan sesak yang mendera. Ganesa mengambil ponselnya. Dilihatnya satu foto yang sangat mengusik hatinya. Foto pernikahan dia dan Nicho. Sangat sakral, sangat meriah dan sangat istimewa. Nicho tersenyum saat itu. Kini Ganesa mengusap air mata yang mengalir semakin tak ada henti. Ditatapnya foto bersama Nicho di taman saat itu. Mereka tampak akur dan sama sama tersenyum.
"Nicho, bertahanlah," ucap Ganesa. Jari jemari tangannya mengusap pipi Nicho yang tampan.
Tak lama dari itu, sampailah mereka di parkiran rumah sakit. Ganesa segera turun. Dia segera berlari ke arah pintu utama rumah sakit. Seakan hafal, wanita itu segera berlari ke arah ruang ICU dimana Nicho berada.
Rangga mengikuti langkah Ganesa dengan terburu, tapi sayang sekali langkah istri bosnya tak dapat ia kejar, dan saat itu Rangga berpapasan dengan Nala yang juga mengejar langkah Ganesa. Nala yang tau kedatangan Ganesa, segera mengejar sepupunya itu.
__ADS_1
"Dokter Nala," sapa Rangga.
Nala berhenti, suara itu tak asing baginya. Nala menoleh, dia tampak menautkan alisnya. Rangga? Asisten dari suami Ganesa? Tumben sekali panggilan Rangga sangat sopan. Tidak seperti biasanya yang seakan mengajak perang.
"Ya," sahut Nala.
"Bagaimana keadaan Tuan Nicho?" tanya Rangga.
Nala yang sempat terlupa dengan keadaan Nicho karna keberadaan Rangga. Kini tampak kembali hawatir.
"Seperti tadi, keadaan Nicho sangat kritis bahkan kemungkinan besar Nicho mengalami Koma. Semoga dengan kedatangan Ganesa bisa membantu alam bawah sadar Nicho melewati masa kritisnya, dan juga bisa sadar dari komanya," ucap Nala.
Rangga memejamkan matanya, andai saja malam tadi dia tak menghubungi Nicho. Pasti semua tidak terjadi, lagi pula dia bisa menyelesaikan misinya bersama dengan bawahannya. Rangga merasakan sesak. Hingga pada Akhirnya Nala mendekat ke arahnya.
"Yang sabar, Rangga. Kita doakan yang terbaik untuknya," ucap Nala sambil menepuk pundak Rangga.
"Lakukan yang terbaik untuknya," ucap Rangga.
"Pasti, pasti tim dokter yang menangani melakukan yang terbaik. Tapi semua yang menjadi hasil, semua adalah urusan Allah, lebih baik kita ikuti Ganesa," ucap Nala.
Rangga mengangguk, mereka segera berjalan ke arah dimana ruangan Nicho berada.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...