
"Jangan protes apapun, tidak menerima komplen," ucapnya dan berhasil membuat Ganesa semakin kesal.
Ganesa menghapus air matanya, sejenak wanita cantik itu memejamkan matanya, menatap ponselnya yang tak menyisakan satu kontakpun. Yang dia hafal hanya kontak Nala saja. Kontak Rian? Dia tak punya.
Nicho mengambil lagi ponsel Ganesa dan mengetikan nomor ponselnya di sana.
Di panggilnya nomer yang dia tulis sehingga ponselnya kini berbunyi sejenak. Selesai mengetik dan menyimpan, Nicho kembali memberikan ponsel pada Ganesa. Ganesa menautkan alisnya saat melihat satu satunya kontak yang ada dalam ponselnya.
Honney
Ganesa menatapnya sambil membolakan mata indahnya. Bagaimana bisa Nicho menyimpan dengan nama yang yang selalu dia sebut?
"Kau suka sekali dengan panggilan yang aku berikan?" tanyanya.
Nicho diam saja, dia sibuk menyimpan nomer Ganesa, kemudian Nicho mengirimkan beberapa kontak nomer padanya. Kontak Dani, Kontak Radit dan juga Rangga, kemudian dia juga mengirimkan kontak Micela dan juga Vino.
Ganesa menautkan alisnya, Micela? Bagaimana bisa? Ingin bertanya, tapi ingatannya kini mengingat bahwa memang Micela adalah alumni dari perguruan yang Nicho pimpin.
"Sudahkan? Aku rasa beberapa kontak itu cukup untuk kau mengembalikan nomer kontak yang hilang," ucap Nicho sambil terkekeh.
Ganesa memutar bola matanya jengah. Kesal sekali dengan kelakuan orang yang selalu dia kerjai, akan tetapi malah mengerjainya balik. Ya, dia bisa menanyakan kontak pada mereka nantinya. Tapi kontak Rian? Mereka tak tau, atau memang ini jalan untuk memutus kontak dengan lelaki yang bukan siapa siapa itu?
"Kau bahagia mendapat nomor ponselku? Kenapa tertawa?" tanya Ganesa sambil melirik ponsel Nicho yang menamainya dengan nama Darling.
"Dikasih nama Darling juga, seneng ya?" protes Ganesa lagi.
__ADS_1
Nicho tak menjawab ucapan Ganesa, membuat wanita itu merasa amat sangat kesal. Justru lelaki tampan itu menancap gas mobilnya, menyusuri jalanan entah mau kemana. Keduanya diam tanpa kata. Hingga Nicho melihat Ganesa yang perlahan memejamkan matanya dan tertidur pulas.
Nicho mengamati wajah cantik di sampingnya, wajah yang tampak tenang. Bulu mata indah dan menawan, hidung yang indah, pipi yang mulus dan sangat mempesona. Sudut bibir Nicho terangkat, melihat Ganesa sepertinya memberikan satu suport sistem pada dirinya. Entah, hatinya merasa tenang.
Nicho mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah jalan, setelah netranya menangkap ponsel yang ada dalam genggaman Ganesa. Bukan tanpa alasan dia menghapus kontak dalam ponsel Ganesa tadi.
Tapi, dia sepertinya tak rela melihat wanita cantik itu menangis. Sebelum menghapus semua kontak, lelaki tampan itu memblokir kontak Rian, agar lelaki itu tak bisa kembali menghubungi Ganesa.
Lama berjalan, Nicho menyadari beberapa mobil mengejarnya. Semakin lirih, mobil itu juga lirih. Cepat? Mobil itu juga cepat. Pada akhirnya Nicho menambah kecepatan mobilnya saat dia benar benar yakin sedang dalam intaian.
Nicho tampak melewati beberapa kali jalanaan berlubang. Hentakan yang terjadi dirasakan oleh Ganesa. Sehingga wanita cantik yang semula tertidur pulas itu terkejut, perlahan Ganesa membuka matanya. Dia merasakan mobil yang melaju dengan kencang.
"Apa yang terjadi Sayang?" tanyanya reflek ditengah kepanikannya.
Nicho melirik Ganesa, Sayang? Sudut bibirnya terangkat. Biasanya Ganesa memanggilnya Honney jika hanya bermain main. Sayang? Sangat menggelikan.
Tersadar dengan sahutan Nicho, kini Ganesa menoleh. Darling? Ganesa benar benar ingat jika dia sedang satu mobil dengan Nicho. Sayang? Tadi dia memanggilnya sayang, dia masih terbawa mimpi, karna dalam mimpinya dia merasa sedang bersama dengan Rian.
"Ini kenapa? Kenapa kamu ngebut Honney?" tanyanya.
"Diamlah, jangan banyak bicara Nona menyebalkan," ucapnya lagi.
Ganesa mengamati kaca sepion. Ada mobil yang mengejar. Mengejar? Apa iya? Siapa mereka?
"Mereka musuhmu?" tanya Ganesa.
__ADS_1
Nicho diam, dia tampak prustasi saat melihat dia melewati gang buntu. Terpaksa Nicho menghentikan mobilnya. Ditatapnya Ganesa dengan tatapan dinginnya.
"Tetap di tempatmu, apapun yang terjadi," ucap Nicho saat menyadari dua mobil mengepungnya di belakang. Beberapa orang berbadan besar keluar.
Ganesa menautkan alisnya, dia tampak memandang orang dibelakang sana.
"Kau mau keluar?" tanya Ganesa tampak hawatir.
"Ya," ucap Nicho sambil melepas sabuk pengaman.
"Tapi ini bahaya," sanggah Ganesa. Ganesa mengarahkan pandangannya pada Nicho, dia mengulurkan tangannya memegang tangan Nicho. Seakan dia hawatir pada keselamatan lelaki di sampingnya.
Nicho menatap ke arah Genesa, kemudian menatap wanita cantik yang kini menggenggam tangannya itu. Sudut bibirnya terangkat.
"Kau menghawatirkan aku?" tanya Nicho.
Ganesa memejamkan matanya, baru menyadari jika tangannya menggenggam tangan Nicho. Segera wanita cantik itu melepaskan genggamab tangannya.
"Jangan GR, aku akan menghawatirkan semua orang yang sedang dalam bahaya," ucap Ganesa.
Nicho mengulurkan tangannya dan mengusap pelan pipi Ganesa. Entah, jika memang dikhawatirkan oleh Ganesa, dia merasa bahagia.
"Cukup doakan aku, tetap disini, apapun yang terjadi," ucapnya terdengar dingin dan mengintimidasi.
Nicho beranjak dan menutup pintu mobil. Sedang Ganesa yang tadinya diam karna perlakuan Nicho tampak memandang punggung lelaki yang kini berbicara dengan 6 orang disana.
__ADS_1
"Ya Tuhan, selamatkan suamiku," ucapnya reflek.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...