Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Dimana Ganesa?


__ADS_3

Vito dan Davina yang berada dalam ruangan itu terkejut, mereka saling berpandangan. Keduanya bersamaan menoleh ke arah asal suara.


"Nicho," ucap keduanya bersamaan.


Segera Vito mendekat ke arah Nicho yang kini menatap ke langit-langit kamar ruang rawatnya. Sedangkan Davina memanggil dokter.


Nicho mengedarkan pandangan matanya, menatap beberapa alat menempel di tubuhnya. Kepalanya terasa berat. Tapi ini jauh lebih baik dari pada saat itu, saat dia melihat Ganesa di sampingnya. Lalu, dimana Ganesa saat ini?


"Nicho kamu sudah sadar," tanya Vito yang saat ini tak mendapatkan sahutan sama sekali dari Nicho. Pasalnya Nicho masih berpikir, dimana keberadaan Ganesa, dan hal apa yang mengakibatkannya terbaring di sini.


Ingatannya menerawang jauh, saat dirinya menghindari sebuah mobil bok yang oleng saat itu. Ganesa, dimana Ganesa saat ini? Hatinya berdesir, saat mengingat nama itu. Bahkan saat itu dirinya tengah berjanji untuk melupakan masalalu. Ganesa wanita yang mampu membuatnya bahagia, tenang dan nyaman. Bahkan dia tak sadarkan diri pun, bayangan Ganesa yang menemani dalam mimpinya. Wanita itu menangis, mengajaknya bercanda. Mengajaknya untuk bercengkrama disela isak tangisnya. Nyatakah?


"Dimana Ganesa Kak?" tanya Nicho yang saat ini menoleh ke arah kakaknya. Tatapan mata dinginya seakan mengintimidasi.


"Nicho tenanglah," ucap Vito mencoba tersenyum.


"Aku akan tenang jika kakak mengatakan dimana Ganesa," sahut Nicho.


Deg


Hati Vito seakan tersambar petir, pasalnya sejak dini hari tadi Ganesa pergi dan belum kembali. Dan itu semua karna Ganesa mendengar ucapannya. Vito menghela napas panjang, kenapa dia bisa berpikiran hal seperti itu? Padahal saat ini, tanpa Micel pun Nicho bisa sadar. Dan Ganesa, wanita yang berstatus sebagai istrinya itu yang di cari oleh adiknya. Kenapa saat itu dia tak berpikir hal ini? Rasa bersalah seoalah bermunculan dalam benak Vito.


"Nicho, Ganesa..."


"Ganesa masih ada urusan sebentar Nicho, dia akan segera kembali," ucap Davina yang saat ini masuk ke dalam ruang rawat Nicho bersama dengan dokter Arvan.


"Selamat siang Nicho, sudah apa yang kamu rasakan?" tanya Dokter Arvan padanya sambil melepas alat yang sudah tidak lagi diperlukan oleh Nicho.


"Aku hanya lemas, kepalaku sedikit nyeri," ucap Nicho. Dokter Arvan mengecek keadaan Nicho dan tersenyum.

__ADS_1


"Kau hebat Nicho, kau bisa membaik lebih cepat yang kami perkirakan. Semua ini tak lepas dari suport doa dari semua orang. Terlebih dari wanita cantik yang selalu ada disisimu. Siapa tadi? Ganesa? dia istrimukan? Bahagialah selalu Nicho, sakinah, mawadah wa rohmah bersamanya, dia wanita yang hebat," ucap Dokter arvan sambil merapikan alatnya.


Nicho menatap ke arah Dokter Arvan tak percaya, jadi dia tak hanya mimpi. Ganesa memang ada di dekatnya? Meledeknya, memujinya, mengungkapkan perasaan yang ada di dalam hatinya. Tangis Ganesa seakan nyata, menangisi dirinya. Tapi dimana sekarang Ganesa?


"Dokter tau dia disampingku?" tanya Nicho.


Dokter arfan tersenyum.


"Sejak awal dia ada di sampingmu, mendoakan kebaikanmu. Bahkan dia memohon untuk keselamatanmu," ucap Dokter Arfan.


"Anda mengenal Ganesa?" tanya Vito yang seolah melihat kedekatan Ganesa dan dokter Arvan dari cara bicara dokter itu.


"Dia sepupu dari adik iparkku," ucap Dokter Arfan.


Nicho menautkan alisnya, Vito juga sama.


"Ya, aku kakaknya Nada. Istri Marvel Raditia Dika. Sedikit sedikit aku tau tentang Ganesa, karna aku akrab dengan Ardani kakak Ganesa," ucap Dokter Arfan.


Nicho tampak mengangguk, dokter ini kakak Nada. Mana mungkin dia berbohong. Vito mengusap kasar wajahnya, betapa bodoh dirinya. Dia harus segera mencari keberadaan Ganesa.


"Lalu kapan Nicho bisa pulang Dok?" tanya Vito.


"Secepatnya saat keadaanya stabil, Nicho orang yang kuat. Aku rasa dia bisa pulang lebih dari apa yang kita perkirakan," ucap Dokter.


"Terimakasih Dokter," ucap Davina.


"Sama sama, kalau begitu saya permisi, lekas sembuh Nicho," ucap Dokter Arvan kemudian melenggang pergi.


Nicho memejamkan matanya sejenak.

__ADS_1


"Kamu dimana Nes? Katamu mau memarahikukan? Katanya mau menghukumku? Kamu boleh melakukannya sekarang, karna memang aku tak menurut denganmu. Aku sudah sadar Nes, Aku juga akan mengajakmu jalan-jalan Nes. Mengajakmu menjalankan misi, kamu benar Nes, aku lemah tanpamu Nes. Aku lemah saat kau tak ada, seperti saat ini. Aku merindukanmu, datanglah di hadapanku istriku," ucap Nicho. Entah kenapa Nicho merasa jika Davina hanya mencoba untuk menenangkannya.


"Nicho makanlah," ucap Davina.


"Biarkan saja disitu Kak," sahutnya.


"Nicho tapi saat ini...."


"Nicho bilang biarkan disitu Kak, tinggalkan aku sendiri. Jangan ada yang masuk kecuali Ganesa," ucap Nicho dengan Nada dinginnya.


Vito dan Davina saling berpandangan. Rasa bersalah semakin menguasai hati Vito.


"Nicho aku kakakmu," ucap Vito.


"Tapi saat ini yang aku mau istriku," sahut Nicho.


Vito merasa Nicho tau sesuatu, Vito mengehela napas panjang. Dia tau Nicho sedang dalam emosi yang naik turun. Dia harus mencari keberadaan Ganesa.


"Oke, kami akan keluar," ucap Vito.


Vito dan Davina keluar dengan langkah pelan. Nicho mengepalkan tangannya. Bayangan Ganesa seakan mengusiknya. Ponsel? Ponselnya entah kemana, bahkan sekedar memandang foto saja tak ada. Lalu bagaimana dia mengobati rindu yang membara?


Nicho melepas selang infus yang ada ditangannya, sedikit merintih. Tapi sakit yang dia rasakan tak sebanding dengan bahagia saat dia menemukan Ganesa nanti. Dia harus pergi mencari istrinya yang dirasa menghindarinya.


"Ganesa, jangan mencoba untuk pergi," lirih Nicho.


Nicho mengganti bajunya dengan baju yang ada di paper bag di atas meja. Dengan menahan sakit, Nicho melompat ke arah jendela dan pergi meninggalkan rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2