
Nicho menoleh, semula dia tersenyum. Akan tetapi senyuman itu berangsur hilang saat ucapan terakhir Ganesa di dengarnya.
Ganesa menatap ke arah Nicho yang kembali dingin. Dia menepuk pelan dada Nicho. Keduanya saling berhadapan.
"Aku salah bicara?" tanya Ganesa.
Nicho memalingkan wajahnya, membuat wanita cantik itu tampak tak enak. Semula hangat, dan saat ini dingin, ini adalah hal yang sangat menyiksa ditengah status pernikahan yang dia jalani.
"Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak akan pernah melepaskanmu, Nona Ganesa," ucapnya dingin.
Ganesa mencoba untuk menguatkan dirinya, Nicho masih tetap pada pendiriannya. Ganesa menghela napas dalam dalam, ditatapnya Nicho yang tampak diam itu. Dia mengulurkan tangannya dan menghadapkan wajah Nicho ke arahnya. Keduanya saling berpandangan.
"Aku hanya bicara, bukankah semua memang tergantung keputusanmu? Aku patuh padamu, apapun keputusanmu, dan sepantasnya memang seorang istri harus patuh pada suaminya kan?" tanya Ganesa.
Nicho tampak menatap teduh ke arah wanita yang kini telah berstatus sebagai istrinya itu. Hatinya berdebar? Perkataan Ganesa mengusik hatinya, dirinya sekarang adalah seorang suami, bukankah tanggung jawabnya begitu besar pada Ganesa?
"Bagus, jika kau menyadari itu, Nyonya Ganesa," ucap Nicho. Wajahnya yang semula dingin berangsur menghangat. Entah, saat emosi menggebu, mendapatkan sentuhan hangat dari Ganesa membuat emosinya kian mereda.
"Tapi kau juga harus ingat, kita tidak saling mencintai Honney. Kau mencintai orang lain, aku pun juga. Lalu, apa kau yakin kita bisa hidup dalam sandiwara terus menerus?" tanya Ganesa.
Tatapannya Ganesa mengisaratkan sebuah kesedihan. Nicho hanya terdiam, netranya menatap wajah cantik Ganesa yang seakan tak pernah membosankan.
__ADS_1
"Bukankah manusia berhak bahagia Honney? Aku adalah salah satu wanita yang memimpikan kebahagiaan di dalam rumah tangganya, bukan sebuah kepalsuan," ucap Ganesa lagi.
Nicho hanya diam, dia tak tau apa yang harus dia katakan. Karna memang itu kenyataannya.
"Kau mendengarku, Honney? Kenapa tak menjawab satu patah katapun?" tanya Ganesa lagi.
Bukan menjawab, justru tangan kiri Nicho meraih pinggang Ganesa hingga keduanya tampak dekat dan merapat. Keduanya saling menatap teduh. Nicho menunduk, sedang Ganesa mendongak.
Hidung mereka tampak bersentuhan, reflek tangan kanan Nicho menggenggam tangan Ganesa. Suara alunan musik dari ponsel yang sengaja di nyalakan Nicho tampak merdu terdengar. Sepontan, langkah kaki Nicho bergerak ke kanan, mau tidak mau Ganesa mengikuti gerakan Nicho yang membuatnya sangat gugup. Mereka berdansa romantis.
"Apa kebahagiaan hanya bisa diukur dengan cinta?" tanya Nicho. Perkataan Nicho mampu membuat Ganesa bungkam. Wanita yang semula cerewet itu tak menjawab satu patah katapun.
Nicho mengehentikan dansa, Netranya melirik ke arah sana. Tempat yang semula sepi itu, kini sangat ramai karna beberapa motor sport terparkir disana.
Ganesa tampak membelalakan matanya, dia tampak antusias melihat ke arah sana. Nicho menarik tangan Ganesa menuju ke arah sana.
"Selamat malam Bos, motor sport sudah siap," ucap Rangga pada Nicho sambil tersenyum. Lelaki tampan mengulurkan kunci motor itu pada Nicho.
Nicho mengambil kunci motor dari tangan Rangga dan menarik tangan Ganesa menuju ke arah motor hitam merah yang terparkir diantara beberapa motor lain.
Ganesa tampak terkejut, ditatapnya motor sport yang menyita perhatiannya itu.
__ADS_1
"Pakai," ucap Nicho.
"Kita mau kemana?" tanya Ganesa saat melihat Nicho memberinya sebuah helm.
"Kau akan tau nanti," ucap Nicho.
Ganesa tampak bengong, dia tak segera menerima helm yang Nicho berikan.
Nicho yang tampak kesal memakaikan helm di kepala Ganesa. Wanita cantik itu hanya bisa pasrah. Nicho segera naik, ditatapnya Ganesa yang masih bengong di tempatnya.
"Naik," ucap Nicho.
"Tapi aku," Ganesa yang tak pernah naik motor tampak ngeri membayangkan perjalanan mereka.
"Naik sendiri atau aku tarik?" kesal Nicho dan mampu membuat Ganesa terkejut.
"Naik aku bilang," ucap Nicho lagi.
Ganesa menghela napas panjang, dia mencoba untuk kembali menenangkan dirinya. Sepertinya memang tak ada gunanya membantah perkataan Nicho. Semuanya akan sia sia, karna Nicho tetap akan memaksakan kehendaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1