
Sepertinya memang tak ada gunanya membantah perkataan Nicho. Semuanya akan sia sia, karna Nicho tetap akan memaksakan kehendaknya.
Setelah memakai helm dengan benar, Ganesa menatap ke arah Nicho yang tampak menatapnya dengan kesal.
"Naik sekarang juga Nona," ucapnya sangat dingin.
Ganesa segera naik ke atas motor sport yang sangat menakutkan baginya itu, seumur umur baru kali ini dia harus naik motor seperti ini. Jarak tubuhnya dan Nicho sangat dekat, bahkan posisi motor yang tinggi bagian belakang membuatnya sangat dekat dengan Nicho.
"Pegangan," ucap Nicho. Dia tau ekspresi wajah Ganesa yang tampak ketakutan dari kaca spion.
"Pegangan?" tanya Ganesa.
"Iya," sahut Nicho.
Nicho menyalakan motor dan segera menginjak gas, menjalankan motor sport itu dengan kecepatan sedang saat Ganesa tampak berpikir keras, Ganesa yang tampak terkejut kini reflek merangkulkan tangannya di pinggang Nicho tanpa banyak berpikir lagi.
Senyuman tipis menghiasi wajah lelaki yang semula tampak datar itu. Lucu saja melihat tingkah Ganesa yang selalu menyita perhatiannya itu.
Menikah dengan wanita yang belum pernah dikenalnya sama sekali, yang dia pikir akan membosankan dan sangat menjengkelkan, nyatanya tak seperti apa yang dia pikirkan. Ganesa memiliki seribu daya pikat yang mampu membuatnya nyaman.
Ganesa yang sempat memejamkan matanya tampak membuka matanya, dirinya benar benar dekat dengan Nicho. Bahkan kini tubuhnya bersandar di punggung Nicho, tangannya melingkar sepurna di tubuh Nicho, dia merasakan kehangatan dalam udara malam yang sebenarnya sangat dingin.
Sangat tak nyaman dengan dirinya yang seakan sangat mesra, tapi untuk melepaskan dia sangat takut. Sepertinya dia harus menikmati saja perjalanan ini dengan berpegangan, dari pada harus terjatuh dari motor. Toh Nicho adalah suaminya. Suami? Hais, Ganesa tampak tersenyum saat memikirkan itu, dipastikan wajahnya merah merona.
Ganesa melirik ke kanan dan ke kiri, dipandangnya pemandangan yang indah dimalam hari ini. Dirasakannya sebuah pengalaman yang baru yang baginya sangat menegangkan dan menyenangkan.
__ADS_1
"Kita mau kemana Honney?" tanya Ganesa sambil menatap depan, mematap ke arah wajah Nicho yang sebenarnya juga tidak terlihat di matanya. Tak mau saja dia hanya diam, karna pada aslinya, dirinya adalah wanita yang sangat periang dan sangat menyenangkan.
Nicho lagi lagi menyunggingkan senyuman tipis, panggilan dari Ganesa sepertinya bukan lagi panggilan biasa, akan tetapi sanggup menggetarkan hatinya dan membuat hatinya berbunga, meski pada kenyataanya dia tau, bahwa panggilan itu hanyalah panggilan yang dibuat Ganesa untuk menunjukan kepura puraan di depan banyak orang.
"Kau akan tau nanti, Nona Ganesa. Bersiaplah, aku akan menambah kecepatan," ucap Nicho sambil menambah kecepatan lagi.
Ganesa terkejut, kemudiam tertawa saat Nicho menambah kecepatan. Bahkan pegangannya semakin erat saat dia menyadari Nicho mengendarai motor dengan kecepatan maksimal.
Ganesa merasa seperti terbang melayang, menguji nyalinya sendiri. Tak mau protes, wanita cantik itu tersenyum dan menikmati kehangatan yang tercipta, walau pada kenyataanya hatinya masih juga merasakan luka, karna saat ini bayangan Rian menyelinap masuk dalam hatinya.
Nicho menghentikan motor sportnya di sebuah pinggiran jalan, Ganesa yang menyadari Nicho berhenti tampak melepaskan rangkulannya dari pinggang Nicho.
Nicho melepaskan helmnya dan mengamati bangunan tua di sebrang sana.
Ganesa pun juga melepaskan helmnya kemudian mengamati bangunan itu. Baru disadari, dirinya saat ini berada di sebuah kawasan yang sepi penduduk.
Sebelum Nicho menjawab, netranya menyadari sebuah bidikan jarak jauh tampak mengintai Ganesa. Karna ada sebuah sinar merah berada di perut Ganesa.
Dor
Disaat yang bersamaan, Nicho menarik Ganesa hingga wanita cantik itu kini berada di pelukan Nicho.
Ganesa tampak terkejut, suara tembakan darimana tadi? Kenapa Nicho mengajaknya ke sini?
Nicho melirik ke arag asal bidikan, tak menemukan dimana orang itu berada. Nicho kembali menoleh ke arah Ganesa.
__ADS_1
"Kau baik baik saja?" tanya Nicho yang sempat khawatir. Satu detik saja terlambat menarik, dipastikan nyawa Ganesa berada di ujung tanduk.
Ganesa menggelengkan kepalanya, dia masih tak sanggup untuk bicara karna keterkejutannya.
"Syukurlah," ucap Nicho. Wajahnya berubah dingin, matanya seakan menyiratkan sebuah emosi. Tak ada lagi senyuman yang tadi menghiasi wajahnya. Mendapati Ganesa hampir saja tertembak membuatnya seakan tak terima.
"Mau apa kita ke sini?" tanya Ganesa.
"Bukankah aku sudah memintamu dirumah saja? Ini resiko yang harus kau terima karna ikut denganku," ucap Nicho.
Ganesa membelalakan matanya, apa maksud Nicho?
"Apa maksudmu?" tanya Ganesa.
"Misi, satu misi harus aku selesaikan. Karna kau menolak di rumah, mau tak mau aku harus mengajakmu," ucap Nicho.
Ganesa memejamkan matanya, misi? Dia tampak panik. Dia takut, tapi bukankah ini pengalaman yang menarik? Lagi pula dia menguasai beberapa ilmu bela diri.
"Ada aku yang akan menjagamu Nona," ucap Nicho saat melihat kekhawatiran di dalam diri Ganesa.
Nicho melangkah pergi.
Ganesa yang tampak terkejut masih saja terdiam, ucapan Nicho mampu membuatnya bungkam. Dia menatap Nicho yang semakin menjauh.
"Kau tetap mau disitu?" tanya Nicho.
__ADS_1
Ganesa yang seolah tertantang segera berlari ke arah Nicho. Dengan sigap lelaki tampan itu menarik tangan Ganesa, menyusuri semak. Dia sudah mendapatkan info dari Rangga, bahwa tawanan berada di lantai dua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...