
Vino dan Micel menikmati perjalanan, entah kemana suaminya akan pergi, tapi Micel masih tetap tak mengerti akan hal ini.
"Mas, apa tidak sebaiknya kita biarkan mereka? Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri," ucap Micel pada Vino.
Vino menoleh dan menatap ke arah Micele.
"Mereka bertengkar karna namamu berada diantara mereka," ucap Vino yang sudah mencari kejelasan masalah dari Rangga.
"Namaku?" tanya Micela.
"Ya," sahut Vino.
"Kenapa dengan aku?" tanya Micele antusias.
"Apa kau benar-benar tak ada perasaan apapun darimu untuk Nicho?" tanya Vino pada isytrinya.
"Kau meragukanku Mas?" tanyanya balik. Vino mengusap pundak Micele dan menggeleng.
"Kau harus tau sesuatu Micele, bahwa Nicho memendam cinta padamu sejak dulu. Pernikahanmu dan aku sempat membuatnya patah hati dan menghilang ke luar negri, dia kembali dan memutuskan menikah, akan tetapi dihianati,"
"Kak Vito yang tau semua ini, mungkin tidak mempercayai ada cinta diantara Ganesa dan Nicho. Sehingga dia meminta Rangga memanggilmu untuk membantu Nicho sadar dari komanya, tapi justru setelah Nicho sadar bukan lagi namamu yang dipanggilnya melainkan nama Ganesa. Kau tau kenapa Ganesa pergi?" tanya Vino.
Micele menggelengkan kepalanya.
"Dia pergi karna dia mendengar bahwa kamu adalah wanita yang dicintai Nicho dari mulut Kak Vito, entah apa yang ada dipikirannya sehingga dia memilih pergi," ucap Vino.
Deg
Micel memejamkan matanya "Jadi kedatangan Ganesa tadi apa ada hubungannya dengan ini? Apa dia tak tau Kak Nicho sudah sadar sebelum aku datang? Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu?" tanya Micel.
"Ya, memang Ganesa tidak tau," ucap Vino.
__ADS_1
"Entah, bagaimana dan karena apa mereka menikah, kita tidak tau alasanya. Yang jelas aku ingin membersihkan namamu dan menjelaskan pada mereka bahwa kamu adalah masa lalu," ucap Vino.
"Itu bisa dibicarakan lain waktu Mas, ada baiknya kita memberikan mereka waktu untuk berdua, entah dimana mereka berada saat ini. Terlepas cinta atau tidak, mereka sudah menikah. Mereka manusia dewasa yang bisa menentukan hidup mereka, tanpa kita ikut campur. Sedari awal aku tidak tau apapun, dan aku hanya menganggapnya seorang kakak, tidak lebih dari itu. Aku yakin mereka akan menemukan titik terang dari masalah yang mereka hadapi, karna aku tidak pernah melakukan apapun," ucap Micel.
Vino menghentikan mobilnya di pinggiran jalan, dia menatap micele dengan intenst.
"Kau benar, Sayang," sahut Vino.
"Sebaiknya kita pulang," ucap Micele sambil menatap ke arah Vino.
"Oke," sahut Vino.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu menunjukan pukul 15.00, tiga jam sudah Ganesa menikmati kesendirian di sebuah padepokan tempatnya menimba ilmu bela diri. Ganesa menghapus air matanya. Disini tempat dia menepi dari setiap masalah yang datang. Menenangkan diri dari setiap hambatan. Sudah dua bulan lebih dia tak datang, biasanya sebulan sekali dia datang. Untuk mengobati rindu, kali ini dia ingin lama disini untuk menenangkan dirinya.
"Ga, kamu baik baik saja?" tanya seorang paruh baya yang datang ke arahnya. Ganesa menoleh dan menatap pria paruh baya yang baginya adalah ayah kedua.
Lelaki yang notabenenya adalah pimpinan padepokan itu tersenyum, dan menepuk pundak Ganesa, salah satu murid perempuan bertalenta yang dia anggap sebagai putrinya sendiri. Meski sudah lama lulus tetap saja dia datang disini.
"Kau serius?" tanyanya.
"Ya," sahut Ganesa.
"Walau ayah tidak yakin kamu tidak papa, Ayah ingin kamu kembali bahagia," ucap Ayahnya.
Ganesa tersenyum, dipandangnya lekat pria itu.
"Ayah aku baik-baik saja," sahutnya sambil tersenyum.
"Ayah pernah muda Ga, ayah tau kenapa denganmu," ucapnya dan berdiri.
__ADS_1
"Agar kamu melupakan semua itu, sebaiknya kau melakukan peemainan," ucap Ayahnya.
Ganesa yang semula duduk, kini berdiri di depan ayahnya.
"Apa yang harus aku lakukan ayah?" tanya Ganesa.
"Kamu mau terjun bebas?" tanya Ayahnya.
Ganesa tampak sumringah dan menatap ke arah ayahnya.
"Boleh," sahutnya.
"Kebetulan, hari ini ayah kedatangan tamu sepesial. Dia sama sepertimu, sudah ayah anggap seperti anak sendiri. Tadi dia mengajar sebentar anak anak. Karna keadaanya yang masih belum fit, pada akhirnya dia membuat permainan. Terjun bebas dari atas, katanya arena bebas berekspresi. Untuk melepas sejenak semua yang ada dalam pikiran," ucap Ayahnya.
Ganesa tersenyum, terkesan dengan cara yang dilakukan orang itu.
"Boleh kenalan yah? sepertinya dia lebih hebat dariku, lebih cantik jugakan?" ucap Ganesa agak sewot.
Ayahnya terkekeh.
"Dia cowok, tampan, murid ayah paling top dari zamannya sampai saat ini" ucap ayahnya.
Ganesa membelalakan matanya. Entah kenapa dia penasaran. Ingin dia melihat murid ayahnya yang paling top.
"Bukan aku ya yah?" candanya. Ayahnya tertawa.
"Sana, antri disana, pake helm pengaman, pake masker bila perlu," ucap ayahnya sambil berjalan.
Ganesa berjalan mengikuti ayahnya yang pergi menuju ke tempat itu. Penasaranya semakin menjadi, seperti apa lelaki itu?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1