Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Peluk aku


__ADS_3

"Shi*t. Panci durjana," umpat Nicho. Nicho mengusap wajahnya dengan kasar dia kembali membalikan badannya, menatap ke arah taman bunga di bawah sana.


Ganesa yang tengah gugup kini mamasak dua mie istan dengan cepat. Dengan perasaan campur aduk, pada akhirnya Ganesa berhasil menyajikan Mie rasa ayam bawang di atas meja makan.


Dia hampir saja berbalik arah memanggil Nicho, akan tetapi disaat yang bersamaan Nicho malah sudah berada di depannya. Keberadaan Nicho membuatnya terkejut, membuatnya mematung bingung.


"Nicho, Mas, Maksud aku Honney, makananya sudah siap," ucap Ganesa sambil mengalihkan pandangannya. Dia memeluk tubuhnya sendiri, menghilangkan kegugupan dalam dirinya. Dia benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaan aneh yang bergelayut dalam hatinya.


Nicho menautkan alisnya, dia menatap Ganesa dan menyunggingkan senyuman tipisnya. Tangannya terangkat dan mengacak rambut Ganesa dengan gemas.


"Iya, terimaksih, Darling," sahut Nicho tepat di telinga Ganesa, kemudian berlalu ke arah meja makan.


Ganesa memejamkan matanya mendengar ucapan Nicho yang jelas jelas sedang bermain drama. Tapi kenapa saat ini terdengar berbeda? Bahkan, dua tahun dia merajut asmara dengan rian. Tapi Rian yang mengucapkan tidak membuatnya segugup ini. Lalu perasaan apa yang sebenarnya bergelayut dalam benaknya?


"Kau tidak lapar, Darling?" tanya Nicho yang saat ini menoleh ke arah Ganesa yang masih saja berdiri di dekat jendela. Seketika Ganesa menoleh.


"Sini," ucap Nicho sambil menepuk kursi di sampingnya.


Dengan reflek Ganesa berjalan dan duduk di dekat Nicho, dia mengulurkan tangannya mengambil mangkuk di depannya, tapi saat itu justru Nicho mengulurkan tangannya, menyuapkan satu sendok mie padanya.


Ganesa tampak bingung, dia mengerjabkan mata indahnya seolah bertanya, apa untukku?

__ADS_1


"Buka mulutmu, tanganku pegel seperti ini terus," ucap Nicho.


Ganesa tersenyum dan membelalakan mata. Dia kesal, tapi dia bahagia Ganesa membuka mulutnya, Nicho tersenyum, bahagia dia rasakan dengan nyata. Bahkan membuka hati untuk Maura saat itu tak secepat akrab dengan Ganesa. Jika melupakan Micela dahulu kala adalah hal yang tersulit, sepertinya dia salah. Ganesa bisa menghapus memori indah bersama Micel dengan hal yang lebih indah.


Ganesa mengunyah makanan itu, mereka berdua menikmati makan dini hari ini begitu hidmad. Memang waktu sudah menunjukan pukul dua pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah makan tadi, Ganesa menyalakan TV yang ada di ruang keluarga. Sedangkan Nicho membersihkan dirinya di kamar.


Keluar dari kamar, Nicho mendapati Ganesa yang tertidur di sofa. Bahkan TV menyala dan menonton Ganesa yang tengah tidur. Nicho mendekat dan mematikan TV. Diangkatnya tubuh lelah Ganesa dalam gendongannya.


Nicho menaiki tangga, netranya fokus mengamati wajah ayu manusia yang ada di gendongannya. Wajah yang semakin dilihat semakin mempesona.


Nicho menutup tubuh istrinya dengan selimut tebal, ia juga menyingkirkan anak rambutan yang menutupi wajah ayu istrinya. Nicho membuat usapan lembut di pipi Ganesa. Dia merasakan desiran rasa yang membara di dirinya. Ganesa bergerak miring, hingga kini wajah mereka begitu dekat.


Nicho memejamkan matanya ketika mencium aroma wangi nan lembut dari manusia cantik di depannya. Semakin lama tubuhnya semakin panas. Nicho tersadar dan segera mengalihkan dirinya dari hadapan makhluk cantik yang sebenarnya sah untuk di sentuh lebih dari yang dia lakukan saat ini.


Tapi sebentar kemudian dia ingat, Ganesa baru saja mengalami pendarahan. Hal yang sempat membuat dia bahkan Ganesa sendiri dalam suasana hati yang duka.


Nicho melirik jam yang sudah menunjukan pukul 03.00, dia membaringkan tubuhnya di samping Ganesa dan memejamkan matanya.

__ADS_1


😍😍😍


Pagi hari yang cerah, sinar mentari menerobos ke dalam ruang kamar yang kini dihuni dua manusia yang saling memeluk. Ganesa merasakan tidur yang begitu nyaman dan tenang. Dia merasakan hangat dan lelap.


Ganesa membuka matanya, alangkah terkejutnya dia ketika melihat dia tengah berpelukan dengan sosok lelaki dengan tangan kekar yang membelit pinggangnya. Ganesa mengerjab beberapa kali, berharap Ini hanya sebuah mimpi. Namun nyatanya bayangan di depannya malah semakin nyata.


"Nicho," lirihnya. Hampir saja berteriak, tapi saat ini dirinya mengingat bahwa dia dan Nicho memang sudah menikah.


Gerakan Ganesa dirasakan oleh Nicho, akan tetapi lelaki itu tak terbangun. Dia masih memejamkan matanya, dia malah menarik Ganesa dalam dekapan hangatnya.


"Peluk aku, Mic ..e..l,"


Deg jantung Ganesa berdetak hebat, pasalnya Nicho menyebut nama. Bukan namanya, tapi sangat tidak jelas di telinganya.


Siapa tadi? Apa tunangan Nicho yang sempat hampir menikah? Batin Ganesa.


Ditengah kegundahan, Ganesa diam dan mengamati wajah tampan yang kini memeluknya dengan erat.


"Jangan menatapku seperti itu,"


Suara itu membuat Ganesa semakin terkejut.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2