
"Ganesa?" lirihnya.
Nicho hampir saja berlari mendekati Ganesa. Tapi seseorang meluncurkan satu tembakan. Nicho bergulung menghindar dan memberikan tendangan di kaki orang itu hingga orang itu terjigal dan ambruk.
Tak berapa lama, sebuah mobil berhenti. Dilihatnya beberapa orang dengan logo aster di lengan kanan tampak membantunya.
Segera Nicho berdiri dan berlari menuju ke arah Ganesa yang tampak kewalahan menghadapi beberapa orang di sana. Dia tampak terkejut karna suara tembakan itu.
Ganesa yang menyadari ada Nicho disampingnya tampak merasa lega, pasalnya dia tak nyaman dengan pakaian yang digunakan. Sangat tidak leluasa untuk bergerak.
"Darling, bersiaplah," ucap Nicho.
Ganesa menautkan alisnya. Apa yang akan dilakukan Nicho? Tak menunggu lama, Nicho mengangkat tubuh Ganesa ala bridal style. Ganesa melingkarkan tangannya di leher Nicho. Nicho berputar sehingga kaki Ganesa menghantam kepala orang orang yang menyerang mereka.
Menyadari lawan telah tumbang, Nicho membawa Ganesa ke arah mobil. Mendudukan wanita cantik itu di sebelah kiri, dan berlari kecil menuju ke arah kemudi. Tak memikirkan lagi untuk menyerang, karna anak buahnya sudah mengurus semuanya.
Nicho menancap Gas mobilnya, menjauh dari lokasi perkelahian. Keduanya bernapas lega saat berhasil kabur.
"Alhamdulilah kita selamat," ucap Ganesa.
Nicho melirik ke arah wanita cantik itu, sudut bibirnya terangkat. Lega saat dia melihat Ganesa baik baik saja. Dia kembali menatap ke arah depan.
Mengetahui Ganesa diserang tadi, membuatnya was was. Apalagi kondisi tangan istrinya itu belum benar benar sembuh. Sampai saat inipun dirinya masih tak percaya bahwa Ganesa menguasai beberapa jurus bela diri yang sangat jitu untuk menumbangkan lawan.
Ganesa menatap ke arah Nicho, menatap lelaki tampan dengan wajah babak belur itu. Sudut bibir Nicho tampak berdarah. Bahkan pelipisnya biru.
"Tepikan mobilnya Hooney," ucap Ganesa.
Nicho menoleh, keduanya saling bertatapan. Nicho seoalah bertanya kenapa ditepikan?
__ADS_1
"Tepikan aku bilang," ucap Ganesa.
Reflek Nicho seolah tersihir dengan ucapan wanita yang tampak cantik dengan kucir kuda itu. Nicho menghentikan mobilnya di sebuah keramaian.
"Kau mau sesuatu?" tanya Nicho sambil menatap pinggiran trotoar yang menampakan banyak pedagang makanan disana.
Ganesa menggeleng, wanita cantik itu mengulurkan tangannya mengambil kotak P3K di belakang. Dengan cepat wanita cantik itu mengambil alqohol di sana. Ganesa sedikit mendekat ke arah Nicho dan membersihkan darah yang ada di sudut bibir Nicho.
Nicho hanya bisa diam, netranya mengamati wajah cantik yang kini sibuk membersihkan lukanya.
"Aduh," ucap Nicho saat tangan Ganesa menekan lukanya.
"Sakit ya? Maaf," ucap Ganesa tampak panik. Ganesa memegang dagu Nicho dan meniup niup luka Nicho.
Perlakuan Ganesa membuat Nicho terpaku, takjup pada sosok wanita yang tampak kasar, angkuh, ketus, jutek dan keras kepala, akan tetapi ternyata sangat lembut. Netranya tak bisa lepas dari pemandangan di depannya. Terpesona, dia sangat terpesona. Bahkan dia sangat terkesan dengan perlakuan Ganesa.
"Kau menghawatirkan aku Darling?" tanya Nicho.
Jantung Ganesa bergetar hebat, suara itu membuat hati Ganesa tekoyak. Ganesa tersadar jika posisinya dan Nicho sangat dekat. Segera wanita cantik itu menarik tangannya dan menggeser tubuhnya ke samping sehingga menjauh. Dia membuang kapas di tempat sampah kecil di sampingnya, karna memang darah di sudut bibir Nicho sudah bersih.
"Jangan GR," ucap Ganesa ketus. Ganesa membuang pandangannya ke luar sana. Dia gugup, dia malu, bahkan dia tak menyadari jika dia terlalu berani.
Nicho mengulurkan tangannya mengambil tisue di depannya, kemudian menggeser dudukanya ke arah Ganesa dan mengusap dahi Ganesa yang berkeringat.
"Kau berkeringat," ucapnya.
Ganesa yang semula menatap ke luar tampak menoleh. Dia tampak semakin gugup.
"Terimakasih, aku bisa sendiri," ucapnya sambil mengambil tisue dari tangan Nicho.
__ADS_1
Nicho terdiam. Dia menatap ke arah Ganesa dengan intens. Membuat Ganesa merasa salah tingkah.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ganesa jutek.
Nicho menghela napas panjang. Dia tampak tersenyum sinis.
"Aku hanya tak menyangka, ternyata kau hebat," ucap Nicho. Ganesa terdiam dia tampak tersenyum. Bahagia ketika dia dipuji oleh Nicho. Manusia yang baginya sangat menjengkelkan, jahat, dan dingin itu.
"Tapi sayangnya kau keluar disaat aku sudah babak belur. Harusnya kau keluar sejak tadi," lanjut Nicho sambil menyandarkan dirinya di kursi.
Ganesa membelalakan matanya, bagaimana bisa Nicho sangat menyebalkan seperti ini? Sempat membuat sedikit bahagia, tapi nyatanya Nicho tetap sangat menjengkelkan.
Malas berdebat, wanita cantik itu keluar. Dia menghela napas panjang dan berjalan ke arah penjual jagung bakar.
"Dua pak," ucapnya sambil mengambil dua jagung yang baru saja matang.
"Dua puluh Neng," ucap bapak paruh baya itu.
"Sisanya untuk bapak ya," ucap Ganesa sambil memberikan uang lima puluhan.
"Terimaksih Neng," ucap bapak itu.
Ganesa mengangguk dan tersenyum kemudian melangkah pergi. Entah, melihat jagung bakar membuat dia seakan ingin memakannya banyak banyak.
Nicho yang kini berada di samping pintu mobil dan bersandar disana tampak mengamati Ganesa yang duduk di sebuah kursi kayu di bawah pohon. Netranya melihat Ganesa yang sedang menikmati jagung bakar. Tampak juga es krim di meja. Ya, setelah membeli jagung tadi, memang wanita cantik itu membeli beberapa es krim.
Lagi lagi sudut bibir Nicho terangkat, membuat seulas senyuman. Nicho tampak kagum saja melihat pribadi Ganesa, ternyata wanita itu tidak seperti yang dia sangka.
Melihat kelakuan Ganesa saat ini benar benar bisa membuatnya tersenyum, padahal sebelum menikah, baginya kelakuan Ganesa sangat menyebalkan.
__ADS_1
Nicho berdiri, memasukan kedua tangannya di saku celana, kemudian Nicho berjalan ke arah Ganesa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...