Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Aku serius


__ADS_3

"Aku tidak akan membiarkanmu sendiri, aku akan membantumu untuk itu," ucap Nicho yang membuat wajah Ganesa tampak merona merah.


Nicho mengangkat tubuh wanita cantik itu kemudian berjalan menuju pintu utama, seorang asisten membuka pintu. Dengan tenang Nicho membawa wanita yang menjadi separuh jiwanya sekarang ini berjalan menapaki anak tangga demi anak tangga. Netra Ganesa melihat banyak paper bag di kursi, dia juga melihat dengan jelas satu kotak perlengkapan bayi. Ganesa mengabaikan itu.


Ganesa menatap tampan wajah yang biru penuh luka itu. Membayangkan Rian dan Nicho berantem, sangat menyedihkan. Mungkin hatinya tak bisa memilih salah satu, tapi kenyataan memaksanya untuk berpikir, bahwa dia harus tetap berdiri tegak disamping Nicho yang memang adalah suaminya. Dia harus melupakan Rian. Mungkin dia tidak menutup auratnya seperi Emely ataupun Nada juga Micela. Akan tetapi sedari dulu dia juga belajar agama di waktu tertentu dan menutup auratnya, jadi sedikit-sedikit dia tau aturan itu. Bukankankah semua orang punya kesempatan untuk berubah? Jika bukan saat ini, mungkin suatu saat nanti, pikir Ganesa.


Nicho sampai di depan pintu, dengan satu dorongan kuat lelaki itu berhasil membuat pintu terbuka.


"Turunkan aku," ucap Ganesa.


Nicho terdiam dan segera menurunkan istrinya itu. Keduanya saling berpandangan, suasana siang yang hujan membuat keduanya menggigil. Keduanya yang basah semakin sulit membuat Nicho melepaskan kehangatan yang ditimbulkan karna berdekatan dengan Ganesa.


Nicho menarik pinggang Ganesa, mendekatkan wajahnya ke arah Ganesa. Ganesa merasakan kegugupan, detak jantungnya tak beraturan. Nicho benar-benar membuatnya kelabakan. Dia sangat tidak nyaman. Dia merasakan ada hawa-hawa aneh yang ditunjukan Nicho, dari tatapan mata Nicho yang mulai berkabut dan mendamba.


"Nicho lepaskan aku," ucap Ganesa yang berjalan mundur. Dia takut, tapi tak dipungkiri dia juga merasakan kehangatan dipelukan Nivho.

__ADS_1


"Tidak akan kulepaskan," sahut Nicho.


"Nicho tolong jangan mempersulitku," ucap Ganesa.


"Tidak, aku hanya ingin mempermudah," jawab Nicho. Nicho terus melangkah, Ganesa yang tadi mulai melangkah ke belekang merutuki dirinya sendiri. Pasalnya kini Nivho malah melangkah ke depan, sehingga Ganesa mundur dan menuju ke kamar mandi.


"Aku mempermudahmu ke sini," ucap Nicho sambil tersenyum tipis, membuat Ganesa membelalakan matanya saat mereka mereka sudah berada tepat di dalam kamar mandi.


"Nicho, aku bisa kesini sendiri," sanggah Ganesa.


"Tapi aku," Ganesa tetap ingin memberontak. Tapi percuma. Nicho sudah mengunci pintu dan menyalakan shower. Dia masih merengkuh pinggang Ganesa, dibawah guyuran air shower mereka berdiri, dengan pakaian yang masih lengkap.


Nicho menempelkan hidungnya di hidung Ganesa, Ganesa tak bisa berontak. Walau dia ingin memberontak, nyatanya hatinya tak sejalan. Pada akhirnya dia menikmati guyuran air shower yang membuat Nicho semakin dekat merapat ke arahnya.


"Nicho, aku bisa menggigil," ucap Ganesa.

__ADS_1


Nicho tersenyum, Ganesa yang menyebut namanya tanpa embel-embel Hooney bagi Nicho adalah sesuatu yang tidak dibuat-buat. Dan itu bukan sebuah Drama. Bahkan dirinya yang memanggil Ganesa tanpa embel-embelpun menandakan dia serius.


"Aku bisa menghangat nanti Ganesa," jawabnya.


Deg


Hati Ganesa mencelos, dia mendongak. Dua pasang bola mata tampak berpandangan, entah tatapan yang bagiamana saat ini. Tapi Ganesa merasakan perasaan yang tak karuan.


"Aku serius Nicho. Jangan bercanda," sahut Ganesa. Kegugupan membuatnya tak bisa lagi untuk berdrama dengan memanggil Nicho dengan embel-embel.


"Aku juga serius," ucap Nicho. Nicho menggenggam tangan Ganesa dengan erat. Dia ingin melupakan Micela. Nicho mendekatkan bibirnya ke arah bibir Ganesa, memberikan serangan dadakan. Keduanya menikmati, akan tetapi sebentar kemudian Ganesa mengingat nama seseorang yang disebutkan Nicho dalam igoaanya tadi pagi. Bahkan semua barang yang dia kenakan.


Ganesa memejamkan matanya, sepertinya ini bukan keseriusan. Ini adalah sebuah pelarian, dihati Nicho masih ada wanita itu dan dihatinya masih ada Rian. Bahkan tadi dia sempat melihat satu paket baju bayi yang belum terkirim, dan masih ada di bawah. Juga banyak paperbag di sana. Untuk siapa? Tak tau. Ganesa tak mau mempeemainkan dirinya sendiri dengan perasaan yang tumbuh untuk lelaki yang jelas masih merindukan sosok wanita lain.


"No," sahut Ganesa. Dia mendorong tubuh Nicho.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2