
Nicho berdiri, memasukan kedua tangannya di saku celana, kemudian Nicho berjalan ke arah Ganesa. Ditatapnya wanita cantik yang tampak anggun itu.
"Sepertinya kau sangat lapar," ucap Nicho saat dia berdiri di dekat Ganesa.
"Kau mau?" tanya Ganesa.
Ganesa menoleh sebentar, kemudian kembali mengamati jagung di tangannya.
Nicho tak menjawab, lelaki tampan itu berjalan maju dan duduk di kursi yang ada di depan Ganesa.
"Melihatmu makan seperti itu cukup membuatku kenyang," sahutnya.
Ganesa terkekeh. Dia meletakan batang jagung dari tangannya. Ditatapnya wajah Nicho, lelaki yang sempat membuatnya gugup, bahkan juga membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Jauh lebih cepat dari pada bersama dengan Rian.
"Aku rakus ya?" tanya Ganesa lagi dengan ekspresi wajah menggemaskannya.
"Sepertinya begitu," jawab Nicho singkat. Sudut bibirnya terangkat, dia tersenyum tipis. Entah, dia merasa nyaman dengan Ganesa yang seperti ini.
"Itu karna yang bertanggung jawab pada hidupku, tak memikirkan isi perutku. Sudah berkewajiban menafkahi juga, tapi tak ada kesadarannya, sampai membiarkan aku kelaparan," ucapnya panjang lebar.
Bukan marah, justru Nicho mengambil dompetnya. Lelaki tampan itu memberikan sebuah kartu ATM pada Ganesa.
"Untukmu," ucap Nicho sambil meletakan black card itu diatas meja.
Ganesa menatap kartu itu, dia terkekeh pelan. Sebenarnya dia hanya bercanda, menghangatkan suasana yang baginya sangat dingin.
"Kau memberikanya padaku?" tanya Ganesa.
Nicho menganguk, lelaki tampan itu memasukan tangannya di saku jas dan tersenyum tipis. Bahkan nyaris tak terlihat.
"Anggap saja aku sedang memberi nafkah yang tertunda beberapa waktu," jawabnya.
Ganesa semakin terpingkal, ternyata Nicho cukup bisa diajak bercanda. Dari sini dia tau, Nicho tak sekejam yang dia bayangkan sebelumnya. Memang perlu mengenal, untuk bisa sedikit menilai seseorang.
"Kau tidak takut, jika aku membuatmu miskin dengan berfoya foya?" tanya Ganesa. Wanita cantik itu melirik black card yang diletakan Nicho tadi.
Nicho menyunggingkan senyum sinis.
__ADS_1
"Lakukan saja bila kau mampu, Nyonya Sanjaya," ucap Nicho.
Nicho mengambil black card itu, dengan gerakan cepat Nicho melempar black card ke arah Ganesa.
Ganesa terkejut, dengan cekatan dia berdiri dan menangkap kartu itu. Tepat sasaran, Ganesa bisa menangkap kartu itu dengan tepat.
Plok, plok, plok.
Nicho berdiri juga, dia bertepuk tangan. Memberikan apresiasi pada wanita yang kini berdiri memegang black card.
"Ternyata kemampuanmu tidak bisa diremehkan, Nyonya muda Sanjaya," ucap Nicho.
Ganesa membelalakan matanya. Dia baru menyadari Nicho sedang menguji kemampuannya.
Wanita cantik itu menggenggam kartu itu dan melangkah. Nicho mengikuti langkah Ganesa yang kini berdiri dipinggiran pagar. Dia memegang sebuah pembatas besi sebatas pinggang dan menatap ke arah sana, menatap orang orang yang berlalu lalang di tengah tanah lapang.
"Jangan memuji berlebihan, aku tidak sehebat itu," ucap Ganesa.
Nicho tertarik untuk mengenal wanita disampingnya, Ganesa sangat berbeda. Nyatanya wanita cantik itu tidak sombong, jutek, jual mahal dengannya. Padahal sebelumnya dia menentang pernikahan dengannya.
"Kau memang layak di puji, Nyonya Sanjaya," ucapnya.
"Tidak bisa memanggilku dengan sebutan lain?" tanyanya. Nicho tersenyum.
"Kau istriku, apa kau lupa?" tanyanya.
Nicho mengambil ponselnya dan membuka galeri disana.
"Lihatlah ini," ucap Nicho sambil memperlihatkan foto pernikahan mereka yang diabadikan Rangga. Ganesa menoleh dan menatap foto itu.
Dia terpaku menatap foto itu, foto pernikahan dengan Nicho yang sebenarnya sangat tidak diharapkannya. Sesak? Pasti. Mengingat pernikahan mereka karna ada tragedi yang tidak diinginkan.
Ganesa menoleh ke arah Nicho, ditatapnya Nicho yang kini tampak tersenyum. Tampan? Ya, baru disadari bahwa lelaki itu sangat tampan.
"Aku tidak lupa akan hal itu Tuan Suami, bukankah aku sudah berperan sebagai istri yang baik? Aku menyelamatkan suamiku dari bahaya tadi," ucap Ganesa sambil tersenyum.
__ADS_1
Genesa mencoba untuk tetap tenang, komitmen dengan dirinya adalah membuat Nicho sebal dengan menjadi wanita menyebalkan. Tapi kenapa sampai disini, justru Nicho tak menampakan kesebalannya?
"Terimakasih telah membantuku. Aku tidak tau apa yang terjadi jika tidak ada kamu, mungkin aku akan mati, Darling," ucap Nicho seakan mendramatisir keadaan.
Ganesa membelalakan matanya, dia merasa sebal, dia tau Nicho mengejeknya. Bahkan tanpa dia keluarpun sebenarnya Nicho pasti bisa mengatasi para perampok itu.
"Menyebalkan," ucap Ganesa.
Ganesa mendorong tubuh Nicho, dia tampak kesal. Akan tetapi Nicho malah mendekat dan meghadapkan kamera di depannya. Ganesa menatap dirinya.
"Mau apa?" kesalnya. Tapi sudut bibirnya tetap mengekspresikan senyuman indah.
"Kau mengajaku berekspresi?" tanyanya pada Nicho.
"Narsis sebentar tak apakan?" tanya Nicho balik.
Ganesa tersenyum, dia yang semula mengucir kuda rambutnya, kini melepaskan kuciran itu. Wanita cantik itu tersenyum menghadap ke arah kamera.
Disana dia melihat Nicho si wajah datar sedang tersenyum juga. Reflek tangan Nicho meraih pundaknya. Jantung Ganesa berdetak tak karuan.
klik
Nicho menekan ok dan menghasilkan gambar yang mampu membuat keduanya tersenyum.
"Puas?" tanyanya Ganesa.
Nicho menutup ponselnya kemudian memasukan ke dalam saku.
"Aku tidak percaya kau berubah sedrastis ini, dalam beberapa waktu kau mampu membuat aku terkesan dengan segala kelebihan yang kau tunjukan," ucap Nicho sambil menatap bintang di langit.
Ganesa yang semula menatap Nicho, kini juga mengalihkan pandangannya ke atas. Menatap ke arah bintang.
"Aku menunjukan apa? Aku hanya menuruti maumu, bukankah kau sendiri yang memintaku untuk menikmati menjadi Nyonya Sanjaya? Percuma aku membantah, itu akan menyakiti diriku sendiri. Biarkan semua mengalir, hingga pada akhirnya keputusan tetap ada ditanganmu, tetap mempertahankan aku seperti kemauanmu, atau bercerai seperti kemauanku," ucap Ganesa.
Dia tersenyum, walau hatinya merasakan mengucapkan itu. Nicho menoleh, semula dia tersenyum. Akan tetapi senyuman itu berangsur hilang saat ucapan terakir Ganesa di dengarnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...