Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Kau berharap aku mati?


__ADS_3

Ganesa menghela napas panjang menghadapi Rian yang masih saja memberikan pernyataan yang semakin melukai hatinya.


Ganesa melepas tangan Rian yang ada di pipinya, kemudian menatap ke arah Nicho yang tampak diam. Rian tampak mengepalkan tangannya, tapi dia mengamati apa yang akan dilakukan Ganesa.


Ganesa mundur beberapa langkah, dia memutar langkahnya dan berhadapan dengan Nicho. Netranya menatap lekat ke arah Nicho. Jari lentiknya mengusap pelan wajah tampan yang kini tampak memar.


Air mata Ganesa mengalir deras tapi tersamarkan oleh rintikan hujan yang membasahi pipinya. Nivho diam, ditatapnya wajah wanita yang berstatus sebagai istri sahnya itu.


"A-ku," ucap Ganesa terbata. Nicho diam. Dia menghela napas panjang menunggu apa yang akan keluar dari mulut Ganesa.


Rian yang masih saja mengharapkan Ganesa seakan tidak terima menikmati pemandangan di depannya. Rian melangkah dan menarik Ganesa sehingga Ganesa ada di hadapannya.


Nicho kembali geram menahan amarah. Bahkan Ganesa belum mengatakan apa-apa padanya.


"Ganesa dengarkan aku dulu," ucap Rian sambil memegang pundak Ganesa. Nicho memalingkan wajahnya. Rasanya sakit melihat pemandangan ini. Tapi sepertinya memang mereka butuh waktu.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, kita sudah selesai. Singkirkan tanganmu, aku sudah bersuami. Tolong mengertilah," ucap Ganesa.


Ucapan Ganesa seperti telak mematikan untuk Rian yang merasa ditampar karna keberadaan Nicho. Akan tetapi perkataan Ganesa bagaikan air dingin yang membuat hati Nicho menjadi sejuk.


"Aku tidak perduli, kau milikku," ucap Rian menggebu. Dari sini Ganesa merasa Rian bukan orang yang tepat, dia penuh ambisi. Mungkin itu bukan lagi cinta, itu adalah obsesi. Rian tak bisa membedakannya.


Nicho seakan terbakar api, dia menarik tangan Ganesa. Rian tak mau kalah dan masih saja menahan Ganesa. Kini Ganesa kesana kesini seperti barang yang seakan sedang diperebutkan dan harus dimenangkan. Dia muak, benar benar muak.


Dengan gerakan cepat Nicho yang kelewat geram menarik lengan Rian dan menjauh dari Ganesa. Nicho memberi satu pukulan yang membuat Rian terhuyung. Rian membalas dan terjadi kembali baku hantam diantara keduanya.


"Apa kau tidak mendengar, Ganesa mengatakan jika sudah bersuami. Apa kau tidak tau malu? Dimana urat malumu? Bagaimana bisa mengungkapkan cinta pada istri orang di depan suaminya?" bentak Nicho sambil menarik kerah baju Rian.


"Hentikan!" teriak Ganesa.


Rian dan Nicho mematung sesaat, kemudian kembali bertarung mengabaikan teriakan Ganesa.


Ganesa merasakan sesak, tidak tau jalan pikiran orang-orang di depannya. Ganesa yang sudah tak tau bagaimana menghentikan keduanya, kini memilih pergi. Sepertinya membiarkan mereka perlahan mati adalah jalan yang terbaik.


Sebuah taksi melintas, Ganesa segera berlari ke arah taksi, tak mau menyiakan kesempatana ini, wanita cantik itu segera naik dan menjauh dari dua lelaki yang tak bisa diatur itu.

__ADS_1


Nicho dan Rian sadar atas kepergian Ganesa. Keduanya mengakhiri pertarungan.


"Berhenti mengejar istriku," ucap Nicho penuh penegasan.


"Cih.... Dia memang istrimu. Tapi cintanya untukku, kita lihat saja nanti, dia akan meninggalkanmu," ucap Rian kemudian melangkah pergi.


Nicho menghela napas panjang. Sebaiknya dia mencari keberadaan Ganesa. Segera dia masuk ke dalam mobilnya, mengejar laju mobil taksi yang ditumpangi Ganesa.


😊😊😊😊


Ganesa memandang air mancur yang tampak indah di depannya. Dia berada di taman depan mansion milik Nicho. Tak mau pergi kemanapun, dia memilih untuk pulang di rumahnya dan Nicho. Rumah yang kata kakek adalah tempat dimana seharusnya Nicho dan istrinya berada. Memang tadi kakek sempat kambuh dan mencari keberadaan Ganesa sehingga Ganesa memutuskan untuk pulang.


Ganesa mengusap pelan air mata yang ada dipipinya, entahlah mengapa dia tidak berulang kali berpikir untuk pulang ke sini, karna hati kecil Ganesa memintanya untuk ke sini.


"Kau disini Darling, aku mencarimu, aku menghawatirkanmu," ucap seseorang yang tak ragu untuk meraih Ganesa dalam peluknya.


Ganesa mendongak, dilihatnya Nicho yang tanpa ragu memeluknya itu. Sejak kapan Nicho seberani ini? Kenapa lelaki ini berubah manis sekali? Bahkan Nicho sangat lembut. Keduanya tampak merasa lega ketika bisa bertemu seperti ini, karna tadinya sempat saling menghawatirkan.


"Apa yang kamu fikirkan?" tanya Nicho.


"Apa yang membuatmu menangis, hem?" tanya Nicho lagi.


Ganesa melepas pelukan Nicho, menatap lekat wajah tampan penuh luka karna berkelahi tadi. Ganesa lagi-lagi meneteskan air mata. Ganesa mengalungkan lengannya dileher Nicho.


"Hooney, kau kau masih hidup?" tanya Ganesa seolah bercanda. Nicho membelalakan matanya. Pertanyaan macam apa yang dilontarkan Ganesa? Ganesa menatapnya dengan teduh.


"Kau berharap aku mati? "


Nicho membalas tatapan teduh dari istrinya, dia memandang dua bola mata indah yang mampu memikat hatinya.


"Coba kau bayangkan, bagaimana perasaanku jika aku kehilangan suami?" tanya Ganesa. Bahkan dia tak tau apa yang nantinya dia rasakan jika memang harus kehilangan Nicho. Hanya saja saat ini dia menangis, mengeluarkan air mata kesedihan yang timbul entah karna apa.


"Kau akan bahagia?" tanya Nicho. Diusapnya air mata Ganesa dengan telapak tangannya.


"Kau akan bahagia karna tidak ada yang menghalangi cintamu dengannya," lanjut Nicho.

__ADS_1


"Omong kosong macam apa yang kamu ucapkan, Tuan Nicho?" tanya Ganesa, wajahnya mendongak karna Nicho memang lebih tinggi darinya.


Nicho menyentuh pipi Ganesa. Senyumanya mengembang, namun hatinya perih saat menerka hati Ganesa.


"Apa mantan tunangan lebih berharga dari suami?" tanya Ganesa.


Nicho memejamkan matanya sejenak. Nicho menghela napas dan menatap ke arah Ganesa, dia tersenyum tipis. Tangan kananya mengangkat dagu Ganesa dan menatap wajah cantik itu dengan penuh cinta.


"Bukankah bukan aku yang seharusnya menjawab?" tanya Nicho.


"Tapi aku butuh jawaban darimu," sahut Ganesa.


"Jika aku bilang suami lebih berharga, apa kau percaya?" tanya Nicho.


"Kau tau, lalu kenapa kau bertanya?" sahut Ganesa.


Ganesa mendorong pelan dada bidang Nicho agar menjauh. Namun, Nicho kembali meraih pinggang istrinya hingga keduanya sangat dekat. Mereka seolah menyalurkan emosi dengan sentuhan yang menetralisir kemarahan. Mungkin cinta belum terungkap, tapi nyaman mereka rasakan saat seperti ini. Tak dipungkiri, mereka saling menghawatirkan jika salah satunya dalam bahaya.


"Lepaskan, aku butuh waktu untuk sendiri," ucap Ganesa.


"Waktu untuk memikirkan lelaki itu?" tanya Nicho.


"Mana ada seperti itu," sahut Ganesa. Nicho terkekeh.


"Lalu waktu untuk apa? Aku tidak akan membiarkanmu lari, kemudian mendekati lelaki itu lagi?" tanya Nicho.


Ganesa mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir Nicho, sehingga lelaki itu bungkam.


"Aku butuh waktu sendiri untuk mandi, ganti baju, dan dandan. Aku bisa sakit kalau harus basah seperti ini terus," ucap Ganesa sambil berjinjit.


Nicho terdiam, tak tahan dengan Ganesa yang mencoba menggodanya. Nicho menyambar tubuh mungil Ganesa dalam gendongannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu sendiri, aku akan membantumu untuk itu," ucap Nicho yang membuat wajah Ganesa tampak merona merah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2