Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Bisakah kau menjauh?


__ADS_3

"Hentikan!" sentaknya. Pak Akbar berdiri diantara Nicho dan Ganesa.


Tepuk tangan riuh terdengar dari para murid yang mereka pikir memang saatnya pak Akbar datang.


"Kalian semua bubar, segera masuk ke padepokan," ucap Pak Akbar sambil menatap anak muridnya disana.


Mereka segera bubar dan menuju ke padepokan. Srdngkan pak Akbar kini menatap ke arah Ganesa dan Nicho.


"Kenapa kalian berkelahi beneran?" tanyanya.


Ganesa yang merasa salah hanya diam, netranya melirik ke arah wajah lelaki yang kini ada bayangan wajah Nicho.


"Maaf ayah, aku yang salah," ucap Ganesa kemudian berlalu. Nicho menatap ke arah Pak Akbar setelah menatap Ganesa yang semakin menjaub darinya. Menatap wanita yang melangkahkan kakinya menuju ke arah sungai yang tak jauh dari sana. Kenapa tatapan matanya tak asing?


"Ga, kamu mau kemana?" tanya Pak Akbar dan tak disahut oleh Ganesa.


"Maafkan dia Nic, ayah tidak menyangka dia akan menyerang secara brutal seperti itu. Sepeetinya dia sedang ada masalah, yang ayahpun tak tau apa masalahnya. Yang jelas sepertinya dia sedang patah hati," ucap Pak Akbar.


Nicho menautkan alisnya, patah hati? Kenapa seakan sama?


"Dia murid disini yah?" tanya Nicho. Pak Akbar tersenyum.


"Sepertimu, dia adalah anak murid ayah yang sudah ayah anggap seperti anak sendiri. Angkatan enam tahun di bawahmu mungkin. Dia baik, cerdas, dan kau lihat sendiri bukan, dia sangat cekatan. Tapi sepertinya masalah membuatnya menjadi emosiolal," ucap pak Akbar.


Nicho menganggukan kepalanya, entah kenapa dia melihat sosok Ganesa sedang dibicarakan pak Akbar. Tapi kenapa dia menyangka seperti itu?


"Boleh aku menyusulnya Yah?" tanya Nicho pada pak Akbar. Pak Akbar menautkan alisnya.


"Aku hanya ingin berkenalan, tidak macam macam," ucap Nicho seolah memastikan. Pak Akbar terkekeh.


"Hem, susul saja. Jangan sampai dia melakukan hal yang nekat," ucap pak Akbar.


Nicho menganggukan kepalanya dan menatap ke arah Pak Akbar sambil tersenyum. Segera lelaki tampan itu mengikuti langkah wanita yang membuatnya penasaran. Dia merasa wanita itu sangat mirip dengan Ganesa, istrinya yang dia cari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pak akbar melangkah, ponselnya berdering dan dilihatnya panggilan dari Rangga, asisten nicho.


"Halo asalamualaikum Ngga, ada apa?" tanyanya pada Rangga disana.

__ADS_1


"Maaf mengganggu yah, apa ada Nicho disana? Dia menghilang sejak pagi dan tak ada kabar sama sekali," ucap Rangga terdengar hawatir.


"Ya, dia disini, apa tidak pamit? Atau ada pesan untuknya?" tanya Pak Akbar merasa tidak enak.


"Oh begitu, terimakasih yah. Kalau begitu biarkan Nicho disana, setidaknya kami lega jika dia ada disana. Terimakasih informasinya yah," ucap Rangga dan menutup ponsel.


Rangga menatap keluarga besar Ganesa dan Nicho yang memang berkumpul di rumah Nicho. Mereka sangay hawatir pada dua anaknya.


"Alhamdulilah Nicho ada di tempat yang aman," ucap mereka tampaj lega.


"Tuan Dani, apa anda tau mungkin, tempat yang nona Ganesa sering datangi? mungkin bisa dihubungi, siapa tai disana," ucap Rangga.


"Dan apa ada?" tanya papanya.


Dani tampak berpikir, dia menemukan sesuatu yang tidak terpikir olehnya tadi. Dani mengambil ponselnya dan menghubungi orang itu.


"Ya, Dani tau pa, semoga Ganesa ada di sana," ucap Dani saat panggilan belum diangkat. Papa dan mama merasa lega dan berharap Ganesa ada di sana.


Pak Akbar menghentikan langkah, saat satu panggilan masuk.


"Kaka Ganesa?"lirihnya. Segera Pak Akbar mengangkat panggilan itu.


"Iya, apa Ganesa ada di situ?" tanyanya.


"Benar sekali, sejak siang. Apa perlu dipanggilkan nak?" tanyanya.


"Tidak usah Pak, terimakasih. Setidaknya kami semua lega Dia ada di situ, tolong jaga adik saya pak. Besok kami akan menjemputnya,"


"Baik, kamu tenang saja. Ganesa aman disini," ucapnya.


"Kalau begitu terimakasih Pak, sampai jumpa besok," ucap Dani kemudian menutup ponsel.


"Bagaiamana Dan?" tanya Mama.


"Ganesa disana, sebaiknya besok kita jemput Nicho dan Ganesa di tempat masing-masing. Kita tidak bisa membiarkan mereka seperti ini," ucap Dani dan diangguki keluarga. Tidak tau saja jika mereka berada dibtempat yang sama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ganesa duduk di atas batu besar, kakinya berada di bawah. Basah karna aliran air di sungai. Wajah Nicho sangat mengganggunya, apa otaknya benar benar tidak waras? Seperti apa wajah asli lelaki tadi? Kenapa menampakan wajah Nico?

__ADS_1


"Boleh bergabung?" tanya suara di belakang Ganesa. Ganesa menoleh, keduanya saling menatap.


"Bisakah kau menjauh? Aku sedang tidak mau melihatmu, pikiranku sedang kacau, memikirkan satu orang yang sangat aku benci," ucap ganesa.


Bukan menjauh, Nicho malah duduk di samping wanita bermasker itu.


"Benci pada orang lain, tapi kau menyerangku, kau melampiaskan padaku?" ucap Nicho sambil menatap ke arah sana. Kini Ganesa mengalihkan pandangan sehingga mereka saling memunggungi.


"Maaf, itu karna saat ini otakku lagi tidak waras mungkin. Wajahnya tiba-tiba saja aku lihat di wajahmu. Padahal dia sedang koma, di luar kota," ucap Ganesa yang saat ini memunggungi orang itu. Ganesa membuka maskernya, membuang di tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya duduk.


Jantung Nicho berdetak hebat, kenapa suara orang di belakangnya seperti suara Ganesa? Koma? Kenapa seperti dirinya kemarin? Tak ingin menoleh, tapi Nicho seakan tertarik oleh cerita wanita bermasker itu.


"Kau meninggalkanya saat dia koma?" tanya Nicho yang ingin memposisikan Ganesa di diri orang di belakangnya.


"Dia tidak butuh aku," sahutnya. Nicko diam, tapi dia butuh Ganesa.


"Apa dia mengatakan? Bagaimana bisa dia mengatakan itu, sedangkan dia tak sadarkan diri," sanggah Nicho.


"Aku tau karna memang itu kenyataanya, ada wanita lain di hatinya. Dan teenyata wanita itu adalah sepupuku sendiri. Bagaimana bisa aku bertahan disana, jika yang dibutuhkan bukan aku, tapi adikku," ucap Ganesa.


Nicho memejamkan matanya, kenapa mirip cerita Ganesa dan Micela. Atau kebetulan sama? Atau memang itu adalah Ganesa? Jika itu ganesa, siapa yang memberi tau? Nicho tetap pada posisinya. Menahan luka yang semakin dalam.


"Apa kau yakin dia masih menyimpan rasa itu pada wanita yang kau sebut sepupumu, bagaimana jika dia sudah menghilangkan rasa itu," ucap Nicho.


"Aku tidak tau, yang jelas aku menikah dengannya karna terpaksa. Dan jelas di dalam hatinya ada orang lain, tak ada cinta diantara kami. Aku tidak mau ada masalah antara aku dan sepupuku, mungkin meninggalkanya adalah satu satunya cafa jalan terbaik untuk semua masalah ini," ucap Ganesa. Air matanya meleleh.


Nicho diam, dia yakin suara itu suara Ganesa. Isakan dibelakangnya dia dengar. Bagaimana bisa Ganesa disini? Apa takdir yang sengaja mempertemukan? Ingin dia memeluk Ganesa, mengusap air matanya. Mengatakan pada Ganesa bahwa dia sangat mencintainya. Tapi, dia masih ingin memastikan sesuatu.


"Kau tidak mencintainya sama sekali? Kenapa malah menjauh?" tanyanya.


Ganesa menghela napas panjang.


"Dulu mungkin tidak, tapi saat ini akupun tak tau rasa macam apa yang ada dalam hatiku. Mendengar wanita lain dia butuhkan, rasanya sakit sekali. Aku terluka, aku ingin bahagia dengan menjauhinya," ucap Ganesa dengan isakannya.


Ganesa tersadar, bagaimana bisa dia bercerita pada orang yang belum dikenalnya? Ganesa mengusap air matanya.


"Maaf aku tidak beemaksud curhat," ucap Ganesa sambil berdiri.


Nicho ikut berdiri, Ganesa hampir mwlangkah akan tetapi kakinya terpeleset. Segera Nicho merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya. Di tatapnya wajah sembab yang kini berada dalam rengkuhannya, dia mengerjabkan matanya beberapa kali saat menyadari wanita di rengkuhannya adalah Ganesa, istrinya. Keduanya saling berpandangan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2