
"Kau istri ku, jangan berharap kau bisa pergi dariku," ucap Nicho tegas. Ganesa diam, ditatapnya Nicho yang kini sangat tampan. Mereka berjalan ke arah parkiran depan.
Nicho menempatkan Ganesa di mobil, kemudian melajukan mobilnya. Mereka menikmati pemandangan yang indah di sepanjang jalan. Tak ada pembicaraan diantara ke duanya. Tampaknya mereka masih saja merasakan kesedihan karna keguguran. Mereka hanya terdiam dalam pikiran masing-masing.
Disamping sedih karna kehilangan calon bayi, Ganesa juga masih memikirkan dan mempertanyakan tentang ucapan Nicho tadi. Akan tetpi, lelaki itu tampak biasa saja seolah tak mengatakan apapun. Apa yang sebenarnya Nicho rasakan?
Nicho menyalakan musik salah satu band favoritnya. Hingga mereka larut dalam lagu yang mengisahkan Cinta dalam hati. Ganesa menatap luar jendela. Dia tampak tak tenang, dia sangat gugup.
Nicho menghentikan mobilnya di sebuah fila. Ganesa menatap fila itu, seolah dia bertanya itu fila siapa?
"Kenapa berhenti? Ini belum sampai di rumah," protes Ganesa. Nicho diam dan keluar dari mobilnya. Ganesa memejamkan matanya kemudian keluar juga.
Ganesa menatap ke arah fila yang indah di depannya. Nicho berhenti dan menatap ke arah Ganesa. Mereka menikmati terpaan angin yang berhembus yang seolah menerpa wajah mereka dengan kencang. Memandang indah pohon kelapa yang ada di sekitar fila.
"Ini fila siapa?" tanya Ganesa.
Nicho diam dan mengalihkan pandangan pada Ganesa, ini adalah fila miliknya yang dulu dihuni oleh kakak dan kakak iparnya. Juga tempat dimana Micela berada saat kabur dari Vino.
__ADS_1
"Milikku, ini sudah malam. Tidak memungkinkan untuk kita pulang, kita istirahat di sini," ucap Nicho.
Ganesa menganggukkan kepalanya. sebenarnya tidak yakin karna itu. Tapi dia mencoba untuk percaya.
"Nicho, boleh aku bicara?" tanya Ganesa. Nicho menatap wajah cantik yang kini berhadapan dengannya.
"Bicaralah," jawabnya santai.
"Terimakasih," ucap Ganesa.
"Terimakasih telah memberikan pernikahan yang akan memperjelas statusku, trimakasih telah memberi waktu untuk aku memperbaiki kesalahan pada mama dan juga papa. Mungkin pernikahan kita tanpa adanya cinta. Tapi, tanpa ada kamu, mungkin keluargaku menanggung malu, entah bagaimana pernikahan ini kedepannya, ku harap kau akan selalu mengingatku,," ucap Ganesa sambil tersenyum. Tapi nyatanya rasa sakit Menggerogoti hatinya. Ganesa memejamkan matanya. Sedih atau harus bahagia? yang jelas dia tidak tau apa yang dirasakannya.
Nicho memejamkan matanya. Hatinya sakit mendengar ucapan Ganesa. Kenapa dia tak trima, kenapa hatinya enggan untuk melepaskan wanita di depannya. Kenapa rasanya dunia runtuh?
Ganesa memutar langkahnya dan menjauh dari Nicho, Nicho mengepalkan tangannya. Dadanya terasa Panas dan sesak.
"Sudah kewajibanku," ucap Nicho. Ganesa tersenyum sinis.
__ADS_1
"Aku sudah mendapat apa yang aku mau, jadi aku tidak ingin merepotkanmu. Bahkan bila pun nantinya entah bagaimana hubunga kita, aku berharap kita masih bisa berteman,"! ucap Ganesa.
"Kau tetap akan menjadi milikku, karna kau adalah istriku," ucap Nicho tegas. Ganesa terdiam kemudian menatap wajah Nicho.
"Kau bisa melakukan apapun, dengan atau tanpa suara dariku bukan? Aku harap kau tidak jatuh cinta padaku juga," ucap Ganesa kemudian melenggang pergi.
Nicho mengikuti langkah Ganesa, wanita cantik itu berdiri menatap air mancur di sana. Nicho berhenti saat Ganesa memainkan ponselnya.
"Aku tidak butuh persetujuanmu," jawab Nicho.
Ganesa menghela napas panjang.
"Lalu?" tanya Ganesa.
"Lalu apa lagi? Aku lapar, memasaklah," ucap Nicho kemudian melenggang pergi ke arah pintu utama.
❤❤❤
__ADS_1