Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Bertemu Rian


__ADS_3

Ganesa segera masuk ke dalam klinik itu. Nala benar , jika memang banyak sekali pasien saat ini. Dan memang dia tak bisa membiarkan para pasien itu menunggu terlalu lama.


"Rian tolong, tolong biarkan aku keluar. Lihat pasienku lama menunggumu," ucap Nala.


"Aku tetap akan disini, sampai Ganesa benar-benar datang," ucap Rian sambil menatap ke arah Nala dengan sorot mata tajam.


"Aku sudah di sini, biarkan Nala menangani pasiennya," ucap suara dari pintu.


Nala dan Rian menoleh, dilihatnya Ganesa berdiri di ambang pintu. Nala menghela napas lega, segera wanita itu berlari ke arah Ganesa.


"Nes, makasih," ucap Nala.


"Sama-sama Nala, ini memang sudah menjadi tanggungjawabku, keributan ini karna aku," ucap Ganesa.


"Selesaikan masalah kalian, aku ke pasien," ucap Nala.


"Aku dan Rian sebaiknya juga pergi. Tidak sepantasnya membuat keributan disini," ucap Ganesa.


Nala menatap Ganesa dan menatap Rian bergantian.


"Terserah kalian saja, aku permisi," ucap Nala kemudian melangkah pergi.


Ganesa dan Rian kini saling berpandangan, keduanya terjebak dalam keadaan yang memisahkan.


"Sebaiknya kita ke taman, kita bertemu disana," ucap Ganesa hendak melangkah.


Rian menarik tangan Ganesa hingga keduanya saling berpandangan. Pandangan kesedihan seakan jelas terlihat, masih ada sisa perasaan yang membuncah di hati mereka masing-masing. Dua tahun bukan waktu yang sebentar, melupakan kenangan indah butuh waktu yang tak sebentar juga.


"Lepaskan tanganmu," ucap Ganesa.


"Aku lepaskan, ikut satu mobil bersamaku," jawab Rian.


"Aku...." sanggah Ganesa.


"Nes, please. Aku mohon, kali ini saja," pinta Rian.


Ganesa tampak berpikir, Rian kembali menatapnya seolah memaksanya. Hingga pada Akhirnya Ganesa tak punya pilihan lain.

__ADS_1


"Oke," sahut Ganesa.


Rian melepaskan tangan Ganesa, keduanya berjalan ke arah pintu keluar. Nala yang kini melihat Ganesa dan Rian tampak lega, setidaknya mereka tidak ribut. Dan semoga tak akan ada keributan apapun.


Keduanya menuju ke arah mobil, mereka segera menuju ke taman. Tak tau saja sejak tadi seseorang merekam Vidio kebersamaan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak lama dari itu sampailah mereka di taman yang indah. Pagi ini begitu sejuk, banyak orang tua mengajaknya jalan-jalan di sana.


"Apa yang ingin kamu bicarakan sehingga mengganggu Nala Mas? Seharusnya kamu tidak melakukan ini," ucap Ganesa.


Ganesa memalingkan wajahnya, dia tak sanggup bertatapan dengan Rian. Semakin menatap Rian semakin wanita itu tak berdaya untuk melupakan Rian.


"Perasaanku masih sama dan tak berubah Nes, aku tersiksa. Aku tidak bisa melupakanmu," ucap Rian tanpa basa basi.


Ganesa terdiam, tak sanggup dia menatap ke arah lelaki tampan yang tak memperlihatkan keraguan sedikitpun di sorot matanya saat berkata seperti itu.Tapi baginya Rian adalah lelaki baik yang pantas mendapatkan wanita yang lebih baik darinya.


"Kamu layak mendapatkan yang terbaik, Mas. Dan mungkin itu bukan aku, tolong mengertilah. Semuanya sudah berbeda, aku juga sudah menikah," ucap Ganesa dengan perasaan yang sedih.


"Kamu yang terbaik Nes. Aku tidak peduli kamu menikah atau belum. Kita penjarakan lelaki brengsek itu," ucap Rian.


Ganesa memejamkan matanya, penjarakan lelaki itu? Memenjarakan Nicho? Kenapa dia tak rela? Kenapa sepertinya dia tak sanggup?


"Semuanya akan sia-sia, walau bagaimanapun dia suamiku Mas, sebaiknya kamu mencoba untuk melupakan aku," ucap Ganesa dia menatap Rian dengan perasaan yang campur aduk.


"Tapi bukankah kamu tidak mencintainya? Kita bisa melakukan apapun jika kamu mau kita bersama," Rian meyakinkan.


"Semua ini terjadi bukan salah dia sepenuhnya, jadi hentikan kekonyolanmu. Anggap saja kita tidak berjodoh, kita tidak ditakdirkan untuk bersama," sanggah Ganesa.


"Jadi kamu membelanya? Apa cintamu padaku hilang begitu saja?" tanya Rian. Ganesa menggeleng pelan, air matanya menetes. Bahkan sampai sekarangpun dia masih memikirkan Rian, walau sempat bayangan Nicho mengiang dalam otaknya.


"Tolong dengarkan aku, kita menjalin hubungan telah lama Nes. Yang berlalu biarlah berlalu," ucap Rian lagi.


Keduanya saling memandang, saling beradu dalam pendirian masing masing. Ganesa menggelengkan kepalanya. Dia benar benar tak sanggup menyuguhkan dirinya yang sudah tak berharga itu pada lelaki sebaik Rian.


"Tolong dengarkan aku juga Mas. Aku sudah menikah, kau berhak mendapatkan yang lebih baik lagi," ucap Ganesa dengan tatapan yang terluka.

__ADS_1


"Aku tidak perduli, yang aku inginkan untuk mendampingiku hanya kamu," ucap Rian.


"Tolong hentikan keegoisanmu mas!" ucap Ganesa dengan suara sedikit meninggi.


"Tolong kamu juga jangan egois!" Rian tak kalah emosi. Keduanya saling beradu tatapan.


"Apa kamu telah jatuh cinta padanya?" sentak Rian. Deraian gerimis hujan membasahi mereka. Mereka saling beradu, saling menyakiti perasaan masing-masing dengan hal ini.


"Aku bukan wanita yang gampang melabuhkan hati pada seseorang yang baru aku kenal, jika boleh jujur aku masih mencintaimu. Tapi takdir tak mengizinkan kita untuk bersama. Lupakan aku," sahut Ganesa.


"Omong kosong," sentak Rian yang tampak prustasi.


"Aku bicara apa adanya," sahut Ganesa.


"Lalu kenapa kamu seolah membelanya?Apa karna kamu telah jatuh cinta padanya? Jatuh cinta pada servis kejantanannya itu? Seharusnya kau bicara padaku saat itu Nes, jika hanya itu yang mampu membuatmu melabuhkan hati pada lelaki itu, aku juga bisa melakukannya," ucap Rian seakan mengintimidasi.


Plak


Ganesa melayangkan satu tamparan keras, dia tak habis pikir. Bagaimana bisa Rian berbicara seperti itu. Hatinya terasa sakit. Terasa perih. Kenapa Rian Tega? Sempat bangga mempunyai calon suami baik seperti Rian, tapi saat ini seakan kebanggaan itu sirna karna ucapan yang menyakitkan dari mulut Rian.


"Apa maksudmu?" sentak Ganesa.


Rian tampak mematung, dia baru sadar peekataanya menyakiti. Diraihnya tangan Ganesa, tapi Ganesa menepisnya.


"Pergi!" ucap Ganesa.


"Maafkan aku Nes," lirihnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat yang berbeda, setelah meeting selesai, Nicho membuka satu pesan vidio. Dia mengepalkan tangannya saat melihat Ganesa bersama dengan seorang lelaki tampak mesra keluar dari klinik Nala.


"Ke taman?" lirihnya saat melihat pesan yang dikirim Rangga setelag vidio itu.


Segera Nicho meraih jas yang sempat dia lepas, mungkin diluar memang hujan. Tapi, dia tak terima jika dalam keadaan hujan seperti ini Ganesa bersama dengan lelaki lain dan bermesraan di taman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2