Terjebak Malam Yang Salah

Terjebak Malam Yang Salah
TMYS. Saling mencintai, saling mengakui


__ADS_3

"Aku mencintaimu Nes,"


"Aku mencintaimu, istriku,"


Ucapan Nicho membuat Ganesa menghentikan langkahnya. Isakan tangis Ganesa semakin terdengar, bagai gemericik air.


"Jangan membual, kau pikir aku percaya? Kau sadar karna aku pergikan? Kau sadar karna dia datang kan?" tanya Ganesa.


Nicho mendekat, apa yang dibicarakan Ganesa? Bahkan tak ada satupun wanita yang ada di hatinya kecuali dia. Lalu siapa yang dibicarakan?


"Dia siapa yang kau maksud? Tak ada orang lain!" ucap Nicho.


"Jangan membodohiku lagi, aku tau semuanya," ucap Ganesa.


Ganesa menggelengkan kepalanya. Sejujurnya dia sangat terluka dengan keadaan seperti ini. Hanya saja sudah menjadi keputusanya untuk pergi dari kehidupan Nicho.


"Tetap disini," sahut Nicho.


"Tidak pernahkah kamu berpikir untuk melepaskan aku? Posisi yang aku jalani sangat sulit. Aku sakit, aku terluka karna semua ini!" Air matanya benar benar luruh. Dia sangat sedih.


Nicho memejamkan matanya, tidak pernah dia bermaksud menyakiti Ganesa walau dalam pernikahan dia salah meniatkan.


"Dengarkan penjelasanku," ucap Nicho.


"Penjelasan macam apa? Bagiku semuanya sudah jelas, aku memilih untuk pergi, lagi pula aku juga tidak hamil karna malam itu. Mari kita akhiri semuanya," ucap Ganesa.


Deg


Nicho lagi-lagi merasakan sakit yang bertubi. Seperti dipermainkan oleh Ganesa. Entah mengapa Nicho tak tak terima. Nicho yang tampak menahan emosi melangkah maju. Ganesa benar-benar menguji kesabarannya.


Nicho maju, dia menyambar bibir Ganesa yang terus mengoceh itu. Sejenak Ganesa terkejut, dia memejamkan mata. Nicho memberikan ciuman yang lembut. Meluapkan segala emosi dengan cinta dan sayang, berharap Ganesa bisa membaca bahasa tubuh yang dia coba lakukan.


Ganesa mengalirkan air mata, tetapi dia merasakan kenyamanan di dalam hatinya. Merasa bahagia dan sesak secara bersamaan.


Ganesa mencoba mendorong Nicho, Nicho melepas ciuman manis itu, tangan kanannya mengusap air mata Ganesa, menatap wajah cantik yang tampak sembab itu.


"Aku ingin menjelaskan sesuatu, dengarkan," lirih Nicho. Dia menatap Ganesa yang lebih tenang dari sebelumnya.


"Tidak!" sahutnya.


"Kau harus mendengarnya, setelah itu kau berhak memilih, untuk tetap pergi atau berada di sampingku!" ucap Nicho.


"Tapi aku...." Ganesa mulai cerewet kembali, Nicho meraih pinggang Ganesa dan memegang dagu Ganesa.


"Memilih diam, atau aku yang membungkam mulutmu?" tanya Nicho.


Jantung Ganesa bergetar hebat. Penjelasan macam apa? Dia tidak butuh itu. Dia mendorong tubuh Nicho dengan emosi. Namun percuma Nicho tak bergerak sedikitpun.


"Lepaskan!"

__ADS_1


Nicho memiringkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke arah bibir wanita yang sah dimata agama dan negara itu.


"Kau mau aku yang membungkammu kan? Memang melakukan di tempat sepi, dingin dan romantis seperti ini sangat nyaman. Kau mau lagi?" tanya Nicho.


Ganesa membelalakan matanya. Bagaiamnaa bisa Nicho malah menggodanya? Dia yakin wajahnya sangat merah.


"Jangan menghindariku, aku mencintaimu. Sayang," ucap Nicho.


Ganesa menghela napas panjang, dia diam. Bahagia? Pasti. Tapi apa ini serius? Entahlah.


"Jangan menyakiti dirimu dengan rasa cemburu padaku. Aku tidak lagi memikirkanya. Yang ada di hatiku hanya kamu," ucap Nicho.


"Aku tidak cemburu!" sahut Ganesa, dia memutar tubuhnya hingga kini membelakangi Nicho. Tapi tangan Nicho masih melingkar sempurna di pinggangnya. Deg degan? Pasti.


"Aku tidak butuh pengakuanmu. Aku tau dan bisa menerjemahkan semuanya," ucap Nicho.


Nicho meletakan dagunya di pundak Ganesa. Memeluk erat Ganesa yang dia rindukan.


"Aku mencintaimu Nes, tak ada yang lain lagi. Tak ada Micela lagi, tak ada Maura, semua hanya masalalu yang tidak penting bagiku. Yang penting bagiku adalah istriku tak menghindariku, istriku mencintaiku dan kita akan memperbaiki semuanya bersama, maaf bila selama ini aku menyakitimu. Untuk ke depannya, aku akan membahagiakanmu," ucap Nicho dengan lembut. Ganesa diam.


"Nicho bisa lepas? Jangan membual lagi, sebaiknya kita segera pergi. Aku takut kamu pingsan," ucap Ganesa.


"Ada kamu yang akan membangunkanku," sahut Nicho.


"Aku tidak bisa, bukankah yang menyadarkanmu orang lain?" tanya Ganesa.


"Coba dengarkan aku," ucap Nicho.


Ganesa menatap Nicho dengan tenang mencoba mendengarkan apa yang akan diucapkan Nicho.


"Nicho, Honney,"


"Tadi aku minta izin dokter untuk masuk, entah jawabanya boleh atau tidak. Akan tetapi aku tak perduli itu, aku mau tetap masuk, aku mau berada di sampingmu,"


"Tapi kamu jangan senang dulu, aku memaksa masuk bukan karna hawatir. Atau ingin menjengukmu, itu tidak mungkin, kamu jangan terlalu percaya diri,"


"Kamu harus tau Nicho, aku mau masuk karna aku mau marah, aku mau menghukummu. Kamu mengabaikan permintaanku untuk tetap tinggal. Kamu pergi, kamu tak mendengarku. Dan akhirnya kamu menyakiti dirimu sendiri. Tapi nyatanya bukan hanya kamu saja yang sakit, tapi aku juga sakit. Kenapa kamu tidak pernah berpikir itu? Bisakah kamu tidak egois? Kenapa tidak pernah memikirkan perasaanku?"


"Aku tau aku bukan siapa siapa Nicho, tapi jujur keberadaanmu sangat berarti untukku. Mungkin aku bukan wanita yang kamu cintai, tapi aku adalah istrimu. Harusnya aku bahagia kalau kamu sampai meninggal, karna pada saat itu aku bisa dengan bebas untuk pergi. Tapi kau tau Nicho, bahkan saat aku mendengar kamu kecelakaan, hatiku hancur. Aku seperti manusia yang tak punya arti apapun,"


"Nicho, tolong bertahanlah. Tolong tetaplah hidup. kamu mau apa dari aku? Katakan, atau mungkin kamu mau aku mempertemukan kamu dengannya?"


"Tapi semua itu tidak gratis Nicho, kamu harus mengajak aku jalan-jalan. Mengajak aku menjalankan misi, aku tau kamu lemah. Tanpa aku, kamu akan kalah,"


"Jika pada suatu saat nanti kamu bisa meraih cintanya kembali. Mungkin berpisah adalah hal yang tepat, walau kamu tak pernah mau menceraikan aku,"


Ganesa mengalirkan air mata, yang diucapkan Nicho adalah detik dimana dia sangat sedih. Dan saat itu dia memutuskan untuk pergi.


"Kamu tau itu?" tanya Ganesa.

__ADS_1


Nicho mengangguk.


"Bahkan aku ingin bangun dan menciummu seperti tadi Tapi aku malah tak ingat apapun," ucap Nicho. Ganesa terkekeh dan mendorong Nicho. Nicho meraih tangan Ganesa dan menciumnya. Ganesa tertawa, tapi dia juga menangis haru.


"Kau tau sayang, saat aku bangun kamu sudah tidak ada lagi. Hancur aku Nes, aku dua kali patah hati. Aku tidak mau mengulang untuk yang ketiga kalinya. Aku ingin memulainya denganmu. Aku mencintaimu, dan aku baru menyadarinya. Mau kah kamu terus bersamaku?" tanya Nicho. Nicho menatap Ganesa dengan mata berkaca.


Ganesa memejamkan matanya, kadang dia berpikir untuk pergi. Tapi nyatanyanya dia tak sanggup. Cinta itu datang dan memberikan luka dan bahagia secara bersamaan.


"Jika kamu bilang kamu terluka, maka aku akan menyembuhkannya. Selanjutnya kita akan berjalan beriringan dan saling menguatkan ketika salah satu diantara kita terluka," ucap Nicho.


Ganesa menutup mulut Nicho, air matanya mengalir. Arti sebuah rumah tangga bukan hanya tentang bahagia. Dia tau itu. Tapi saling melengkapi dan saling menyembuhkan, saling membantu dan bergandeng tangan.


"Aku mau Nicho," jawabnya.


Nicho meneteskan air mata, mungkin pertemuan dengan Ganesa karna malam yang salah. Tapi dia yakin, bahwa memang itu adalah cara takdir mempertemukan. Nicho meraih Ganesa dalan dekap hangatnya.


"Terimakasih Sayang. Suatu saat nanti, saat aku lupa dan terlena akan keindahan diluar sana, maka nasehati aku untuk kembali. Dan jika kamu yang terlena akan keindahan disana. Seperti ini, tugasku memintamu untuk tetap tinggal. Karna pada dasarbya tak ada rumah tangga yang sempurna. Ada kalanya aku lupa, atau kamu yang lupa. Kau mau untuk saling mengingatkan?" tanya Nicho.


Ganesa yang berada di dekapan Nicho mengangguk.


"Maafkan aku Nicho," lirihnya.


"Jika tidak seperti ini, mungkin aku tidak akan pernah tau bagaimana berharganya kamu Ganesa. Terimakasih telah menjadi obat dalam lara yang selama ini aku rasakan," ucap Nicho.


Ganesa melepaskan pelukan Nicho, tangannya mengalung di leher Nicho. Tangan Nicho di pinggang ramping Ganesa.


Keduanya saling memandang.


"Kita mulai semuanya dari awal, tanpa ada nama Micela, Maura atau Rian," ucap Ganesa.


Nicho mengangguk.


"Kita hidup bersama, dengan anak anak kita. Sampai nanti ajal menjemput," ucap Nicho.


Ganesa mengangguk. Nicho terlampau bahagia menggendong Ganesa di atas pundaknya. Ganesa tertawa lepas. Dia bahagia dengan ini semua.


...Jangan pernah menyalahkan takdir yang kau jalani,...


...Karna apapun yang ditakdirkan untukmu adalah hal yang dipercayakan padamu. Apapun itu, pasti kamu bisa melewatinya atas kehendak Sang Maha Kuasa. Yakinlah semua akan indah pada waktunya....


Dari atas sana, keluarga yang tak sabar untuk menjemput besok, kini sudah berkumpul disana. Tak menyangka jika mereka ada di tempat yang sama. Mungkin ini adalah takdir jodoh antara Nicho dan Ganesa. Sempat hawatir, mereka menyusul ke sungai, tapi ternyata pemandangan yang dilihat sangat mengharukan. Ganesa dan Nicho sangat Dewasa menghadapi masalah dan bisa mwnyelesaikan tanpa campur tangan orang lain. Mereka berharap Nicho dan Ganesa bahagia, sampai ajal menjemput mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...End....


Terimakasih telah mengikuti Bang Nicho dan Nona Ganesa. Mereka sudah bahagia ya. Selalu ikuti kisah terbaru othor ramah ya. Sayang kalian banyak banyak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2