
Ganesa terkejut, dia menoleh. Dan saat ini bibirnya menempel sempurna di bibir Nicho. Tak mau melewatkan saat ini, Nicho yang seakan mendapat harta karun kini mulai beraksi.
Lelaki tampan itu memberikan sentuhan yang lembut, memberikan sebuah kenikmatan yang sangat terasa. Jantung Ganesa berdetak hebat, hatinya dag dig dug. Jiwanya seakan terbang melayang entah kemana.
Menolak? Bahkan ini adalah ibadah yang dianjurkan setelah sah menjadi pasangan halal. Sanggupkah dia melepaskan? Ganesa diam, wanita cantik yang sadar akan kewajibannya itu hanya bisa ikhlas menerima perlakuan manis Nicho yang seakan mencoba untuk menenangkan dirinya yang tadi dalam kegelisahan.
Sebentar kemudian, Nicho menghentikan aksinya. Dia menatap Ganesa yang memandangnya, dia mengusap bibir Ganesa yang basah karna ulahnya.
"Aku tunggu, cepatlah. Atau kau mau aku membantu menggantikan baju?" tanya Nicho.
Ganesa membelalakan matanya, ditengah merag wajahnya dia mendorong tubug Nicho dan mengambil satu paper bag.
Nicho tersenyum, dia melirik kartu ucapan yang ada di atas meja.
Untuk Ganesa, Istriku.
Kau terindah, Ganesa.
Nicho menautkan alisnya, dia melirik ke arag oaper bag yang ada di atas sofa. Apa yang ada didalam ucapan itu? Bagaimana bisa seperti ini? Dia memang meminta Rangga untuk memberi ucapan, tapi juga tidak harus begini. Jadi Ganesa senyum-senyum karna ini? Nicho memejamkan matanya, melihat Ganesa tadi bahagia cukup membuatnya bahagia. Biarlah Ganesa tersenyum, lagi pula Ganesa memang istrinya. Sepertinya Rangga perlu mendapatkan hadiah untuk ide ini.
Tak lama dari itu, Ganesa keluar dari ruang ganti. Wanita cantik itu menggunakan sweter berwarna merah muda dan celana jins hitam. Rambutnya tergerai indah. Nicho menatap ke arah Ganesa yang begitu cantik dan mempesono.
"Aku sudah siap," ucap Ganesa yang kini ada di hadapan Nicho. Nicho yang terlihat terpesona mendekat ke arah Ganesa.
"Sebaiknya kita segera ke kamar kakek," ucap Nicho dan diangguki oleh Ganesa.
Keduanya berjalan ke arah kamar Kakek. Nicho menggenggam tanga Ganesa tanpa meminta, lelaki itu sesuka hatinya menyentuh istrinya. Dan lagi lagi Ganesa seolah tak punya kekuatan untuk menolak. Ikatan pernikahan seolah membiusnya untuk diam, Dulu bersama Rian, dia menjaga dirinya dan protes saat Rian melakukan hal yang tidak disetujuinya. Tapi sekarang, bagaimana bisa dia tak mampu melakukan sesuatu?
__ADS_1
Nicho membuka pintu kamar kakek, dilihatnya Kakek yang sedang duduk di ranjang dan membaca surat kabar.
"Selamat Malam kakek," ucap Nicho menyapa lelaki lanjut usia itu.
Kakek mendongak dan meletakkan koran di atas nakas, kakek tersenyum menatap cucu dan juga cucu menantu yang terlihat sangat bahagia. Mereka serasi, cantik dan tampan. Nicho beruntung mendapatkan Ganesa.
"Malam, kesinilah," ucap kakek sambil menepuk ranjang sampingnya yang kosong.
Nicho dan Ganesa mendekat. Nicho duduk di sebelah kakek. Sedang Ganesa duduk di kursi samping ranjang kakek.
"Kakek pikir kau lupa ke sini karna berduaan dengan cucu menantu kakek yang cantik ini," ucap kakek.
Nicho terkekeh, Ganesa tampak gugup. Ganesa melirik Nicho yang berbeda, Nicho yang dingin, tegas dan keras kepala seperti sudah hilang. Dan yang dilihatnya adalah Nicho yang manis, baik dan sangat hangat.
Hais, bagaimana bisa Ganesa berpikir seperti itu? Ganesa pliase. Jangan terjebak meskipun sikap Nicho manis padamu, dia lelaki dan itu adalah memang sebuah kenormalan. Bahkan tanpa cinta siapapun bisa melakukan. Jangan kamu besar kepala, Ganesa.
"Mana mungkin aku lupa Kek, walau aku punya istri cantik. Tapi kakek adalah kakek aku, orang tua bagi aku, dan aku tidak akan pernah lupa," ucap Nicho.
Kakek tersenyum dan menatap ke arah Nicho dan Ganesa bergantian.
"Kakek denger semalam kau pergi, mendekati sebuah bahaya sehingga membuat istrimu masuk rumah sakit. Apa benar?" tanya kakek.
Nicho dan Ganesa saling berpandangan. Bagaimana bisa kakeknya tau?
"Tapi Ganesa tak apa Kek," ucap wanita cantik itu sambil mendekat ke arah kakek yang tampak hawatir.
"Kau tak apa?" tanya kakek. Ganesa mengangguk. Kakek menggenggam tangan Ganesa dan Nicho. Disatukan kedua tangan itu dalam satu genggaman.
__ADS_1
Ganesa dan Nicho saling berpandangan.
"Dalam situasi apapun kalian harus tetap bersama, jika kalian bersatu, maka tak akan ada yang bisa meruntuhkan, kakek lega kalian baik-baik saja. Walau wajah suamimu lebam seperti itu," ucap Kakek.
Nicho dan Ganesa tersenyum, di depan kakek mereka harus terlihat bahagia.
"Nicho tak apa-apa Kek, ini hanya luka kecil," sahut Nicho.
"Nes, jika kau kesal padanya bilang pada kakek, kakek akan menghukumnya, jika dia bandel dan selalu mendekat bahaya sehingga membuatmu hawatir, maka jangan izinkan dia pergi. Ketahuilah, dia cucu kakek yang sangat bandel," ucap kakek.
Ganesa tersenyum dan menggeleng.
"Suami aku lelaki yang baik, Kek," ucap Ganesa.
Nicho melirik ke arah ganesa, wanita itu sangat meyakinkan, ucapannya seperti sedang tak basa basi. Tapi ini drama atau bukan? Entahlah. Nicho mengeratkan genggaman tangannya, Ganesa merasakan hangat genggaman itu.
"Kalau begitu istirahatlah. Kakek hanya ingin melihat kalian saja," ucap kakek. Ganesa dan Nicho berdiri dan meninggalkan kamar kakek.
Satu pesan deterima oleh Nicho.
Bos, satu misi malam ini. Jangan lupa.
Nicho berhenti dan mengetik sesuatu, tapi dia menghentikan aksinya saat Ganesa menatap dirinya dengan tatapan yang tak biasa.
"Kau mau pergi?" tanya Ganesa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1